Cerita Dewasa ./../index.html Kisah nyata cerita dewasa Thu, 27 Jun 2024 15:08:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.5.5 Cerita Seks Memperkosa Karyawan Penjaga Toko Swalyan ./../cerita-seks-memperkosa-karyawan-penjaga-toko-swalyan/index.html ./../cerita-seks-memperkosa-karyawan-penjaga-toko-swalyan/index.html#respond Thu, 27 Jun 2024 15:08:59 +0000 ./../index.html?p=666 Read more

]]>
Cerita Seks Memperkosa Karyawan Diah yang masih berumur 23 tahun tidak menyadari bahayanya bekerja sebagai kasir di sebuah toko serba ada yang beroperasi 24 jam di Jakarta. Tapi karena  semangat dan keinginan untuk mandiri membuat dirinya tidak mempedulikan nasehat orang tuanya yang merasa kuatir melihat putriya sering mendapat giliran jaga di malam hari hingga pagi hari.

Diah lebih suka bekerja pada shift di jam tersebut, Karena dari saat tengah malam sampai pagi biasanya  jarang sekali ada pembeli, sehingga Diah bisa belajar untuk materi kuliahnya siang nanti. Sampai akhirnya pada suatu malam terjadilah pemerkosaan itu, Diah mendapati dirinya ditodong oleh sepucuk pistol tepat di depan matanya. Yang berambut Gondrong (sebut saja Gading) , dan yang satu lagi tubuhnya Kurus (sebut saja si Karjo ). Mereka berdua, menerobos masuk membuat Diah yang sedang berkonsentrasi pada bukunya terkejut.
“Keluarin uangnya cepet !” perintah si Gading, sementara si Karjo memutuskan semua kabel video dan telepon yang ada di toko itu. Tangan Diah gemetar berusaha membuka laci kasir yang ada di depannya, saking takutnya kunci itu sampai terjatuh beberapa kali. Setelah beberapa saat,
Diah berhasil membuka laci itu dan memerikan semua uang yang ada di dalamnya, sebanyak 100 ribu kepada si Gading, Diah tidak diperkenankan menyimpan uang lebih dari 100 ribu di laci tersebut. Karena itu setiap kelebihannya langsung dimasukan ke lemari besi. Setelah si Gading merampas uang itu, Diah langsung mundur ke belakang, ia sangat ketakutan kakinya lemas, hampir jatuh.
“Masa cuma segini?!” bentak si Gading.
“Buka lemari besinya! Sekarang!” Mereka berdua menggiring Diah masuk ke kantor manajernya dan mendorongnya hingga jatuh berlutut di hadapan lemari besi. Diah mulai menangis, ia tidak tahu nomor kombinasi lemari besi itu, ia hanya menyelipkan uang masuk ke dalam lemari besi melalui celah pintunya.
“Cepat!!!” bentak si Karjo,
Diah merasakan pistol menempel di belakang kepalanya. Diah berusaha untuk menjelaskan kalau ia tidak mengetahui nomor lemari besi itu. Untunglah, melihat mata Diah yang ketakutan, mereka berdua percaya.
 “Brengsek!!!! Nggak sebanding sama resikonya! Ayo…Iket dia, biar dia nggak bisa panggil polisi!!!” Diah di dudukkan di kursi manajernya dengan tangan diikat ke belakang. Kemudian kedua kaki Diah juga diikat ke kaki kursi yang ia duduki. si Karjo kemudian mengambil plester dan menempelkannya ke mulut Diah.
“Beres! Ayo cabut!”
“Tunggu! Tunggu dulu cing! Liat dia, dia boleh juga ya?!”.
“Cepetan! Ntar ada yang tau! Kita cuma dapet 100 ribu, cepetan!”.
“Aku pengen liat bentar aja!”.
Mata Diah terbelalak ketika si Gading mendekat dan menarik t-shirt merah muda yang ia kenakan. Dengan satu tarikan keras, t-shirt itu robek membuat BH-nya terlihat. Payudara Diah yang berukuran sedang, bergoyang-goyang karena Diah meronta-ronta dalam ikatannya.
“Wow, oke banget!” si Gading berseru kagum.
“Oke, sekarang kita pergi!” ajak si Karjo, tidak begitu tertarik pada Diah karena sibuk mengawasi keadaan depan toko.
Tapi si Gading tidak peduli, ia sekarang meraba-raba puting susu Diah lewat BH-nya, setelah itu ia memasukkan jarinya ke belahan payudara Diah. Dan tiba-tiba, dengan satu tarikan BH Diah ditariknya, tubuh Diah ikut tertarik ke depan, tapi akhirnya tali BH Diah terputus dan sekarang payudara Diah bergoyang bebas tanpa ditutupi selembar benangpun.
“Jangan!” teriak Diah. Tapi yang tedengar cuma suara gumaman. Terasa oleh Diah mulut si Gading menghisapi puting susunya pertama yang kiri lalu sekarang pindah ke kanan. Kemudian Diah menjerit ketika si Gading mengigit puting susunya.
“diam! Jangan berisik!” si Gading menampar Diah, hingga berkunang-kunang. Diah hanya bisa menangis.
“Aku bilang diam!”, Sambil berkata itu si Gading menampar buah dada Diah, sampai sebuah cap tangan berwarna merah terbentuk di payudara kiri Diah. Kemudian si Gading bergeser dan menampar uang sebelah kanan. Diah terus menjerit-jerit dengan mulut diplester, sementara si Gading terus memukuli buah dada Diah sampai akhirnya bulatan buah dada Diah berwarna merah.
“Ayo, cepetan !”, si Karjo menarik tangan si Gading.
“Kita musti cepet minggat dari sini!” Diah bersyukur ketika melihat si Gading diseret keluar ruangan oleh si Karjo. Payudaranya terasa sangat sakit, tapi Diah bersyukur ia masih hidup. Melihat sekelilingnya, Diah berusaha menemukan sesuatu untuk membebaskan dirinya. Di meja ada gunting, tapi ia tidak bisa bergerak sama sekali.
“Hey, Brooo! Tokonya kosong!”.
“Masa, cepetan ambil permen!”.
“Goblok Banget lo, cepetan ambil bir tolol!”.
Tubuh Diah menegang, mendengar suara beberapa anak-anak di bagian depan toko. Dari suaranya ia mengetahui bahwa itu adalah anak-anak berandal yang ada di lingkungan itu. Mereka baru berusia sekitar 12 sampai 15 tahun. Diah mengeluarkan suara minta tolong.
“ssssstt! Lo denger nggak?!”.
“Cepetan  kembaliin semua!”.
“Ayooo….lari, lari! Kita ketauan!”.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka menjengukkan kepalanya ke dalam kantor manajer. Ia terperangah melihat Diah, terikat di kursi, dengan t-shirt robek membuat buah dadanya mengacung ke arahnya.
“Buset!” berandal itu tampak terkejut sekali, tapi sesaat kemudian ia menyeringai.
“Hei, liat nih! Ada kejutan!”
Diah berusaha menjelaskan pada mereka, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha menjelaskan bahwa dirinya baru saja dirampok. Ia berusaha minta tolong agar mereka memanggil polisi. Ia berusaha memohon agar mereka melepaskan dirinya dan menutupi dadanya. Tapi yang keluar hanya suara gumanan karena mulutnya masih tertutup plester.
Satu demi satu berandalan itu masuk ke dalam kantor. Satu, kemudian dua, lalu tiga. Empat. Lima! Lima wajah-wajah dengan senyum menyeringai sekarang mengamati tubuh Diah, yang terus meronta-ronta berusaha menutupi tubuhnya dari pandangan mereka. Berandalan, yang berumur sekitar 15 tahun itu terkagum-kagum dengan penemuan mereka.
“Gila! Cewek nih!”.
“Dia telanjang!”.
“Tu liat susunya! susu!”.
“Mana, mana Aku pengen liat!”.
“Aku pengen pegang!”.
“Pasti alus tuh!”.
“Bawahnya kayak apa yaaa?!”.
Mereka semua berkomentar bersamaan, kegirangan menemukan Diah yang sudah terikat erat. Kelima berandal itu maju dan merubung Diah, tangan-tangan meraih tubuh Diah. Diah tidak tahu lagi, milik siapa tanga-tangan tersebut, semuanya berebutan mengelus pinggangnya, meremas buah dadanya, menjambak rambutnya, seseorang menjepit dan menarik-narik puting susunya. Kemudian, salah satu dari mereka menjilati pipinya dan memasukan ujung lidahnya ke lubang telinga Diah.
“Ayooo, kita lepasin dia dari kursi!” Mereka k emudianmelepaskan ikatan pada kaki Diah, tapi dengan tangan masih terikat di belakang, sambil terus meraba dan meremas tubuh Diah. Melihat ruangan kantor itu terlalu kecil mereka menyeret Diah keluar menuju bagian depan toko. Diah meronta-ronta ketika merasa ada yang berusaha melepaskan kancing jeansnya.
Mereka menarik-narik jeans Diah sampai akhirnya turun sampai ke lutut. Diah terus meronta-ronta, dan akhirnya mereka berenam jatuh tersungkur ke lantai. Sebelum Diah sempat membalikkan badannya, tiba-tiba terdengar suara lecutan, dan sesaat kemudian Diah merasakan sakit yang amat sangat di pantatnya. Diah melihat salah seorang berandal tadi memegang sebuah ikat pinggang kulit dan bersiap-siap mengayunkannya lagi ke pantatnya!
“Hei….Bangun! Bangun!” ia berteriak, kemudian mengayunkan lagi ikat pinggangnya. Sebuah garis merah timbul di pantat Diah. Diah berusaha berguling melindungi pantatnya yang terasa sakit sekali. Tapi berandal tadi tidak peduli, ia kembali mengayunkan ikat pinggang tadi yang sekarang menghajar perut Diah.
“Bangun! naik ke sini!” berandal tadi menyapu barang-barang yang ada di atas meja layan hingga berjatuhan ke lantai. Diah berusaha bangun tapi tidak berhasil. Lagi, sebuah pukulan menghajar buah dadanya. Diah berguling dan berusaha berdiri dan berhasil berlutut dan berdiri. Berandal tadi memberikan ikat pinggang tadi kepada temannya. “Kalo dia gerak, pukul aja!”
Langsung saja Diah mendapat pukulan di pantatnya. Berandal-berandal yang lain tertawa dan bersorak. Mereka lalu mendorong dan menarik tubuhnya, membuat ia bergerak-gerak sehingga mereka punya alasan lagi buat memukulnya. Berandal yang pertama tadi kembali dengan membawa segulung plester besar. Ia mendorong Diah hingga berbaring telentang di atas meja.
Pertama ia melepaskan tangan Diah kemudian langsung mengikatnya dengan plester di sudut-sudut meja, tangan Diah sekarang terikat erat dengan plester sampai ke kaki meja. Selanjutnya ia melepaskan sepatu, jeans dan celana dalam Diah dan mengikatkan kaki-kaki Diah ke kaki-kaki meja lainnya. Sekarang Diah berbaring telentang, telanjang bulat dengan tangan dan kaki terbuka lebar menyerupai huruf X.
“Waktu Pesta!” berandal tadi lalu menurunkan celana dan celana dalamnya. Mata Diah terbelalak melihat penisnya menggantung, setengah keras sepanjang 20 senti. Berandal tadi memegang pinggul Diah dan menariknya hingga mendekati pinggir meja. Kemudian ia menggosok-gosok penisnya hingga berdiri mengacung tegang.
“Waktunya masuk!” ia bersorak sementara teman-teman lainnya bersorak dan tertawa. Dengan satu dorongan keras, penisnya masuk ke vagina Diah. Diah melolong kesakitan. Air mata meleleh turun, sementara berandal tadi mulai bergerak keluar masuk. Temannya naik ke atas meja, menduduki dada Diah, membuat Diah sulit bernafas. Kemudian ia melepaskan celananya, mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya. Plester di mulut Diah ditariknya hingga lepas. Diah berusaha berteriak, tapi mulutnya langsung dimasuki oleh penis berandal yang ada di atasnya.
Langsung saja, penis tadi mengeras dan membesar bersamaan dengan keluar masuknya penis tadi di mulut Diah. Pandangan Diah langsung berkunang-kunang dan merasa akan pingsan, ketika tiba-tiba saja mulutnya dipenuhi cairan kental, yang terasa asin dan pahit sekali . Semprotan demi semprotan masuk ke mulut Diah, tanpa bisa dimuntahkan lagi oleh Diah. Ia terus menelan cairan tadi agar bisa terus bernafas.
Tiba-tiba saja Berandal yang duduk di atas dada Diah turun, lalu berandal memasukkan penisnya ke vagina diah dan mendorong diah di pinggir meja lalu menggenjot memek Diah Dengan tempo makin cepat. Ia juga memukuli perut Diah, membuat Diah mengejang dan vaginanya berkontraksi menjepit penisnya. Ia kemudian memegang buah dada Diah sambil terus bergerak makin cepat, ia mengerang-erang mendekati klimaks.
Tangannya langsung meremas dan menarik buah dada Diah ketika tubuhnya bergetar dan sperma tiba-tiba menyemprot keluar, terus-menerus mengalir masuk di vagina Diah. Sedangkan berandal yang lainnya berdiri di samping meja dan melakukan masturbasi, Dan ketika pimpinan mereka mencapai puncaknya mereka juga mengalami ejakulasi bersamaan. Sperma mereka menyemprot keluar dan jatuh di muka, rambut dan dada Diah.
Beberapa saat berlalu dan Diah tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, ketika tahu-tahu ia kembali sendirian di toko tadi, masih terikat erat di atas meja. Ia tersadar ketika menyadari dirinya terlihat jelas, jika ada orang lewat di depan tokonya. Diah meronta-ronta membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Ia menangis dan meronta berusaha melepaskan diri dari plester yang mengikatnya. Setelah beberapa lama mencoba Diah berhasil melepaskan tangan kanannya. Kemudian ia melepaskan tangan kirinya, kaki kanannya. Tinggal satu lagi nih.
“Wah, wah, waaaaah!!!” terdengar suara laki-laki yang berdiri di pintu depan. Diah sangat terkejut dan berusaha menutupi buah dada dan vaginanya dengan kedua tangannya.
“Tolong saya!” ratap Diah.
“Tolong saya Pak! Toko saya dirampok, saya diikat dan diperkosa Pak! Tolong saya Pak, cepat panggilkan polisi!”
“Nama lu Diah kan?” tanya laki-laki tadi.
Cerita Seks Memperkosa Karyawan Penjaga Toko Swalyan
“Ba…bagaimana bapak tahu nama saya?” Diah bingung dan takut.
“Aku Adit. Orang yang dulunya kerja di toko ini sebelum kau rebut!”.
“Tapi saya tidak merebut pekerjaan bapak. Saya tahunya dari iklan di koran. Saya betul-betul tidak tahu pak! Tolonglah saya pak!”.
“Gara-gara kamu ngelamar ke sini Aku jadi dipecat! Aku nggak heran kamu diterima kalo liat bodi mu”.
Diah kembali merasa ketakutan saat melihat Adit, seseorang yang belum pernah dilihat dan dikenalnya tapi sudah membencinya. Diah kembali berusaha melepaskan ikatan di kaki kirinya, membuat Raoy naik pitam. Ia menyambar tangan Diah dan menekuknya ke belakang dan kembali diikatnya dengan plester, dan plester itu terus dilitkan sampai mengikat ke bahu, hingga Diah betul-betul terikat erat. Ikatan itu membuat Diah kesakitan, ia menggeliat dan buah dadanya semakin membusung keluar.
“Lepaskan!!!! Sakit!!!! aduuhh!!!! Saya tidak memecat bapak!!!! Kenapa saya diikat Pak?!!”
“Sebenarnya Aku tadinya mau ngerampok nih toko, cuma kayaknya Aku udah keduluan. Jadi baiknya Aku rusak aja deh nih toko”.
Ia kemudian melepaskan ikatan kaki Diah sehingga sekarang Diah duduk di pinggir meja dengan tangan terikat di belakang. Dan diikatnya lagi dengan plester.
Dan Adit mulai menghancurkan isi toko itu, etalase dipecahnya, rak-rak ditendang jatuh. Lalu Adit juga menghancurkan kotak pendingin es krim yang ada di kanan Diah. Es krim beterbangan dilempar oleh Adit. Beberapa di antaranya mengenai tubuh Diah, kemudian meleleh mengalir turun, melewati punggungnya masuk ke belahan pantatnya. Di depan, Es tadi mengalir melalui belahan buah dadanya, turun ke perut dan mengalir ke vagina Diah. Rasa dingin langsung menempel di buah dada Diah, membuat putingnya mengeras san mengacung. Ketika Adit selesai, tubuh Diah bergetar kedinginan dan lengket karena es krim yang meleleh.
“Kamu keliatannya kedinginan!” ejek si Adit sambil menyentil puting susu Diah yang mengeras kaku.
“Aku harus ngasihh kamu sesuatu yang anget.”
Adit kemudian mendekati wajan untuk mengoreng hot dog yang ada di tengah ruangan. Diah melihat Adit mendekat membawa beberapa buah sosis yang berasap.
 “Jaaaangaann!” Diah berteriak ketika Adit membuka bibir vaginanya dan memasukan satu sosis ke dalam vaginanya yang terasa dingin karena es tadi. Kemudian ia memasukan sosis yang kedua, dan ketiga. Sosis yang keempat putus ketika akan dimasukan. Vagina Diah sekarang diisi oleh tiga buah sosis yang masih berasap. Diah menangis karena kesakitan akibat uap panas dari sosis tersebut.
“Keliatannya nikmat Nih….Ha..Ha…!” Adit tertawa.
“Tapi Aku lebih suka bermain dengan mustard!” Kemudian Ia mengambil botol mustard dan menekan botol itu.
Cairan mustard langsung keluar menyemprot ke vagina Diah. Diah menangis terus, melihat dirinya disiksa dengan cara yang tak terbayangkan olehnya.
Sambil tertawa Adit melanjutkan usahanya dengan menghancurkan isi toko itu. Diah berusaha melepaskan diri, tapi tak berhasil. Nafasnya sangat tersengal-sengal, ia tidak kuat menahan semua ini. Tubuh Diah bergerak lunglai jatuh.
“Hei!! Kamu kalo kerja jangan tidur!” bentak Adit sambil menampar pipi Diah.
Kamu tau nggak, daerah sini nggak aman jadi perlu ada alarm.”
Diahpun meronta ketakutan melihat Adit yang memegang dua buah jepitan buaya. Jepitan itu bergigi tajam dan jepitannya sangat  keras sekali. Adit segera mendekatkan satu jepitan ke puting susu kanan Diah, menekannya hingga terbuka dan melepaskannya hingga menutup kembali menjepit puting susu Diah.
Diah menjerit dan melolong kesakitan, gigi jepitan tadi menancap ke puting susunya. Kemudian Adit juga menjepit puting susu yang ada di sebelah kiri. Air mata Diah bercucuran di pipi.
Kemudian Adit mengikatkan kawat halus di kedua jepitan tadi, lalu mengulurnya dan kemudian mengikatnya ke pegangan pintu masuk. Ketika pintu itu didorong Adit hingga membuka keluar, Diah merasa jepitan tadi tertarik oleh kawat, dan membuat buah dadanya tertarik dan ia menjerit kesakitan.
“Nah…..,Hmmm… udah jadi. sekarang pintu depan ini bisa buka ke dalem ama keluar, tapi bisa juga disetel cuma bisa dibuka dengan cara ditarik bukan didorong. Jadi Aku sekarang pergi dulu, terus nanti Aku pasang biar pintu itu cuma bisa dibuka kalo ditarik. Nanti kalo ada orang dateng, pas dia dorong pintu kan nggak bisa, pasti dia coba buat narik tuh pintu, nah, pas narik itu alarmnya akan bunyi!”
“Jaaaaaangan! saya mohoon! Jangan! jangan! jangan! ampun!”
Aditpun tidak peduli, ia keluar dan tidak lupa memasang kunci pada pintu itu hingga sekarang pintu tadi hanya bisa dibuka dengan ditarik. Diahpun menangis ketakutan, Dan puting susunya sudah hampir rata, dijepit. Ia terlihat meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan. Tubuh Diah berkeringat setelah berusaha melepaskan diri tanpa hasil.
Beberapa saat kemudian terlihat sebuah bayangan di depan pintu, Diah melihat ternyata bayangan itu milik gelandangan yang sering lewat dan meminta-minta. Gelandangan itu melihat tubuh Diah, telanjang dengan buah dada mengacung. Segera saja Gelandang itu mendorong pintu masuk. Pintu itu tidak terbuka. Si Gelandangan langsung meraih pegangan pintu dan mulai menariknya.
Diah langsung menjerit “Jangan! jangan! jangan buka! jangaann!”, tapi gelandangan tadi tetap menarik pintu, yang kemudian menarik kawat dan menarik jepitan yang ada di puting susunya. Gigi-gigi yang sudah menancap di daging puting susunya tertarik, merobek puting susunya. Diah menjerit keras sekali sebelum jatuh di atas meja. Pingsan.
Tapi Diah tersadar dan menjerit. Sekarang ia berdiri di depan meja kasir. Tangannya terikat ke atas di rangka besi meja kasir. Dan kakinya juga terikat terbuka lebar pada kaki-kaki meja kasir. Ia merasa kesakitan. Puting susunya sekarang berwarna ungu, dan menjadi sangat sensitif. Udara dingin saja membuat puting susunya mengacung tegang. Memar-memar menghiasi seluruh tubuhnya, mulai pinggang, dada dan pinggulnya. Diah merasakan sepasang tangan berusaha membuka belahan pantatnya dari belakang. Sesuatu yang dingin dan keras berusaha masuk ke liang anusnya. Diah menoleh ke belakang, dan ia melihat gelandangan tadi berlutut di belakangnya sedang memegang sebuah botol bir.
“Ja…Jangan, ampun! Lepaskan saya pak! Saya sudah diperkosa dan dipukuli! Saya tidak tahan lagi.”
“Habisnya pantat Mbak kan belom diituin.” gelandangan itu berkata tidak jelas.
“Jangaaaaan!” Diah meronta, ketika penis si gelandangan tadi mulai berusaha masuk ke anusnya. Setelah beberapa kali usaha, gelandangan tadi menyadari penisnya tidak bisa masuk ke dalam anusnya Diah. Lalu ia langsung berlutut lagi, mengambil sebuah botol bir dari rak dan mulai mendorong dan memutar-mutarnya masuk ke liang anus Diah.
Diah menjerit-jerit dan meronta-ronta ketika leher botol bir tadi mulai masuk dengan keadaan masih mempunyai tutup botol yang berpinggiran tajam. Liang anus Diah tersayat-sayat ketika gelandangan tadi memutar-mutar botol dengan harapan liang anus Diah bisa membesar.
Setelah beberapa Lama tiba-tiba gelandangan tadi mencabut botol tersebut. Tutup botol bir itu sudah dilapisi darah dari dalam anus Diah, tapi ia tidak peduli. Gelandang itu kembali berusaha memasukan penisnya ke dalam anus
Diah yang sekarang sudah membesar karena dimasuki botol bir. Gelandangan tadi mulai bergerak kesenangan, rasanya sudah lama sekali ia tidak meniduri perempuan, ia bergerak cepat dan keras sehingga Diah merasa dirinya akan terlepar ke depan setiap gelandangan tadi bergerak maju.
Diah terus menangis melihat dirinya disodomi oleh gelandangan yang mungkin membawa penyakit kelamin, tapi gelandangan tadi terus bergerak makin makin cepat, tangannya meremas buah dada Diah, membuat Diah menjerit karena puting susunya yang terluka ikut diremas dan dipilih-pilin.
Akhirnya dengan satu erangan, gelandang tadi orgasme, dan Diah merakan cairan hangat mengalir dalam anusnya, sampai gelandangan tadi jatuh terduduk lemas di belakang Diah.
“Makasih yaaa Mbak! Saya puas sekaliiiii! Makasih.” gelandangan tadi melepaskan ikatan Diah. Kemudian ia mendorong Diah duduk dan kembali mengikat tangan Diah ke belakang, kemudian mengikat kaki Diah erat-erat. Kemudian tubuh Diah didorongnya ke bawah meja kasir hingga tidak terlihat dari luar.
Sambi terus mengumam terima kasih Dan sigelandangan tadi berjalan sempoyongan sambil membawa beberapa botol bir keluar dari toko. Diah terus saja menangis, merintih merasakan sperma gelandangan tadi mengalir keluar dari anusnya. Lama kemudian Diah jatuh pingsan karena kelelahan dan shock Berat. Dan tersadar ketika Ia ditemukan oleh rekan kerjanya yang masuk pukul 7 pagi.
Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Pasutri,Cerita Seks Memperkosa Karyawan,Cerita Seks Memperkosa KaryawanCerita Seks Memperkosa Karyawan,Cerita Seks Memperkosa Karyawan,Cerita Seks Memperkosa Karyawan,Cerita Seks Memperkosa Karyawan,Cerita Seks Memperkosa Karyawan
]]>
./../cerita-seks-memperkosa-karyawan-penjaga-toko-swalyan/feed/index.html 0
Cerita Seks Pengantin Baru Yang Kesepian ./../cerita-seks-pengantin-baru-yang-kesepian/index.html ./../cerita-seks-pengantin-baru-yang-kesepian/index.html#respond Thu, 27 Jun 2024 15:06:35 +0000 ./../index.html?p=663 Read more

]]>
Cerita Seks Pengantin Baru Nama saya Andi, saat itu saya berumur 25 tahun, telah berkeluarga dengan istri bernama Sinta, serta telah dikaruniai dua orang anak yang pertama berumur 3 tahun dan kedua berumur 1 tahun. Cerita ini bermula dari kebiasaan saya yang sering nongkrong di warteg di komplek tempat saya tinggal pada waktu santai.

Pada suatu hari saya kembali nongkrong di Warteg itu yang pada saat itu suasana sudah mulai sepi karena hari sudah menjelang malam. Pada saat itu Diana sedang berkemas-kemas untuk menutup wartegnya. Saya lalu mengajak Diana mengobrol sambil dia berkemas-kemasIstri Pemilik Warteg itu adalah sepasang pengantin baru yang baru menikah 7 bulan. Penjaganya adalah istri dari pengantin baru tersebut yang bernama Diana, sedangkan suaminya adalah seorang sopir bus AKAP, yang sering bertugas sampai berhari-hari baru pulang dan bernama Juanda. Saya dan istri sayapun kenal baik dan akrab dengan mereka.

“Kok sendirian Yan?” tanya saya. (Saya memanggilnya Dian/Yan)
“Iya nih Kak, Kak Juandanya tadi pagi baru berangkat!”
“Kemana?”
“Katanya hari ini tujuan Jakarta, dan sampai 8 hari baru bisa pulang,” katanya.
“Oh ya Kak saya tinggal dulu ya, mau mandi, habis dari tadi rame sih belum sempat mandi,” katanya lagi. Lalu Diana masuk ke dalam rumahnya untuk mandi.

Setelah setengah jam Diana keluar lagi dengan rambut yang masih basah, dan memakai daster yang membuat saya menahan napas karena kalau kena lampu kelihatan BH dan CDnya yang menerawang dari balik daster yang dipakainya, serta membawa secangkir kopi untukku, dan duduk di kursi yang ada di depanku. Harum sabun mandi yang dipakai saat mandi masih tercium saat Diana duduk, dan ini membuat nafsu saya agak tergugah dan kontol saya mulai ngaceng.

“Diminum Kak kopinya,” katanya mempersilakan.
“Terima kasih,” jawabku sambil menghirup kopi yang disuguhkan.
“Apa enggak takut ditinggal sendirian,” tanyaku memulai obrolan.
“Ya enggaklah, kan tetangga di sekitar sini baik-baik Kak?” jawabnya.

Lalu obrolan kami terus berlanjut dan haripun bertambah malam. Karena suasana yang mulai sepi saya mencoba memancingnya dengan obrolan yang dapat membangkitkan gairah.

“Yan kamu nggak kesepian ditinggal suamimu berhari-hari gini?”
“Mau gimana lagi Kak, namanya juga tuntutan pekerjaan”
“Kasihan! Masa pengantin baru ditinggal kedinginan kaya gini”
“Ih, siapa lagi yang kedinginan?” jawabnya agak centil.

Merasa ada respon sayapun tambah semangat.

“Ya kan kasihan, orang pengantin baru itu biasanya kan kalau tidur selalu berpelukan biar tidak kedinginan”
“Siapa bilang kalau pengantin baru itu kalau tidur selalu berpelukan?”
“Buktinya kakak semasa pengantin baru selalu tidur berpelukan.”
“Enak dong Mbak Sinta selalu tidur dipeluk kakak”
“Ya begitulah, kalau kamu mau, saya juga mau tidur pelukin kamu,” kata saya sambil bercanda.
“Ih kakak ini Piktor (pikiran kotor) deh”
“Emang Mbak Sinta boleh kakak tidur pelukin cewek lain?” sambungnya.
“Ya jangan ketahuan dong,” jawabku, sambil aku memandang wajah cantiknya dan menanti responnya.

Diana lalu memandangku dengan tatapan yang menggoda.

“Kalau kakak tidur pelukin saya dan ketahuan Mbak Sinta gimana hayoo?”
“Nggak mungkin ketahuan kalau kamu mau,” pancingku sambil bergeser duduk disampingnya, dan kugenggam tangannya yang tampak bergetar, dan ternyata Diana diam saja.
“Jangan disini Kak nanti ada orang lihat,” katanya.

Cerita Lainnya:   Cerita Seks Ngentot Pacarku dan Adiknya

Karena mendapat angin aku mengajak Diana masuk ke dalam rumahnya. Begitu masuk ke dalam rumahnya saya langsung menutup pintu dan memeluk Diana dari belakang. Semula dia menolak dengan alasan takut ketahuan. Aku yang sudah dikuasai nafsu terus merayu Diana yang masih ragu. Aku sudah tidak peduli apa-apa lagi kecuali menikmati tubuh Diana yang cantik ini. Aku membalikkan tubuh Diana dan langsung melumat bibirnya yang sexy itu.

“Mmhh,” desah Diana.

Aku terus menyerangnya dengan bergairah. Tangankupun tak tinggal diam, aku meremas buah dadanya yang montok dari balik dasternya.

“Mmhh Kak,” desahnya yang mulai terangsang.

Aku lalu membopong tubuh Diana ke kamarnya yang ditunjuk Diana dan merebahkannya di ranjang yang merupakan ranjang pengantin Diana. Lalu aku berdiri dan membuka baju dan celana panjangku agar tidak kusut, dan yang tertinggal hanya celana dalamku.

Kontolku yang dari tadi ngaceng tampak menonjol di balik CDku. Lalu aku mendekati Diana yang terbaring diranjang sambil memandangku. Aku kembali mengulum bibirnya yang sexy itu sambil tanganku mengelusi pahanya yang putih. Diana menyambut ciumanku dengan bernafsu. Setelah puas aku melanjutkan ciumanku ke lehernya yang jenjang dan secara perlahan-lahan aku membuka dasternya, dan dilanjutkan dengan BH dan CDnya. Kini tubuh Diana yang mulus terpampang pasrah di ranjang. Kemudian aku menciumi buah dadanya yang kiri sedangkan tanganku meremas buah dadanya yang kanan

Cerita Seks Pengantin Baru Yang Kesepian

“Aww… geli Kak,” rintihnya yang membuat aku tambah bersemangat.
“Buah dada kamu bagus Yan” kataku.
“Emang punya Mbak Sinta jelek ya?” tanyanya menggodaku.
“Bagusan punya kamu” kataku merayunya.
“Aahh enak Kak, terus Kak, isap Kak yang kuaat” rintihnya.

Setelah puas dengan buah dadanya ciumanku aku lanjutkan ke bawah menyusuri perutnya yang ramping terus ke bawah hingga menyentuh bulu bulu halus diatas memeknya. Lalu aku mulai menjilati memeknya yang telah basah oleh cairan birahi.

“Aahh enak Kak, diapain Kak memekku,” rintihnya.
“Terus Kak aahh!! Enak sekali Kak, Kak juanda tidak pernah mau begini Kak aahh!!” rintihnya lagi.

Sesaat kemudian Diana menekan kepalaku semakin dalam di memeknya, dan ternyata dia mendapat orgasmenya yang pertama. Kemudian aku naik untuk mencium bibirnya kembali dan disambut dengan buas oleh Diana.

“Enak nggak Yan?” tanyaku.
“Enak sekali Kak,” jawabnya
“Emang Juanda nggak pernah ya?”
“Enggak Kak, jijik katanya”
“Tolol sekali dia,” batinku.
“Buka dong Kak CDnya”
“Diana dong bukain”
“Ih Kak Andi manja deh,” katanya sambil membuka CDku.

Kontolku yang sudah tegang dari tadi langsung meloncat keluar begitu CD ku diturunkan oleh Diana. Tampak Diana terbelalak melihat kontolku.

“Besar sekali Kak,” katanya kaget.
“Emang punya suamimu kecil ya?” tanyaku.
“Paling setengah dari punya kakak,” katanya sambil meremas kontolku.
“Aahh enak Yan” desahku
“Enak nggak Kak kontol sebesar ini masuk dimemekku nanti?” tanyanya.

Aku tersenyum sambil mengangguk.

“Jilati Yan” pintaku.

Lalu Diana menunduk untuk mencium Kontolku yang super menurutnya.

“Aahh enak, enak Yan jilati terus Yan aahh!!” rintihku.

Lalu Diana memasukkan kontolku ke dalam mulutnya, dan mengulum kontolku. Tampak Diana kesusahan mengulum kontolku yang besar didalam mulutnya. Setelah beberapa saat aku menarik Diana keatas dan membaringkannya secara telentang. Diana mengerti dan segera membuka pahanya lebar lebar. Aku segera mengarahkan kontolku dan menyentuh lobang memeknya yang semakin banjir oleh cairannya.

Cerita Lainnya:   Cerita Sex Dewasa Bibir Vagina Merah Delima

“Lambat-lambat Kak, aku belum pernah dimasuki kontol sebesar itu” pintanya.

Aku tersenyum memandangnya sambil mengangguk.

“Aaww… Kak, sakit Kak aahh!!”

Aku menghentikan dorongan pantatku dan mendiamkannya sejenak. Setelah Diana tenang kembali aku mendorong laju kontolku ke dalam memeknya.

“Aaww Kak enak!! Terus Kak enak, kontol kakak enak Kak, aawwuuhh enak kontol kakak besar enak,” erangnya dengan liar.

Mendengar itu aku tambah bersemangat untuk memompa kontolku didalam memeknya. Kemudian aku memeluknya sambil berbisik ditelinganya,

“Enak nggak kontol kakak?”
“Oohh enak sekali Kak, kontol kakak enak sekali, besar panjang sampai sesak memek diana” racaunya dengan Vulgar.

Mendengar itu aku terpancing untuk melayani racau Vulgarnya.

“Enak mana kontol kakak dengan kontol suamimu?” tanyaku.
“Lebih enak kontol kakak, kontol kakak tiada duanya oohh!! Aahh” rintihnya.
“Memek kamu juga enak, legit juga sempit sepeti perawan” kataku.

Mendengar itu Diana lalu bertanya,

“Enakan mana memek Diana dengan memek Mbak Sinta aaww!! Oohh!!”
“Sama sama enak, tapi lebih enak punya Diana karena masih sempit,” jawabku sambil terus memompa kontolku.

Tak lama kemudian aku merasa akan segera meledak begitu juga dengan Diana.

“Aahh aku mau keluar Yan”
“Diana juga Kak”
“Kita keluarkan sama sama Yan, aahh!! Oohh keluarkan dimana Yan?”
“Keluarkan didalam saja Kak aahh,” jerit panjang Diana, lalu akupun menyusul.
“Aahh!!” jeritku sambil memeluk erat Diana.

Kemudian kami berdua terkulai lemas setelah pertempuran panjang itu. Aku mencium kening Diana lalu mengecup bibirnya.

“Terima kasih Yan”
“Sama-sama Kak”

Lalu aku segera turun dari ranjang dan berpakaian karena tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Sebelum pulang aku kembali menghampiri Diana yang masih tergolek lemas di ranjang dan melumat bibirnya, sambil berjanji untuk mengulanginya.

Setelah dirumah ternyata istri dan anak-anak telah tidur.

Dan pada saat suami Diana tak ada di rumah kamipun kembali melakukannya, baik di rumahnya maupun di hotel, sampai suami Diana berhenti dari pekerjaanya, karena Diana telah melahirkan bayi dan harus merawat bayinya.

Sampai saat ini saya dan Diana masih tidak dapat memperhitungkan sebenarnya bayi yang dilahirkannya itu merupakan benih dari siapa, apakah benih dariku atau suaminya, karena kalau dilihat secara teliti wajah sang bayi sangat mirip suaminya tetapi badan si bayi sangat mirip denganku. Namun demikian masalah ini sampai sekarang tidak pernah dipermasalahkan oleh suami Diana sehingga perselingkuhanku dengan Diana tidak pernah terbongkar dan kami dua keluarga tetap bersahabat dan tetap akrab.

]]>
./../cerita-seks-pengantin-baru-yang-kesepian/feed/index.html 0
Cerita Seks Sepupuku Dan Adiknya Masih Perawan ./../cerita-seks-sepupuku-dan-adiknya-masih-perawan/index.html ./../cerita-seks-sepupuku-dan-adiknya-masih-perawan/index.html#respond Thu, 27 Jun 2024 15:05:21 +0000 ./../index.html?p=660 Read more

]]>
Cerita Seks Sepupuku Dan Waktu itu tahun 1996, bulan September, aku baru saja pulang dari KKN di desa, di daerah Kabupaten Blora (sekarang masuk Kabupaten Cepu), dua hari setelah sampai di rumah, ada telepon dari salah satu sepupuku, katanya dia sedang Study Tour ke kotaku. Sepupuku ini masih sekolah di SMUK di daerah Madiun, sebenarnya aku belum pernah bertemu langsung dengan dia, jangan heran ya, sebab dia sepupu jauh sekali. Sepupuku ini baru sempat bertemu dengan orang tuaku dan kakakku saja sewaktu mereka pergi ke daerah asal sepupuku di Jawa Timur. Nah, ketika dia Study Tour ke kotaku, dia ingin mampir dan menginap di rumahku, terus dia minta dijemput di depan salah satu bank di dekat Jalan yang jadi trade marknya kotaku. Maka, aku bersama kakakku menjemput dia.

Jam 4:25 sore, aku sampai di depan bank tersebut. Mobil kuparkir, lalu aku bersama kakakku sambil membawa dua payung menghampiri bis-bis yang diparkir di depan bank, agak lama juga aku mencari sepupuku ini, maklum aku belum pernah bertemu dia dan kakakku sendiri agak lupa dengan wajahnya. Setelah kurang lebih 5 menit, akhirnya bertemu juga. Kemudian kami pulang ke rumahku, dia senang sekali bisa bertemu denganku. Awalnya dia berencana mau menginap 1 hari tetapi kemudian dirubah jadi 2 hari. Sepupuku ini tidak punya saudara laki-laki, jadi ketika kami bertemu, dia senang sekali dan menganggap aku seperti kakak kandungnya. Selama dia menginap di rumah, dia selalu ingin dekat denganku terus. Aku menganggap biasa-biasa saja dan tidak ada pikiran lain.
Ketika dia mau pulang, dia mau pulang sendirian, orang tuaku sepertinya tidak tega melepas dia pulang sendirian, akhirnya aku disuruh mengantar dia pulang ke Jawa Timur, padahal waktu itu aku sedang berobat jalan karena aku mengidap alergi serpihan kulit manusia (aneh ya..? aku saja dulu tidak percaya). Aku harus datang ke dokter pribadiku setiap hari Selasa dan Jum’at buat disuntik. Tetapi, menurutku tidak apa-apa karena kupikir nanti jika sudah sampai di sana, aku langsung pulang saja pikirku. Jadilah aku mengantar dia pulang ke Jawa Timur. O.. iya, sebelum terlalu jauh aku bercerita, kuperkenalkan dahulu diriku, namaku Padi dan nama sepupuku Ana. Di jalan kami bercerita tentang daerah asalnya yang ternyata ada di kawasan pantai utara Jawa Timur.
Kami mampir ke Madiun dulu, karena katanya dia mau mengambil baju-bajunya yang mau dibawa sekalian dicuci di rumah. Sampai di Madiun, kira-kira pukul 5:00 sore, kami menuju tempat kosnya yang sederhana di komplek Akabri. Setelah selesai dengan urusan di Madiun, kami langsung pergi lagi meneruskan perjalanan. Di perjalanan, aku bertanya dengan dia.
“Eh, An.. dari sini sampai ke kotamu berapa lama sih..?” tanyaku.
“Ya… mungkin kira-kira 8 jam Mas..” katanya.
Dalam hati aku berpikir, “Wah, bakalan capek di jalan nih.. sialan…”
Waktu berlalu, kira-kira pukul 9 malam, kami masih ada di atas bis jurusan ke kotanya. Malam itu kurasakan sangat dingin, apalagi ditambah tiupan angin yang sangat kencang. Di dalam bis yang lumayan penuh itu, aku duduk di kursi kedua dari belakang sejajar dengan Ana. Pintu bis yang ada di sebelah kananku ternyata tidak bisa ditutup, karena kuncinya rusak kata kernetnya. Ana yang merasa kedinginan terkena tiupan angin, bingung mau bagaimana sebab dia tidak membawa jaket atau sweater buat penghangat, sedangkan aku sendiri tidak masalah. Kemudian kutawarkan dia untuk pindah tempat duduk di sebelah kananku, yah.. lumayan dia terlindung dari angin oleh badanku.
Sekitar 10 menit setelah itu, dia bilang katanya dia merasa mengantuk, aku tawarkan dia untuk tidur saja di pangkuanku. Dia mau dan langsung dia rebahkan kepalanya di pahaku, waktu itu aku sebenarnya agak kawatir dengan penumpang lainnya. Jangan-jangan ada yang berpikiran macam-macam tentang kami, meskipun begitu aku akhirnya memutuskan untuk santai saja. Si Ana dengan cepat tertidur dengan pulasnya, tanganku kutaruh di atas punggungnya biar dia merasa lebih hangat. Tawaranku untuk tidur di pahaku ternyata berbekas sekali di hati sepupuku ini, sepertinya dia merasa ada sesuatu yang lain yang dirasakannya setelah dia merebahkan kepalanya di pahaku. Mungkin karena dia masih anak SMU yang belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang cowok, tetapi kok ya kebetulan justru dengan kakak sepupunya sendiri.
Tidak terasa, bis telah memasuki terminal di kotanya. Waktu itu jam 1 pagi. Kami langsung mencari becak untuk pulang ke rumahnya. Sampai di rumahnya yang sederhana (bapaknya bekerja sebagai sipir penjara dan ibunya guru SD), aku langsung disambut oleh Omku. Kami berbincang-bincang sejenak sambil nonton MTV. Tidak lama kemudian, Omku minta diri untuk tidur. Aku mempersilakan Omku untuk tidur. Aku sendirian yang belum merasa mengantuk dan meneruskan melihat TV. Si Ana sendiri ada di kamarnya sedang bicara dengan adiknya. Kira-kira 5 menit kemudian, kudengar ada orang datang masuk ke ruang TV dimana aku berada, yang Ternyata Ana.
Aku bertanya pada dia, “Lho.. An, kamu ngga tidur? Kan udah malem, bahkan pagi nih!”
“Lah.. mas sendiri gimana? Kok ngga tidur juga?” dia balik bertanya.
“Mas kan udah biasa melek sampai pagi, lagian acaranya bagus nih, MTV music Awards.”
“Iya deh… tapi Ana boleh nemenin Mas ngga?”
“Boleh aja, asal bikinin Mas kopi panas dong…”
“Ih.. Mas curang.. Oke deh Ana buatin.”
Kemudian dia beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untukku. Sewaktu dia jalan ke dapur, dia melewati ruangan makan yang gelap, sedangkan ruang dapurnya sendiri dibiarkan terang, sebab Omku orangnya suka makan, jadi kalau malam dia sering ke dapur untuk cari makanan.
Sewaktu dia melewati kamar makan yang kebetulan bisa terlihat dari tempat dudukku, aku agak kaget karena kulihat dasternya kelihatan menerawang terkena cahaya dari dapur. Si Ana ini sebenarnya tidak hanya manis tetapi juga cantik, tubuhnya agak gemuk, tinggi sekitar 158 cm, ukuran dadanya berapa ya? Tidak tahu.. Kulitnya sawo matang dan yang paling menarik adalah matanya yang khas cewek Jawa, tidak besar juga tidak kecil. Sekilas kulihat bentuk tubuhnya sewaktu dia melewati ruang makan. Jantungku merasa agak berdebar karena aku kan laki-laki, jadi lihat yang seperti itu kan, ya gimana gitu. Selesai dia membuat kopi, segera dia menuju ke arahku, terus dia bergabung nonton MTV. Sejenak aku lupa akan kejadian yang mendebarkan tadi (menurutku lumayan mendebar kan lho).
Kami berbincang-bincang sambil mengomentari pemenang-pemenang yang sedang diumumkan di TV.
Tiba-tiba dia nyeletuk, “Mas.. tadi enak lho tiduran di pangkuannya Mas..”
“Kenapa emangnya? Mau lagi ya, sini deket-deket Mas..?” kataku.
“Oke deh!”
Kemudian dia mendekat ke arahku dan merebahkan kepalanya di pahaku lagi. Nah, sekarang aku mulai berpikiran macam-macam nih, karena kan dia hanya memakai daster dan di dalam dasternya hanya ada CD dan BH saja. Mau tidak mau batangku mulai bereaksi pelan-pelan, tetapi dia tidak tahu. Masih sekitar 10 menit kami berbincang-bincang, tanganku kutaruh di atas pinggulnya, dan kurasa dia tidak keberatan. Lama-lama sepertinya dia mengantuk dan mulai sembarangan kalau menjawab pertanyaan atau komentarku.
“An.. geser dikit dong, soalnya pahaku kesemutan nih! Sebentar, ganti pake bantal aja yah…?”
Kemudian kuangkat kepalanya, kupindahkan dia ke bantal yang ada di sofa, sedangkan kakinya kuangkat ke atas pahaku. Singkat cerita, dia sudah tertidur dengan pulas. Pikiranku mulai keluar pikiran iseng, tanganku aku rabakan di kakinya. Sambil pura-pura memijat, dari bawah pelan-pelan naik ke atas, terus turun lagi, naik lagi… lama-lama aku memijatnya terlalu naik sampai hampir menyentuh pangkal pahanya. Rupanya dia terbangun.
“Ngapain Mas..?”
“Eh.. ngga kok cuman mijitin, kan kamu capek barusan abis naik bis jarak jauh?”
“Mmm.., boleh juga.. tapi mijitnya jangan keras-keras ya Mas…”
“Oke An..”
Nah, aku teruskan kembali memijatnya, tetapi kali ini mijatnya lain, aku kan sedikit-sedikit pernah baca tentang pijatan erotis, maka aku mencoba untuk mempraktekkannya sekarang. Pertama kuletakkan tanganku di telapak kakinya, terus kucari simpul yang bisa membangkitkan gairah seksnya.
“Nah, ketemu nih…” batinku.
Pelan-pelan kupijat bagian itu sambil tanganku yang satunya juga memijat-mijat paha kanannya.
Setengah sadar dia bertanya, “Mas, kok enak banget sih pijitannya?”
“Tenang aja deh, yang ini belum apa-apa, entar ada yang lebih hebat.” jawabku.
Lama kelamaan dia jadi tidak merasa ngantuk, tetapi menikmati pijatan-pijatan tanganku sambil mengeluarkan suara lenguhan yang sangat merangsang, “Nngggh… ngghh… enak loh Mas… agak naik dikit Mas.. yang ini lho di atas dengkul…, ya.. di situ… terus.. terus..”
Aku tahu dia tidak sadar kalau sedang aku kerjain. Lama-lama kulihat dia sepertinya mau bangkit dari tidurnya. Kemudian waktu kubiarkan, ternyata dia tiba-tiba memelukku dan berusaha mencium bibirku. Aku sendiri menyambut ciumannya dengan bersemangat.
“Wah, lha ini nih yang kunanti,” batinku.
Ciumannya lumayan dahsyat, sampai lidahnya masuk ke mulutku seperti ular. Lidahku sendiri jadi tidak mau kalah menyambut lidahnya yang masuk ke mulutku (heran juga anak ini kok bisa senekat ini pikirku). Dan ternyata, kok luar biasa ciummannya untuk ukuran anak SMU yang belum pernah pacaran, tangannya melingkar di punggungku dan berusaha masuk ke dalam t-shirtku.
Gerakan tubuhnya terlihat sekali terbakar oleh rangsangan yang kuberikan melalui pijatan tadi, tubuhnya naik turun sambil sesekali bergoyang ke kiri dan ke kanan. Lama-lama daster yang dia kenakan tertarik ke atas oleh karena gerakannya tersebut, dan tanganku pun bisa leluasa untuk memegang pantatnya. Dia memakai celana dalam yang tipis berenda. Pelan-pelan kumasukkan tanganku ke dalam CD-nya dari atas. Aku berhasil memegang pantatnya, wah.. seketika aku merasakan suatu gelora dalam diriku, sepertinya aku sendiri mulai terserang rangsangan yang sangat kuat. Aku pijat-pijat pantatnya, sementara kami masih saling berpagut, dia sendiri terlihat sangat menikmati pijatan tanganku pada pantatnya. Lalu aku mulai menaikkan tanganku, berusaha untuk membuka dasternya. Tanpa hambatan, aku berhasil menaikkan dasternya sampai ke bagian leher, kudorong dia pelan-pelan ke belakang, dia berusaha untuk tetap memelukku.
Aku berbisik padanya, “An.. tolong kamu mundur sebentar, aku tolong kamu nglepasin dastermu.”
Dia mengangguk pelan, lalu kubuka dasternya. Kulihat tubuhnya yang mulus hanya ditutupi BH dan CD saja.
“An.. gimana kalo semuanya aku buka…?” tanyaku.
Ternyata ia mengangguk mengiyakan, “Silakan Mas…”
Kubuka pelan-pelan BH-nya sambil kubelai dua bukit di dadanya dengan lembut.
“Ehm… Mas.., Ana sayang sama Mas…” katanya.
Aku tidak menjawab perkataannya. Kemudian kudekatkan wajahku ke buah dadanya dan mulai mengulum-ngulum pucuk bukitnya. Dia terlihat sangat menikmati perlakuanku tersebut, matanya terlihat sayu dan sepertinya mengharap yang lebih dari sekedar dikulum pucuk bukitnya.
Aku menengok ke arah jam dinding yang terletak di atas pintu, jarum menunjukkan pukul 12:08 malam. Aku sempat berpikir, sebenarnya bahaya kalau tiba-tiba Om atau Tanteku memergoki kami yang sedang asik di sini. Sekejap aku memutar otak, aku lalu berbisik ketelinga Ana.
“An.. kita pindah ke kamarku aja yah?”
Dia tersentak mendengar bisikanku. Aku sendiri kaget, “Apaan nih? Kok jadi medadak berubah?”
Aku rasakan ternyata Ana sepertinya tersadar atas apa yang sedang diperbuatnya. Dengan terburu-buru, dia menyambar pakaiannya dan berusaha lari menuju kamarnya. Cepat sekali kejadian itu berlalu, aku sendiri tidak sempat melakukan apa-apa, aku hanya melongo seperti Mandra diputus Munaroh. Gila, pembaca tahu sendiri kan? Lagi enak-enak bercumbu, tidak tahunya putus di tengah jalan. Tetapi aku sendiri maklum, sebenarnya Ana adalah anak yang taat beribadah. Dan kuyakin yang barus saja kualami, sebenarnya dia melakukannya di bawah sadar.
Paginya, aku bangun sekitar pukul 9:00, ternyata aku semalam ketiduran di depan TV. Aku ngucek-ucek mataku sambil mencari dimana kacamataku, agak lama kucari, tetapi tidak ada.
“Mana ya?” aku bergumam pelan.
Kebetulan Tante yang berjalan melewati ruang TV menuju dapur mendengar gumamanku.
“Cari apa Di?” tanya Tanteku.
“Tante liat kacamata Padi ngga?”
“Ngga tuh.. mungkin jatuh di bawah meja, coba cari lagi,” sambil dia berjalan menuju ke arahku ingin membantu mencari.
Dicari-cari sudah lama, tetap tidak ketemu, “Yep.. nanti dicari lagi deh Tante.. biar Padi mandi dulu.” kataku.
“Oke lah, nanti Tante bantu lagi carinya.”
“Oke Tante..” sahutku.
Aku bergegas menuju ke kamarku, mengambil peralatan mandiku.
Kamarku terletak di sebelah kamar Ana, sempat kulihat dari celah kamar yang tidak tertutup semua. Ana masih kelihatan pulas tidurnya. Mungkin dia tidak bisa tidur setelah kejadian tadi malam. Habis mandi aku menuju ke ruang TV lagi untuk mencari kacamataku yang masih sembunyi. Ternyata tante sudah ada di sana sedang nonton TV.
Aku tanya ke tante, “Ketemu ngga kacamatanya Tante?”
“Ngga tuh Di.. udah tante cari dimana-mana ngga ada, sampai-sampai sekalian Tante ngebersihin ruang ini deh.”
“Waduh… gimana nih… susah deh. Aku kan ngga bisa baca kalo ngga pake kacamata,” pikirku, “Ya apa mau dikata, kalo lagi apes, gini deh jadinya.”
Pukul 9:30, kulihat kamar Ana sudah terbuka, beberapa menit kemudian Reni (ini nama adiknya) bergabung dengan kami di ruang TV sambil membawa nampan berisi 4 gelas teh.
Aku tanya dia, “Kok cuman empat gelasnya Ren?”
“Ooo, Papa kan udah berangkat kerja Mas.., jadi Reni bikinnya cuman 4.” jawabnya.
“Gitu ya?” sahutku.
Kami lalu berkumpul membicarakan keadaan Kota Tuban, tiba-tiba si Reni bertanya ke Tante.
“Ma.. kacamata yang di kamar Reni itu punya siapa sih?” tanyanya.
“Eit! lha ini dia nih si kacamata.. ternyata ngumpet di sana,” spontan aku menyahut, “Heh! Itu pasti kacamataku.”
“Betul.. itu pasti kacamatanya Mas Padi, Ren!” sahut Tante, “Sana cepet ambilin!”
Reni lalu berdiri dan mesuk kamar untuk mengambil kacamataku. Aku berpikir, mungkin kacamataku semalam kesangkut di bajunya Ana. Sesaat kemudian Reni kembali membawa kacamataku, aku sempat was-was, moga-moga Tante tidak curiga kenapa kok kacamataku sampai bisa mampir kesana. Memang ternyata dia tidak curiga sama sekali.
Pukul 10:00, Tante pamit mau berangkat ke pasar yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumahnya, si Reni ikut. Aku ditinggal sendirian. 5 menit waktu berlalu, aku mulai bosan, terus aku menuju teras depan ingin merokok. Di teras ternyata ada koran edisi hari itu, aku tertarik untuk membacanya. Kubolak-balik halamannya, tidak ada yang menarik. Bosan lagi deh, ngelamun jadinya. Aku teringat kejadian tadi malam.
Dalam hati aku berpikir, “Sekarang di rumah cuman ada aku berdua sama Ana. Wuih! kalo… hehehe kalo… misalnya aku iseng gimana ya?”
Akhirnya, ternyata aku nekat juga.
Aku bangkit dari tempat dudukku, masuk ke dalam. Sampai di depan pintu kamarku, aku punya ide. “Mmmm harusnya pintu depan kututup ya, terus aku pasangkan kaleng krupuk di bagian dalam, biar kalo kebuka dari luar kalengnya kegeser dan bikin suara brisik.” pikirku.
Cepat-cepat kukembali ke ruang tamu dan melakukan rencanaku. Setelah itu, aku kembali lagi ke kamar, hati-hati kuintip ke dalam kamarnya Ana, ternyata dia masih pulas tertidur. Aku berjingkat masuk ke kamarnya, perlahan aku duduk di samping tidurnya. Dia tidurnya mengorok hingga aku mau tertawa waktu itu, tetapi kutahan karena takut dia terbangun. Dengan hanya diterangi lampu baca (kamarnya tidak ada jendelanya), kupandangi wajahnya lama. 5 menit lebih kupandangi dia, semakin lama semakin manis.
“Gila ya, dengan adik sepupu kok seperti itu?” tapi pikirku, “Biarin aja lah, iseng-iseng berhadiah.”
Kemudian aku mulai mencoba membelai rambutnya, pelan tetapi pasti. Dia tidak bereaksi, dia tidurnya brukut (memakai selimutnya sampai menutupi leher). Aku berusaha membuka selimutnya perlahan, kutarik ke bawah dan dia tetap tidak bereaksi. Kumasukkan tanganku ke dalam selimutnya sambil berusaha mencari payudaranya. Dengan tanpa kesulitan, tanganku sudah memegang payudaranya, tetapi masih terhalang dasternya.
“Eit… nanti dulu… ternyata dia ngga pake BH! Berarti semalam dia ngga pake BH-nya lagi dong, wah asik nih…” pikirku.
Lalu kumasukkan tanganku melalui lubang di antara kancing dasternya. Tidak susah juga, tanganku sudah memegang daging empuk dengan tonjolan di puncaknya.
Ana menggeliat, agak keras menggeliatnya, dia terbangun.
“Mampus gua,” pikirku.
Dia melotot sambil teriak, “Lepasin dong Mas… apa-apaan nih Mas?”
Aku gelagapan berusaha mencari alasan, “An… kamu ngga inget semalem ya?”
“Lupain aja Mas! Ana ngga mau lagi, ngga boleh, entar dosa Mas!”
“Tapi Ana semalem udah ngelakuin dosa lho… kenapa ngga sekalian aja?” rayuku.
Kali ini dia benar-benar marah. Ana teriak-teriak menyuruhku keluar dari kamarnya. Aku turut saja, untung letak rumahnya berjauhan dengan tetangga, jadi aku tidak takut teriakannya terdengar tetangganya.
Wah… gagal nih ceritanya.., aku akhirnya hanya meraba-taba batang kemaluanku yang menganggur karena tidak jadi dipakai. Aku duduk di ruang TV lagi. Melihat acara tarian Bangkok, lumayan lah buat obat, melihat penyanyi Thailand yang cantik-cantik. Sebentar kemudian Ana keluar dari kamarnya, dia menuju ke arahku. Aku berusaha tidak peduli, dia lalu duduk di dekatku.
Katanya, “Mas maapin Ana ya? Ana udah bentak-bentak Mas…”
“Ngga papa An.., Mas yang salah.” balasku.
“Sebenarnya Ana sayang sama Mas, tapi kita kan masih bersaudara, apalagi nanti kalo ketahuan ama Papa-Mama kan bisa berabe Mas!” jelasnya.
“Ya sudah.. lupain aja An, toh kamu masih muda. Nanti juga pasti ada cowok lain yang lebih pantas buat kamu.” lanjutku.
“Iya Mas, Mas… Ana mau ngasih sesuatu buat Mas.”
“Apa An?” tanyaku.
“Liat sini deh Mas..” (dia mulai tidak kaku lagi)
Cerita Seks Sepupuku Dan Adiknya Masih Perawan
Aku menoleh ke arahnya, tiba-tiba dia mendekatkan bibirnya ke arah bibirku.
“Mmpphh…”
“Plas!” jantungku spontan berdegup keras, “Kok tau-tau nyium sih?” pikirku, tetapi kunikmati saja, enak sih.
Pertamanya dia hanya mau mengecup saja, tetapi kulingkarkan tanganku di lehernya, dan kudekap dia. Dengan lembut kukecup bibirnya, dia tidak berontak ternyata, aku pererat dekapanku, dada kami sudah saling menempel. Aku merasakan kalau dia masih belum memakai BH-nya. Dengan perlahan kubelai punggungnya, dasternya yang terbuat dari sutera terasa halus sekali, sensasinya justru membuatku jadi semakin ON saja. Coba saja pasangan anda disuruh pakai lingerie yang bahannya sutera, ditanggung kalau diraba pasti enak sekali. Lama kami berciuman dengan posisi itu, akhirnya capai juga aku. Kulepas pelukanku dan mengakhiri ciuman.
Aku berkata pada Ana, “Sini An… Mas pangku..”
“Ngga ah Mas… nanti kayak tadi malem deh jadinya…!”
“Percaya deh sama Mas… ngga sampe ngelakuin yang ngga-ngga kok, okey?”
Dia akhirnya mengalah, mungkin dia masih ada rasa ingin juga, dia juga tahu kalau sekarang kami hanya berdua saja di rumah, So? Why not?. Dia duduk di pangkuanku menghadap TV, tanganku bergerak dengan bebas di dadanya.
Kuraba dadanya sambil berkata, “An.. Ana ngga marah-marah lagi nih?”
“Biarin lah Mas.. udah terlanjur nih, tapi janji ya jangan kebablasen…” pintanya.
“Okey An!”
Dari belakang, sambil tanganku membelai payudaranya, kulihat dia memejamkan matanya menikmati belaian tanganku. Tanganku meraba payudaranya dengan hati-hati, penuh perasaan aku membelainya, aku sendiri memejamkan mataku jadinya. Pelan tapi pasti, tanganku bergerak turun menuju perutnya. Agak dekat dengan V-nya kugunakan kuku jariku yang agak panjang untuk membangkitkan rangsangan di perutnya. Kulirik dia, terlihat dia menahan perutnya dengan membuat kaku daerah itu.
Dia menikmati perbuatanku, perlahan dasternya kutarik ke atas, dia diam saja, ujung dasternya sudah sampai ke pahanya. Sedikit lagi pasti aku bisa meraih celana dalamnya. Akhirnya sampai juga, CD-nya sudah tidak tertutup lagi, sekilas kulihat bercak basah di ujung V-nya. Tanpa berpikir lama, kupindahkan tanganku ke sana, tanganku merasakan memang di daerah itu sudah basah. Kusimpulkan pasti dia sudah terangsang berat. Lalu kuselipkan tanganku ke dalam CD-nya, tetapi dia kali ini menahan tanganku supaya tidak masuk ke sana. Aku urungkan niatku untuk itu, tanganku hanya menggosok-gosok dari luar saja. Kemudian terlihat dia mengeluarkan lenguhan dan badannya menegang, seperti menahan sesuatu. Orgasme rupanya. Lalu badannya melemas lunglai di pelukanku.
Tanganku yang masih berada di selangkangannya merasakan kalau CD-nya bertambah basah. Kemudian Ana memandangiku. Lama kami berpandangan.
Ana kemudian bicara, “Mas, kita lakukan yuk. Ana udah ngga tahan…”
Wah, benar-benar kejutan..! Ana tiba-tiba berubah pikiran. Hal ini tidak akan kusia-siakan. Tanpa bicara lagi, langsung kucium dan kuremas dadanya yang masih tertutup daster. Ana melenguh keenakan karena remasan itu. Kemudian aku melepas remasannya. Kupandangi dadanya di balik dasternya, kupandangi seluruh tubuhnya, kulitnya yang sawo matang. Kemudian aku melepas dasternya karena akan merepotkan saja.
Kini ia polos tanpa satu benang pun menutupi tubuhnya. Kemudian aku membopongnya ke kamar tidurku dan kubaringkan ia di tempat tidur, lalu kuciumi seluruh tubuhnya. Tubuh Ana bergetar hebat, menandakan bahwa dia baru pertama kali ini melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Kemudian aku mencium dan menjilat bagian perutnya dan mulai ke bawah dan mulai meraba serta membuka kedua pahanya degan kedua tanganku. Tangan kananku membuka belahan vaginanya sedangkan seluruh bagian mulutku mulai mengolah bibir-bibir vaginanya. Tangan kiriku masih meremas buah dadanya yang sebelah kanan. Aku merasakan adanya cairan yang mulai membasahi permukaan bibir vaginanya. Aku terus menyedot dan menggigit-gigit perlahan labia mayoranya dengan asyik, sedangkan tangan kiriku sekarang meraba-raba klitorisnya dengan cairan pelumas dari lubangnya.
Asyik sekali, karena terlalu keasyikannya, secara tidak sadar, ada dua tangan menjambak rambutku, aku tidak menghentikan aktivitasku. Mulanya kupikir hanya gerakan kenikmatan yang diterimanya secara erotis. Eh, kok tambah lama terasa ada goyangan perlahan di bagian selangkangannya. Begitu pula tanpa kusadari, ada suara-suara nafas tertahan dan jambakan di rambutku bukan lagi jambakan pasif, tetapi mulai membelai dan memegang kupingku. Aku tiba-tiba sadar. Dia benar-benar menikmatinya. Aku termanggu duduk di antara selangkangannya dan melihat ke arah wajahnya.
“Kok.., berhenti Mas..?” suaranya berat perlahan dengan tatapan wajah yang sayu.
“Ehh.. terusin Mas… hhh… kurang dikit lagi..!” suaranya tertahan.
Aku masih terduduk bingung dan memandangnya dengan pandangan bodoh. Dan yang menjengkelkan, batang kejantananku tidak berkompromi. Dia tegak mengacung, sehingga mencuat di antara kaosku. Kepalanya tampak licin karena cairan bening yang keluar. Sebenarnya batang kejantananku lumayan besar dan panjang, sehingga tampak mencuat tinggi. Tiba-tiba Ana bangun, dan duduk di hadapanku, memandangku dengan sayu. Tiba-tiba tangannya mulai bergerak ke arah batangku, dan memegang lama sambil tersengal-sengal sehabis melumatnya. Kemudian memandangku perlahan dan meletakkan dirinya telentang di ranjang. Ana berdiri di atas tempat tidur dan berjongkok di depanku. Kemudian dia membuka kedua pahanya dan mengangkat lututnya ke atas sehingga lubangnya terlihat.
Ia meraba permukaan vaginanya sambil perlahan memandangku dan berkata, “Ayo Mas… masukin..!”
Aku seperti tersihir, antara bingung dan nafsu, menggerakkan diri untuk berlutut di antara kedua pahanya dan memegang kepala batangku yang licin terkena ludahnya dan mengarahkannya ke lubang merah mengkilat itu. Sejenak aku lupa bahwa dia masih belasan tahun, yang kurasakan secara reflek setelah dikenyot habis-habisan olehnya, ialah bahwa ia sudah tidak perawan lagi.
Dan, “Ssleeeppp..” ketat tetapi tidak begitu menjepit dan tanpa hambatan sama sekali (benar dugaanku). Aku menusukkan seluruh panjang batangku ke dalam lubang itu, dan hebatnya seluruh panjangnya batang kejantananku itu masuk total ke dalamnya serta membiarkannya sejenak merasakan denyutan hangatnya. Ana melenguh agak keras. Aku khawatir juga karena dia akan merasakan sakit di bagian dalam vaginanya. Tetapi karena malaikat nafsu lebih berkuasa, ya sudah aku santai saja dan mulai menarik batangku itu dari dalam lubangnya dan memasukkannya lagi seluruhnya.
Entah karena apa, aku tidak begitu merasakan rasa nikmat yang cepat naik. Memang terasa basah, licin dan enak tetapi, ya lebih karena ini memang sedang bersetubuh. Aku mulai berpraktek dengan berbagai macam cara menusuk dan arah tusukan ke dalam lubang vaginanya. Yang mulai mencemaskanku, Ana sama sekali tidak berusaha menahan suaranya. Ia mulai melenguh dan mengerang keras-keras ketika aku mulai mempercepat gerakanku. Aku antara cemas dan mulai nikmat, tidak peduli lagi. Lagi pula suaranya mulai merangsangku dan ini membuatku menusuk-nusuk dengan gerakan yang cepat dan keras.
“Aaahhh… aayooo Mass… aaduhh… cepat Masss..!” pintanya dengan nafsu.
Dia mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya. Bunyi beradunya kemaluan kami mulai terdengar keras, berkecepak-kecepak dan aku mulai merasakan lereng gunung telah kucapai. Tinggal mendaki cepat dan sampai di puncak.
Tiba-tiba Ana menghentikan gerakanku, dan menutup kedua pahanya sehingga terasa ada jepitan yang luar biasa di sekujur batangku. Kemudian dia memandangku sayu. Aku tahu apa yang dimaksudkannya dan mulai menggenjot lagi. Aku menjepitkan kedua betisnya di antara leherku dan bertumpu pada kedua tangan, sedang aku membentuk busur dengan tubuhku, merapatkan kedua pahaku sehingga terasa batangku membesar dan mulai menusuk-nusuknya cepat.
“Aaahhh… sss…” terdengar bunyi-bunyian antara suaranya yang merangsang dan bunyi kecepakan kemaluan kami yang beradu, sedangkan aku sendiri mengeluarkan suara helaan nafas yang cepat.
Beberapa menit kemudian, aku merasakan aliran yang semakin cepat memenuhi pinggul dan seluruh tubuhku. Keringatku telah mengucur deras.
Dan, “Annn… Annaaa… aaadduuhhh… ssss… Ann..!” spermaku menyemprot deras ke arah perutnya. Aku mengerang keras dan terus mengocok batang kemaluanku. Kemudian tanganku yang mulai begerak ke arah vaginanya segera menusuk-nusukannya. Lama aku terus menusuk-nusuk lubangnya karena rasa nikmatnya terus mengalir hingga tidak berapa lama kemudian Anna berkata, “Masss… aaa… Maass… ssshhh… aaddduuhh..!”
Ana menaikkan pelvisnya dan menerima tusukan-tusukan terakhirku dengan denyutan dinding vagina yang terasa cepat dan kenyal. Aku menindih tubuhnya yang kecil dan merasakan detak jantung yang cepat di dadanya dan dengusan nafas hangat di ubun-ubunku. Jariku masih menancap dalam di dalam vaginanya dan merasakan denyutan yang tidak kunjung reda.
Kemudian aku tergeletak di sampingnya, aku berkata kepada Ana, “An… kamu sekarang mandi saja ya..? Kayaknya kamu bau deh…”
“Sialan… iya deh, Ana mandi, makasih ya Mas… Ana udah dikasih pelajaran sama Mas.”
“Sama-sama An..”
Aku tidak merasa menyesal karena tidak dapat seperti yang kubayangkan (gadis yang benar-benar perawan). Yah, lumayanlah bisa meraba-raba kan? Ana lalu berdiri hendak menuju ke kamar mandi, sebelum dia pergi dia menoleh ke arahku lalu menunduk dan menciumku sebentar. Aku belaikan tanganku ke dadanya dan V-nya. Dia tersenyum memandangku, lalu bergegas menuju kamar mandi. Saat dia menutup kamar mandi, aku sempat dengar langkah kaki berlari menjauh dari arah pintu ruang tamu. Aku cepat-cepat menuju ruang tamu ingin mengetahui siapa yang baru saja dari sana. Sempat kulihat warna bajunya, biru seperti yang dipakai Reni. “Mungkinkah..?” batinku.
Aku kembali ke ruang TV, sambil menebak-nebak, “Apa iya.. tadi itu si Reni, terus kalau benar, berarti dia tahu dong kita lagi ngapain..? Waduh, terlalu serius sih tadi… jadinya begini deh.”
Kurang lebih 20 menit, Tante dan Reni datang dari pasar, Tante katanya mau masak Sop buntut dan membuat Rujak cingur. Siang jam 12:30, Ana mengajakku untuk makan. Saat makan, Reni kelihatan agak canggung melihatku, pikiranku lalu menghubungkan dengan peristiwa yang tadi kualami.
“Berarti tadi memang benar Reni..” pikirku.
Kami tidak bicara banyak saat di meja makan. Akhirnya sore pun tiba, Omku sudah datang sejak jam 3:00 tadi. Aku lewatkan seharian dengan bermain playstation dengan Ana, sedangkan Reni dari tadi berada di dalam kamarnya. Tidak tahu sedang berbuat apa dia, betah-betahnya di dalam kamar terus. Tante sendiri ke rumah tetangga untuk membantu masak, kebetulan tetangga ada yang sedang punya hajat.
Jam 8:00 malam, aku membaca-baca majalah di ruang tamu. Ana dan Reni di ruang TV sedang nonton HBO, tidak tahu apa film-nya. Tante sudah tidur di kamar belakang, lelah sehabis membantu tetangga. Si Om malam ini mendapat tugas jaga malam. Jam 9:00, Ana ke ruang tamu, dia bicara padaku kalau mau tidur duluan, Reni masih mau nonton TV menunggu opera sabun kegemarannya di HBO kata Ana. Ana suruh aku menemani Reni di ruang TV, soalnya si Reni anaknya sedikit penakut katanya. Jadi aku pindah ke ruang TV, kubawa majalah yang sedang kubaca. Aku rebahkan badanku di sofa panjang di depan TV. Reni sendiri duduk di kursi favoritnya, tanpa sekali pun menengok ke arahku. Aku teruskan baca artikel yang sempat terputus tadi, sambil sekali-sekali aku melihat ke arah televisi. Aku lihat ke arah jam tanganku, ternyata sudah jam 11:13.
Aku berkata kepada Reni, “Ren.. kamu ngga ngantuk?”
Dia tidak menjawab, kuulangi lagi dua kali baru dia menjawab, “Belum ngantuk kok Mas, lagian film-nya barusan mulai nih.”
“Oke.. kalau gitu Mas pergi tidur dulu ya..?”
“Ntar dulu dong Mas, tunggu film-nya abis… kan Reni takut nonton sendirian, film-nya agak horor nih!” pintanya.
“Sofanya dibuka aja… jadiin tempat tidur, Mas tidur di situ aja.” katanya lagi.
“Emang bisa Ren..? Oke deh Mas coba.”
Aku coba deh usul Reni, dan aku akhirnya tidur di sofa yang sudah diubah menjadi tempat tidur itu. Tidak tahu berapa lama aku tertidur di situ, tiba-tiba aku terbangun merasakan tanganku ada yang memegang. Aku buka mataku sedikit-sedikit, terlihat olehku Reni memegang tanganku, digosok-gosokkannya tanganku ke selangkangannya. Terasa olehku bulu-bulu halus di ujung jariku. Kulirik mukanya, dia mendesah amat pelan. Wajahnya menghadap ke arah televisi, aku jadi curiga, jangan-jangan?
Aku lalu mencoba melihat ke layar televisi, ternyata di sana terlihat film-nya sudah bukan HBO lagi. Kesimpulanku, si Reni ternyata suka nonton sampai malam berarti hanya untuk menyetel VCD porno. Wow! berarti kakaknya kalah dong sama adiknya. Perlu diketahui, jarak umur antara Ana dengan Reni hanya 1 tahun lebih sedikit, apalagi Reni anaknya agak bongsor, tingginya sepundakku, tidak begitu gemuk tetapi cukup berisi. Singkat kata, aku beruntung kali ini, karena mendapat daun muda nih. Perlahan, tanganku yang masih bebas berusaha melorotkan celana dalamku ke bawah. Sementara Reni masih asyik dengan kegiatannya yang semakin lama semakin menjadi, dia seperti terobsesi dengan film dari VCD tersebut. Lenguhannya kadang-kadang terdengar keras.
Lalu perlahan-lahan tanganku yang dia pegang kutarik ke arah kemaluanku. Setelah dekat, tanganku yang satunya dengan cepat kurangkulkan ke pinggangnya dan menariknya ke atas tubuhku. Dia kaget sekali, hampir dia berontak, tetapi selanjutnya dia justru memegang batang kejantananku dan mulai mengocok-ngocok dengan lembut. Aku pun lalu mengimbanginya, kuubah posisiku agar lebih enak dengan bersandar ke belakang, ke sandaran sofa. Dia menoleh ke arahku, terlihat wajahnya yang khas ABG, mengingatkanku kepada cewek-cewek yang suka nongkrong di mall-mall. Posisi tubuh kami akhirnya saling berhadapan, dia menggesekkan tubuhnya naik turun. Payudaranya ditempelkan ke dadaku. Nafasnya terdengar keras, khas orang yang sedang terangsang berat, “Sshhhsshhsshhss…” seperti itu deh kalau tidak salah.
T-shirtnya yang gombrong mulai basah terkena keringatnya, memang malam itu udara terasa sangat panas, aku sendiri juga merasa kepanasan. Aku peluk dia, tanganku kutelusupkan ke dalam t-shirtnya dari belakang, sedangkan bibirku tidak tinggal diam begitu saja, kucium belakang kupingnya dengan pelan, kuhembuskan nafas secara perlahan ke daun telinganya. Terasa olehku Reni semakin menggila, terasa dari gerakan tubuhnya yang turun naik dengan cepat, digesekkannya dadanya ke dadaku, juga selangkangannya dia gesek-gesekkan ke kemaluanku dengan bernafsu. Tanganku yang berada di punggungnya, akhirnya kugeser ke pantatnya, dari atas punggung kugerakkan ke bawah, masuk ke celananya sebelum sampai ke pantat. Kuputar ke samping dengan agak cepat, lalu kuteruskan ke pinggang mencari celana dalamnya, kuraba dari luar celana dalamnya, pantatnya yang empuk kuremas dengan gemas. Aku menyesuaikan dengan irama gerakannya yang maju mundur. Kontan dia makin menggila, tangannya naik ke atas, rambutnya menyuguhkan gerakan yang erotis sekali. Dia berusaha menanggalkan t-shirtnya.
Setelah t-shirtnya lepas, dia pegang kepalaku, menariknya ke arahnya dan melumat bibirku dengan sangat bernafsu. Reni tidak memakai BH, payudaranya yang berukuran lumayan besar terlihat mengkilat karena basah oleh keringat. Aku menjilat-jilat payudaranya, kukulum putingnya yang kecil dan tidak begitu menonjol.
Dia berteriak pelan, “Mas..!”
Aku lalu berpindah ke bibirnya yang mungil, kulumat dengan bernafsu bibirnya itu. Dia mendesah keenakan, akhirnya dia tidak tahan lagi.
“Ayo Mas, kayak yang di VCD itu lho Mas…” pintanya.
Kujawab, “Yang gimana Ren..?”
“Cepetan dong Mas… Reni udah ngga tahan nih..”
“Emang Reni udah pernah..?”
“Belum Mas… makanya Reni pengen coba, cepetan dong Mas…”
Kami lalu berdiri berhadapan, aku melepas pakaian yang melekat di tubuhku, dia begitu juga melepas semua pakaian di tubuhnya. Dengan bernafsu dia pegang batang kemaluanku untuk dikocok-kocok, sensasinya, wuah! Tidak tergambarkan. Dipegang oleh anak baru umur 18 tahun! Lalu sebentar kemudian, dia melepas batang kemaluanku dan membalikkan tubuhnya, berpegangan pada lemari buku. Posisinya sekarang agak menungging membelakangiku, pantatnya yang belum begitu besar terlihat kenyal. Dari belakang, aku melihat kemaluannya sudah merekah, ada daging yang keluar dari kemaluannya, entah apa itu namanya. Mungkin itu kli yang dinamakan clitoris. Tetapi pemandangan itu menjadikan batang kejantananku menjadi berdenyut-denyut ingin merasakannya.
Kudekati dia, kugesek-gesekkan kepala senjataku ke daging yang menyembul keluar itu. Tangan Reni dengan tergesa-gesa menarik batang kejantananku untuk segera dimasukkan ke dalam liang kemaluannya. Terasa agak sulit untuk memasukinya, kutusukkan dengan keras karena aku sudah sangat bernafsu. Aku melihat ke arah wajahnya. Pandangannya ternyata ke arah layar televisi, sambil sesekali bibirnya mengeluarkan desahan-desahan merangsang.
“Gila!” pikirku, “Dia ternyata maniak sama VCD porno.”
Aku tingkatkan kecepatanku dalam menggoyang. Lama-lama aku merasa pinggangku capek, dan aku coba mengarahkan dia untuk mengganti posisi classic, aku tiduran dan dia yang di atasku. Dia menurut. Sambil memegang pantatnya, aku tiduran dan menikmati goyangannya. Badannya terlihat mungil bila dibandingkan dengan tubuhku, suara desahannya terdengar melengking lirih di telingaku.
Pada puncak kenikmatannya, dia melengkungkan tubuhnya ke belakang, tangannya menahan berat badan tubuhnya dengan gemetar. Rasa hangat yang terasa oleh batang kejantananku menjadi bertambah seiring dengan tercapainya puncak kenikmatannya. Sedangkan aku sendiri belum merasakan puncak. Reni merangkulku dengan lemas. Setelah itu, dia berbisik ke kupingku.
“Makasih ya Mas, Mas telah memberi Reni melebihi dari mbak Ana…”
“Jreng! Terkuaklah kebenaran peristiwa siang tadi, ternyata memang benar. Reni telah melihatku bermesraan dengan kakaknya.” daliam hatiku.
“Loh, jadi tadi Reni ngelihat Mas padi gituan sama mbak Ana to?”
“Heeh Mas… Reni kepingin, lagian Reni sering ngeliat di VCD. Kayaknya enak banget deh Mas… dan ternyata memang bener.”
“Oke deh, tapi Mas Padi belom sampai puncak nih.. gimana dong? Kan kasihan Reni udah capek.”
“Begini aja Mas… dari tadi siang emang Reni udah merencanakan ini, gini rencana Reni, tadi waktu Reni ngeliat Mas sama Mbak Ana gituan, sebenarnya Reni mo ngambil Dompet Mama yang ketinggalan. Trus Reni punya rencana, Reni beli CTM (obat tidur) buat dikasih ke minuman Mama ama Mbak Ana, nah.. tadi Mbak Ana sama Mama udah minum obatnya (dicampur sama teh) masing-masing 3 butir.. hehehe.”
“Terus gimana dong?” sahutku.
“Sekarang Mbak Ana kan pasti pules banget tidurnya, diapa-apain pasti ngga bangun deh. Kan tempat tidur sebelahnya lagi kosong…”
“Heh!” aku spontan tahu apa yang dimaksudkannya, “Sip deh! Oke Ren! Sekarang kita pindah aja ke kamarmu…”
“Ayo..!”
Kemudian kami berdua berdiri dan menuju ke arah kamar Ana. Memang benar Ana tertidur lelap. Hanya iseng saja, aku membuka dasternya dan menyentuh kewanitaannya Ana dan memasukkan jari telunjuk dan tengah. Ternyata memang tidak bangun! Hanya saja dia mengeluarkan sedikit lenguhan-lenguhan nikmat yang dia rasakan. Kemudian aku mulai memainkan vaginanya sampai basah. Tetap saja Ana tidak bangun sama sekali.
“Mas, udah dong. Kok malah Mbak Ana yang dimaenin. Giliran Reni dooong…” keluh Reni karena sudah terbalut nafsu yang tinggi.
Padahal tadi sudah puas. Lagipula aku juga sudah bernafsu karena tadi dalam permainan pertama belum selesai.
Kemudian aku melepaskan jilatan pada vagina Ana dan berpaling ke Reni ysng sudah mulai memuncak nafsunya. Kemudian aku mulai naik ke atas ranjang dan menidurkan Reni. Secara intense, kami pun mulai pagutan. Tetapi ketika kami berciuman, beda sekali dengan yang pertama. Seperti disirap, kucium pipinya, mulutnya, berhenti lama di situ. Mulut kami berpagut seperti memecah ribuan rindu. Lidah kami bermain di sana. Tidak lama kemudian, kuturunkan lidahku ke arah lehernya, dia menggelinjang, matanya terpejam, tangannya bergidik seperti menahan gelombang perasaannya sendiri. Ketika putingnya kuraba, dia mulai melenguh. Dengan gerakan halus, aku mulai meremas-remas sehingga Reni merasa keenakan. Sementara bibirku sudah beralih, tidak lagi di bibirnya tetapi sudah menjilati telinga, dan lehernya.
Karena buah dadanya sudah terbuka, mulutku pun bergeser ke puting susunya yang sudah menegang. Ketika kumainkan dengan lidahku, lenguhannya semakin panjang. Tangan kananku pindah ke arah vaginanya dan mulai meremasnya. Sambil memainkan klitorisnya, aku terus menjilati kedua payudaranya. Ketika aku merasakan kemaluannya sudah sangat basah, aku mulai bernafsu untuk melakukan foreplay yang lebih lama. Tidak lama kemudian, mulutku menjilat ke arah perut, pinggang dan sasaran terakhir adalah klitorisnya yang merah. Karena tidak tahan, Reni berontak dan ingin merubah posisi.
“Ren, duduk di depan mukaku…” pintaku sambil menolongnya berpindah posisi.
Dia pun kemudian duduk dan menempatkan liang kenikmatannya tepat di wajahku. Lidah dan mulutku kembali memberikan kenikmatan baginya. Responnya mengejutnya.
“Aughhh…” setengah berteriak dan kedua tangannya meremas buah dadanya. Kuhisap dan kujilati terus, semakin basah liang kenikmatannya.
Tiba-tiba Reni berteriak, keras sekali, “Aahhh… ahhh,” matanya terpejam dan pinggulnya bergerak-gerak di wajahku.
“Aku.. keluar,” sambil terus menggoyangkan pinggulnya dan tubuhnya seperti tersentak-sentak.
Mungkin inilah orgasme wanita yang paling jelas kulihat. Dan tiba-tiba, keluar cairan membanjir dari liang kenikmatannya. Ini bisa kurasakan dengan jelas, karena mulutku masih menciumi dan menjilatinya.
“Aduh… Mass.. enak banget. Lemes deh.” katanya. Dia terkulai menindihku.
“Enak?”, tanyaku.
“Enak banget, kamu pinter yah. Ngga pernah lho aku klimaks kayak tadi.”
“Akh, yang bener..? Kamu kan tadi udah ngerasain.” kataku mengingatkan pada permainan pertama kami.”
“Tapi, uuhh… lebih enak yang ini..”
Ternyata Reni masih menikmati sisa-sisa klimaksnya. Tetapi karena belum puas, langsung saja kujilat kembali liang kemaluannya. Semakin lama semakin asyik dan sangat enak, dan dia pun merintih-rintih kecil.
“Mass… nakal ahhh… kok… akkhh… dimaenin lagi… ouuchh… siiich… uwuuhh ooo… sstt akhs… akhs… akhs… ooohhh aahh… sstth,” sambil tubuhnya agak bergerak tidak karuan, mungkin jilatanku tidak seberapa tetapi kulihat dia sedang keasyikan menikmati jilatanku.
Lalu dia berdiri dan menarik tubuhku ke lantai. Di situ kami berciuman lagi, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang hangat di sekitar liang kemaluannya, kuingin batang kemaluanku dimasukkannya ke lubang kemaluannya. Soalnya aku masih ragu. Walaupun tadi sih berani. Tetapi takut si Ana bangun. Kemudian aku memberanikan untuk bicara.
“Ren, aku masukin lagi yaaa… Tadi kan belum puass…”
Reni tidak menjawab. Dia hanya merintih keenakan. Karena malas bermain sambil berdiri, aku mendorong Reni hingga tertindih oleh badanku. Reni mengerang keras karena vagina tertindih oleh adikku yang sudah menegang tinggi. Kemudian mulai lagi kugerakkan tanganku mencakar halus pinggangnya sampai ke payudaranya. Reni meremas kedua tanganku, menahan geli yang ditimbulkannya.
“Ssshh… ssshhh!” Reni mendesis berkali-kali menahan kenikmatan itu.
Kembali aku memainkan klitorisnya dengan tanganku, sementara kujilati kedua pahanya.
“Aaahhh… ssshhh,” Reni mengerang lirih.
Aku menikmati aroma kewanitaannya yang semerbak bersamaan keluarnya cairan dari liang kemaluannya. Kubenamkan wajahku ke liang kemaluannya sambil menjilati bibir kemaluannya. Klitorisnya yang berwarna merah jambu kukulum sambil kumainkan dengan lidahku. Tubuh Reni menggelinjang bergetar.
“Uuuhffsss… aaahhh!” Reni menjerit menahan kenikmatan sambil tangannya menggenggam tepi ranjang.
Kurasakan cairan kemaluannya deras mengalir dan kuhisap dengan penuh kepuasan.
“Masss… masukin sekarang.. aku ngga tahan nih..” Reni lirih memohonku untuk segera memasuki tubuhnya.
Aku segera menempatkan tubuhku di atas tubuhnya yang ramping, seksi serta kencang itu. Berdesir darahku melihat Reni terbaring polos telanjang. Ini bukan kesekian kalinya aku mengaguminya. Badan Reni kurus tetapi kencang dan atletis seperti pelari sprinter tetapi untungnya tidak sampai berotot.
“Maass… cepat doong… aakkhh.. ngga tahan nih…”
“Ok, tenang aja..”
Sejenak sempat kudengar Reni mendesis saat meraih kemaluanku.
“Uuu… besar dan kuat..” ujarnya setengah berbisik seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Begitu ujung kepala batang kejantananku menempel di bibir kewanitaannya, kurasakan getaran listrik yang mulai menjalar di seluruh tubuhku. Lalu perlahan kudorongkan ke dalam liang kemaluannya.
“Uuhhss… yess, Masss… uuuffssh,” Reni mengerang sambil mendongakkan kepalanya.
Dengan satu dorongan berikutnya, batang kemaluanku sudah masuk secara penuh ke dalam liang kenikmatan Reni yang hangat dan tebal. Reni mengalungkan kedua tangannya di leherku dan kedua kakinya melingkar di pinggangku.
Aku mulai gerakan memompa liang kemaluannya.
“Yess… ufff Maas…” Reni menjerit halus sambil memejamkan matanya.
Gerakanku semakin lama semakin cepat dengan tekanan yang semakin kuat menerobos kedalaman liang kemaluan Reni yang merespon dengan berdenyut-denyut seperti memijit batang kemaluanku.
Tiba-tiba Reni membuka matanya dan berbisik lirih, “Mas ganti posisi… aku mau nih keluar nih..”
Kami segera ganti posisi, badan Reni membalik dalam posisi menungging (doggy style). Katanya dia biasa orgasme dalam posisi ini.
Aku menuruti permintaan Reni yang jelas dalam posisi ini aku jadi bisa melihat postur Reni lebih lengkap. Biarpun Reni ramping, tetapi dia memiliki pantat yang padat dan berisi sehingga dengan pinggangnya yang ramping makin membuat pantatnya montok. Aku segera mengarahkan batang kemaluanku kembali, kali ini penetrasi dari belakang.
“Srrrt…” makin lancar penetrasiku kali ini soalnya bagian luar liang kemaluan Reni makin basah.
Reni menggenggam pegangan ranjang degan kedua tangannya. Aku menciumi lehernya dari belakang sambil kadang-kadang menggigit pundaknya. Ternyata Reni sangat aktif dalam posisi ini. Dia semakin aktif bergerak, selain mengikuti gerakan maju mundurku, pinggulnya pun bergoyang mengocok batang kemaluanku.
“Reni… pinggul kamu hebat banget,” aku berbisik terengah-engah.
Reni menjawabnya dengan erangan-erangan, dia menoleh kepadaku sambil menggigit bibir bawahnya. Terlihat peluh membasahi wajahnya yang makin memerah.
Sesaat kemudian dia berbisik kepadaku, “Ouuchhh.. sayang… lebih cepat!” suaranya diikuti deru nafas yang memburu. Rupanya dia sudah semakin mendekati klimaks.
Aku pun meresponnya dengan gerakan yang lebih cepat dan keras. Kutusukkan batang kemaluanku makin dalam ke liang kemaluannya seiring perasaan klimaks yang sudah di ambang.
“Aaahhh Uuuh Sssh… teruuus Mas… ahhh…” Reni menjerit sambil bergerak makin liar sampai ranjangnya berderik-derik.
Kuteruskan gerakanku dengan mengerahkan sekuat tenaga mengimbangi gerakan liar Reni.
Ana masih tidur ketika Reni tiba-tiba menjerit, “Aaah… uuhhhfffssshhh… Masss…” kepalanya mendongak, tubuhnya bergetar hebat dan kurasakan semburan hangat dari liang kewanitaannya merembes sampai ke buah kemaluanku.
Aku pun melepaskan jutaan spermaku menyemprot kencang memenuhi karet kondom yang kupakai.
“Uuu… yess…” Reni mengakhiri gelombang kenikmatan dan mengerang sambil menikmati sisa-sisa orgasmenya.
“Ouuhhh.. Masss, kamu hebat sekali… aahh…”
Mungkin bisa dibilang ini adalah permainan terbaikku dibandingkan dengan Ana. Kemudian kami pun sempat tertidur berpelukan di kamar Ana.
Jam 5 pagi Reni balik ke kamarnya dan aku pun tidur di kamarku sendiri. Pukul 10:00, aku bangun dan mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke kotaku. Aku diantar Om ke terminal bus, aku tidak sempat pamit dengan Ana dan Reni karena mereka belum bangun. Reni kelelahan karena habis bertempur denganku sepanjang malam, sedang Ana masih terpengaruh CTM. Tante sendiri belum bangun juga. Si Reni memang gila seks. Hari itu hari Kamis, jadwalku adalah harus berobat ke dokter spesialisku. Tetapi sial, di jalan perutku terasa sakit, sepertinya diare. Aku terpaksa turun di jalan dan mencari restoran terdekat untuk buang hajat. Sampai di rumahku pukul 8 malam dan itu berarti aku tidak jadi ke dokter. Tetapi aku tetap tersenyum simpul, kalau mengingat baru saja aku mendapatkan dua perawan ting-ting.
]]>
./../cerita-seks-sepupuku-dan-adiknya-masih-perawan/feed/index.html 0
Cerita Seks Pertama Kali Merasakan Enaknya Seks Bersama Pacar ./../cerita-seks-pertama-kali-merasakan-enaknya-seks-bersama-pacar/index.html ./../cerita-seks-pertama-kali-merasakan-enaknya-seks-bersama-pacar/index.html#respond Thu, 27 Jun 2024 15:04:09 +0000 ./../index.html?p=657 Read more

]]>
Cerita Seks Pertama Kali “Duduk dulu ya, aku mau pake baju dulu nih, soalnya habis mandi buru-buru ada bel bunyi dan aku yakin pasti kamu yang datang, jadinya cuman sempet pake handuk sama kaos aja”.

“Pasti belum pake baju dalam ya ? tebakku sambil senyum. “Ih dasar cowok, pikirannya yang ngeres-ngeres aja, ” tapi suka kan …hi hi hi.

Sambil berjalan ke kamarnya, aku lihat pinggul dan pantat pacarku ini benar-benar aduhai, betisnya putih apalagi pahanya pasti lebih ok dan yang paling memabukkan adalah buah dadanya yang ranum dan montok, kaos ketatnya membungkus payudara indah tanpa bh itu dengan sempurna, memperlhatkan lekukan dada wanita yang sempurna.

Kebayang waktu kenalan dulu, wih tangannya putih sekali dan mulusnya ampun, banyak cowok yang suka sama dia, tapi namanya cinta nggak bisa diboongin.

“Sorry ya agak lama, nih kopi kesukaanmu mas “, aku agak kaget juga.
“Eh, makasih ya?!” kataku sambil kaget dan agak konak lihat pakaiannya, Yati cuma make celana pendek tipis batik yogya dan kaos tipis ketat coklat muda tanpa lengan dengan belahan kaos rendah yang memperlihatkan belahan dadanya yang putih dan montok.

“Aku minum ya, wah masih panas sekali’ kataku sambil megangin mulutku yang kepanasan, Yati ketawa ” makanya kira-kira ya kalau mau minum tiup dulu donk, mas”. “Wah lihat nih, lidahku sampai merah gini, mesti diobatin nih kalau nggak bisa dioperasi”, kataku.

“Aduh kacian, sini ibu guru lihat dulu” kata Yati sambil duduk disampingku dan memegang mulutku, aku diam dan memperlihatan lidahku yang kepanasan, sementara kuhirup wangi tubuhnya yang habis mandi, hmm.

Kudekatkan dudukku pada tubuh Yati, sambil tangannya melihat-lihat lidahku, tanganku memeluk pinggulnya dari samping sambil kulirik belahan dadanya yang putih, montok menantang dan menggairahkan itu.

Sambil kupeluk tubuhnya, kurasakan kehangatan tubuh dan payudaranya yang montok membuat kontolku bangkit dan mulai membesar dengan cepat, hingga menyesakkan celana yang kupakai, “idih, kok sampai merah gini” kata Yati, tiba-tiba mulutku dilumat olehnya dan tanpa menunggu lagi sambil tetap kupeluk tubuhnya akaupun gantian memgulum, melumat dan mencium bibir seksinya dengan penuh gairah, satu hal yang kusuka dari pacarku, meskipun dia orangnya pendiam kalau urusan lumat melumat dia jadi sangat ahli sekali, dan lumatan bibir seksinya sungguh sangat menggairahkan.

Tiba-tiba Yati mengangkat pantatnya dan duduk diatas pangkuanku, bongkahan pantatnya terasa sangat hangat kenyal dan menekan kontolku yang sudah mengeras, “Ih adikku sudah berdiri, katanya sambil menggoyangkan pantatnya diatas kontolku”.

Kulihat matanya sudah mulai nanar dan sedikit berair, pandangannya mulai agak sayu, kemudian aku mulai beralih menciumi leher putihnya dan sedikit jilatan dibelakang telinga,kelihatannya salah satu titik rangsangnya ini sangat menggairahkan nafsu seks-nya, lebih kebawah lagi, kuraba dari luar bongkahan payudaranya sudah sangat mengeras dan lebih membesar dari biasanya, pelan kuangkat kaosnya dan sepasang penutup BH-nya, payudara yang putih dan montok itupun menyembul dari dalam BH hitam yang dipakainya, sangat kontras sekali dengan dadanya yang sangat putih dan montok itu.

Kuciumi dengan rakus payudara montok itu dan kujilati dengan lidahku, sampai akhirnya ke titik pusat dadanya, putting susunya yang sudah tegak seperti penghapus pensil di ujung, kujilati putting susunya dan ternyata titik inipun sangat mempengaruhi gairahnya, terlihat kedua tangannya dilepas dari pelukannya dan tangannya memegang dan menarik rambut panjangnya kebelakang sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan.

Tiba-tiba tubuhnya menggelinjang kuat sekali dan memeluktubuhku erat sekali sambil digoyang-goyangkan pantatnya diatas ****** tegakku dan akupun terasa dikeliilingi daging nikmat, dari sepasang dadanya yang montok dan ranum serta dibawah bongkahan pantatnya yang nggak kalah montok dan padat.

Sejenak dia terdiam sambil tetap memelukku dan dia menggelendot manja diatas pangkuanku,
“Mas, kita kemarku yuk, takut di ruang tamu ada yang masuk, lagian disana kan lebih leluasa,
tapi aku minta digendong ya ..? pintanya manja.

Sambil tangannya memelukku, akupun menggendong tubuhnya yang ramping dan montok itu ke kamarnya yang lumayan jauh dari ruang tamu. Setelah menaruh Yati diatas kasur, kuhampiri tape disamping tempat tidurnya dan kusetel lagu Forever In Love-nya Kenny G yang sampai saat ini menjadi lagu kenangan kami berdua.

Dalam ketegangan kontolku dan nafsu yang sudah naik, kuhampiri Yati, Kucium lembut bibirnya dan seluruh wajahnya mulai dari keningnya, jidat, matanya yang terpejam, hidung dan akhirnya kukecup dan akhirnya kulumat bibir seksinya, tanganku tak tinggal diam mulai dari kaos dan BHnya kubuka perlahan dan celana dalam hitam kecilnya yang menutupi lembah dan jembut halusnya, sambil terpejam Tangan Yati meraih kancing dan resluting celanaku dan didapatinya kontolku yang sudah tegak berdiri, kubantu melepas baju yang kukenakan sehingga kita berdua telanjang bulat dan hanya celana dalam Yati yang masih dipakainya.

Tiba-tiba tubuhku didorongnya, “berdiri dulu sayang, katanya, akupun turun dari tempat tidur dan Yati pun duduk ditepi tempat tidur dan sambil membelai kontolku yang sudah sangat tegang.

“Aku belum pernah lihat titit lelaki dewasa, tetapi punyamu besar sekali mas, sampai-sampai tanganku rasanya mantap sekali memegangnya, boleh aku belai sayang?”.
“Tentu, belai ciumi dan manjakan ****** besar ini sayang.”, kataku.

Cerita Lainnya:   Cerita Seks Kehidupan Gelap SPG Sex Plus

Kontolku sebenarnya nggak terlalu besar ya kira-kira pernah kuukur pakai penggaris panjangnya 15 cm dan bonggolnya sebesar pepsodent ukuran jumbo, yah perfectable size-lah menurut ukuran pacarku.

Sejak pertama kali mengenal oral sex hingga hari ini, Yati menunjukkan antusias yang sangat tinggi dengan kontolku, matanya sempat terbelalak saat pertama melihat dan memegang kontolku yang sudah ereksi. Apalagi saat pertama kali melakukan “karaoke”, istilahku jika ingin di-oral-sex sama pacarku, cara memperlakukan kontolku benar-benar istimewa, saat kutanya emangnya sudah pernah karaoke ya, pacarku marah besar, bagaimana mungkin jawabnya, ciuman bibir aja baru dengan kamu , dan akupun teringat first kiss buatku dan buat dia benarbenar berkesan, habis sama-sama baru sekali itu sih.

Sambil duduk dipingggir kasur kubuka pahaku sehingga kontolku yang sudah ereksi terlihat menantang seperti tugu monas, Yati jongkok dibawah sambil membelai perlahan kontolku, jari jemarinya menari-nari sepanjang kontolku mengikuti urat-uratnya yang menonjol sambil sesekali meremas dengan gemas, kulihat payudara Yati sangat menantang dan sesekali kuremas juga susunya.

Dari pangkal kontolku, dekat anus, tiba-tiba Yati menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat bonggol kontolku, jilatan itu kemudian berpindah keatas mengikuti batang kontolku, hingga akhirnya kepala kontolku dijilat dan disedot perlahan-lahan. Kurasakan aliran darah mengalir keras disepanjang urat kontolku, dan ketegangannya mungkin sudah mencapai 100%, kepalanya membesar seperti helm tentara, warnanya kemerah-merahan dan berdenyut-denyut nikmat sekali.

Sampai akhirnya batang kontolku mulai dilumat dan dimasukkan ke dalam mulutnya, perlahanlahan hingga kurasakan menyentuh ujung tenggorokannya, sementara masih tersisa sekitar 5 cm. “Masukkan semuanya dong, pintaku, “Gimana mau masuk lagi, kontolmu terlalu panjang buat mulutku, katanya sambil melepaskan kulumannya.

Akhirnya keluar masuk kontolku dimulutnya, wah rasanya nikmat sekali, mungkin seperti ini rasanya bersenggama, pikirku, kami memang selama ini belum pernah melakukan persetubuhan hingga memasukkan kontolku ke dalam vaginanya, yah hanya sekedar berbugil sambil menjilat dan mengulum alat kelamin dan orgasme tanpa melakukan senggama.

Suasana pagi yang sejuk, karena jendela kamar yang terbuka ditambah alunan instrumen Kenny.G membuat kami sama-sama terbuai dan lupa dengan segala sesuatunya. Sambil kujamah payudaranya, Yati kutarik dan kurebahkan di atas tempat tidur, wajahnya benarbenar merangsang, matanya berbinar, bibirnya memerah dan payudara sangat kencang dan memadat dengan putting susu yang mengeras. Seperti diawal aku mulai menciumi wajah dan bibirnya kemudian aku turun kebawah, kuciumi dan kujilati mulai dari jari-jemarinya yang putih mulus hingga ke betis indahnya, sambil kubelai dan kusentuh paha mulusnya, tanpa terasa aku menyentuh CD hitamnya dan perlahan kuturunkan dan kulepaskan, Yati diam dan hanya mendesah-desah menahan kenikmatan itu.

Sampai di pahanya kubelai dan kuciumi paha mulusnya seinchi demi seinchi kelihatan sekali dia begitu terangsang, sebelum sampai ke pangkal pahanya, aku naik dan mulai menjilati dadanya. Payudara yang putih dan mulus itu kuremas sambil mulai kujilati melingkar hingga sampai ke putingnya kujilati dan kusedot penuh nafsu, Kulihat pinggul dan pantat Yati bergerak dan menggelinjang tak karuan menahan kenikmatan jilatan, sedotan dan remasanku.

Kujilati kebawah lagi dan sampai ke perut Yati yang sangat mulus dan akhirnya hingga ke bukit indah yang ditumbuhi rumput hitam yang halus dan sangat kontras dengan kemulusan tubuhnya. Kusibakkan bulu-bulu halus yang menutupi vagina pacarku, terlihat bibir vaginanya masih tertutup rapat,namun terlihat disitu ada cairan disekelilingnya, ternyata dia sudah mulai basah.

Kubuka sedikit dan terlihat kelentitnya berwarna merah jambu, kecil, menonjol dan kelihatan membasah, kuraba perlahan, Yati melenguh keras dan menggoyangkan dan mengangkat pantatnya, Kuraba perlahan dengan jari telunjukku dan akhirnya mulai kujilati dengan ujung lidahku, kembali terdengar erangan dan lenguhannya merasakan nikmat yang luar biasa.

Cerita Seks Pertama Kali Merasakan Enaknya Seks Bersama Pacar

“Mas, tolong aku sayang, masukkan ****** besarmu ke vaginaku, aku sudah tak tahan lagi menahan kenikmatan ini, pintanya sambil setengah menangis. ” jangan sayang, kita belum boleh melakukan ini, toh nanti kita juga akan menikah, kataku masih sadar, meskipun aku jiga sudah tidak kuat lagi menahan nafsuku.

“Biarlah mas, aku rela mmberikan perawanku untukmu sayang, aku sangat mencintaimu dan aku takut kehilangan dirimu, kata Yati, sambil mulai menarik kontolku ke arah vaginanya yang membasah.

Kontolku yang sudah agak menurun, mulai bangkit lagi begitu menyentuh bibir vagina Yati, sangat tegang dan begitu membesar. Dengan masih deg degan akhirnya sedikit demi sedikit kumasukkan batang kontolku ke dalam vaginanya, saat kucoba menyelipkan kepala kontolku ke mulut vaginanya rasanya peret dan sulit sekali, kulihat Yati sedikit meringis dan membuka mulutnya dan sedikit menjerit, “aaah” ,namun akhirnya kepala kontolku sudah mulai masuk dan mulai kurasakan kehangat vaginya, perlahan kumasukkan seinchi demi seinchi, pada centimeter ke 3 menuju ke 4, Yati tiba-tiba berteriak dan menjerit, ” aduh mas sakit sekali, katanya, seperti ada yang menusuk dan nyerinya sampai ke perut”, katanya.

“Aku cabut aja ya ?”
” Jangan, biarkan dulu kutahan rasa sakit ini, aku yang sudah merasa kenikmatan yang luar biasa dan sedikit demi sedikit mulai kumasukkan lagi batang kontolku.

Cerita Lainnya:   Cerita Sex Menikmati berkaraoke di bali yang tiada dua nya

Kulihat Yati meneteskan air mata, namun tiba-tiba dia menggoyangkan pantatnya dan tentunya akhirnya kontolku hampir seluruhnya masuk, kenikmatan yang belum pernah kurasakan, kontolku serasa digigit bibir yang kenyal, hangat, agak lembab dan nikmat sekali. Akhirnya kamipun mulai menikmati hubungan badan ini, ” mas rasa sakitnya sudah agak berkurang, sekarang keluar masukkan kontolmu mas, rasanya nikmat sekali.

Perlahan aku mulai mengayun batang kontolku keluar masuk ke vagina Yati, kulihat tangannya diangkat dan memegang erat-erat kepalanya dan akhirnya menarik sprei tempat tidurnya, sementara pahanya dia kangkangin lebar-lebar dan mencari-cari pinggulku, hingga akhirnya kakinya melingkar di pantatku dan seolah meminta kontolku untuk dimasukkan dalam-dalam ke vaginanya.

Beberapa kali ayunan, akhirnya aku agak yakin dia sudah tidak begitu merasakan sakit di vaginanya, dan kupercepat ayuhan kontolku di vaginanya. Yati berteriak-teriak dan tiba merapatkan jepitan kakinya di pantatku, kepala menggeleng-geleng dan tangannya menarik kuat-kuat sprei tempat tidurnya, mungkin dia mau orgasme, pikirku. Tiba-tiba tangannya memelukku erat-erat dan kakinya makin merapatkan jepitannya di pantatku, kurasakan payudara besarnya tergencet dadaku, rasanya hangat dan kenyal sekali, aku diam sejenak dan kubenamkan kontolku seluruhnya di dalam vaginanya.

” Oh, mmmas aku keluar…. Ahhhhhhhhhhhhh ….ahhhhhhhhhhhhh…. ahhhhhhhhhhh, Aku merasakan nikmat yang amat sangat, kontolku berdenyut-denyut, rasanya aliran darah mengalir kencang di kontolku, dan aku yakin kontolku sangat tegang sekali dan begitu membesar di dalam vagina Yati, sepertimya aku juga akan mengeluarkan air kejantananku.

Kubuka sedikit jepitan kaki Yati dipantatku, sambil kubuka lebar-lebar paha Yati, kulihat ada cairan kental berwarna kemerah-merahan dari vagina Yati, kontolku rasanya licin sekali dialiri cairan itu, dan akhirnya dengan cepat aku kayuh kontolku keluar masuk dari vagina Yati, nikmat sekali rasanya.

Ada mungkin delapan sampai sembilan kayuhan kontolku di vagina Yati, tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang akan meledak dari dalam kontolku dan akhirnya …. Crooot …croooot ….crooot …crooot. Kontolku yang sudah kucabut dari dalam vagina Yati, kudaratkan di atas perut mulusnya dan semburan air kejantananku muncrat sampai ke rambut, pipi,sebagian mulutnya, payudara dan diatas perut Yati, kuurut-urut batang kontolku dan tetesan air maniku berjatuhan di atas jembut halus kekasihku.

Aku merebahkan diri disamping tubuh mulus Yati, kupeluk dia sambil kubelai rambutnya, Yati terpejam, diam dan tiba-tiba dari ujung kedua belah matanya yang terpejam menetes air mata. Kuseka air matanya dan kupeluk dia erat-erat, dan dia memelukku juga, ” Mas, hari ini aku sudah persembahkan kesucianku untukmu, sesuatu yang berharga yang kumiliki telah kuberikan padamu, aku nggak mau kehilangan dirimu dan tak akan kulupakan seumur hidupku peristiwa indah hari ini … Aku sangat mencintaimu mas”.

Yati bangun dari rebahannya, mengambil saputangan dan membersihkan bercak dari sela-sela vaginya yang telah bercampur dengan cairan kenikmatannya, saputangan biru itu berbercak merah, memenuhi hampir setengah lembar saputangan biru itu.

“Saputangan ini akan kusimpan selamanya, sebagai tanda buat cinta kita, mas” Aku terdiam, kemudian kubelai rambut indahnya, kukecup keningnya dan kukatakan, ” Hari ini 14 November 1994, aku telah kau berikan sesuatu yang berharga darimu, keperawananmu membuktikan cinta sucimu, aku juga sangat mencintaimu, kuambil keperawananmu dengan keperjakaanku, dan tak kan kulupakan hari ini selama hidupku”.

Dalam keadaan sama-sama bugil, kupeluk tubuh Yati, kehangatan tubuhnya mengalir ke setiap pori-pori dan diapun meraskan hal yang sama, ” tahun depan aku sudah lulus, selanjutnya aku akan melamarmu dan kita akan menikmati cinta kita selamanya, aku mencintaimu Yati”. ” Mas, aku bangga memilikimu, lelaki sepertimu yang memang aku idamkan selama ini”.

Keringat yang mengalir di badanku diseka Yati dengan handuk dan dia membersihkan kontolku dengan handuk basah, akupun jadi terangsang lagi,

” Ih, si Adik kok bangun lagi, kamu benar-benar perkasa mas”, aku tersenyum, sebenarnya aku masih ingin melakukan sekali lagi tapi jam sudah menunjukkan jam 11.30, aku takut kalau tibatiba mamanya pulang.

Kugandeng tangan Yati dan membawanya ke kamar mandi dan dibawah guyuran shower kamar mandinya kita mandi bersama, saling menyabuni dan bercanda bersama, Kontolku menjadi tegang saat mandi dan Yati sempat memasturbasi kontolku yang sudah tegang dengan busa sabun, tangannya yang halus sangat lincah mengocok batang kontolku, sekitar lima menitan air maniku sempat keluar lagi dan muncrat sampai ke atas seperti air mancur, Yati tertawa puas, menciumiku dan melanjutkan mandi sampai selesai.

Selesai mengeringkan badan, rambutku dikeringkan Yati dengan hairdryernya, kupakai bajuku dan kitapun kembali ngobrol di ruang tamunya, ngopi, ngobrol dan bercanda sambil bermesraan menikmati hari indah itu. END

]]>
./../cerita-seks-pertama-kali-merasakan-enaknya-seks-bersama-pacar/feed/index.html 0
Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah ./../cerita-sex-guru-memperkosa-murid-di-perpustakaan-sekolah-2/index.html ./../cerita-sex-guru-memperkosa-murid-di-perpustakaan-sekolah-2/index.html#respond Thu, 27 Jun 2024 15:03:02 +0000 ./../index.html?p=654 Read more

]]>
Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah, Tugas seorang guru adalah mendidik siswa siswinya agar menjadi pintar dan berguna bagi bangsa. Namun bagiku, aku suka menjadi guru SMA karena banyak siswi-siswi yang mulus dan montok. Pada kesempatan ini diceritakan kisah sex nyata yaitu memperkosa siswi perawan yang tidak lain adalah murid sekolah SMU di perpustakaan.

Namaku Firza, aku adalah seorang guru sekolah menengah akhir disuatu kota madya. Kebetulan aku mengajar anak kelas 1 SMA. Aku masih berstatus lajang diusiaku yang ke 30 tahun ini. Aku masih jomblo dan belum ada calon pendamping dan mungkin sikap mesum dan playboyku yang masih melekat ini membuat para wanita takut untuk menjadi pacarku.

Bagiku menjadi guru kelas 1 SMA banyak sekali cobaan yang selalu memancing gairah sexsku. Tak jarang ketika aku mengajar selalu melihat paha dan celana dalam para siswi yang duduknya secara tidak sengaja mengangkang lebar. Hal itu membuatku sangat betah menjadi guru SMA. Bagiku itu adalah vitamin A sekaligus pengobat sange.

Melihat paha mulus para siswi yang masih perawan dan celana dalam para siswi itu adalah kenikmatan semu namun menyenangkan yang membuat penasaran. Dibalik celana dalam para siswi itu pasti memeknya masih sempit dan bulu kemaluan masih suri-suri. Terkadang ada siswi yang mengikuti trend dengan membuka kancing atasnya agar terlihat belahan payudaranya.

Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Dasar ABG sekarang maunya sukanya membuka aurat mereka, ada juga siswi yang berhijab namun pakaian hijabnya ketat sekali, jadi lekuk tubuh mereka terlihat dan pastinya memancing gairah sex para siswa maupun para guru yang mempunyai otak mesum sepertiku.

Yah begitulah anak SMA jaman sekarang banyak gaya dan nampak murahan. Aku sendiri tidak pernah menegur siswi yang bergaya seperti itu, fikirku gaya seperti itu adalah hak mereka, selain itu juga memberi pemandangan indah dikelas untuku. Setiap aku mengajar, biasanya aku sengaja mengatur tempat duduk wanita yang di depan dan para lelaki dibelakang.

Aku melakukan itu dengan maksud agar aku lebih jelas menatap pemandangan mesum itu,siswa siswi mana sih yang mau protes sama gurunya jika diatur tempat duduknya seperti itu. Mata yang ngantuk menjadi terbuka lebar jika aku melihat selangkangan mulus dan belahan toket para siswi yang sok kekinian dan genit itu.

Anak zaman sekarang rata-rata pandai bersolek dan cantik sehingga membuat mereka semakin menggairahkan saja, mungkin penampilan mereka kiblatnya kayak para artis. Mereka sengaja memperlihatkan kesexyan tubuhnya didepan umum. Perawan-perawan penerus bangsa ini semakin menunjukkan jati dirinya yang gampangan.

Tak habis pikir selama 5 tahun mengajar aku selalu merasakan yang namanya horny ketika melihat murid-murid wanita yang aku ajar sendiri. Aku mempunyai murid namanya Dinda, dia cantik berkulit putih mulus dan tubuhnya sintal sekali. setiap lelaki pasti tergoda ketika melihat sosok Dinda yang sangat sempurna dan hot itu.

Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Aku saja ingin sekali memilikinya dan menikmati memeknya yang nampak menyembul itu. Namun apalah daya dia sudah mempunyai pacar dan jauh sekali usianya denganku. Toh Aku juga tidak mungkin berpacaran dengan muridku. Setiap aku mengajar dikelas aku sering melihat Dinda duduk di depan sendiri, dia sering sekali duduk mengangkang lebar.

Yang bikin aku nafsu sekali dia juga jarang sekali memakai celana short, sehingga tak jarang aku melihat jelas memeknya yang gembul ketika pahanya terbuka lebar. Ketika melihat paha Dinda, otakku selalu berfikiran mesum, dan rasanya aku ingin sekali memperkosa untuk menikmati memek tembemnya yang selalu bikin penis aku konak.

Coba aja aku bisa ML sama gadis itu, pasti akan terasa nikmat jika keperawanannya aku renggut. Aku yakin sekali anak itu masih perawan,karena wajahnya masih berkharisma dan bagian tubuhnya yang sintal itu masih kencang sekali. Aku selalu saja sange saat melihat gerak-gerik Dinda. Sampai pada suatu kesempatan untuk mencabuli Dinda datang juga.

Pada hari itu ketika hujan deras aku mendatangi para siswa siswi di perpustakaan, banyak para siswa siswi yang masih lembur mengerjakan tugas di perpustakaan sekolah. Tentunya saat itu termasuk Dinda yang masih sibuk mengerjakan tugas di perpustakaan hingga sore hari. Setelah sekitar satu jam aku disana para siswa siswi sudah selesai mengerjakan tugas termasuk Dinda.

Karena mereka sudah selesai mengerjakan tugas merekapun segera pulang termasuk penjaga perpustakaan yang bernama Pak Ari. Karena saat itu aku melihat Dinda asik membaca sebuah buku,maka aku berkata kepada Pak Ari, jika aku yang akan mengunci perpustakaanya nanti. Karena pak Ari juga terburu-buru diapun meniyakan saja permintaankku.

Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Aku heran padaha masih hujan deras namun pak arid an para siswa siswi lainya nekat pulang. Nah jadi sore itu diperpustakaan hanya ada aku dan Dinda saja. Aku memang sengaja menunggu Dinda, dengan harapan bisa berduaan dan dia syukur-syukur bisa mL sama dia,hha. Waktu semakin sore, au lihat jam dinding aat tu menunjukan pukul 4 sore.

Aku merelakan diri untuk pulang terakhir untuk menjaga perpustakan dan menjaga sampai Dinda pulang. Aku sempat melihat keuar perpustakaan, suasana sekolah sudah sangat sepi, hanya ada aku dan Dinda yang sedang asyik membaca buku. Sekitar jam 4 lebih 15 menit hujan masi deras saja, saat itu aku berjalan mendekati Dinda.

Aku menanyakan dia mau pulang jam berapa karena memang itu sudah sore sekali dan hujan masih deras sekali,

“Mel kamu mau pulang jam berapa, sekolahan udah sepi loh tinggal aku sama kamu,?” tanyaku basa basi.

“Oh iya ya pak,nggak papa deh pak Firza, nanggung nih sebentar lagi selesai bacanya kog pak,Oh iya Pak Ari kemana Pak,” tanyanya.

“Oh pak Ari udah pulang Mel, nanti aku kog Mel yang kunci perpusnya, kamu hobi banget membaca ya mel sampai seserius itu?, ” tanyaku.

“hhe,iya pak kebetulan saya suka membaca,” jawabnya sambil terus membaca.

“Oh iya hujan diluar masi deras sekali Mel,kamu nanti pulang naik mobil bapak aja yah,” ucapku menawarkan.

Cerita Lainnya:   Cerita Sex Godain Pembantu Baru Masih Perarwan

“biarin aja pak, nanti aku pulangnya naik taxi online kok pak…” jawabnya.

“oh gitu yah, oke deh akalu gitu seilahkan dilanjut,” ucapku.

Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Suasana sekolah yang sudah sepi membuat aku berfikir mesum. Aku pastikan keadaan sekolah sekali lagi dengan mencoba melihat situasi di luar apakah aman terkendali. Tenryata setelah aku lihat suasana sudah aman sekali, tidak siswa maupun guru satupun disekolahan. Selesai memastikan susasana aman, akupun kembali keperpustakaan dan segera mengunci pintu perpustakaan.

Saat itu sudah pasti jika hanya ada aku dan Dinda yang masih berada disekolahan. Setelah mengunci pintu perpus aku mendekati Dinda kembali lalu mengajak dia mengobrol sambil aku melirik paha Dinda yang terbuka lebar. Rok yang dipakai Dinda sungguh mini sehingga ketika dia duduk pahanya terlihat sangat mulus sekali.

Paha Dinda benar-benar mulus sekali, udah gitu ada bulu-bulu halus lagi di pahanya, bikin aku semakin nafsu sekali. Seketika penisku berdiri tegak sekali, kalau nggak dilampiaskan ke memek Dinda bisa-bisa gawat nih. Akupun mulai mencari trik agar aku bisa menikmati tubuh Dinda. Saat itu berdiri disamping Dinda dan aku memberanikan diri untuk memegang pundaknya,

“Hemmmm… ada apa ya pak sama pundak aku,?” ucapnya menoleh kearahku.

“Oh ini Mel pundak kamu kotor tadi, jadi bapak bersihin deh,hhe…” jawabku lalu aku berpura-pura membersihkan bajunya.

“terima kasih ya Pak,” ucapnya lalu kembali membaca.

Dengan berdiri disampingnya saat itu aku juga bisa melihat belahan dadanya yang menonjol mulus sekali. Semakin lama aku melihat semakin tegang saja penisku. Akhirnya aku tidak tahan lagi, aku segera menarik tubuhnya dan aku peluk dengan erat. Saat itu Dinda mencoba melepaskan pelukanku namun aku tahan sehingga dia tak bisa bergerak lagi,

Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah

“Pak, bapak mau ngapain, jangan perkosa saya pak,tolong pak jangan, lepaskan saya pak..….” ucapnya ketakutan dan memohon ampun padaku. Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah

“sudah kamu nurut saja sama bapak, kamu mau teriak sekencang apapun tidak akan ada yang mendengar dan menolong, asal kamu tahu disekolah hanya tinggal kita berdua,”ucapku dengan senangnya.

Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Aku memaksa dia untuk melayani birahi sexsku, aku tarik rambut panjang Dinda keatas, lalu aku jilat dan ciumi lehernya dengan brutalnya. Saat itu aku baringkan Dinda dilantai perpusatakaan. Aku tindih dia degan tubuhku dan aku jilati terus lehernya. Sampai saat itu Dinda terus memberikan perlawanan, namun tenaga Dinda tidak bisa melawan tenagaku.

Dia saat itu hanya bisa menangis dan meronta-ronta memhon ampun agar aku ridak mencabulinya. Aku menjilati leher Dinda secara terus menerus hingga dia terangsang. Tanpa henti aku juga menciumi bibir tipisnya. Aku kulum bibirnya dengan perlahan dengan penuh hasrat. Tadi yang awalanya dia menolak pada akhrinya dia mulai memberi respon.

Mungkin saja dia mulai terangsang, Dinda mulai membuka bibirnya dan aku mulai menyedot lidahnya dan aku lumat di dalam mulutku. Melihat Dindayang sudah horny akupun mulai membuka kancing seragamnya satu persatu hingga terbuka semua. Aku lucuti seragamnya dan aku melihat kedua payudara montok Dinda yang masih terbungkus Bra.

Aku segera buka pengaitnya dan aku hempaskan bra dia kelantai juga. Hujan yang masih deras menambah intimnya percintaan kami sore itu. Payudara Dinda yang montok mepunyai putting yang mancung dan berwarna kemerahan. Aku semakin nafsu saja melihatnya, tanpa menyia-nyiakan waktu aku meremas-remas payudara dan mengkulum putting Dinda dengan penuh nafsu sex,

“pak…Sssssshhhhh….aaaaaaakkkhh…geli pak…ssssssshhh….jangan pak….aaaahhh……” ucapnya menolak namun gerak tubuhnya nampak menikmati perbuatan cabulku.

Dia mengatakan jangan tetapi dia menikmati setiap sentuhan tanganku. Aku pun semakin bergairah ketika melihat putting susu Dinda yang semakin besar. Aku plintir putting susu Dinda hingga tubuhnya mengejang dengan sangat kuatnya,

“eummmmmmm….Euuhhhhhh….Ssssssssshhhh….aaaaaakkhh…. pak…..ouhhhhhhh…..” desah Dinda semakin sering terdengar.

Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Aku jilati kedua putting susu Dinda dan mainkan secara bergantian sampai diamenggelincang tak karuan. Tubuh Dinda mulai menggeliat manja dan roknya Dindapun tanpa sengaja naik keatas sehingga terlihatlah memek tembemnya yang masih terbungkus celana dalam mini dengan jelasnya. Dengan masih menciumi payudara Dinda yang kenyal itu aku gesek-gesek memek Dinda dari luar celana dalamnya.

Aku tak henti-hentinya memberikan sentuhan kenikmatan pada payudaranya dan memeknya, Dinda seakan lupa jika dia sedang aku perkosa, dia tak henti-hentinya merintih dan mendesah merasakan kenikmatan sex dariku,

“ooohh…. ssssssssssshhhh….aaaaahhh……ooooohh….enak pak, geli pak….aaaaakkkhhh……” desah Dinda semakin liar dan tak terkendali.

Jilatanku yang saat itu hanya tertuju pada payudaranya, untuk menambah dia terangsang, jilatanku aku aku alihkan pada seluruh tubuhnya sampai pada pusarnya. Aku jilati bagian tubuh Dinda tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Hingga pada akhirnya jilatanku aku arahkan pada selangakagan dan area kewanitaanya. Namun sebelum aku mengarah pada vaginanya aku lucuti celana dalam sexynya dan aku hempaskan . Aku belai memek Dinda dari atas hingga kebawah, lalu kakinya aku buka sekali sampai dia mengangkang lebar. Aku buka bagian demi bagian memek sempitnya yang merah merona yang sangat menggoda imanku. Aku jilati memek Dinda dengan penuh kelembutan dan gairah sex,

“Eugggghhhh…eummmmm…paaakk….aaaaaaaakkhh…oohhh…jangan pak….Sssssss…aaaaakkhh……” desah Dinda.

Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Dia semakin liar, dan tubuhnya bergerak terus ketika aku jilati dan aku hisap itil memeknya. Tak henti-hentiny lidahku meyapu bagian vagina Dinda. Beberpa saat aku jilati,memeknya mulai mengeluarkan cairan kental sedikit,dan semkin lama semakin bannyak mengalir dari memek Dinda. Wajahnya tampak sangat pasrah terlihat jelas dari raut muka yang bergairah itu.

Dinda memang mulus sekali nggak ada luka maupun selulit di tubuh mungilnya yang sintal itu. Gairah sexsku semakin memuncak ketika memek Dinda becek dan merah merekah dengan sangat jelas. Aku mencoba menggesek-gesekkan ujung penisku di depan lubang kenikmatannya, aku putar penisku hingga memeknya semakin basah.

Aku melakukan itu agar Dinda nantinya tidak begitu kesakitan saat penisku menembus memek perawanya. Sungguh benar dugaanku, memek Dinda masih perawan. Aku terus aku putar-putar kepala penisku dengan cepatnya dibelahan vagina Dinda. Aku gerakan penisnku naik turun dengan tanganku sehingga membuat memek Dinda semakin becek saja.

Cerita Lainnya:   Cerita Sex Pacar Perawan

Dia mendesah dan tubuhnya menggeliat denga liarnya dengan pantatnya yang dia naik turunkan,

“ooohhh….aaaahhh…euhhhhh…geli pak, Sshhhhh…aku mau pipis pak…aaaaaaaaaaaahhhh……..” ucapnya mendesah dengan keras.

Ternyatav Dinda sudah medapatkan orgasme pertamanya, terasa cairan hangat kental mengalir dari liang vagina perawannya yang masih sempit sekali. Tubuhnya mengejang dan dia semakin liar saja. Melihat Dinda yang sudah sange berat ujung penisku mulai aku tekan dan aku coba masukkan secara perlahan di memek sempat perawan milik Dinda,

“Slepppppp…..Eygggggggghhh…sa… sakitttt pak…Aowwwwwww…” rintih Dinda kesakitan karena vaginanya kemasukan ujung penisku.

Dia menjerit kesakitan, aku remas payudara untuk sedikit mengalihkan rasa sakitnya agar dia tidak merasakan sakit sekali. Aku membuat dia semakin bergairah, aku beri rangsangan-rangsangan hebat pada tubuh montoknya. Ketika aku berusaha memasukkan penisku lebih dalam pada memeknya dia berontak,

“aaaaww…sakit pak….sakit..jangan pak…” ucapnya sambil menggerakan tubuhnya.

Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Tubuhnya berontak sehingga ujung penisku keluar dari lubang kemaluannya lagi. Padahal hampir berhasil aku menembus memeknya. Dinda berontak karena memang sakit sekalir asanya diperawani. Setelah itu aku berusaha kembali membuat Dinda mengeluarkan cairan agar licin dengan mengemut putingnya dan aku gesekan kembali penisku pada bagian luar memek tembemnya. Setelah Dinda menggelincang and merasa horny lagi. Aku masukkan penisku secara perlahan kembali dengan penuh perasaan dan nafsu yang sangat tinggi.

Sementara penisku mencoba menjebol pertahanan memek perawan Dinda,rtanganku meremas-remas payudaranya dengan mulutku yang terus menyedot putting mancung Dinda. Nampaknya cara rangsanganku berhasil, dia sudah mulai terbius dengan kenikmatan sex yang aku berikan.Matanya terpejam,desahan dari bibir mungilnya semakin liar dan kepalanya mendongak keatas.

Melihat kesempatan itu aku dorong penis dengan sepenuh tenaga agar masuk ke dalam memeknya,

“Blessssssssssssssssssssss….Krakkkkkkkkkkkkkk….aaaaaaakkkhhh……” suara penisku yang telah berhasil menembus keperawanan Dinda.

“sakit pak…aaaww…sakit pak….Aduhhhhh….sakit …..hu…uuuuu…uuuu,” teriak Dinda kesakitan sambil tangannya memukul aku.

Aku tahan penisku masuk seluruhnya didalam vagina Dinda dan Dinda masih terus kesakitan,

“aaaaaaawwwwwww…sakit banget pak…aduhhhhhh pak sakittt…huuuu….uuu…uuu…”

Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Dinda sungguh terlihat sangat kesakitan, lenganku dicakardan dadakupun digigit olehnya. Aku tak menghiraukan kesakitannya,biarkan saja dia menggigit dan mencakar aku yang penting aku merasakan nikmatnya memek perawan. Setelah aku diamkan sebentar penisku aku mulai mengerakan keluar masuk penisku dari memek sempit Dinda.

Ketika aku tariuk keluar penisku, terlihat darah segar membasahi batang penisku yang menegang dengan kuatnya. Awalnya dia masih kesakitan, namun setelah 2 menit aku menggenjot memeknya dengan penisku dia mulai mulai merasakan nikmatnya berhubungan sex. Aku dorong keluar masuk penisku sehingga rasa sakit itu berubah menjadi kenikmatan sex yang luar biasa.

Aku yakin selaput keperawanannya sudah pecah olehku, Penisku tak henti menusuk-nusuk memek Dinda, seakan tak mau lepas lagi. Tangan Dinda memegang pundakku, sementara tanganku masih asyik memainkann payudara dia. Penisku masih dengan posisi yang sama, maju mundur keluar masuk,

“aaaaaahhh….aaahhh…ooohhhh….aaahhhhh…..”

Tak henti desahan itu keluar dari bibir Dinda. Aku yang biasanya kuat dalam berhubungan sex, karena emmek Dinda sempit sekali, rasanya aku tidaka akan bisa lama bertahan. Rasanya penisku seperti dicengkram kuat sekali oleh otot vagina Dinda,

“Ouhhhh… Mel memek kamu sungguh nikmat sekali,ahhhhhhhhhh…,” ucapku nikmat.

Dinda yang suda berada dpuncak kenikmatanya dia hanya bisa memejamkan mata,mendesah dan menikmati perbuatan cabulku padanya. Sungguh luar biasa ngentot sama ABG perawan seperti Dinda.

Aku genjot terus memek Dinda sampai Dinda menggelincang liar. Kira-kira setelah 15 menit aku keluar masukan penisku dari vagina Dinda, kurasakan ada sesuatu yang mendesak dari dalam penisku yang masih terbenam didalam memek tembem jembut tipis milik Dinda. Karena aku sudah sering ML, aku tahu bahwa spermaku akan segera keluar,

“ahhhh…pak…asssssssssshhhh…terus pak..enak pak..Ouhhhh…,” desah Dinda nampak merasa menikmati hubungan sex kami.

Aku percepat sodokan penisku dan ketika spermaku mau kelaur aku cabut penisku lalu aku arahkan penisku ke buah dada Dinda,

“Cccrrrrroootttt…cccccrrrroooottttt….cccccrrrroooottttt…Crotttttttttt…..”

“aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh……..…” rintihan kepuasanku.

Muncratlah spermaku di buah dada montok Dinda. Spermaku keluar sangat banyak dan kental, bahkan spermaku sampai mucrat kewajah Dinda yang imut itu. Aku puas sekali ML sama Dinda. Aku lihat Dinda mengeluarkan air matanya. Setelah aku mendapatkan orgasmeku, Dinda segera bergegas memakai baju seragamnya beserta dalemannya lalu dia pergi begitu saja.

Singkat cerita setelah kejadian itu dia juga tidak pernah berangkat ke sekolah. Dan setelah beberapa hari dia tidak masuk, orangtuanya datang kesekolah untuk meminta surat pindah kesekolah lain. Aku sempat bertanya kepada para guru kenapa Dinda pindah, namun kata guru lainya dia tidak menyampaikan alasan apapun.

Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Padahal aku sudah sangat ketakutan jika dia mengadu tentang pebuatanku, bisa-bisa aku dipecat dan dipenjara gara-gara perbuatan asusila yang aku lakukan pada Dinda. Aku merasa lega sekali saat itu karena Dinda tidak mengadu. demikianlah kisah sex nyata ketika aku memaksa muridku untuk melakukan hubungan sex di perpustakaan sekolah pada sore hari.

Aku telah merenggut keperawanan muridku yang memiliki tubuh mulus itu. Itu akan menjadi pengalaman dan kisahku yang aku simpan rapat-rapat. Sebenarnya aku ingin mengulang kembali saat-saat indah ML sama Dinda atau dengan murid lainya. Namun aku sadar jika aku melakukan hal yang sama pada siswi lainnya maka kemungkinan besar aku bisa dipenjara dan dipecat dari sekolah itu. Sekian Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah

]]>
./../cerita-sex-guru-memperkosa-murid-di-perpustakaan-sekolah-2/feed/index.html 0
Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat ./../cerpen-dewasa-seks-saat-aku-diperkosa-teman-kampus-dengan-obat/index.html ./../cerpen-dewasa-seks-saat-aku-diperkosa-teman-kampus-dengan-obat/index.html#respond Thu, 27 Jun 2024 15:00:58 +0000 ./../index.html?p=651 Read more

]]>
Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat, Saya akan menceritakan pengalaman saya sendiri saat dulu kehilangan keperawanan saya empat tahun lalu. Saat itu ujian negara tinggal seminggu lagi. Saya bersama lima orang teman kuliah saya bersepakat membentuk grup belajar. Wita, Susi, Lilo, Albert, dan Aria (semua bukan nama sebenarnya).

“Gin, nanti malam kita belajar di rumah gue ya. Bilangin Wita sama Susi”, kata Aria menghampiri saya ketika saya sedang duduk membaca-baca buku kuliah di kampus.
“Oke.”
Saya tahu, Aria sudah lama naksir pada saya. Saya tahu dari Albert. Sebab Aria pernah menceritakan padanya, bahwa dirinya tidak bisa tidur memikirkan diri saya. Pokoknya, Aria jatuh cinta berat kepada saya. Namun saya belum menanggapinya, sebab saya belum berpikiran untuk memiliki seorang pacar. Saya masih lebih ingin memusatkan perhatian saya pada kuliah, agar memperoleh IP yang bagus, sehingga mudah mencari pekerjaan setelah lulus nanti. Selama ini saya hanya menganggap Aria sekadar teman baik saja. Tidak lebih.

Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat – Malam harinya kami berlima belajar di rumah Aria. Kebetulan kedua orang tuanya sedang pergi kondangan. Wita tidak bisa datang karena ia harus menemani ibunya menjenguk saudaranya yang sedang sakit.

“Ri, Gue pulang ya. Sudah malam nih. Besok malam saja ya kita lanjutkan belajarnya”, kata Susi kepada Aria ketika jam sudah menunjukkan pukul dua puluh satu.
“Gue temanin deh, Sus!” timpal Lilo yang saya tahu sejak lama telah naksir Susi.
“Wah, itu sih memang taktik kamu, Lo!” kata saya sambil tertawa. Susi pun segera pulang didampingi oleh Lilo. Tinggal saya bertiga bersama Albert dan Aria.
“Bagaimana sekarang, Ri? Kita nerusin belajar atau bubar saja?” tanya saya pada Aria.
“Yah, lebih baik bubaran saja deh. Besok saja kita lanjutkan lagi!”
“Tapi sebelum kamu pulang, habiskan dulu tuh minuman kamu. Sayang-sayang. Mubazir kan!” tambah Albert sambil tersenyum ke arah Aria.

Saya habiskan sari jeruk yang tadi dihidangkan Aria untuk menemani saat belajar kami berlima.
“Gue pulang dulu ya, Ri, Bert”, saya berpamitan pada kedua teman saya itu. Baru saja saya akan membuka pintu, tiba-tiba kepala saya terasa pusing dan mata saya berkunang-kunang.

Tak lama kemudian, saya rasakan suatu keanehan menjalari tubuh saya. Payudara saya mengeras dan puting susu saya menegang. Kewanitaan saya pun terasa berdenyut-denyut. Ternyata Aria telah memasukkan obat perangsang ke dalam minuman saya tanpa saya mengetahuinya. Aria dan Albert menghampiri saya sembari tersenyum. Mereka memapah saya masuk ke kamar tidur Aria. Seperti tak sadar, saya menurut saja. Bahkan ketika saya ditelentangkan di atas tempat tidur.

Aria membuka kaus oblong yang saya kenakan, sedangkan Albert menurunkan celana panjang saya. Mereka berdua menelan air liur melihat kemolekan tubuh saya yang hanya dibalut pakaian dalam saja. Terpampang payudara saya dengan belahannya yang menggiurkan menyembul di balik bra yang saya kenakan serta lekuk-lekuk pinggul dan pantat saya yang membuat nafsu birahi mereka naik.

Tanpa membuang waktu lebih lama, mereka berdua menarik lepas bra dan celana dalam saya, dan keindahan tubuh saya itu dapat terlihat bebas tanpa halangan. Tangan Aria meremas-remas kedua payudara saya yang kenyal itu, sementara batang kemaluannya semakin menegang.

Sementara Albert menciumi daerah kewanitaan saya. Saya merintih kecil tatkala lidahnya mulai memasuki liang vagina saya. Sementara itu, Aria mulai menghisap-hisap puting susu saya yang semakin menegang itu, membuat saya semakin menggerinjal-gerinjal. Namun saya yang berada di antara keadaan sadar dan tidak sadar tidak mampu berbuat apa-apa.
“Aw!” jerit saya saat gigi Aria menggigit puting susu payudara saya sebelah kanan, sementara Albert terus menjilati kemaluan saya yang ditumbuhi rambut-rambut tipis nan segar.

Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat – Aria dengan kedua tangannya memuntir-muntir ujung puting susu kedua belah payudara saya sementara mulutnya turun ke bawah ke arah selangkangan saya. Akhirnya seperti berebutan, lidahnya bergabung dengan lidah Albert menjilati liang kewanitaan saya.

“Gila, Ri. Asyik juga ya si Regina. Nggak gue sangka lho tubuhnya sebagus ini!” kata Albert sambil terus melanjutkan jilatannya ke belahan pantat saya dan akhirnya disusupkannya lidahnya ke dalam lubang anus saya.
“Bagaimana, Bert. Kita tancap saja si Regina sekarang?”
“Okelah, mumpung dia belum sadar.” Dan kedua cowok itu membuka celana panjang mereka.

Tampaklah kedua batang kemaluan mereka yang menegang laksana siap berperang. Aria sebagai tuan rumah mengambil inisiatif pertama. Dengan hati-hati dimasukkannya batang kemaluannya ke dalam liang vagina saya yang cukup sempit itu. Dengan sekali gerakan batang kemaluannya tersebut dihunjamkan semakin dalam, membuat saya menjerit kecil kesakitan. Akan tetapi seiring dengan naik-turunnya tubuh Aria di atas tubuh saya, saya merasakan kenikmatan yang tiada tara untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Secara tak sadar, saya menggerinjal-gerinjal kencang.

Albert yang nampaknya sudah tidak dapat menahan nafsu birahinya yang semakin merajalela itu tidak mau menunggu lebih lama lagi. Dihunjamkannya batang kemaluannya yang tak kalah tegangnya itu ke dalam lubang anus saya, saya menjerit kesakitan. Namun Albert yang sepertinya sudah kesetanan tidak mempedulikan saya. Dengan gerakan naik-turun, ia menyetubuhi saya lewat lubang anus saya. Saya terus menggerinjal-gerinjal tak terkendali. Rasa kenikmatan dan kesakitan terus bercampur baur saya rasakan.

Beberapa menit telah berlalu, belum ada yang sampai pada klimaksnya. Sementara kami bertiga sudah mulai lemas, terutama saya. Kedua cowok itu pun telah bertukar peranan. Albert telah memperoleh liang vagina saya, sedangkan Aria liang anus saya. Mereka berdua terus menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam tubuh saya tanpa kenal ampun.

Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat

Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat – Akhirnya setelah berselang begitu lama, Aria dan Albert menyerah begitu saja sebelum mencapai klimaksnya. Tubuh mereka berdua terkapar lunglai di samping tubuh saya. Kami bertiga sama-sama lemas. Namun tak lama kemudian, Aria telah mampu menguasai dirinya. Walaupun masih terhuyung-huyung ia bangun dari tempat tidur.

“Bert! Albert! Gila! Ternyata si Regina masih perawan!” teriak Aria setelah melihat liang vagina saya mengeluarkan darah tanda selaput dara saya robek.
“Ergh.. nikmat di kamu dong, Ri. Kan kamu yang memperawanin dia duluan!” kata Albert yang juga telah bangun, sementara saya masih terkulai lemas.
“Tapi, bagaimana kalau dia sadar terus lapor pada polisi bahwa kita yang memperkosanya.”
“Bilang saja bahwa kita mau sama mau. Buktinya coba saja lihat tadi. Kan si Regina kelihatannya ikut menikmatin juga. Nggak memberontak-berontak kan.”

Dan sejak saat itulah saya mulai mengenal apa yang disebut pergaulan bebas dan sempat menjadi seorang cewek “bispak” yang bisa dipakai untuk teman tidur asal suka sama suka. Untung saja saya tidak sampai hamil sebab saya selalu mengingatkan pasangan tidur saya agar selalu memakai pelindung

 

]]>
./../cerpen-dewasa-seks-saat-aku-diperkosa-teman-kampus-dengan-obat/feed/index.html 0
Cerita Sex Kegadisanku Direnggut Pakdhe ./../cerita-sex-kegadisanku-direnggut-pakdhe-2/index.html ./../cerita-sex-kegadisanku-direnggut-pakdhe-2/index.html#respond Thu, 27 Jun 2024 14:59:35 +0000 ./../index.html?p=648 Read more

]]>
Cerita Sex Kegadisanku Direnggut Pakdhe, Aku sudah tiga tahun ikut dengan keluarga Budhe. Saat itu usiaku sudah 15 tahunan dan Mbak Ningsih yang usianya tiga tahun di atasku sudah kelas 3 di salah satu SMK swasta di kotaku. Pada saat itulah aku pertama kali mengenal apa yang namanya seks.

Kejadiannya berawal dari suatu siang kira-kira setengah tahun setelah meninggalnya Budhe Harti. Saat itu sekolahku dipulangkan sebelum waktu biasanya. Semua murid dipulangkan pada jam 10 pagi karena guru-guru mengadakan rapat untuk persiapan EBTA. Aku yang selalu disiplin tidak pernah bermain sebelum pulang dan ganti pakaian. Begitu sekolah dibubarkan aku langsung pulang ke rumah yang jaraknya kira-kira 2 km dengan naik angkot.

Sampai di rumah aku heran karena pintu rumah tidak terkunci tetapi tidak ada orang. Padahal tadi pagi sebelum berangkat Mbak Ningsih bilang kalau sekolahnya libur selama 6 hari karena minggu tenang. Aku menduga pasti Mbak Ningsih sedang belajar di kamar menjelang EBTA yang akan diadakan minggu depan. Karena takut mengganggu Pakdhe yang mungkin sedang tidur aku berjalan pelan-pelan melintasi ruang tengah langsung ke kamarku dan Mbak Ningsih yang ada bagian belakang.

Aku kaget saat mendengar suara mencurigakan terdengar dari kamarku yang setengah terbuka. Kudengar suara Mbak Ningsih mengerang-ngerang disertai suara seperti berkecipak. Dengan langkah mengendap-endap kudekati pintu kamarku dan mengintip melalui pintu yang setengah terbuka. Astaga!! Aku benar-benar kaget!! Ternyata di kamarku ada Mbak Ningsih dan Pakdhe. Yang lebih mengejutkan, pakaian keduanya sudah berantakan.

Saat itu pakaian bagian atas Mbak Ningsih sudah terbuka sama sekali, begitu pula dengan Pakdhe Mitro. Keduanya sedang bergumul di atas tempat tidur yang biasa kugunakan tidur dengan Mbak Ningsih. Pakdhe hanya mengenakan sarung dan satu-satunya kain yang menutupi tubuh Mbak Ningsih hanyalah celana dalam saja.

Apa yang kulihat benar-benar membuat hatiku tercekat. Kulihat Pakdhe dengan rakus meneteki payudara Mbak Ningsih kanan dan kiri berganti-ganti, sementara tangan Mbak Ningsih meremas-remas rambut Pakdhe yang sudah mulai memutih. Kepala Mbak Ningsih bergoyang-goyang sambil terus mengerang. Begitu pula dengan Pakdhe yang dengan lahap terus menetek kedua payudara Mbak Ningsih secara bergantian.

Aku yang mengintip perbuatan mereka menjadi panas dingin dibuatnya. Tubuhku gemetar dan lututku lemas. Hampir saja kepalaku terbentur daun pintu saat aku berusaha melihat apa yang mereka perbuat lebih jelas. Tak lama kemudian kulihat Pakdhe menarik satu-satunya pembungkus yang melekat di tubuh Mbak Ningsih dan melemparkannya ke lantai. Kini tubuh Mbak Ningsih sudah telanjang bulat di bawah dekapan tubuh Pakdheku yang kelihatan masih berotot walau usianya sudah kepala lima.

Erangan Mbak Ningsih semakin keras saat kulihat wajah Pakdhe menyuruk ke selangkangan Mbak Ningsih yang terbuka. Tangan Mbak Ningsih yang memegang kepala Pakdhe kulihat semakin kuat menekan ke arah kemaluannya yang sedang diciumi Pakdhe. Aku yang baru kali ini melihat pemandangan seperti itu menjadi terangsang. Aku membayangkan seolah-olah tubuhku yang sedang digumuli Pakdhe.

Kedua kaki Mbak Ningsih melingkar di leher Pakdhe. Suara napas Pakdhe terdengar sangat keras seperti kerbau. Mbak Ningsih semakin keras mengerang dan tubuhnya kulihat melonjak-lonjak saat kulihat wajah Pakdhe menggesek-gesek bagian selangkangan Mbak Ningsih. Beberapa saat kemudian tubuh Mbak Ningsih mulai melemas dan terdiam.

Kemudian kulihat Pakdhe melepas sarungnya. Dan astaga! Kulihat batang kemaluan Pakdhe yang sangat besar dan berwarna coklat kehitaman mengacung tegak menantang langit. Pakdhe langsung mengangkangi wajah Mbak Ningsih dan mengosek-ngosekan batang kemaluannya yang dipeganginya ke wajah Mbak Ningsih.

Mbak Ningsih yang masih lemas kulihat mulai memegang batang kemaluan Pakdhe dan menjulurkan lidahnya menjilati batang kemaluan itu. Pakdhe pun kembali menyurukkan wajahnya ke arah selangkangan Mbak Ningsih. Kini posisi mereka sungguh lucu. Mereka saling menjilati selangkangan lawan dengan posisi terbalik.

Pakdhe yang mengangkangi wajah Mbak Ningsih menjilati selangkangan Mbak Ningsih yang telentang dengan lutut tertekuk dan paha terbuka. Tubuhku mulai meriang. Vaginaku terasa gatal seolah-olah membayangkan kalau vaginaku sedang diciumi Pakdhe. Tanpa sadar tanganku bergerak ke arah vaginaku sendiri dan mulai menggaruk-garuk.

Kejadian yang kulihat berikutnya membuat hatiku semakin mencelos. Setelah puas saling menciumi selangkangan masing-masing lawan, tubuh Pakdhe berbalik lagi sejajar dengan Mbak Ningsih. Mereka saling berhadap-hadapan dengan tubuh Pakdhe menindih Mbak Ningsih.

Kemudian kulihat Pakdhe menempatkan diri di antara kedua paha Mbak Ningsih yang mengangkang. Lalu dengan memegang batang kemaluannya Pakdhe menggosok-gosokkan ujung batang kemaluannya ke selangkangan Mbak Ningsih. Kulihat kepala Mbak mendongak-dongak ke atas dengan kedua tangan meremas-remas payudaranya sendiri saat Pakdhe mendorong pantatnya dan menekan ke arah selangkangan Mbak Ningsih. Mereka terdiam beberapa saat ketika tubuh mereka pada bagian kemaluan saling lengket satu sama lain.

Mbak Ningsih mulai merintih dan mengerang saat Pakdhe mulai memompa pantatnya maju-mundur dengan mantap. Kulihat pantat Mbak Ningsih bergerak mengayun menyambut setiap dorongan pantat Pakdhe. Dan setiap kali tulang kemaluan Mbak Ningsih dan Pakdhe beradu selalu terdengar seperti suara tepukan. Suara deritan dipan tidurku pun semakin nyaring terdengar mengiringi irama gerakan mereka.

Tubuh Mbak Ningsih menggelepar-gelepar semakin liar. Kepalanya pun semakin liar bergerak ke kanan dan kekiri, mulutnya tak henti-hentinya mengerang. Akhirya kudengar Mbak Ningsih merintih panjang disertai tubuhnya yang tersentak-sentak, pantatnya terangkat menyambut dorongan pantat Pakdhe. Lalu beberapa detik kemudian tubuh Mbak Ningsih mulai melemas, tangannya terlempar melebar ke samping kanan-kiri tubuhnya dan matanya terpejam.

Pakdhe lalu menarik pantatnya dan kulihat dari arah ku yang persis di samping kirinya, batang kemaluan Pakdhe yang hitam kecoklatan masih kencang. Kemudian Pakdhe menarik tubuh Mbak Ningsih agar merangkak di kasur. Dengan bertumpu pada lututnya, Pakdhe menempatkan diri di belakang pantat Mbak Ningsih yang menungging. Pakdhe memegang batang kemaluannya dan mengarahkannya ke belahan pantat Mbak Ningsih.

Kulihat kepala Mbak Ningsih terangkat saat Pakdhe mulai mendorong pantatnya. Kembali kulihat pantat Pakdhe mengayun dari depan ke belakang dengan posisi Mbak Ningsih merangkak dan Pakdhe berlutut di belakang pantat Mbak Ningsih. Batang kemaluan Pakdhe kelihatan dari tempatku berdiri saat Pakdhe menarik pantatnya dan hilang dari penglihatanku saat ia mendorong pantatnya. Aku yang mengintip menjadi tidak tahan lagi. Tanganku secara refleks mulai menyusup kedalam celana dalam memegang vaginaku dan meremas-remasnya. Vaginaku mulai basah oleh cairan. Jari tangahku kutekankan pada daerah sensitifku dan kugerakkan memutar.

Kudengar Pakdhe mulai menggeram. Tangannya meremas payudara Mbak Ningsih yang berayun-ayun seirama dengan dorongan pantat Pakdhe yang menyodok-nyodok Mbak Ningsih. Gerakan Pakdhe semakin cepat dan geramannya semakin keras. Mbak Ningsih pun mengimbangi gerakan ayunan pantat Pakdhe dengan memutar-mutar pantatnya. Gerakan mereka semakin liar. Derit dipan kayu pun kudengar semakin keras. Lalu keduanya merintih panjang.

Tubuh keduanya yang menyatu mengejat-ngejat. Kepala keduanya seolah-olah terhantam sesuatu hingga mendongak ke atas. Lalu tubuh Pakdhe ambruk dan menindih Mbak Ningsih yang ambruk tengkurap di kasur. Aku pun merasa ada sesuatu yang meledakdi bawah perutku. Tubuhku seperti melayang dan akhirnya aku merasa lemas.

Aku yang takut ketahuan melihat perbuatan keduanya segera berjingkat-jingkat dan keluar rumah pergi ke rumah Rina sahabat paling eratku di kelas. Aku baru pulang setelah jam 13.30 saat aku biasa pulang.

Sampai di rumah aku pura-pura bersikap seperti biasa. Aku bersikap seolah-olah tidak mengetahui perbuatan Mbak Ningsih dan Pakdhe tadi pagi. Selama beberapa hari itu pikiranku selalu terganggu dengan bayangan apa yang dilakukan Mbak Ningsih dengan Pakdheku di kamarku ini.

Aku sudah mulai dapat melupakan kejadian yang kulihat antara Mbak Ningsih dengan Pakdheku karena kesibukanku mempersiapkan EBTA. Begitu EBTA selesai aku mendapatkan liburan sambil menunggu pengumuman. Saat itu waktuku lebih banyak kuluangkan di rumah membersihkan rumah dan menyetrika serta membantu Mbak Ningsih memasak.

Suatu hari, aku harus berada sendirian di rumah dengan Pakdhe. Mbak Ningsih mengikuti acara darma wisata ke Selecta yang diadakan sekolahnya sebagai acara perpisahan. Mbak Ningsih sudah berangkat saat pagi-pagi buta. Aku yang sedang libur harus menggantikan Mbak Ningsih menyiapkan sarapan buat Pakdhe. Setelah membuat minuman teh untukku dan satu cangkir khusus untuk Pakdhe aku segera menyapu halaman.

Aku menyempatkan diri meminum tehku sebelum pergi ke kamar mandi. Teh yang kuminum rasanya agak lain, tapi aku tidak begitu curiga. Saat mandi itulah aku merasa ada yang agak aneh dengan tubuhku. Tubuhku terasa panas dan jantungku berdebar-debar. Rasa aneh menyergapku. Vaginaku terasa berdenyut-denyut dan ada rasa aneh menyerbu diriku. Tubuhku terasa gerah sekali.

Kusiram seluruh tubuhku dengan air dingin agar rasa gerahku hilang. Apa yang kulakukan ternyata cukup menolong. Tubuhku merasa segar sekali. Lalu kigosok seluruh tubuhku dengan sabun. Rasa aneh itu kembali menyerang diriku, apalagi saat aku menyabuni daerah selangkanganku yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Aku merasa ada dorongan birahi yang begitu kencang. Aku tidak tahu mengapa ini terjadi. Tiba-tiba anganku melayang pada apa yang kulihat beberapa hari yang lalu saat Mbak Ningsih dan Pakdhe Marto bergumul di kamarku.

Cepat-cepat kubuang pikiran itu jauh-jauh dan segera menyelesaikan acara mandi pagiku. Hanya dengan tubuh terbalut handuk, aku lari masuk kamarku. Aku selalu berganti pakaian di kamarku sambil mematut-matut diriku di depan cermin sambil mengamati seluruh tubuhku yang mulai berubah. Bulu-bulu kemaluan sudah mulai tumbuh di gundukan bukit kemaluanku.

Dadaku yang dulu rata kini mulai tumbuh dengan puting yang sebesar kacang kedelai dengan warna merah muda. Pinggulku mulai tumbuh membesar. Kata orang aku seksi dan menarik. Apalagi tinggi badanku sudah mencapai 160 cm. Aku sendiri selalu betah berlama-lama di depan cermin dengan melenggak-lenggokkan tubuhku memandang dari segala sisi dan mengagumi tubuhku. Aku sangat bangga dengan tubuhku.

Baru saja aku mengunci pintu kamarku aku dikejutkan dengan pelukan tangan yang kokoh menyergapku. Aku tidak sempat menjerit karena tiba-tiba sosok yang memelukku langsung membekap mulutku dengan tangannya yang kokoh. Belum hilang terkejutku, handuk yang melilit tubuhku ditarik seseorang dan jatuh teronggok ke lantai. Aku benar-benar bugil tanpa sehelai kainpun menutupi tubuhku.

Kembali rasa aneh yang menyerangku semakin menggelora. Ada dorongan hasrat yang menggebu-gebu dalam diriku. Aku tak mampu meronta dan menjerit! Tangan yang kokoh dan berbulu tetap membekap mulutku sementara tangan satu lagi memeluk tubuh telanjangku. Mataku semakin nanar menerima perlakuan seperti itu. Apalagi kurasakan sentuhan kulit tubuh telanjang menempel hangat di punggungku. Pantatku yang telanjang terasa menekan suatu benda panjang melingkar dan keras di balik kain tipis.

Aku semakin tak mampu menahan gejolak liar yang mulai bangkit dalam diriku saat sapuan-sapuan lidah panas mulai menyerbu tengkukku. Aku menggelinjang kegelian dan melenguh. Lidah itu semakin liar bergerak menyusuri leherku.. pundakku.. Lalu turun ke bawah ke sepanjang tulang punggungku. Aku semakin menggelinjang. Lidah itu terus merayap ke bawah dan pinggangku mulai dijilati. Kakiku serasa lemah tak bertenaga. Aku hanya pasrah saat tubuhku didorong ke tempat tidurku dan dijatuhkan hingga aku tengkurap di tempat tidurku. Tubuhku lalu ditindih oleh sesosok tubuh yang sangat berat.

Kakiku mulai memberontak liar karena geli. Apalagi lidah itu dengan rakus mulai menjilati pinggulku. Pantatku terangkat saat mulut berkumis itu mulai menggigiti buah pantatku dengan gemas. Pantatku terangkat-angkat liar saat lidah panas itu mulai menyusup ke dalam celah-celah bongkahan pantatku dan mulai menjilati lubang anusku. Aku benar-benar seperti terbang mengawang. Aku belum tahu siapa yang memelukku dari belakang dan menggerayangi seluruh tubuhku. Aku hanya bisa merasakan dengusan napas panas yang menghembus di bongkahan pantatku saat lidah itu mulai menjilati lubang anusku.

Aku tercekik kaget saat tubuhku dibalik hingga telentang telanjang bulat di kasurku. Ternyata orang yang sedari tadi menggumuliku adalah Pakdhe Mitro, orang yang selama ini kuanggap sebagai pengganti orang tuaku. Aku tak tak mampu berteriak karena mulutku langsung dibekap dengan bibirnya. Lidahku didorong dorong dan digelitik. Aku terangsang hebat. Apalagi sejak minum teh tadi tubuhku terasa agak aneh. Seolah-olah ada dorongan menghentak-hentak yang menuntut pemenuhan.

Tubuhku menggelinjang saat tangan kekar dan agak kasar mulai meraba dan meremas kedua payudaraku yang baru mulai tumbuh. Lalu kedua kakiku dipentangkan oleh Pakdhe Mitro lebar-lebar, lalu Pakdhe menindih tubuhku yang sudah telanjang bulat di antara kedua pahaku yang terkangkang. Aku merasa ada benda keras seperti tongkat yang menekan ketat ke bukit kemaluanku di balik kain sarung yang dikenakan Pakdhe.

Mulut dan lidah Pakdhe tak henti-hentinya menjilat dan melumat setiap jengkal bagian tubuhku. Dari mulutku, bibir Pakdhe bergeser menjilati seluruh batang leherku, kemudian turun ke dua belah payudaraku. Tubuhku semakin menggerinjal saat lidah dan mulut Pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudaraku yang baru sebesar kacang kedelai. Disedotnya payudaraku hingga hampir seluruhnya masuk ke dalam mulut Pakdhe Mitro. Aku sangat terangsang dan sudah tidak mampu berpikir jernih. Ada sesuatu yang mulai menggelora dan mendesak-desak di perut bagian bawahku.

Lidah Pakdhe terus merayap semakin ke bawah. Perutku menjadi sasaran jilatan lidahnya. Tubuhku semakin menggelinjang hebat. Akal sehatku sudah benar-benar hilang. Kobaran napsu sudah menjeratku. Pantatku terangkat tanpa dapat kucegah saat lidah Pakdhe terus merayap dan menjliati gundukan bukit kemaluan di selangkanganku yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. Aku merasa kegelian yang amat sangat menggelitik selangkanganku.

Tubuhku serasa mengawang di antara tempat kosong saat lidah Pakdhe mulai menyelusup ke dalam bukit kemaluanku dan menggelitik kelentitku. Lubang kemaluanku semakin berdenyut-denyut tergesek gesek lidahnya yang panas. Aku hanya mampu menggigit bibirku sendiri menahan rasa geli yang menggelitik selangkanganku. Tubuhku semakin melayang dan seperti terkena aliran listrik yang maha dahsyat.

Aku tak mampu lagi menahan gelora napsu yang semakin mendesak di dalam perutku. Pantatku terangkat seperti menyongsong wajah Pakdhe yang menekan bukit kemaluanku. Lalu tubuhku seperti terhempas ke tempat kosong. Aku merasakan ada sesuatu yang meledak di dalam perut bagian bawahku. Tubuhku menggelepar dan tanpa sadar kujepit kepala Pakdhe dengan kedua kakiku untuk menekannya lebih ketat menempel selangkanganku.

Belum sempat aku mengatur napas tiba-tiba mulutku sudah disodori batang kemaluan Pakdhe Mitro yang tanpa kutahu sejak kapan sudah melepas sarungnya dan sudah telanjang bulat mengangkangi wajahku. Batang kemaluannya yang besar, hitam panjang dan tampak mengkilat mengacung di depan wajahku seperti hendak menggebukku kalau aku menolak menciuminya.

Dengan rasa jijik aku terpaksa menjulurkan lidahku dan mulai menjilati ujung topi bajanya yang mengkilat. Aku hampir muntah saat lidahku menyentuh cairan lendir yang sedikit keluar dari lubang kemaluan Pakdhe. Namun jepitan kedua paha Pakdhe di sisi wajahku tidak memberiku kesempatan lain.

Aku hanya mampu pasrah dengan tetap menjilati batang kemaluan Pakdhe. Lalu dengan paksa Pakdhe membuka mulutku dan menjejalkan batang kemaluannya ke dalam mulutku. Aku menjadi gelagapan karena susah bernapas. Batang kemaluannya yang besar memenuhi mulutku yang masih kecil.

Kudengar Pakdhe menggumam tanpa jelas apa yang diucapkannya. Pantatnya digerak-gerakannya hingga batang kemaluannya yang masuk ke dalam mulutku mulai bergerak keluar masuk di dalam mulutku. Aku hampir tersedak saat ujung kemaluan Pakdhe menyentuh-nyentuh kerongkonganku. Aku hanya mampu melotot karena hampir tersedak. Tanpa sadar kedua tanganku mencengkeram pantat Pakdhe Mitro.

Setelah puas “mengerjai” mulutku dengan batang kemaluannya, Pakdhe menggeser tubuhnya dan menindihku lagi dengan posisi sejajar. Kedua pahaku dikuaknya dan dengan tangannya, dicucukannya batang kemaluannya ke arah bukit kemaluanku. Aku merasa geli saat ujung kemaluan Pakdhe mulai menggesek-gesek pintu lubang kemaluanku yang sudah basah.

Dari rasa geli dan nikmat, tiba-tiba aku merasa perih di selangkanganku saat Pakdhe mulai menurunkan pantatnya sehingga batang kemaluannya mulai menerobos ke dalam lubang kemaluanku yang masih perawan. Aku merintih kesakitan dan air mataku mulai mengalir. Aku tersadar akan bahaya! Namun terlambat. Pakdhe yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mungkin mau berhenti. Ia hanya sejenak menghentikan gerakannya. Ia merayuku dan mengatakan kalau sakitku hanya sebentar dan berganti rasa nikmat yang tidak terkira.

Pakdhe menarik pantatnya ke atas hingga batang kemaluannya yang terjepit di dalam lubang kemaluanku tertarik keluar. Gesekan batang kemaluannya yang besar di dalam dinding lubang kemaluanku menimbulkan rasa nikmat seperti apa yang dikatakannya. Aku mulai dapat menikmati rasa nikmat itu. Ini mungkin karena pengaruh teh yang kuminum sehingga aku benar-benar belum sadar akan bahaya yang kuhadapi. Yang kuinginkan hanya satu yaitu menuntaskan gejolak yang meledak-ledak dalam diriku.

Aku kembali merintih kesakitan saat Pakdhe mulai menekan pantatnya lagi yang membuat batang kemaluannya menerobos lebih dalam ke dalam lubang kemaluanku. Lagi-lagi Pakdhe membisikiku kalau rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Ia menarik lagi pantatnya. Benar.. Rasa sakit itu berganti nikmat saat batang kemaluannya ditarik keluar hingga hanya ujung kepalanya saja yang masih terjepit dalam lubang kemaluanku.

Lubang kemaluanku yang sudah sangat licin sangat membantu pergerakan batang kemaluan Pakdhe dalam jepitan lubang kemaluanku. Detik-detik berlalu dan sedikit-demi sedikit batang kemaluan Pakdhe meneronos semakin dalam ke dalam lubang kemaluanku. Pakdhe terus menarik dan mendorong pantatnya dengan pelan dan teratur. Hingga suatu saat aku menggigit bibirku keras-keras saat selangkanganku terasa perih sekali. Selangkanganku terasa robek saat Pakdhe menekan pantatnya hingga batang kemaluannya hampir masuk separuh ke dalam lubang kemaluanku.

Aku sempat menjerit menahan sakit yang amat sangat di selangkanganku. Pakdhe segera menghentikan gerakannya dan memberiku kesempatan untuk bernapas. Aku merasa lega saat Pakdhe menghentikan gerakannya. Kini aku dapat merasakan lubang kemaluanku seperti terganjal benda keras dan hangat. Benda itu berdenyut-denyut dalam jepitan lubang kemaluanku.

Kembali rasa sakit yang tadi menyentakku berangsur mulai hilang tergantikan rasa nikmat saat batang kemaluan Pakdhe yang semakin lancar mulai bergerak lagi keluar masuk dalam jepitan lubang kemaluanku. Rasa nikmat terus meningkat sehingga tanpa sadar aku menggoyangkan pantatku untuk segera meraih kenikmatan yang lebih banyak lagi.

Aku seperti gila. Rasa sakit itu sudah benar-benar hilang tergantikan rasa nikmat yang benar-benar memabukkan. Pakdhe semakin bersemangat mengayunkan pantatnya menghunjamkan batang kemaluannya. Empat kali mendorong lalu didiamkan dan diputar kemudian ditarik lagi. Tanpa sadar pantatku terangkat saat Pakdhe menarik pantatnya.

Berkali-kali Pakdhe mengulang gerakannya hingga perutku terasa kejang. Tubuhku mulai melayang. Tanganku semakin kuat mencengkeram punggung Pakdhe untuk mencoba menahan kenikmatan yang mulai menerjangku. Pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya diiringi geramannya yang kudengar bergemuruh di telingaku.

Mataku semakin membeliak menahan desakan yang kian dahsyat di perut bagian bawahku. Aku hampir menjerit saat ada sesuatu yang kurasa pecah di dalam sana. Namun bibir Pakdhe yang tiba-tiba melumat bibirku menghentikan teriakanku. Pakdhe melumat dengan rakus kedua belah bibirku. Aku merasa tubuhku seolah-olah terhempas di awan. Tubuhku mengejat-ngejat saat aku mencapai puncak pendakian yang melelahkan. Pakdhe yang bibirnya masih melumat bibirku pun mulai berkelojotan di atas perutku. Lalu ia menggeram dengan dahsyat..

Dan akhirnya kurasakan ada semburan cairan hangat yang memancar dari batang kemaluan Pakdhe yang terjepit dalam lubang kemaluanku. Batang kemaluannya berkedut-kedut dalam jepitan lubang kemaluanku. Tubuh Pakdhe masih bergerak dengan liar selama beberapa saat lalu ambruk menindihku. Napas ku hanya tinggal satu-satu. Napas Pakdhe pun kudengar menggemuruh di telingaku.

Air mataku mengalir saat kusadari segalanya telah terlambat bagiku. Kegadisanku telah terenggut oleh Pakdhe. Orang yang selama ini kuanggap sebagai pengganti ayahku. Lalu dengan lembut Pakdhe mengusap air mataku dan berjanji akan menyayangiku sepanjang sisa hidupnya. Aku menjadi agak terhibur dengan perkataannya.

Sejak kegadisanku hilang, aku menjadi pendiam. Keceriaan yang selama ini menjadi ciri khasku seolah-olah hilang sirna. Aku menjadi sangat berubah. Selangkanganku masih terasa sakit hingga beberapa hari setelah kejadian itu.

Mbak Ningsih yang selama ini sangat memperhatikanku sangat heran melihat perubahan yang terjadi pada diriku. Akhirnya aku mengaku terus terang kepada Mbak Ningsih tentang kejadian yang menimpaku. Ia hanya menghela napas merasa prihatin akan musibah yang kualami.

Kira-kira satu bulan sejak aku dinodai Pakdheku, Mbak Ningsih minta pamit kepadaku dan juga Pakdheku. Mbak Ningsih setelah lulus SMK diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah Malang dan pindah ke Malang. Sehingga sejak saat itu aku yang baru masuk SMU harus tinggal berdua saja dengan Pakdhe.

Suatu hari, kira-kira seminggu sejak kepergian Mbak Ningsih, saat itu aku sedang mencuci pakaianku dan pakaian Pakdhe. Hari itu sekolahku libur karena tanggal merah jadi aku bersih-bersih rumah. Pakdhe seperti biasanya merapikan tanaman di halaman depan yang sudah mulai tumbuh tidak teratur.

Setelah kuselesaikan cucianku dan kujemur, aku berniat mandi. Baru saja mau menutup pintu kamar mandi, tiba-tiba tangan Pakdhe mengganjal pintu kamar mandi dan menyerobot masuk. Aku tidak sempat berteriak karena tiba-tiba Pakdhe sudah memelukku. Tubuhnya yang hanya tertutup celana kolor dan sudah basah penuh keringat memelukku erat-erat. Aku tidak berani berteriak karena diancam kalau tidak mau melayani nafsunya aku akan diusir dari rumah itu dan tidak dibiayai sekolahku. Aku merasa takut sekali dengan ancamannya hingga dengan air mata yang kutahan aku pasrah akan apa yang dilakukan Pakdhe padaku.

Tangan Pakdhe dengan cekatan melucuti dasterku, bra-ku lalu celana dalamku hingga aku benar-benar bugil. Tanpa membuang waktu Pakdhe segera melepas kolornya dan telanjang bulat. Batang kemaluannya yang berwarna hitam kecoklatan masih mengkerut dan menggantung lunglai. Kemudian Pakdhe duduk di tepi bak mandi keramik dengan kaki yang terbuka. Ditariknya tubuh telanjangku ke dalam pelukannya dan dilumatnya bibirku dengan rakusnya.

Mulutku masih tertutup saat lidah Pakdhe mulai mencoba menerobos masuk ke dalam mulutku. Karena tidak tahan dengan sapuan-sapuan lidahnya yang mendesak-desak bibirku, akhirnya bibirku pun terbuka. Pakdhe segera menyusupkan lidahnya ke dalam mulutku dan mendorong-dorong lidahku. Mula-mula aku diam saja, namun lama-kelamaan aku jadi terangsang juga. Apalagi batang kemaluan Pakdhe yang tadinya mengkerut perlahan-lahan mulai mengembang dan mengganjal perutku. Aku mulai bereaksi. Lidahku tanpa sadar membalas dorongan lidah Pakdhe.

Tubuhku mulai menggerinjal dalam pelukan Pakdhe saat tangan Pakdhe mulai menggerayangi buah pantatku. Tangan Pakdhe dengan gemas meremas dan memijat buah pantatku lalu ditariknya tubuhku hingga semakin ketat lengket dalam pelukannya.

Setelah puas memainkan lidahnya dalam mulutku, tangan Pakdhe menekan kepalaku hingga aku disuruhnya berlutut di depan selangkangannya. Batang kemaluannya yang sudah keras nampak mengacung tegak di depan wajahku. Ditariknya wajahku ke selangkangannya dan disuruhnya mulutku menciumi batang kemaluannya itu. Dengan agak risi aku terpaksa membuka mulutku dan mulai menciumi batang kemaluannya yang sudah mengeluarkan sedikit cairan.

Kepalaku didorong maju mundur oleh tangan Pakdhe yang mencengkeram rambutku hingga batang kemaluannya mulai bergeser keluar masuk dalam mulutku. Kerongkonganku tersodok-sodok ujung kepala kemaluan Pakdhe yang keluar masuk dalam mulutku. Kudengar napas Pakdhe mulai menggebu. Batang kemaluannya semakin mengeras dalam kuluman mulutku.

Mungkin karena tak tahan, Pakdhe segera menarik tubuhku agar berdiri lalu mendudukanku di sisi bak mandi. Mulutnya segera mencecar payudaraku kanan dan kiri silih berganti. Aku menggelinjang hebat manakala mulut Pakdhe dengan rakusnya mempermainkan kedua puting payudaraku. Tangan Pakdhe pun tak tinggal diam. Tangannya mulai merayap ke selangkanganku yang terbuka lebar dan mulai meremas gundukan bukit kemaluanku.

Aku sampai megap-megap mendapat rangsangan seperti itu. Aku semakin tersiksa oleh gejolak nafsu. Mulut Pakdhe lalu merayap menyusuri perutku dan mulai menjilati gundukan bukit kemaluanku. Dikuakkanya kedua bibir kemaluanku dengan jari-jarinya lalu disusupkannya lidahnya ke dalam lubang kemaluanku.

Tubuhku yang duduk di sisi bak mandi hampir saja terjatuh karena menggelinjang saat lidah Pakdhe mulai menggesek-gesek dinding lubang kemaluanku. Tanpa sadar tanganku mencengkeram rambut Pakdhe dan menekankan kepalanya agar lebih ketat menekan bukit kemaluanku.

Aku semakin blingsatan menahan rangsangan yang diberikan Pakdhe di selangkanganku. Tanpa sadar mulutku mendesis-desis dan dudukku bergeser tak karuan. Perutku mulai mengejang menahan desakan gejolak yang meledak-ledak. Tubuhku terasa mulai mengawang dan pandangan mataku nanar. Akhirnya dengan diiringi rintihan panjang aku mencapai orgasmeku.

Belum sempat aku mengatur napas tiba-tiba Pakdhe sudah berdiri di hadapanku. Batang kemaluannya yang keras dicocokkan ke bibir kemaluanku dan digesek-gesekkannya ujung kepala kemaluannya ke bibir kemaluanku yang sudah basah dan licin. Aku menggelinjang lagi saat benda hangat itu mulai menerobos masuk ke dalam bibir kemaluanku. Bibir Pakdhe Mitro dengan rakusnya mulai melumat bibirku sambil mendorong pantatnya hingga batang kemaluannya semakin melesak ke dalam jepitan bibir kemaluanku.

Aku masih duduk di bibir bak mandi sementara Pakdhe Mitro menggenjot lubang kemaluanku sambil berdiri. Mungkin karena kesulitan bergerak, dicabutnya batang kemaluannya dari jepitan bibir kemaluanku. Tubuhku lalu diturunkan dari bibir bak mandi dan dibaliknya hingga aku berdiri dengan tangan bertumpu bak mandi. Lalu Pakdhe menempatkan diri di belakangku dan mulai mencoba memasukan batang kemaluannya ke dalam bibir kemaluanku dari celah bongkahan pantatku.

Punggungku didorong Pakdhe agar sedikit membungkuk hingga setengah menungging. Dipentangkanya kedua kakiku lebar-lebar lalu dicucukannya batang kemaluannya ke gundukan bukit kemaluanku. Setelah arahnya tepat, Pakdhe mulai mendorong pantatnya hingga kembali batang kemaluannya menerobos masuk dalam jepitan bibir kemaluanku.

Kembali aku mulai merasa ada suatu benda hangat menyeruak ke dalam lubang kemaluanku. Dinding-dinding lubang kemaluanka serasa dikilik-kilik. Batang kemaluan Pakdhe yang terjepit ketat dalam lubang kemaluanku berdenyut-denyut. Pakdhe yang napasnya mulai memburu semakin kuat mengayunkan pantatnya maju mundur hingga gesekan batang kemaluannya pada dinding lubang kemaluanku semakin cepat.

Cerita Lainnya:   Cerita Seks Malam Pasutri Susah Di Lupakan

Pinggulku yang dipegang Pakdhe terasa agak sakit karena jari-jari Pakdhe mulai mencengkeram. Pinggulku ditarik dan didorong oleh tangan kuat Pakdhe seiring dengan ayunan pantatnya. Tubuhku mulai terhentak dan aku mulai limbung. Kembali aku merasa melayang karena desakan gejolak yang meledak-ledak. Pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya dan napasnya semakin menderu.

Pantatku yang ditarik dan didorong Pakdhe maju mundur semakin cepat bergerak. Cengkeraman jari-jari Pakdhe semakin terasa di pinggulku. Gerakan ayunan pantat Pakdhe semakin tak terkendali. Tak lama kemudian aku kembali mencapai orgasmeku. Pakdhe pun kukira mencapai puncak kenikmatannya karena aku merasa ada semburan cairan hangat yang menyemprot dari batang kemaluan Pakdhe ke dalam lubang kemaluanku dengan diiringi geraman yang keluar dari mulut Pakdhe.

Pakdhe tetap membiarkan batang kemaluannya terjepit dalam lubang kemaluanku selama beberapa saat. Napasnya yang mulai teratur terasa hangat menerpa kulit pipiku. Tulang kemaluannya menekan kuat di bukit buah pantatku. Aku merasa sedikit geli karena rambut kemaluan Pakdhe menempel ketat dan menggesek buah pantatku. Batang kemaluan Pakdhe yang masih keras terasa berdenyut-denyut dalam jepitan lubang kemaluanku. Setelah menyemprotkan sisa-sisa air maninya batang itu mulai mengendur dan terlepas dengan sendirinya.

Tubuhku sudah terasa lemas tak bertenaga. Aku hanya memejamkan mata karena lemas dan malu karena untuk kedua kalinya aku berhasil digagahi Pakdheku sendiri. Aku membiarkan saja saat Pakdhe memandikanku seperti bayi. Tangannya yang kokoh menyabuni seluruh lekuk tubuhku. Tubuhku kembali menggerinjal saat tangannya yang kokoh mulai menyabuni payudaraku yang baru mulai tumbuh. Putingku yang mencuat dipermainkannya dengan gemas.

Tubuhku semakin menggelinjang saat tangannya mulai menyentuh perutku lalu meluncur turun dan mulai menyabuni gundukan bukit kemaluanku yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Jari-jarinya menyisir celah sempit di tengah gundukan bukit kemaluanku dan berlama-lama menyabuni daerah itu.

Aku tak berani memandang Pakdhe saat ia mengangsurkan sabun ke tanganku dan menyuruhku menyabuninya. Dengan agak kaku tanganku mulai menyabuni punggung Pakdhe yang kekar. Tanganku bergerak hingga seluruh punggung Pakdhe kugosok merata dengan sabun. Lalu Pakdhe membalikkan tubuhnya menghadapku. Tangannya mengelus-elus kedua payudaraku sementara aku disuruhnya menyabuni tubuh bagian depannya.

Tanganku bergerak dari dada terus turun ke arah perut. Napas Pakdhe mulai memburu saat tanganku yang dilumuri busa sabun mulai menggosok bagian bawah perutnya. Batang kemaluannya yang tadi kendur sudah mulai mengembang. Tanganku yang agak ragu dipegang Pakdhe dan diarahkan untuk menyabuni daerah kemaluan Pakdhe. Rambut kemaluannya sangat lebat tumbuh di pangkal batang kemaluannya yang mulai berdiri setengah tegak dan mengeras. Lucu sekali kelihatannya seperti pistol namun “gombyok”. Ya!! Kelihatannya seperti pistol gombyok!! Seperti pistol tapi lebat ditumbuhi rambut atau gombyok!!

Pakdhe yang sudah mulai terangsang segera menyuruhku menyelesaikan acara saling memandikan. Hanya dengan berbalut handuk, tubuhku yang masih agak basah ditariknya dari kamar mandi dan diseret masuk ke kamar Pakdhe. Pakdhe pun hanya mengenakan kolornya yang tadi dipakainya hingga batang kemaluannya yang sudah setengah keras tampak membusung di balik kolor seragamnya.

Baru saja pintu ditutup, tubuhku sudah langsung disergapnya. Diloloskannya handuk yang melilit tubuhku hingga aku telanjang bulat. Pakdhe segera melepas kolornya dan bugil dihadapanku. Mulut Pakdhe segera menyergap bibirku dan melumatnya dengan rakus. Kedua payudaraku segera menjadi bulan-bulanan remasan tangannya hingga tubuhku menggelinjang dalam dekapannya.

Tanganku segera dibimbing Pakdhe dan dipegangkannya ke batang kemaluannya yang sudah semakin mengembang. Bibir Pakdhe yang rakus meulai bergeser turun dari bibirku ke dagu, lidahnya menjilat-jilat daguku terus turun ke leherku hingga aku semakin menggelinjang karena kumisnya yang pendek dan kasar menggaruk-garuk batang leherku.

Aku semakin mendesis karena kini bibir Pakdhe sudah mulai melumat kedua puting payudaraku kanan dan kiri secara bergantian. Tanganku secara tak sadar bergerak mengurut dan meremas “pistol gombyok” Pakdhe. Napas Pakdhe pun semakin menderu dan semakin keras menghembus di kedua payudaraku. Jilatannya semakin liar di seluruh bukit payudaraku tanpa terlewatkan sejengkalpun.

Batang kemaluan Pakdhe yang semakin keras mulai berdenyut-denyut dalam genggaman tanganku. Sementara tangan Pakdhe mulai bergerak liar menyusuri penggungku dan turun ke bawah lalu berhenti di kedua pantatku dan meremas-remas kedua buah pantatku dengan gemasnya. Aku sangat terangsang. Ya.. Mungkin daerah kelemahanku adalah pada buah pantatku dan pada kedua puting payudaraku. Tubuhku sudah mulai mengawang dan sudah pasrah bersandar dalam pelukan Pakdhe.

Mengetahui kalau tubuhku sudah tersandar sepenuhnya dalam pelukannya, Pakdhe segera mendorong tubuhku ke kasurnya hingga aku berbaring telentang. Ditindihnya tubuh telanjangku oleh tubuh kekar Pakdhe. Dibentangkannya kedua kakiku lebar-lebar dan aku kembali digumuli Pakdheku. Lidah Pakdhe kembali menyerbu bibirku lalu bergeser ke leherku.

“Pistol gombyok” Pakdhe yang sudah sangat keras mengganjal di perut bagian bawahku. Rambut kemaluannya yang gombyok sangat terasa menggesek-gesek perutku menimbulkan rasa geli.

Lidah Pakdhe menjilat-jilat seluruh batang leherku hingga aku mendesis-desis kegelian. Tubuhku semakin menggelinjang menahan geli saat lidahnya mulai bergeser turun dan menyapu-nyapu sekeliling bukit payudaraku di sekitar putingku. Tubuhku semakin menggerinjal saat lidah Pakdhe yang panas mulai menyapu-nyapu puting payudaraku. Tubuhku serasa semakin melayang.

Lidah Pakdhe terus bergeser ke bawah. Pusarku dijilatnya dengan rakus lalu lidahnya mulai bergerak turun ke perut bagian bawahku. Otot-otot perutku terasa seperti ditarik-tarik saat bibir Pakdhe menyedot-nyedot daerah sekitar perut bagian bawahku di atas pangkal pahaku. Geli sekali rasanya, apalagi kumisnya yang pendek dan kasar menyeruduk-nyeruduk kulit perutku yang halus.

Pakdhe lalu membalik tubuhnya. Wajahnya menghadap selangkanganku sementara “pistol gombyok”nya dihadapkan ke wajahku. Diturunkannya pantatnya hingga batang kemaluannya menempel bibirku. Dibimbingnya “pistol gombyok”nya ke mulutku. Aku tahu aku harus membuka mulutku menyambut “pistol gombyok” Pakdhe yang dijejalkan ke dalam mulutku. Dengan terpaksa aku mulai mengulum “pistol gombyok” Pakdhe dan menjilati seluruh ujung topi bajanya yang mengkilat.

Tubuhku terhentak saat mulut Pakdhe mulai melumat bibir kemaluanku. Kedua tangannya menarik kedua bibir lubang kemaluanku dan membukanya lebar-lebar lalu lidahnya yang panas didorong keluar masuk kedalam lubang kemaluanku. Aku semakin mendesis-desis menahan nikmat. Napas Pakdhe yang semakin menggebu sangat terasa meniup-niup lubang kemaluanku yang terbuka lebar.

Tanpa sadar pantatku terangkat ke atas seolah menyambut dorongan lidah Pakdhe yang menggesek-gesek kelentitku. Gerakan lidahnya yang liar seolah membuatku semakin gila. Tanpa dapat kucegah lagi, mulutku merintih dan mendesis menahan gejolak kenikmatan yang meledak-ledak. Batang kemaluan Pakdhe yang menyumpal mulutku tak mampu menahan desisan yang keluar dari mulutku.

Mataku kembali nanar. Perutku terasa kejang.. Dorongan gejolak liar yang mendesak di perut bagian bawahku sudah hampir tak dapat kutahan lagi. Lalu dengan diiringi rintihan panjang tubuhku menggelepar dan berkelojotan seperti ayam disembelih. Tubuhku lalu melayang dan terhempas di tempat kosong. Akhirnya tubuhku terdiam beberapa saat. Aku telah mencapai orgasme yang ke sekian di pagi itu.

Tubuhku terasa lemas tak bertenaga. Aku hanya pasrah saat Pakdhe yang telah mencabut batang kemaluannya dari kuluman mulutku bangkit dan duduk di sisi pembaringan mengangkat tubuhku dan mendudukanku di pangkuannya. Tubuhku dihadapkannya ke dirinya dan kakiku dipentangkannya hingga aku terduduk mengangkang dipangkuannya dengan saling berhadapan. Kemudian tangan Pakdhe mengarahkan batang kemaluannya ke celah bukit kemaluan di selangkanganku.

Bless!! Aku terhenyak saat pantatku diturunkan dan ada suatu benda keras dan hangat mengganjal di lubang kemaluanku. Nikmat sekali rasanya. Seluruh dinding lubang kemaluanku terasa berdenyut-denyut. Kelentitiku yang sudah membengkak tergesek nikmat pada pangkal batang kemaluan Pakdhe. Lain sekali rasanya bersetubuh dengan posisi begini. Aku merasa sangat terangsang! Kelentitku serasa tergesek penuh pada batang kemaluan Pakdhe.

Dengan dibantu kedua tangan Pakdhe yang menyangga kedua buah pantatku tubuhku bergerak naik turun di pangkuan Pakdhe. Payudaraku yang baru tumbuh bergetar bergoyang-goyang seiring dengan naik turunnya tubuhku di pangkuan Pakdhe. Batang kemaluan Pakdhe yang menancap ketat dalam jepitan lubang kemaluanku terasa menggesek nikmat seluruh dinding lubang kemaluanku yang terus berdenyut-denyut meremas apa saja yang menyumpalnya.

Tubuhku terasa menggigil bergetar saat mulut Pakdhe tak tinggal diam. Mulut Pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudaraku bergantian. Mulutnya menyedot buah dadaku sepenuhnya. Gerakanku menjadi kian liar. Desakan gejolak birahi semakin mendesak. Aku mempercepat gerakanku naik turun dengan diselingi sedikit memutar saat seluruh batang kemaluan Pakdhe masuk hingga ke pangkalnya ke dalam jepitan lubang kemaluanku.

Karena tak tahan lagi tanpa sadar kudorong tubuh Pakdhe hingga terbaring telentang di kasur dengan kedua kaki menjuntai ke lantai. Tubuhku yang tadi di pangku Pakdhe menjadi duduk seperti seorang joki yang sedang naik kuda balap berpacu dalam birahi dengan menduduki Pakdhe yang berbaring telentang. Gerakanku kian bebas. Dengan tangan bertumpu pada dada Pakdhe yang bidang aku terus menggerakan pantatku memutar dan maju mundur. Kelentitiku kian ketat tergesek batang kemaluan Pakdhe.

Tanga Pakdhe yang memegang kedua pantatku semakin ketat mencengkeram dan membantu mempercepat gerakanku. Aku merasa tubuhku kembali mulai mengawang. Gerakanku kian tak terkendali. Mataku mulai membeliak dan mulutku menceracau tak karuan. Puncak pendakian kian dekat.. Kian dekat..

Dan akhirnya dengan merintih panjang tubuhku berkejat-kejat seperti sedang terkena aliran listrik. Lubang kemaluanku berdenyut-denyut saat ada sesuatu yang pecah di dalam sana.. Tubuhku berkejat-kejat beberapa saat lalu ambruk di atas perut Pakdhe. Aku benar-benar tak bertenaga. Ya akibat pistol gombyok Pakdhe aku mencapai orgasme yang kesekian kalinya. Luar biasa Pakdhe ku ini. Walaupun sudah tua namun mampu membuat aku yang masih ABG begini bertekuk lutut.

Pakdhe yang rupanya belum mencapai orgasme segera membalikkan tubuhku dengan tanpa melepaskan batang kemaluannya yang masih menancap dalam jepitan lubang kemaluanku. Sekarang tubuhku yang telentang gantian digenjot Pakdhe. Aku yang sudah tak bertenaga hanya pasrah. Pakdhe dengan semangat juang terus menggenjot selangkanganku dengan tusukan-tusukan batang kemaluannya. Pistol gombyoknya tanpa ampun menghajar lubang kemaluanku.

Perlahan-lahan napsuku mulai bangkit lagi menerima tusukan-tusukan pistol gombyok Pakdhe. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada aku berusaha menyambut setiap tusukan pistol gombyok dengan menggoyangkan pantatku ke kanan dan kiri.

Napas Pakdhe semakin memburu dan terdengar menggemuruh menghembus ke payudaraku yang dilumat bibir rakus Pakdhe. Genjotan Pakdhe semakin kuat dan bertubi-tubi. Desakan gejolak yang mendesak dalam tubuhku semakin menguat. Aku sudah hampir tak kuat lagi menahan desakan itu. Tubuhku kembali mengejang. Pantatku terangkat dan dengan merintih panjang aku mencapai puncak pendakian yang sangat melelahkan.

Tubuhku terhempas di tempat kosong dan pandangan mataku makin nanar. Aku merasa betapa di saat-saat itu tubuh Pakdhe yang menindih perutku mulai bergetar. Mulutnya menggeram dahsyat dan pantatnya menekan kuat-kuat menghunjamkan pistol gombyoknya ke dalam jepitan lubang kemaluanku. Tubuh Pakdhe berkejat-kejat lalu aku merasa ada semprotan cairan hangat menyiram di dalam lubang kemaluanku. Ada rasa berdesir menyergapku saat semprotan itu menyembur ke liang rahimku. Tubuh Pakdhe tersentak-sentak lalu ambruk di atas perutku.

Sungguh melelahkan pergumulan di pagi itu. Akhirnya aku tertidur karena terlalu lelah. Pagi itu Pakdhe benar-benar melampiaskan seluruh hasratnya pada tubuhku. Dari pagi hingga malam aku tidak dibiarkannya mengenakan pakaian utuh. Aku disetubuhi berkali-kali hari itu hingga selangkanganku terasa ngilu karena digenjot Pakdhe.

Sejak kepergian Mbak Ningsih aku menjadi pelampiasan napsu Pakdhe. Minimal satu kali dalam satu minggu Pakdhe pasti minta jatah dariku. Selama tiga tahun aku menjadi budak napsu pistol gombyok Pakdhe hingga aku lulus SMU.

Tiga tahun aku harus menjalani kehidupan sebagai sasaran tembak “pistol gombyok” Pakdhe. Ternyata hal seperti itu dialami juga oleh Mbak Ningsih. Dia bercerita kalau dulu pertama kali diperawani Pakdhe dirinya tidak sadar. Untuk selanjutnya ia juga diancam tidak akan dibiayai sekolah dan diusir kalau tidak mau memenuhi keinginan Pakdhe.

Lalu setelah aku lulus, atas kebaikan Mbak Ningsih aku kuliah di salah satu PTS di kota Solo. Untuk menambah biaya karena tidak ingin terlalu memberatkan Mbak Ningsih aku terjun ke dunia pelacuran. Ya.. Akhirnya aku menjadi pelacur untuk membiayai kuliahku. Aku berjanji akan berhenti dari dunia ini setelah aku mempunyai cukup bekal.

Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Bokep Tante,Cerita Sex Pasutri, Cerita Seks Nonton Porno,Cerita Sex Sperma Kapal,Cerita Sex Sperma Kapal,Cerita Sex Sperma Kapal,Cerita Sex Sperma Kapal,Cerita Sex Sperma Kapal

]]>
./../cerita-sex-kegadisanku-direnggut-pakdhe-2/feed/index.html 0
Cerita Sex Nafsuku Dipuasin Sama Guru Senamku ./../cerita-sex-nafsuku-dipuasin-sama-guru-senamku/index.html ./../cerita-sex-nafsuku-dipuasin-sama-guru-senamku/index.html#respond Thu, 27 Jun 2024 14:57:52 +0000 ./../index.html?p=645 Read more

]]>
Cerita Sex Nafsuku Dipuasin Sama Guru Senamku , Kejadian ini tidak pernah kuduga sebelumnya, Selama ini rumah tanggaku berjalan baik dan aku tidak pernah melakukan hubungan sex selain dengan suamiku sendiri. Roy, suamiku seorang kontraktor yg cukup besar di kota Malang Jawa Timur, hampir setiap hari waktunya habis dikantor untuk mengurus proyek dan proyeknya. Aku sendiri Sah menikah dengan Roy, kakak tingkat kuliahku di Perguaruan Tinggi Bandung, 2 tahun diatasku.

Kehidupan seksku biasa-biasa saja, dan cenderung membosankan padahal kurasakan sampai sekarang gairahku cepat sekali memuncak dan kalau melakukan hubungan intim aku suka sekali berlama- lama menikmati dengan berbagai variasi, tetpi suamiku orangnya kuno dalam melakukan hubungan sex dengan cara yang biasa-biasa saja, dia diatas dan aku dibawah, kadang aku kepingin juga cara lain seperti pada video xxx yg pernah kulihat saat suamiku pergi, tapi tidak pernah kesampaian, karena pernah kuutarakan pada suamiku dia tdk menjawab apapun, sehingga kadang aku merasa tidak puas.

Untuk mengisi waktu luang aku sempatkan mengikuti kegiatan kesehatan berupa senam pada sanggar senam tertentu hal ini aku lakukan untuk menjaga stamina dan juga tubuhku biar tidak gemuk, dan hasilnya lumayan saat ini tinggi badanku 165 cm, rambutku hitam pekat, mata coklat, pinggangku cukup ramping pantat juga berisi dan yg penting payudaraku tidak kendor walaupn pernah menyusui dan ukurannya cukup membuat orang menelan ludah 36C.

Aku sengaja mengambil jadwal pagi karena siang sedikit aku harus sudah rapi berada dikantor pribadiku. Setelah membereskan urusan rumah aku bersiap berangkat menuju tempat senam, dengan memakai T shirt Abu abu cukup ketat dan celana senam aku memagut diri dikaca, Yach,… lumayan juga pikirku, dengan tshirt tersebut payudaraku seakan tertekan dan hendak melompat keluar, aku sadari itu.
Pagi ini berbeda sekali tempat senam hampir penuh, aku duduk sendiri ditepi sambil mempersiapkan baju senamku, aku menuju kekamar ganti kudengarkan ada beberapa suara ibu-ibu cekikikan sambil menceritakan pengalamannya, Ah,… gila pikirku, mereka suka sekali sama laki-laki muda usia untuk permainan sexnya.

“Iya Jeng Liss,… tadi malam itu seru lho, aku tidak menyangka Heru begitu perkasa, aku dibuatnya tak berkutik dalam 4 ronde sekaligus, padahal kelihatan dia paling pendiam ya disini, dan permainannya,………. Yahuuut lho, memekku sampai seperti mati rasa,……”

“Ah,…. Masak sih jeng Rosa,….. yach,… sayang aku nggak dapet ya,… kalau sama Heru gimana jeng,……… itu lho anak SMA 3 yg kita temukan bersama waktu nongkrong di café Grand,….. yang itunya item dan gede.” Timpal temannya.
”Oh,….. Kalo yg itu sih lumayan, tapi permainannya masih hebat si Heru, Awalnya saja aku sudah keder dibuatnya.”
”Masa,… aku jadi pengin mencobanya jeng,…… Lihat aja ya nanti,… aku habisin dia dengan segala tenagaku,…” celetuknya dengan geregetan.

Pembicaraan terus berlangsung secara tiddak sadar aku terbawa ikut memikirkan Heru,… Apakah Heru itu pelatih senam yg baru 3 bulan melatih ditempatku, kalo lihat cirinya pendiam dan acuh sih memang dia,…tanpa terasa tanganku telah berada diantara dua pahaku terasa hangat dan kuraba pelan memeku dari luar baju sanam ah,…. Cepat-cepat kubuang pikiran buruk itu aku tdk ingin terjadi sesuatu. Semakin kupikir semakin berkecamuk pikiran itu ada.

Aku ingat waktu itu Heru memang sempat menjadi buah bibir dikalangan ibu-ibu tempatku senam tapi aku tidak pernah sedikitpun ikut didalamnya. Apakah Heru itu ya yg dibicarakan ibu-ibu. Pertama kali masuk Heru memang sempat grogi disoraki oleh ibu-ibu bahkan sempat membuat wajahnya memerah ketika perkenalan ibu-ibu menanyakan statusnya. Bahkan salah satu ibu ada yg nyeletuk menanyakan besar tdknya ukuran vital Heru, dan hanya dijawab dengan senyum saja.

”Tok,.. Tok,… Tok,…..” Aku terkejut mendengar pintu kamar ganti diketok dari luar, ah kiranya cukup lama jg aku berada dikamar ganti, cepat cepat kekemasi barangku dan keluar menuju hall senam, disana masih banyak ibu bergerombol menunggu waktu senam berlangsung.
Aku duduk sendiri sambil minum teh hangat, tiba-tiba disebelahku duduk empat ibu-ibu yg nampaknya cukup centil dengan usia yg bervariasi. Sambil berbasa-basi dia memperkenalkan diri dan aku agak terkejut karena suara dan namanya sama dengan yg ada di kamar ganti sebelahku tadi.

”Eh jeng Melsa kan sudah lama ikut disini, udah pernah nyoba-nyoba rasa lain nggak selain rasa suami,… enak lho jeng, rugi kalo nggak mencobanya” celetuknya berbisik hati-hati,……

Sambil sesekali melirik Lilis. Merah wajahku rasanya, karena selama ini tdk pernah aku temukan orang yg bicara terbuka seperti itu,…
“E,…. E,….. ti,… ti,… dak kok,.. ini apa ya,…. Aku gelagapan. Dan serempak dua ibu tadi tertawa berbahak-bahak,…… Ah,… masa jeng Melsa, lah wong sekarang fasilitas sudah banyak kok tidak dipergunakan, yach,… bawa happy saja saja kok, kalo habis yg dibuang to jangan dibawa pulang bungkusnya bisa bahaya ya jeng Lilis,”

“Iya lho Jeng Melsa kita ini kan punya kelompok disini yg kadang bikin acara enjoy bersama dan tertutup sekali lho, tdk semua ibu boleh ikutan disini, Tak lihat jeng Melsa mulai pertama ikut senam tdk pernah ada teman dan menyendiri, apa salahnya kalo bergabung dan menikmati menu baru kami.”

Gila orang-orang ini Jeng Lilis pintar juga ngomong gituan, belum sempat aku berpikir dan menjawab mereka menyela lagi.
“Sudah lah jeng Melsa ,…. Ikut aja rahasia pasti terjamin kok,.. dan yg penting ada menu baru tiap bertemu”. Sambil menarik tanganku menuju hall senam.

hotrKonsentrasiku bubar selama senam aku secara tdk sengaja hanyut oleh pikiran ibu-ibu, dan kebetulan pelatihku hari ini Heru. Kuperhatikan seksama Heru cukup keren juga Tongkrongannya bodinya bagus, otot-ototnya nampak menyembul, dan,…. Ayooo,… hap,… satu,… dua,… renggangkan kaki,… perintahnya. Dia menghadap peserta senam dan,… Alamak,… otot diantara kedua selangkangannya tertekan oleh baju senamnya nampak menyembul keras dan cukup panjang, aku jadi berpikiran yg bukan bukan, seandainya bisa kugenggam dan kulakukan seperti di video porno itu enak kali ya,…….Gila,… pikirku aku kok jadi gini.

Senam sudah usai, mobil merangkak pelan menuju garasi, kuhempaskan tubuhku diatas kasur, pikiranku berkecamuk membayangkan perkataan ibu-ibu tentang menu baru penuh rahasia tadi, tiba-tiba pikranku menerawang dan melintaslah bayangan Heru dengan mesra aku merinding, Heru seolah datang dan memelukku, tangannya mulai membelai punggung dan turun ke pantat. Diremasnya pelan dan kurasakan benda keras diantara selangkangannya menempel ketat dibaju senamku, aku kegelian, dan,….. Lambat namun pasti kurasakan tangannya mulai menyentuh dadaku yg kenyal, kurasakan pelintirannya membuat pentilku mulai kaku dan keras..

Aku mulai mengejang, tapi tak dilepas tangannya didadaku bahkan mulai nakal, tangan kanannya berani menuju selangkanganku dikuaknya kuat-kuat celanaku sampai kudengar robekan kain Oh,……. Jari-jemarinya membelai lembut gumpalan daging lunak penuh bulu dan,… Mulutnya tak tinggal diam, Heru mulai mengeluarkan lidaknya menjilati memekku yg mulai basah,…. Aaaaaahhhhhhh,,,, Zzzzzzzt,….. aku tak kuat menahan, Heru masih terus menjilat dan menjilat klentitku mulai kaku dan memekku semakin basah dan,….
Kriinngggg,….. Krriiingggg,…. Suara telepon berdering aku tertegun,…Gila cing aku bisa membayangkan dengan Heru begitu hebaaat, badanku meriang rasanya dan satu lagi yg kurasakan basah diselangkanganku. Aku bangun bermalas-malasan dan kuangkat telepon.

”Hallo,…. Jeng Melsa ada”,….. ” Ya saya sendiri, siapa ini ya,…”
”Aduh,…. Masak lupa saya Yuli yg senam tadi,….. Wah sedang apa ini kog kayaknya malas-malasan saja,…….. Terasa sekali memang agak serak suaraku saat ini habis membayangkan dengan Heru kering rasanya tenggorakkan.
“Oh,…. Tdk jeng ini lho sedang membersihkan rumah kacau balau gini, kalau jeng Yuli sedang apa ini kok tumben telpon saya”
“Jeng Yuli apa suami jeng nggak curiga,……..” Belum selesai aku bicara, Yuli menimpali dengan amat berapi-api.
Malam larut aku sangat menginginkan hubungan intim malam ini, kucoba dekati suamiku dia sdh tertidur lelap tergambar kelelehan diwajahnya tapi memekku sdh mulai basah ingin dijenguk oleh kemaluan suamiku. Kucoba membangunkan dia, tp dia menolak dan hanya kekecewaan yg kudapat malam ini dan tanpa tersadar aku sdh terlelap.
Suasana hingar bingar ruang senam kembali kudengar dan kulihat sekeliling kembali bergerombol sekelompok ibu-ibu yg 3 hari kemarin mengajakku ikut dalam kelompoknya.

enam kali ini aku benar-benar tdk konsentrasi dan bingung apa yg harus aku lakukan, hampir semua gerakanku tdk ada yg benar. Senam telah berakhir dan ibu-ibu mengajak menuju tempat yg telah disediakan, sebuah rumah yg cukup bagus dengan halam luas dibelakang terdapat kolam renang, aku membuka dengan kunci yg telah disediakan, dan kulihat ada 3 kamar yg tertutup setelah omong-omong sejenak, beberapa ibu masuk kamar mandi untuk membersihkan diri tak lama kemudian mereka ada yg minta diri untuk pulang.

”Begini jeng Melsa itu kuncinya ada lima kan ?… salah satunya kunci diruangan yg tertutup ini nah nanti kalo jeng Melsa sdh siap buka aja kamarnya dan lihat sendiri deh ada apa disana dan enjoy saja rumah ini aman kog, ini punya jeng Lilis dan memang khusus untuk kegiatan Arisan ini, kebutuhan makan dan minum ada di kulkas, dan silahkan saja Sasakmati sampai jeng Melsa suka kalo pulang ya langsung aja pulang, kuncinya jangan dibawa lho jeng,… liriknya menggoda”.

Aku termanggu mendengarkan ocehan jeng Yuli sementara temanya hanya tersenyum ambil memainkan matanya. Aku semakin bingung bagaimana nantinya. Tak lama kemudian mereka berdua mohon pamit pulang terlebih dahulu dan aku tinggal sendirian. Aku bingung melangkah antara iya dan tdk, aku jg teringat kisah khayalanku dengan Heru,…… aku tercenung ingin mencobanya, kulangkahkan kaki dengan berdebar Klik,.. !!!!

pintu pertama kubuka tp kulihat sekeliling tdk ada seorangpun, pintu kedua kubuka dan,…. Darahku berdesir hebat kuluhat seorang lelaki tegap dan cukup ganteng dengan kulit bersih memakai T shirt hitam dan celana pendek biru tua dia tersenyum, aku membalas kecut dan kuurungkan langkah kakiku masuk kamar tersebut, aku kembali duduk diruang tamu.
Kunyalakan televisi untuk menepis kegugupanku kuganti channel per channel tp tak ada yg menarik tiba-tiba…
“Hai ,.. Aku Heru,.. Kenapa kog tdk ngobrol didalam saja tadi kan udah buka pintu tak tunggu lho,…..” pintanya sambil mengulurkan tangan perkenalan.

”Eh,.. e….Aku Melsa,,.. Eh… Ah nggak kog Aku cuman pengen tahu aja,” jawabku gugup dan tanganku mulai berkeringat dingin.
4 Variasi Seks yg menguntungkanKuperhatikan wajahnya ada bulu halus didagu masih baru dicukur dan dadanya cukup bidang dengan tinggi badan berkisar 175 Cm, otot-ototnya menonjol kuat. Heru dengan santai duduk disebelahku sambil ikut mengawasi televisi yg remotenya masih ditanganku, dia tahu kalo aku gugup diambilkannya aku minum susu hangat dan dia menuju ke televisi diputarnya Film laser disk. Aku diam saja dan dia mulai membuka pembicaraan basa-basi untuk melemaskan suasana.

Aku kaget dua kali karena begitu aku menoleh ke televisi, kulihat film porno yg diputar, disana terlihat orang kulit putih sedang asyik menghisap kemaluan orang kulit hitam yg tegang dan panjang, aku risih dan malu tp badanku mulai hangat terutama ada rasa geli disekitar pahaku, Heru kelihatan mulai lebih mendekatiku aku tak menghiraukan mataku tetap kearah televisi, tanpa kusadari aku mulai ikut hanyut dan kurasakan ada benda asing yg menempel didadaku, kulirik ternyata tangan Heru kutoleh dia hanya tersenyum dan melanjutkan kegiatnnya.

Aku diam merasakan dan dia semakin berani, diselusuri leherku dengan bibirnya,… turun kebahuku,… ditariknya pelan kaosku sampai kelihatan tali Bh. ku aku tak tahan, disofa aku direbahkan perlahan, dia tambah semangat, tanpa bicara dia mulai mengupas kulitku perlahan, tak pernah kurasakan hal ini sebelumnya, aku seolah melayg kegelian.

Heru membuka sendiri kaosnya dan kulihat dada bidang itu ditumbuhi bulu doggyshalus. Dia bekerja sendiri ditariknya kaosku sampai beberapa kancing terlepas dan diangkat keatas hingga sekarang hanya tinggal Bh da rokku saja, tanganya kurasakan menempel lagi pada susuku dipelintirnya ujung susuku dan kurasakan mengeras,dia mulai menindihku, aku terpejam kurasakan bulu-bulu halus mulai menyentuh dadaku…

Ditariknya lepas BHku sehingga susuku yg besar seolah melompat keluar dadaku Heru terkejut melihat besarnya susuku dengan warna kuning langsat dengan bulatan kecil coklat tua kemerahan serta putting kecil menantang mulutnyapun menuju putingku… kurasakan lidahnya lincah membuat nafsuku memuncak, putingku semakin mengeras sesekali kurasakan gigitan kecil giginya menggores putingku.

Diatas perut kurasakan ada benda yg membonggol mendesak hebat. Bibirku terasa habis dilumat bibirnya, sampai aku tak bisa bernafas, aku mulai berkeringat dan tangan kanannya mulai menuju kearah memek, diselipkan diantara pahaku, aku gak kuat kupeluk dia dan dia semakin berani ditariknya rokku sampai terlepas, ditarik perlahan celana dalamku sambil tersenyum dan dengan sigap direnggangkannya kakiku sehingga dia dengan leluasa Heru melihat memekku yg padat dengan bulu hitam keriting, tangannya mengocek memekku yg sdh basah.

Dimasukkannya jari tengah sedangkan ibu jari dan jempolnya membuka jalan dengan meminggirkan rambut kemaluanku. Klentitku kaku, dijilat dan disedotnya susuku sampai aku kegelian dan kini kurasakan mulutnya sdh diatas memekku. Aku semakin geli lidahnya menyapu bersih ruang dalam memekku yg basah sambil tangan kanannya ikut membantu memainkan.

Cerita Lainnya:   Cerita Sex Ngentot dengan tetangga yang body nya oke banget

”Eeeeeeeh… Heru… aduuuuuh… ” aku mengerang kegelian, tp dia tdk perduli diteruskannya mempermainkan klentitku.
Aku sdh tak tahan, dengan berjongkok kududukkan Heru dan aku kaget melihat benda menggelantung tegak menghadap ke atas disela selangkangannya. Dia hanya tersenyum memegang leher k0ntol dan digerak-gerakkan dengan tangannya, kudekati dan kupegang.
Alamak.. tanganku tak cukup melingkar pada k0ntolnya dan panjangnya 2 cm dibawah pusarnya. Aku geli dan takut melihatnya Hitam, mendongak seperti pisang ambon besarnya, Kutaksir panjangnya sekitar 17 Cm, sedangkan yg pernah kurasakan hanya 12 CM.
”Kenapa kok dilihatin seperti itu?” tanyanya.

”Eh… aku heran kok kayak gini ya… cukup nggak ya ini lewat punyaku nanti?” Jawabku sambil tetap memegangnya.
sedot sperma Belum selesai aku melanjutkan omonganku disorongkakn ujung k0ntolnya kemulutku, dan ehm… mulutku tak muat menampung semua k0ntolnya kedalam… kurasakan nikmat jg, selama ini aku tak pernah seperti ini… Sedotanku keluar masuk k0ntolnya menyembul tenggelem dalam mulutku tangannya jg tdk diam menggapai semua bagian tubuhku yg sensitif, aku semakin terangsang. Tak lupa pula Bola k0ntol dua buah menjadi sasaran lidahku, kurasakan ada cairan bening sedikit cukup manis dan terus kuhisap sampai mulutku tak mampu lagi menahan.
Tiba-tiba terlintas dipikiranku bahwa Aku akan berbuat seperti yg di Laser Disk itu. Ingin merasakan air mani Heru yg segar nanti akan kuhabiskan.

”Mel coba kamu ngadep belakang dan pegangi ujung sofa itu.” Perintahnya.
Aku tdk menolak, kulakukan perintahnya tiba-tiba kurasakan k0ntol Heru dipukul-pukulkan pada pantatku aku kegelian.
Diserudukkan k0ntolnya ke memekku dari belakang sulit sekali.. dia coba lagi dan gagal.
”Aaaaaaah… seret sekali ya kayak perawan..” omongnya.
Aku semakin tersanjung karena anakku sdh 2 tp memekku dibilang seret kayak perawan. Aku berbalik ku bantu Heru dengan mengolomohi k0ntolnya dengan ludahku tp masih jg tdk berhasil menembus memekku.

Kulihat Heru tdk kehilangan akal diambilnya hand bodi dan dioleskan pada k0ntolnya yg besar dan perlahan masuk pada memekku yg kecil, kurasakan agak pedih.
”Heru ,.. udah ah… nggak bisa masuk lho…terlalu besar sih,”pintaku.
”Sebentar… tahan dulu ya… ini udah nyampai sepertiga lho..” Jawabnya sambil didesaknya memekku dengan k0ntol dan… sreeet… sret… sreeeeetttttt.

“AaaaaUUUUUU…” Aku menjerit kurasakan k0ntol Heru terasa tembus ke kerongkonganku, digerak gerakan pantatnya aku kegielian… akhirnya banjir jg memekku dan kurasakan kenikmatan saat k0ntol Heru maju mundur diruang memekku.
Sesekali pantatku ditepuknya untuk menambah semangatku menggenjot k0ntolnya, susuku dibiarkan bergelantungan bergerak bebas sementara tangan Heru sibuk memegang pinggulku memaju mundurkan pantatku. Saat k0ntol masuk badanku terasa tertusuk geli tak karuan. Sesekali jg Heru menciumi punggungku sambil k0ntolnya terus bergerak keluar masuk memekku. Aku jg berusaha dengan menggerakkan pantatku kiri kanan dan k0ntol Heru seakan terjepit diapun mengerang kuat. Dipegangnya susuku kuat-kuat dan ditarik masukkan k0ntol besar tersebut berulang sampai aku kelelahan.
”Aaaahhhhhh…Sasa… aku mau keluar nih……” Erangnya.

”Sebentar ya……” Kutarik k0ntol Heru dan tak kusia-siakan, kumasukkan lagi dalam mulutku sambil kugerakkan maju mundur tanganku, dan dia semakin kegelian, tak lama kemudian…
Creeet…. Creeet.. Creeettt.. kurasakan mulutku penuh dengan tumpahan air mani Heru, segar rasanya. Kubersihkan k0ntol Heru dengan mulut dan lidahku dari air maninya, dipegangnya kepalaku seakan dia tak mau aku membuang maninya keluar. Dan Heru tergeletak kelelahan dengan keringat yg luar biasa.

Kubersihkan diriku dan kulihat Heru masih istirahat dengan telanjang. Kuciumi tubuh Heru (kini aku tdk malu lagi) perlahan dia tersenyum dan kulihat k0ntolnya mengecil lemas… kupegang, remas perlahan dan aku masih kurang nampaknya. Mulutku dengan sigap melahap k0ntol Heru yg lemas itu, dalam kondisi lemas, masuk semua bagian k0ntol kemulutku, terus kupermainkan seperti dalam LD yg diputar Heru tadi. Tak lama kemudian mulutku sdh tak muat menampung k0ntol Heru untuk kukulum. Akhirnya kurelakan sebagian batang k0ntol Heru keluar dari mulutku.

Heru pun mulai bangun dan aggresif, diusapnya memekku yg sdh kucuci dan mulai basah oleh tangannya. Heru berbalik menciumi memekku sementara aku menciumi k0ntolnya yg tambah mengeras (posis 69)
Heru tambah menggila dimasukkan semua bagian lidahnya ke memekku aku menjerit kegelian. Heru memindah posisi ditaruh tubuhnya diatas karpet dan diangkatnya tubuhku menindihnya… k0ntol Heru ditutuntun menuju lubang kemaluanku dan tanpa ampun lagi kemaluanku diucek-ucek oleh k0ntolnya.
Kurasakan k0ntol Heru tdk masuk semuanya atau memang memekku yg dangkal aku tak tahu, yg ada dalam benakku sekarang hanya nafsu dan nafsu saja.

Kugerakkan naik turun pantatku menduduki pahanya sementara memekku sibuk melahap k0ntol Heru yg kekar dan angkuh itu. Tangan Heru sesekali mengucek susuku tak kuhiraupan karena nikmatnya tak seberapa diHeru ng dengan k0ntolnya yg mengisi penuh memekku. Kurebahkan tubuhku karena payah sambil kulumat bibir Heru yg terus mengerang itu dan terus kugoyang pantat sesuai irama nafsuku.

Heru pun demikian. Aku mulai merasakan memekku semakin longgar karena becek basah dan geliku memuncak… Kugigit dada Heru kuat-kuat untuk menahan kepuasan dan bersamaan dengan itu pula kudengar erangan Heruyg menyatakan bahwa air maninya akan tumpah… Kupercepat menggoyang pantat karena aku tak mau menyia-nyiakan keadaan ini aku ingin kepuasan maksimal…… Dan…… Aaaaaaaahhhhhhhhh…… Sreeeeet… Sreeetttt… sreet…

jilat sperma Kurasakan ada aliran hangat menyemprot memekku dan terasa penuh. Heru masih mengerang hebat aku gigit dadanya sekali lagi sambil kucakar punggungnya untuk menahan kenikmatan yg tiada taranya ini. Kuangkat pantatku pelan-pelan dan masih kulihat sisa-sisa ketegangan dik0ntol Heru.

Kuraih k0ntol itu dan kubersihkan kembali dengan mulut mungilku yg serakah tiada habisnya melihat k0ntol tegang besar dan keras itu. Heru pun tersenyum puas layaknya aku, ciuman mesranya mendarat dujung bibirku, dan diapun tak mau ketinggalan mengusap memekku dengan lidahnya… akup un geli.
Tak terasa hari sdh siang. Tak lama kemudian aku pamit dan aku menjadi keterusan mengikuti acara ibu-ibu itu dengan berganti-ganti pasangan yg hebat.

Sedangkan hubunganku dengan suami tetap tdk terganggu karena suamiku tdk pernah minta yg aneh-aneh,… jadi asal aku terlentang dia masuk… kocek-kocek sebentar selesai. Untuk kepuasan lainnya aku dapatkan dari yg lain.

]]>
./../cerita-sex-nafsuku-dipuasin-sama-guru-senamku/feed/index.html 0
Kasih Sayang Yang Menghangatkan Jejak Cinta ABG & Di Penuhi Dengan Nafsu Liar – Ceritasex8 ./../kasih-sayang-yang-menghangatkan-jejak-cinta-abg-di-penuhi-dengan-nafsu-liar-ceritasex8/index.html ./../kasih-sayang-yang-menghangatkan-jejak-cinta-abg-di-penuhi-dengan-nafsu-liar-ceritasex8/index.html#respond Thu, 27 Jun 2024 05:03:25 +0000 ./../kasih-sayang-yang-menghangatkan-jejak-cinta-abg-di-penuhi-dengan-nafsu-liar-ceritasex8/index.html Read more

]]>

Kasih Sayang Yang Menghangatkan Jejak Cinta ABG & Di Penuhi Dengan Nafsu Liar – Nama gua Andre Hartono, temen-temen gua biasa manggil gua Andre. Gua mahasiswa ekonomi semester 5 di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jawa Barat lebih tepatnya di Bandung sih ckck. Di kampus gua termasuk orang yang biasa-biasa aja lah, gak terlalu aktif tapi juga gak terlalu pasif.

Ya gua ini orang yang mencoba bergaul sama siapa aja di kampus. Asal gua dari Jakarta, jadi gak mungkin kan gua kuliah bolak balik Jakarta Bandung, so pastinya gua ngekos di kota Bandung ini.
Dengan bokap yang kerja jadi pengusaha ritel yang cukup sukses di Jakarta dan Nyokap yang punya banyak butik, jadi gua selalu diberikan fasilitas yang memadahi termasuk urusan kosan.

Bokap sih awalnya nyaranin gua buat tinggal di salah satu apartment temennya, tapi gua gak terlalu suka dengan suasana apatment yang menurut gua terlalu individualis. Jadi gua lebih milih buat ngekos di perumahan deket kampus aja. Enak jadi gua gak pernah telat kalo seandainya ada kelas pagi.

Secara gua orang yang paling susah banget buat bangun pagi huhehehe. Selain fasilitas kosan gua juga di fasilitasi kendaraan, lagi-lagi bokap gua nyaranin buat ngasih gua mobil, tapi gua lebih milih motor aja deh buat mobilisasi gua di sini. Lagian kan kota Bandung beda tipis sama Jakarta kalo urusan macet.

Makanya biar lebih gampang kemana-mana gua lebih milih motor Honda Beat kesayangan gua yang gua panggil Beaty. Si Beaty ini nih yang selalu nemenin jalan sama pacar gua kalo misalnya suntuk sama perkuliahan. Oiya biar begini juga gua punya pacar loh. Pacar gua bernama Putri Indahsari, gua sih manggilnya Putri. Putri ini mahasiswa Hukum dan satu kampus sama gua cuma beda Fakultas doang.

Gua sama putri udah pacaran dari semester 3, hhm kalo dihitung gua sama dia udah pacaran hampir satu tahun. Untuk penjelasan si Putri ini dengan tb 160, bb 55 dengan ukuran bra 36B. Jadi udah kebayang dong gimana montoknya pacar gua. Dengan muka orientalnya (berdarah chinese) kulit putih bersih. Gua juga bingung kenapa Putri bisa mau sama gua wkwk.

Semua berawal dari acara ulang tahun pacarnya temen gua namanya Diki dan pacarnya namanya Sheila dari Fakultas Hukum. Gua juga gak tahu mendadak si Diki ini ngajak gua dateng ke acara ulang tahun pacarnya, secara malem minggu terus juga pertandingan bola lagi break Internasional so gua iyain aja ajakan Diki. Disaat acara ulang tahun pacarnya gua ngerasa bingung mau ngapain, soalnya sedikit banget yang gua kenal kebanyakan dari anak Hukum semua.

Waktu lagi bete-betenya gua liat ke arah sudut ruangan ada cewek sendirian, dan entah kenapa gua rasanya pengen banget kenalan sama dia. Padahal biasanya gua males banget kalo ngurus soal beginian. Lalu gua kenalan sama dia, namanya Putri. Dan berawal dari situlah kedekatan gua sama Putri dimulai, pastinya lewat perantara Sheila dong.

Dan 2 bulan gua deket sama dia gak tau gimana situasinya tau-tau gua jadian aja sama dia hahaha. Gua sayang banget sama pacar gua, selain orangnya asik dia juga support gua banget dalam urusan perkuliahan. Rejeki banget itu mah buat gua, udah cantik, montok, pengertian, pinter, asik, buaanyaaak deh yang bikin gua jatuh cintahhh sama dia.

Dalam urusan sex gua sama dia juga terbuka, gua bilang pernah main sama mantan gua waktu SMU dan dia juga bilang udah pecah perawan juga sewaktu SMU. Gila ya anak SMU jaman sekarang emang edan semua hahaha. Dia sering gua ajak ke kosan gua berdua doang kalo misalnya mau ‘main’.

Secara kalo misalnya dia main ke kosan gua berdua doang, udah pasti sange gua. Dan kalian pasti udah tau dong gimana situasi selanjutnya, di kamar kosan, berdua, sama cewek montok. Yaiyalah pasti gabakal gua anggurin hahaha. Kayak contohnya hari ini, tiba-tiba pintu kosan gua di gedor-gedor, padahal semalem gua abis begadang nonton streaming Juventus. Fyi Juventus adalah salah satu klub sepakbola asal Italia kebanggaan gua.

”Ndreee, bangun ndreee kamu kan ada kelas pagi hari ini”
Aduh dari suaranya gua udah tau nih pasti pacar gua. Dengan malesnya gua bangkit dari kasur buat bukain pintu. Daripada gua dimarahin penghuni kos yang lainnya gara-gara berisik.

“Hoaaammmm iya Put, aku bangunnn” dengan setengah sadar gua jalan ke pintu kosan buat buka pintu.
“Kamu itu tau gak sih hari ini kan kamu presentasi, kelas pagi pulaa” aduh gua males banget ini kalo putri udah mulai ngomel.
setelah gua bukain pintu si Putri main nyelonong masuk begitu aja ke kamar gua yang masih amburadul berantakan.

“Aduuuh kamu ini kebiasan deh, pasti abis nonton bola kan semalem” kata Putri sambil liat sekeliling kamar gua dengan laptop yang masih menyala.
“Iya sayaaang hehe, btw Juve menang lagi loh” kata gua sambil ngucek mata coba buat pulihin kesadaran gua.

Plaak “Kamu kan ada presentasi ndree pagi ini jam 9, kamu liat dong sekarang udah jam berapa, jam setengah 8 ndre, satu setengah jam lagi nihhh” tamparan Putri buat kesadaran gua pulih sepenuhnya. Putri emang udah tau cara buat balikin kesadaran gua ya harus ditampar.

“Iya sayaaang, aku tau kok aku ada presentasi matkul Manajemen Biaya jam 9 pagi dosen pak Satria di kelas 103 dengan tema produksi manufaktur anggota kelompok aku si Angga Diki sama Herman.” Kata gua nyerocos setelah 100% pulih ingatan gua.

“Yaudah kalo inget kamu cepetan mandi sana gih mandi” sambil didorong ke kamar mandi gua coba raih handuk yang ada disamping pintu kamar mandi.
“Udah kamu mandi aja yang bersih, nanti pakaiannya biar aku yang siapin”

Aduuuh enaknya punya pacar perhatian, kalo udah gini bukan cuma pakaian gua aja yang disiapin, perlengkapan kuliah sampe kebersihan kamar udah pasti terjamin sama si Putri ini. Setelah mandi gua ngerasa seger banget dan ketika gua keluar kamar mandi gua baru sadar dengan penampilan Putri hari ini maknyus pisaaan. Putri hari ini pake bawahan celana jeans hitam ketat dengan kemeja putih slim fit yang dengan jelas nyetak bentuk badannya yang montok itu.

Dia lagi duduk mainin handphone setelah nyiapin pakaian kuliah gua dan beresin kamar. Ngeliat penampilan Putri hari ini jadi mendadak horny gua. Waduuuh serangan fajar ini mah namanya. Setelah keluar dengan handuk yang masih melilit di badan gua, gua coba nyari alesan buat tenangin andre junior ini.

“Aduuh kayaknya aku lupa sama isi materi presentasi aku Put” kata gua asal-asalan.
“Hahh?! Kamu serius ndre gausah bercanda! Emangnya kamu gak baca materi kamu? Gak mungkin kan? Pasti kamu udah baca kan?!”

“Kan aku bilang lupa Put, kalo lupa pasti udah dibaca lah cuman lupa ckck” lalu gua duduk di samping Putri sambil meraih hp gua di meja samping kasur dan ngecek materi presentasi dari handphone.
“Kamu sih pasti nonton bolanya semalem keasyikan sampe sama materi aja kelupaan.”

“Hehehe abis mau gimana lagi namanya juga lupa. Tapiii.. kamu mau bantu aku biar inget materi lagi gak?” Seeet gombalan gua udah mulai jalan nih
“Bantuin? Bantuin maksudnya? Aku harus bacain materi kamu gitu?”
“Bukan itu Put, isi kepala aku itu harus dikosongin dulu biar inget. Kepala aku penuh nihh.” Kata gua sambil belaga megang kepala.

“Maksud kamu apa sih? Ini aku yang bego apa kamu yang kelewat jenius sih? Eh, tapi tunggu duluuu.. kepala penuh, minta dikosongin” kata Putri sambil mikir kemudian tatapannya pindah ke selangkangan gua yang menonjol dengan masih dililit handuk. “Yaa ampuuun ndreee, kamu ini ada-ada sih aku baru paham. Maksud kamu kepala bawah kan??”

“Iya sayaaang maksud aku ituuu” sambil nunjuk ke andre junior yang udah ngangguk gak jelas. Plaaak “Aduuuh sayang, kan mintanya keluarin isi kepala bawah, kalo gini mah bisa keluar isi kepala atas aku” kepala gua di jitak sama Putri
“Biarin biar keluar semua tuh isi otak mesum kamu. Kan kemaren udah di keluarin, masa sekarang mau minta keluar lagi. Dasaar mesuum.”

“Iya bantu aku dong sayaaang, dari pada nanti presentasi aku gak fokus nih gara-gara kepala bawah aku belum keluar.” Gua coba berdiri di depan Putri dengan handuk masih melilit di badan gua.
“Ndree sekarang udah jam berapa nih, satu jam lagi loh ini. belum nanti kamu nyiapin ppt, belum brefing sama temen kelompok kamu, kamu kan juga belum sarapan sayaaang.”

“Yah Put, gak usah sampe ngiway (ngentot) deh. Yang penting keluar aja biar pikiran aku plong gitu Put. Gak lama kok, beneran deh. Suwer tekewer kewer” Gua yang sambil berdiri di depan Putri coba elus-elus rambut dia.

Dengan tatapan Putri lurus ke arah selangkangan gua “Yaudah deh ndre, demi pacar aku yang mesum ini dan demi presentasi kamu.” Yessss akhirnya jurus alay gua berhasil juga. Dengan perlahan putri buka lilitan handuk gua yang udah menonjol dari dalam. Dengan satu tarikan maka keluarlah si andre junior.

Dengan panjang yaaa standar orang asia lah 17cm dan diameter 5cm. Hahaha kalo kata temen cewek gua jaman SMU sih ukuran kontol gua lumayan, katanya sih gitu. Oiya junior gua ini udah mulai ngerasain lubang kenikmatan dari gua kelas 2 SMU dari mantan gua dulu yang merjakain gua hahaha.

Putri juga setiap gua ML sama dia selalu puas kata dia mah, malah keseringannya sampe gua buat lemes tak bertulang. Gua biasanya kalo main sama Putri bisa sampe 3 ronde, ya abis badan pacar gua yang satu ini montok bangsat sih. Bikin gua on berkali-kali setelah klimaks.

Begitu kontol gua bebas langsung di pegang sama tangan Putri yang halus itu. Uhhh dipegang tangannya aja udah mantep banget. Asli tangannya halus banget, berasa pake handbody gua ckck.

“Ini nih ya yang bikin nambah kerjaan aku. Masih pagi juga udah berontak aja, untung aja aku pacar yang pengertian. Coba kalo aku tega, kamu minta keluarin sama tangan tuanmu aja sana.” Putri sambil mencoba ngajak ngobrol kontol gua. Aduuh yang kayak gini nih bikin gua blingsatan sendiri.

Kemudian dengan perlahan tangan Putri mulai mengocok kontol gua. Gilaa sama tangannya aja kontol gua udah tegang maksimal, gimana kalo sama mulutnya, gimana kalo sama memeknya.
“Assshhh Put teruuusss” gua Cuma bisa mendesah

“Ndre kamu kan bilang tadi lupa sama materi presentasi kamu. Aku mau kamu sambil baca materi kamu yaa. Kalo gamau aku gak bakal terusin nih.” Kata Putri sambil melepas kocokan tangannya di kontol gua.
“Yah Put kok dilepas sih, udah mulai enak tuh padahal.” Gua mencoba buat megang kontol gua terus gua goyang-goyangin di depan Putri.

“Gak mau kalo kamu belum mau baca materi presentasi kamu.”
“Eh iya iya deh tapi pliiis dilanjutin ya Put.” Kata gua memohon sambil meraih handphone di meja.
Lalu kemudian Putri melanjutkan kocokannya pada kontol gua. Ini pacar gua ada-ada aja deh ah, masa gua disuruh baca materi sambil begini. Ini mah mau baca berulang kali juga gak bakalan masuk otak. Haduh gua pake alesan lupa sih -_-

“Ayoo Ndre sambil dibaca aku mau denger, atau aku gak lanjutin nih” ancam Putri
“Iya iya Put, ini aku baru mau baca kok. Hhhm manajemen biaya adalah sistem yang di desain sssshh sedemikian rupa untuk memberikan informashhhi bagi manajemen sshhh organisasi untuk mengidentifikasi aaahhhh berbagai peluang untuk perencaaaahhh perencanaan strateghhhi aassshhh dan pembuatan keputussssaaan operasional mengenai pengadaan dan penggunaaaasssh sumber dayasssh yang di perlukan oleh organisasi aaahhh iya Put masukin terus yang dalem.

Gua mendesah sambil baca materi presentasi gua. Sedangkan Putri udah mulai memasukkan kontol gua ke mulutnya yang basah, anjiirr nikmat banget berasa becek banget kontol gua masuk mulutnya Putri.
“Slluuurrrrp ayooohh ndhhreee angaaan eereeenttttiii” Putri coba ngomong sambil kontol gua penuh didalem mulutnya.

“Adaaaah tiga machaasssm konsepsssp manajemen biayaassh. Ada nilaisssh tambahh, akuntashhhi aktivitas, dan biaya targessst. Shhhh mulut kamu makin nikmat aja Put rasanya. Tujuan manajemen biayaasssh yaituhhh aaaahhhh untuuukkk mengidentifiksssh efisssiensshhi serta nilai ekonomissshhh aahhh aktivitas bisnisss sshhhh. Kemudian juga membantussssh aaahhhhh menyempurnakan ssshhh kinerja organisasi di maaassssha depan. Aaahhh terus Put.”

Sambil ngisep kontol kontol, Putri juga gak lupa buat ngisep buah kontol gua, sampe gua blingsatan sendiri.
Dan setelah 15 menit kemudian.
“Manfaatsss manajemen biaya ssssebagai bentusshk perencanaan dan pengendalian bissshhnis. Seeeebghaasi upaya peningkatan biaya perushsssahaan. Aayyooosh Put sebentar lagiiishh aku keluar nisssh.”

Setelah gua bilang bentar lagi mau keluar maka isepan Putri semakin cepet di kontol gua. Udah semakin cepet semakin dalem pula, kepala kontol gua ngerasa nyentuh ujung tenggorokan Putri.
”Selain itu jugassh sebagai dasarsshh untuk membuat keputusssaahan dan sebagggaaaissh alat untuk mengukur kinerjassshh. Aaaahhh Put aku mau keluar nih sssshhh gila nikmat banget Put asssllhiii.

Aku udah gak kuat Put. Aaaaaahhhhhhh ssshhhhhhh” sejurus kemudian gua lempar handphone gua ke kasur terus gua teken kepala Putri makin dalem masuk ke kontol gua. AAAhhhh Crot Crot Crot. Gua ngerasa ada kali 7 tembakan peju gua ke mulut Putri.

Glleek glleeek, peju gua semuanya ditelen Putri sampe bersih tak tersisa. Lalu setelah itu kontol gua di jilat-jilat lubang kencingnya biar gak ada peju yang tersisa keluar. “Sluuurrrp udah ya ndree, udah keluar kan isi kepala kamu. Gara-gara kamu nih aku jadi sarapan peju.” Kata Putri sambil cemberut kemudian mengambil tisu dan mengelap mulutnya supaya gak berceceran peju. Kemudian Putri rebahan di kasur gua. Dan gua yang mendadak gak ada tulang juga ikut rebahan di samping dia. Sambil masih telanjang bulet gua peluk Putri biar menghadap gua. Gua cium kening dia sambil gua bisikin,

“Makasih ya sayaaang, kamu emang pengertian banget. Biarin kamu sarapan peju kan banyak mengandung protein hehehe” jawab gua sambil cengengesan.
Plaaak kepala gua dijitak lagi.

“Udah ah ndre cepet pake baju, nanti yang ada aku yang minta kamu kerjain nih. Cepet cepet sono.” Kata Putri sambil bangkit duduk di kasur.
“Yeee kalo kamu minta sih aku masih sanggup nih, nih liat masih kuat kan ckck” jawab gua sambil memegang kontol gua.

“Udaaaaahhh cepetan, kalo aku mah gampang nanti abis selesai kuliah kan bisa yang penting sekarang kamu cepetan pake baju. Udah tinggal berapa menit lagi nih kita kan belum sarapan.”

“Aku yang belum sarapan, kamu kan udah tadi katanya sarapan peju aku huheheh”
“Issshh Andree” Putri sambil memukul pundak gua
“Iya iya Put aku pake ini bawel banget sih.”

Langsung gua bergegas pake pakaian kuliah gua yang udah dipilihin sama Putri tadi sewaktu gua mandi. Setelah gua selesai beres-beres lalu gua kunci kosan dan gua menuju kampus naik si Beaty. Walaupun ke kampus gua jalan kaki juga bisa, tapi gua tetep buat ke kampus naik Beaty. Lumayan biar panasin mesin juga pikir gua. Sebelum masuk ke kelas masing-masing gua sama Putri sarapan bubur ayam dulu di kantin kampus.

“Put gimana enakan bubur ayamnya apa peju aku?” kata gua sambil setengah berbisik pada Putri, maklum udah di kampus, udah banyak orang yang lalu lalang.

“Sssstt ndre kamu kalo ngomong dijaga ya wkwkw, tapi… emang enakan peju kamu sih, tapi gak bikin kenyang wek” kata Putri juga setengah berbisik sambil nyubit gua terus meletin lidahnya. Hahaha dasar pacar gua yang satu ini rasanya pengen gua pake lagi.

Setelah selesai sarapan gua jalan ke Fakultas masing-masing, kebetulan Fakultas gua dan Putri saling sebelahan. Dan di tengah jalan gua baru inget sesuatu. “Oiya Put, tadi kamu di kosan ngomong ‘gampang ntar selesai kuliah’ emang nanti mau ‘main’ lagi Put?” kata gua sekenanya.

“Yang mana ya ndre? Lupa aku tuh” sambil pura-pura mikir keras
“Yang itu dah Put, pokoknya kamu nyeletuk ‘gampang ntar selesai kuliah’ hehehe”
“Oalah yang itu ndre gak ah gak jadi.”

“Yah Put, ayo dong biar aku tambah semangat nih kuliah hari ini” sambil merangkul Putri.
“Woy sob masih pagi udah mesra banget nih, ati-ati serangan fajar hahah” temen gua sambil lewat nyeletuk
“Woy elu Ting ganggu gua aja lu, serangan fajarnya udah selesai barusan hahaha” jawab gua

“Wah enak dooong tuntas hahaha duluan ya sob”
“Yoi sob hahaha”
Putri yang ngedenger gua ngomong begitu cuma bingung plus malu di ledekin sama temen gua. Ckck

“Serangan fajar itu apa sih sayang?” tanya Putri
“Ohh itu mah serangan tapi enak Put”
“Apasih kamu itu suka gak jelas dahhh”

“Udah gak penting, yang penting nanti selesai kuliah yaaa” sambil nyubit pipinya yang chubi
“Iyaaa sayang Andre tapi nanti jangan main yang atas doang ya, yang bawahnya juga.”
“Maksud kamu apa sayang?” sumpah kali ini gua beneran bingung

Kemudian di depan Fakultas Putri yaitu Fakultas Hukum yang mana masih lumayan sepi. Tangan gua ditarik kemudian di arahin ke selangkangan dia. “Maksud aku itu ini sayaang”

Gua yang kaget cuma bisa melongo kayak orang bego sambil melihat Putri naik ke lantai atas Fakultasnya dengan setengah berlari. Waduuuh jadi gak sabar pengen cepet selesai kuliah rasanya HAHAHA. Putri, andre junior dataaaaang.

”Hahaha elu sih Dik, pake nyari gara-gara segala. Udah tau dosennya Bu Lasma, lu masih aja main game di kelas dia.” Ujar Angga meledeki Diki.
“Kampreeet lu semua, bukannya bantuin temen yang kesusahan malah bercandain gua.” Ujar Diki yang kesel karena temen-temennya pada bercandain dia.

Diki hari ini tertimpa sial, dia ketangkep basah saat sedang asik-asiknya main game PUBG di kelas yang notabene sedang diajar oleh dosen yang cukup killer yaitu Bu Lasma. Bu Lasma memang terkenal cukup galak dikalangan mahasiswa Ekonomi, alesannya mereka sih kebanyakan yang bilang karena Bu Lasma merupakan dosen muda jadi masih kaku menurut mereka hahaha. Ada-ada saja alasan mahasiswa memang.

Tapi Bu Lasma menang masih cukup muda, dengan usia 32 tahun dia sudah menjadi dosen tetap di Universitas yang saya huni kini. Dengan perawakan Bu Lasma kurang lebih 165, 45, 34B maka sudah dipastikan Bu Lasma banyak digoda khususnya mahasiswa lelaki. Dengan wajah khas sundanya Bu Lasma jika sekilas hampir menyerupai model majalah dewasa hahaha, kalo itu sih kata temen-temen deket gua.

Sekarang gua lagi bersama temen-temen gua ada Angga, Diki, Fachrul, dan Boy sedang nongkrong di salah satu warung nasi dekat kampus yang banyak didatengi oleh mahasiswa khususnya pada jam-jam makan siang. Lumayan bisa dijadiin tempat nongkrong murah meriah.

“Terus terus gimana tuh jadinya urusan lu sama Bu Lasma? Lu kan tadi disuruh ke ruangan dosen Dik,” ujar Angga yang kepo dengan masalah Diki saat ini.

“Udah kelar sih, gua cuma dikasih peringatan doang. Soalnya dia emang sering ngeliat gua main hp di kelas, cuma baru kali ini aja dia marah sama gua.” Kata Diki dengan pasrahnya.

“Lagi gak bisa banget ya emang lu hidup tanpa hp, kayak udah jadi pacar kedua lu tau gak, kasian kan Sheila. Tuh kan sekarang lagi ngobrol masih aja megang hp, kayak orang autis lu Dik hahahah.” Ujar gua yang nyindir Diki karena keseringan main hp.

Kita emang kalo misalnya lagi nongkrong suka paling anti sama hp, makanya sekali ada yang keseringan megang hp langsung dikatain autis, hahaha. Namanya juga lagi nongkrong, jangan pada sibuk sama urusan masing-masing lah. Daripada ngobrol sama hp mending sharing masalah sama temen nongkrong. Aseeeek.

“Yeee ini kan juga lagi ngurus si Sheila, Ndre. Doi ngambek nih soalnya hari ini minta shopping dia ke mall, tau tuh mau beli barang kayaknya.” Ujar Diki.

“Yaaah siap-siap keluar dompet lagi dah lu Dik, elu mah enak duit keluar tinggal minta sama bonyok, malah dikasih lebih, lah kalo gua bisa mati kelaperan, duit makan sebulan gua abis ckckck.” Ujar Boy menimpali Diki.

“Biarin dah Boy duit gua keluar, yang penting gua bisa tetep ngerasain memeknya si Sheila hahaha. Abisan dia itu suka ngambekan gak mau ‘main’ sama gua kalo gak shopping.” Ujar Diki.

“Gila sih ya emang Sheila, beruntung lu bisa dapetin dia udah cantik, badan kayak model, toketnya proposional banget malah.” Kata Fachrul menimpali perkataan Diki barusan.

“Beruntung sih beruntung Rul, tapi lama-lama bisa buntung hahaha. Mending gua sama yang sederhana aja lah kayak si Ayu. Diajak makan angkringan juga mau dia ckckc.” Ujar Boy kemudian kami semua tertawa.

Kami semua untuk urusan perempuan khususnya pacar memang saling terbuka. Diantara kami semua yang belum memiliki pacar alias jomblo hanya si Fachrul saja. Gua sama Putri, Boy sama Ayu, Diki sama Sheila dan yang terakhir Angga sama Dina. Untuk yang terakhir memang Angga dan Dina berpacaran yang ‘baik-baik saja’ kata Angga sih begitu, soalnya Dina sendiri pacarnya merupakan salah satu pengurus organisasi keagamaan di kampus.

Jadi singkatnya tinggal si Fachrul lah yang masih single eh ralat JOMBLO hahaha. Katanya sih males keluar duit buat pacar, tapi memang untuk temen gua yang satu itu untuk urusan duit sangat protektif banget. Maklum memang si Fachrul itu salah satu mahasiswa yang masuk karena beasiswa keluarga yang kurang mampu.

Orang tuanya di Jakarta hanya sebagai buruh. Oiya kami semua deket karena asal kami dari Jakarta. Berawalnya waktu perkenalan mahasiswa baru. Memang cukup banyak mahasiswa yang berasal dari Jakarta yang kuliah di kampus gua, tapi entah kenapa gua lebih ‘klop’ sama mereka-mereka.

Setelah selesai makan dan nongkrong, kami memutuskan untuk melaksanakan urusan masing-masing. Fachrul yang bekerja sambilan mengajar les privat, Boy dan Angga yang memang masih ada kelas lagi (kelas kami memang ada beberapa yang berpisah karena tidak kebagian saat memilih jadwal, yang mahasiswa pasti tau lah detik-detik saat jadwal kuliah dibuka), karena sedang tidak ada kelas lagi gua bertujuan untuk tidur aja di kosan, hari ini juga lagi panas banget. Jadi males buat pergi kemana-mana.

Hari ini gua lagi gak bawa motor, soalnya tadi pagi hujan sih, jadi sayang kan si Beaty nanti jadi kotor. Saat gua sedang jalan menuju kosan tiba-tiba..

“Ndre! Woy! lu kan gak ada kegiatan lagi nih mending lu temenin gua jalan aja kuy sama Sheila” Ujar Diki saat gua sedang jalan menuju kosan. Diki ini emang the king of dadakan. Karena emang kalo ngajak jalan atau keluar suka dadakan banget. Tapi emang sih biasanya yang dadakan malah jadi, daripada cuma wacana doang tapi gak jadi ckckck.

“Wah gak dah dik gak. NO. Sialan lu mau nyuruh gua jadi kambing conge ngeliat lu berdua pacaran.” Balas gua
“Ya elu ngajak Putri lah Ndre, yakali gua ngajak lu sendiri. Emangnya kita mau threesome hahaha”
“Hhhmm Putri ya. Sekarang sih dia kayaknya lagi gak ada kelas. Kalo gitu gua telpon dia dulu dah.”

“Yaudah lu kekosan aja, gua ngambil mobil dulu di kampus. Nanti kalo si Putri lagi di kampus chat gua aja biar sekalian gua jemput dia sama Sheila.” Ujar Diki
“Oke dah sip Dik” kata gua sembari mengacungkan jempol ke Diki sambil terus berjalan.

Gak ngapa dah gua jalan sama Diki, biasanya sih ya kalo seandainya gua jalan sama Diki udah pasti terjamin. Terjamin perutnya cuuuy hahaha. Udah pasti bakal dibayarin. Lumayan bisa irit pengeluaran. Lalu sambil jalan gua keluarin hp gua dari tas, terus gua cari nomer telpon Putri. Tuutt tuutt tuutt

“Halo sayaaang, ada apa nelpon aku siang-siang bolong begini?” kata Putri dengan ceria setelah mengangkat telpon gua. Ah dia memang selalu ceria. Entah kenapa gua tiba-tiba kangen denger suara dia, padahal tadi pagi baru aja ketemu. Tenang Put, gua janji gak bakal nyakitin perasaan lu, kata gua dalam hati.

“Halooo sayaang Andre. Kok diem sih? Kamu kenapa?” Ujar Putri lagi di telepon yang mengetahui gua lagi bengong.
“Eh Put, oiya kaga, itu tadi si Diki ngajakin kita jalan sama Sheila. Kamu kira-kira lagi ada kegiatan gak? Kelas kamu udah selesai kan?” bales gua

“Ooohh ngajakin jalan toh, kirain mau minta ‘jatah’ kali huheheh. Aku sih udah tau kamu bakal ngajak jalan, secara sekarang aku lagi sama Sheila di perpustakaan. Lagi ngadeeem hehehe.”
“Maksud aku abis jalan nanti baru jatahnya ckck. Oh lagi sama Sheila, yaudah kamu siap-siap aja nanti si Diki jemput kamu di parkiran.”

“Yeee ngarep kamu udah keseringan ah nanti meki aku longgar loh. Yaudah sayaang aku siap-siap ya.” Ujar Putri berbisik sewaktu menyebut kata meki ckck. Iyalah dia lagi di perpustakaan haha.
“Hahaha gausah bisik-bisik ngomongnya kalo berani. Oke Put aku tunggu di kosan ya. Love youuu.” Balas gua

“Love you tooo sayaaang.”
Setelah gua mematikan hp pas banget udah sampe di depan kosan. Kemudian gua langsung mandi bebek sebentar, siap-siap ganti baju. Sambil nunggu gua coba liat berita olahraga sepakbola. 15 menit kemudian.

Tiiiin tiiiinnn suara klakson mobil Diki udah di depan kosan gua, maka langsung gua keluar ngunci pintu. Saat gua udah di depan kosan, Putri udah nyambut gua di luar sambil berdiri di samping mobil.
“Haaaii sayaang Andre. Muach .” Ujar Putri sambil meluk terus nyium pipi gua.

“Haai sayaang, halo Sheil.” Sapa gua pada Sheila yang duduk di kursi belakang mobil.
“Halo Ndreee” Balas Sheila
Tunggu… Sheila duduk di kursi belakang? Waaah udah alamat ini mah gua bakal disuruh jadi supir ckckc.

“Ndre biasaaaa haha. Elu yang bawa ya mobilnya gua auto duduk aja di belakang huehehe.” Kata Diki sambil pindah ke kursi belakang di samping Sheila.
“Siiiaaaaappp dah BosQuee” balas gua sambil berlaga hormat sama Diki.

30 menit kemudian kami berempat sudah sampai di mall. Kami memang memutuskan jalan sendiri bersama pasangan masing-masing, setelah itu kami janjian bertemu di bioskop. Ada film hits katanya Sheila sih. Akhirnya gua jalan sama Putri dan Diki jalan sama Sheila.

“Aneh ya kita sayaang, berangkat bareng-bareng tapi giliran udah sampe malah jalan misah sendiri-sendiri.” Ujar Putri sambil gua gandeng tangannya. Biarin dah gua keliatan kayak anak ABG alay yang lagi kasmaran. Yang penting gua gak mau Putri jauh-jauh dari gua.

“Tau tuh Diki haha, lagian gak enak juga sayang, mereka kan pengen shopping masa kita ngintilin mereka berdua. Emangnya kamu mau beli sesuatu?” Ujar gua sambil jalan lalu menatap ke arah Putri.
“Hhhmm nggak ada sih sayang kalo sekarang, gatau deh nanti hahaha.”

Untung tadi gua udah bawa uang cash yang mencukupi buat sewaktu-waktu Putri pengen beli sesuatu. Udah ada feeling sih sebenernya kalo ngajak Putri ke mall mah. Putri bukan perempuan yang matre, cuman gua suka gak tega aja kalo seandainya dia pengen sesuatu terus keinginannya gak terpenuhi, ya walaupun cewek gua pengertian, tetep aja gak tega. Kalian pasti yang cowok ngerasain kok ckckck. Setelah jalan dan liat-liat akhirnya Putri tertarik sama store pakaian yang emang lagi ada diskon di situ. Akhirnya tangan gua di tarik buat nemenin dia masuk.

“Ndree coba liat-liat yuk. Lagi ada diskon tuh, bagus-bagus juga kayaknya.”
“Iya tapi gausah tarik-tarik tangan aku segala, kayak anak kecil mau es krim aja kamu.-_-“ ujar gua.
Setelah liat-liat pakaian yang menurut Putri bagus, akhirnya dia coba minta komentar sama gua.

“Ndree yang ini bagus gak?.” Sambil mencoba di sejajarin di depan badannya
“Kayaknya bagus Put.”
“Kayaknya ya ndre.” Kata Putri sambil cemberut. Aduuuh gua kalo liat dia cemberut suka gemes sendiri jadinya.
“Iya kan kamu tau aku gak ngerti fashion, apalagi fashion perempuan.” Balas gua.

Setelah itu dia coba liat-liat yang lain lagi, dia ke arah lain gua juga coba ke arah lainnya sambil liat-liat. Sewaktu gua liat pakaian perempuan ada satu gaun yang menurut gua cantik banget kalo seandainya di pakai Putri. Gak tau sih menurut gua gaun tersebut kalo seandainya di pakai Putri, dia bakal keliatan perfect banget, ya walaupun sekarang juga udah perfect di mata gua. Ckckck. Kemudian gua kembali ke tempat tunggu seperti semula. Dan tiba-tiba Putri datang membawa gaun yang tadi gua liat.

“Ndre kalo gaun ini bagus gak?” kata Putri.
Gua yang cuman melongo ngeliat dia saat gaunnya di sejajarkan di depan badannya. Aneh pikir gua. Tadi gua juga kepikiran sama gaun itu, kok sekarang malah dibawa sama Putri untuk dimintai komentar ke gua. Jodoh fix Putri jodoh gua. HAHAHA.

“Eh iya Put bagus, coba kamu jajal di fitting room.”
Kemudian sewaktu Putri masuk ke dalam fitting room, gua menunggu di depan fitting roomnya. Entah kenapa gua deg degan sendiri menunggu dia keluar. Semacam gak sabar liat Putri pakai gaun yang tadi gua pikir bagus buat dia. Dan gak berapa lama Putri pun keluar.

“Ndre ini ukurannya pas sih di badan aku, menurut kamu gimana?” kata Putri begitu keluar dari fitting room.
Gilaaaa dia cantik banget pake gaun itu. Gua mendadak cuma bengong doang ngeliat dia dari atas sampe bawah. Asli ini gua yang lebay apa gimana sih, gua deg degan loh ngeliat pacar gua sendiri.

“Halooo Ndre, jelek ya? Apa aku kegendutan pake gaun ini?” ujar Putri sambil mengibaskan tangannya ke muka gua saat tau gua bengong.
“Eh kaga Put kaga, kamu cantik. Cantik banget malah.” Bales gua sedikit gagap saat tersadar dari lamunan.

“Seriussss?” kata Putri sambil mencoba mengecek kembali gaun yang dipakenya.
Tanpa sadar gua berdiri ngedeketin Putri tepat di hadapan dia.
“Kamu cantik Put.” Cuma itu kata yang bisa keluar dari mulut gua.

“Ah kamu mah bisa aj.. Mmmmpphh” tiba-tiba gua cium bibir dia. Gua tau ini nekat banget gua nyium dia di store tersebut. Beberapa detik kemudian gua pegang wajahnya dengan kedua tangan gua. “Aku sayang kamu Put.” Anjir asli kalo dipikir-pikir gua norak banget, tapi cuman itu yang bisa keluar dari mulut gua.

“Ndre.. you fine okay? Kamu gapapa kan?”
“Iya aku gapapa, aku cuman mau bilang itu doang sama kamu.” Balas gua sambil mundur setengah langkah tapi masih memegang pundak Putri.
“Iya Ndree aku juga sayang sama kamuu.” Ujar Putri tiba-tiba maju sambil meluk gua erat.

Gua udah gak peduli lagi ada orang yang ngeliat apa ngga. Yang pasti gua ngerasa nyaman banget pelukan sama dia. 30 detik kemudian hp gua bunyi tiba-tiba. Dan menyadarkan gua sama Putri. Shit kenapa pake bunyi segala sih ini hp. Ketika gua liat ternyata si Diki ngabarin kalo dia udah nunggu di luar bioskop. Putri yang masih sedikit malu-malu sambil liat ke bawah berujar.

“Dari Diki ya Ndre? Yaudah aku ganti dulu ya, nanti kebawa sampe rumah lagi gaunnya hehehe.”
Setelah Putri melepas gaun dia keluar dengan pakaian yang tadi dikenakan saat berangkat.
“Yaudah yuk ndre, gak enak nanti mereka kelamaan nunggu.” Kata Putri sambil mengembalikan gaun tersebut.

“Eh kenapa dibalikin Put gaunnya?” sontak gua kaget. Yaiyalah gaun itu yang udah buat jantung gua deg deg ketika di pakai Putri masa mau di balikin lagi.
“Gapapa Ndre, harganya nooohh liat sendiri, mahal kan. Ini mah uang jajan aku sebulan hahaha.”

“Ambil Put, bawa ke kasir.”
“Eh kok gitu jangan Ndre aku gak enak sama kamu.”
Lalu tanpa diminta Putri gaun tersebut gua ambil gua bawa ke kasir sambil narik tangannya Putri.
“Udah buruaaan kan kamu sendiri yang bilang tadi gak enak ditungguin sama Diki Sheila.”

Gak berapa lama kemudian gua dan Putri udah keluar dari Store tersebut dan berjalan menuju studio bioskop. Saat sudah sampai depan bioskop Diki dan Sheila sudah menunggu dengan beberapa belanjaan yang dipegang Diki.
“Lama banget lu berdua, ‘enak-enak’ dulu ya di mall” ujar Diki asal-asalan

“Gila lu yaa, yang ada elu kali tuh berdua.” Balas gua
“Hhhmm katanya tadi cuman mau liat-liat doang, tapi kok bawa belanjaan juga.” Ujar Sheila sambil menyikut Putri yang ngeliat gua bawa tas yang berisi gaun tersebut. Putri cuman senyum aja nanggepin komentar Sheila.

“Ah udah kelamaan kalian, nih tiketnya udah gua beli. Ayo udah ada pengumuman masuk studio tuh.” Sela Diki sambil bangkit membawa barang belanjaannya. Kemudian kita berempat pun masuk ke studio bioskop.

Ternyata Diki memilih kursi yang strategis buat ‘modus’ sama si Sheila. Jelas lah orang Diki udah nemenin shopping pasti dia sekarang mau minta jatahnya, ya paling ngga setengah dulu nanti setengahnya lagi di apartment dia ckckck. Posisi tempat duduknya berurutan Gua, Putri, Sheila, Diki. Jadi Diki ngambil posisi paling pojok studio. Karena kebetulan ini film horor jadi kemungkinan buat ngurangin rasa takutnya Sheila, ya dengan ngeladenin modusannya si Diki itu hahaha.

Pas banget perkiraan gua, gak berapa lama film diputar gua ngelirik si Diki sama Sheila udah ‘mulai on’ ckck. Putri yang berada di samping Sheila mendadak gelisah, gua tau dia gelisah bukan karena filmya yang serem, tapi karena ulah Diki dan Sheila. Soalnya Putri emang demen banget sama film horor, jadi dia kayak udah biasa nontonnya. Sambil genggam tangan gua Putri bisik di telinga gua.

“Ndreee si Sheila lagi nyepong Diki tuh.” Ujar Putri
Emang bener setelah gua lirik ternyata Sheila tengah memajukan badannya ke samping kanan untuk memberikan ‘service’ pada Diki. “Kenapa emang Put? Kamu juga pengen?” ujar gua sambil ngelus pipinya dengan tangan kiri.

“Kamu gak pengen emangnya Ndree?” Putri balik bertanya sama gua.
Jujur kalo situasinya beda gua pengen banget berbuat ‘modus’ sama Putri. Tapi entah kenapa sekarang gua lagi gak mood buat ngelakuin hal tersebut. Gua cuman pengen manja-manjaan aja sama dia sekarang.

“Hhhmm kalo nanti di kosan aku aja gimana?” bales gua ke Putri
“Emang kamu kuat nahannya?” ini kenapa malah main balik ngasih pertanyaan siiih wkwkwk
“Ya kuat lah biar nanti di kosan kita mainya makin hot.”

“Okee sayaaang” kata Putri sambil nyenderin kepalanya ke pundak gua, terus gua cium rambut dia.
Setelah film selesai dan Diki Sheila juga sudah melakukan aksinya akhirnya kami pulang. Saat di dalam mobil yang mana gua nyetir samping gua Putri, dan Diki Sheila duduk di belakang gua nyeletuk.

“Gimana Dik filmnya bagus gak?” ujar gua
“Bagus Ndre bagus kok hehehe.” Balas Diki
“Bagus apa bagus? Orang tadi gua sama Putri ngeliat lu berdua gak fokus kok nontonnya. Hahaha” ujar gua dan Putri pun ikut tertawa.

“Eeeehh ngintip ya kalian.” Sela Sheila
“Itumah bukan ngintip Sheil, tapi emang di sodorin.” Bales Putri sambil tersenyum.
“Gimana Sheil si Diki kuat berapa ronde tadi di bioskop? Hahahah” ujar gua

“Ah dia mah payah cepet keluarnya Ndre.” Balas Sheila
“Kayak kamu tadi gak cepet keluar aja Beb.” Bales Diki
Gua dan Putri yang sedikit kaget cuman bisa melotot doang lewat spion depan.

“Wah gilaa lu berdua main ‘keluar-keluaran’, gua kira Cuma Diki doang yang dikasih service.” Ujar gua
“Yee lu gatau aja tadi si Sheila sampe muncrat muncrat, gatau dah itu kepala orang di bawah kena muncratannya apa nggak hahahaha.” Bales Diki

“BEBB jangan dikasih tau dong kan aku maluuu.” Ujar sheila sambil mukul pundaknya Diki.
Hahahahah kita semua pun tertawa bersamaan. Kemudian secara tak terduga Sheila ngomong
“Coba aja lu Ndre, pasti bisa lebih lama tuh gua nyervisnya sampe pegel mulut. Ya gak Put. hahaha” Ujar Sheila

DEG sesaat gua kaget waktu Sheila ngomong begitu, sekilas gua liat Putri yang ada di samping gua, raut wajahnya berubah. Waduh Sheila sama Diki emang sama aja dah kalo ngomong suka gak bisa dijaga. Gua gak tau ada yang ada di dalam pikiran Putri waktu itu, kalo Diki sih udah biasa aja, orang dia juga main sama cewek lain kok di belakang Sheila, yang penting dia puas.

“Alah ngomong apaan sih lu Sheil.” Bales gua.
Setelah omongan sheila barusan mendadak jadi canggung gua sama Putri di dalam mobil. Akhirnya kita sampai juga di kosan gua, dan gua bilang ke Diki biar Putri gua aja nanti yang ngater pulang dia mau main ke kosan gua dulu.

“Alah yaudah deh semoga kalian berdua saling menikmati yaa. Hahaha . yaudah gua balik dulu ya. Byeee.” Ujuar diki yang kini berada di belakang kemudi mobil dan sheila di sampingnya.

Ketika gua pintu kosan Putri langsung duduk di kasur sambil main hp. Gua gatau gara-gara omongan si sheila di mobil tadi putri mendadak jadi diem, padahal biasanya dia kalo udah berdua gini bawaannya ngomong mulu. Sembari melepas kecanggungan, gua mencoba untuk nawarin putri minum.

“Mau minum apa Put?”
“Apaan aja Ndre.” Bales putri singkat.

Waduuuh balesnya udah singkat, udah pasti ada apa-apa nih. Maka setelah gua ngambil jus di kulkas dan gua kasih ke putri yang lagi duduk di kasur sambil mainin hpnya. Padahal gua tau dia lagi gak bales apa-apa di hp, dari tadi cuman keluar masuk aplikasi doang. gua yang gak bisa di diemin langsung to the point. Sambil duduk di samping dia terus gua pegang tangannya.

“Put kamu kenapa?”
Dia sambil menatap gua cuman geleng kepala doang.
“Kalo gak kenapa-napa kok kamu diem sih sayang. Itu bukan kamu banget loh.”

Lalu dengan perlahan tapi pasti Putri ngomong.
“Kamu.. kamu.. ndre kamu suka sama sheila?” Deg
Bener kan masalah omongan si sheila di mobil barusan

“Kamu ngomong apa sih Put? Ya gak mungkin lah.”
“Tapi tadi sheila ngomong begitu di mob…”
Sebelum putri selesai ngomong gua potong “kamu kayak gak tau sheila aja deh Put, dia kan emang kalo ngomong suka gak di saring dulu. Aku itu cuma sayang sama kamu Put. Sueeerr” kata gua sambil mengacungkan dua jari.

“Beneran?”
“Iya Putri Indahsari, aku cuman sayang sama kamu doang”

Sesaat kemudian Putri tersenyum sambil natap gua. Dan gua ngerasa pengen banget nyium dia, maka tanpa babibu lagi gua cium bibir dia dengan perlahan sambil gua pegang wajahnya dengan kedua tangan gua.
“Cuuurrrlllp Mmmpphhh” cuman desahan napas gua sama Putri doang yang keluar.

Gua jelajahin setiap inci di dalam mulutnya sampai air liur gua dan Putri saling membasahi di sekitaran mulut kita berdua. Tangan gua yang tadi memegeng wajah Putri sebelah gua lepas menuju rambutnya yang halus. Sambil gua elus-elus rambutnya. Lalu dengan perlahan Putri gua dorong rebahan di kasur gua.

Dengan sangat hati-hati dia gua tindih dengan sebelah tangan gua masih di belakang kepala mengelus rambutnya. Dengan bersandaran pada lutut biar gua gak jatuh menimpa dia. Lalu dari mulutnya yang basah itu, gua jelajahin seluruh wajahnya dengan mulut gua. Dan gua gigit gigit kecil pipinya yang chubi itu.

“Aaaaahhh ndre mmmmppphh kaammuuhhh giilaaaahsss”
Setelah puas dengan bagian atas perlahan gua turun ke leher dia, dan menyoba mencari telinganya di samping. Walau susah karena dia juga lagi tiduran akhirnya telinganya bisa gua isep juga.
“Sssshhhh jaanngggaaanss sammpee meeeraaahs ndreess”

Setelah itu gua turun ke arah payudaranya yang dari tadi udah gua grepe-grepe. Dengan cepat gua buka kancing kemejanya yang seakan udah gak sanggup menampung payudaranya yang berukuran 36B itu. Maka setelah terbuka kancingnya, gua ke bawahin bh yang dia pake, biar gak susah gua pake ngelepas kaitan bh nya segala.

Terpampang lah payudara favorit gua setelah payudara nyokap gua dulu sewaktu gua masih kecil. Gua jilat dulu lingkaran aerolanya memutar sampai menuju putingnya.
“ssssshhhh ndre kammmuuu emmaangss yaaangss paaalingss bissssaahh aaaaahhhh”

Karena gua tau titik kelemahan Putri adalah di putingnya. Setelah itu gua buka semua kemeja termasuk bh yang dia pake. Dengan dibantu Putri makan kini dia bugil bagian atas badannya. Sehabis dari payudaranya lidah gua menuju ke arah perut dia yang ramping. Gua cium dulu titik geli di perutnya kemudian gua jilat lubang pusar Putri.

Putri sampe melengking sewaktu gua jilat pusarnya. Dengan tangan yang masih bermain di payudaranya, gua alihin kedua tangan gua untuk membuka kancing celana jeans Putri. Dengan sekali coba maka langsung gua pelorotin jeansnya beserta celana dalamnya.

Kemudian salah satu tangan gua balik ke payudaranya dan tangan yang satunya mengikuti mulut dan lidah gua ke selangkangannya. Sejurus kemudian gua jilat memek putri yang ditumbuhi sedikit bulu halus, sehingga memudahkan gua untuk mencari klitorisnya.

“AAAAAAHHHSSSHS” teriak Putri ketika gua isep klitorisnya yang sudah keluar
Putri sampe hampir kelojotan saat gua mencoba memasukkan lidah gua ke dalam memeknya. Sambil gua colok dengan sebelah tangan gua, dan lidah gua tetap bermain di klitorisnya. Tidak berapa lama putri hampir mencapai puncaknya.
“AAAASSSSSHSHH NDRE AAKKUUHHSS AAAHHH MAAAUU KEELUUAARRSSS”

Dengan melentingkan badannya ke atas dan dengan kelojotan yang luar biasa akhirya Putri klimaks. Tetap gua tahan dengan kedua tangan gua selangkangannya. Cairan kenikmatan Putri gua sedot habis tak tersisa. Setelah itu gua bangkit duduk di kasur samping Putri. Putri masih memejamkan matanya mencoba memulihkan kesadarannya akibat orgasme tadi.

Ngeliat wajahnya yang sayu begitu semakin bikin gua tambah semangat. Kemudian gua berdiri mencoba melepaskan semua pakaian gua sampe benar-benar bugil total. Yaiya dong masa Putri udah polos gitu gua masih pake pakaian lengkap gini. Setelah itu gua tiduran di samping Putri, sambil memegang wajahnya gua bisikin dia.

“Kamu masih kuat sayang?” ujar gua depan telinga dia sembari gua jilat dikit telinganya.
“Iya ssyaaangg maasih kamu kan belum keluar.” Bales putri.

Kemudian gua memulai aksinya tanpa babibu lagi, langsung gua angkat sedikit kaki dia sehingga bertumpu pada kedua paha gua dan dengan perlahan tapi pasti gua masukin andre junior ini. awalnya gua masukin kepalanya dulu, lalu gua keluarin lagi. Begitu seterusnya biar memeknya Putri terbiasa. Soalnya baru kepalanya aja yang masuk gua udah ngerasa sesak banget di kontol. Berasa kayak main sama perawan asli dah. Dan dengan kesabaran tingkat tinggi gua masukin seluruh kontol gua ke memeknya Putri.

Bllleeesshhh
“Aaahhhhhhh ndree penuh banget. Cairrraaan aakkuuhh maaakiiin kellluar ndree” ujar Putri ketika kontol gua masukin sepenuhnya.
Awalnya gua gerakin pelan-pelan hingga akhirnya temponya gua tambah. Dan gak berapa lama ternyata si Putri pengen klimaks lagi.
“Aaaahhhhaah AAKKKUUHHH KEELLLUUARRSS NDRRESSS MMMMMPPPHHH.” Teriak Putri sambil gigit bantal di sampingnya.

Setelah dia orgasme untuk yang kedua kali, gua yang ngerasa masih belum. Maka putri gua gua angkat badannya dan gua gendong dia sambil berdiri. Berat badan Putri yang cuman 55 masih enteng buat gua yang terbiasa gym. Akhirnya setelah mastiin posisinya udah enak gua arahin kontol gua dengan sebelah tangan ke memeknya. Dan masuklah lagi kontol gua ke memeknya Putri.

“Aaaahhhhsss Putt memeekk lu nikmat bangeeettts, ggua sssyyaaagnng baaangget saama luu Puut” Ujar gua sambil mendesah, entah Putri ngerti apa kaga, dengan omongan gua barusan.

Dengan gua senderin Putri ke tembok. Maka gua langsung kocok kontol gua lagi. Gillaaaa berasa mentok kontol gua masuk memeknya Putri. Dan lagi-lagi Putri ngasih aba-aba kalo dia pengen orgasme yang ketiga kali. Sesaat kemudian gua juga ngerasa kalo peju gua udah ada di ujung kontol. Agar gua keluarnya nikmat Putri gua suruh nungging di kasur, dengan gaya doggy style. Dengan begitu kontol gua berasa lebih kejepit memeknya Putri.

“Áaaaahhhah ndreee aku aaaKKEEELLLLUUAAAR AAAAHHHSSSSSSHS”
Sedetik kemudian sewaktu Putri udah orgasme, kontol langsung gua lepas dan gua arahin ke wajah sayunya. Daaaannn
“Puuutt aaaasshshsh akuuu peengeeen keeelluuaar” Crrooot croot crrooot

Ahhhhssss gua ngerasa puaass banget. Peju gua gak hanya di wajahnya Putri, tapi juga ada sebagian di rambutnya dan sisanya entah muncrat kemana.
“aaaahhh aaaahh aaaah” kami berdua pun sama-sama ngos-ngosan. Dengan keringat yang membasahi gua berdua, padahal ac udah gua nyalain.

Putri dengan wajahnya yang masih berlumuran peju gua, akhirnya melek dan tersenyum kepada gua. Ngeliat dia berlumuran peju begitu, gua pun berinisiatif buat ngambil tisu di meja, namun ditahan sama Putri. Dia Cuma menggeleng kemudian peju di wajahnya dibersihkan dengan tangannya dan langsung dia jilat cuuuyyy. Gillaaa pacar gua emang the best dah pokoknya.

Gak terasa sudah jam 7 malam, itu berarti kalo diitung dari awal foreplay sampe selesai gua sama Putri udah main 90mnt. Aaahhh bakal nyenyak tidur malem ini.

Setelah gua dan Putri bersih-bersih dan memakai pakaian lengkap. Gua dan Putri tiduran sambil dia pelukan di dada gua.
“Ndree kamu jangan ninggalin aku yaa, aku sayang kamu ndre.” Ujar Putri tiba-tiba.
”Iya Put, Im promise” hanya itu kata-kata yang bisa gua keluarin, tapi itu jujur dari dalam hari gua yang tulus.

Selanjutnya Putri gua anterin pulang bareng Beaty. Gua tau dia capek banget abis main sama gua barusan. Akhirnya gua pulang dengan perasaan senang gembira. Sewaktu gua sampai kosan, gua liat notofikasi chat hp gua. Tenyata dari Putri. Bunyinya..

“Makasih ya sayang buat hari ini, Putri sayang Andre selamanyaaaa. :*”
“Oiya lupa, makasih juga ya gaunnya, janji gaun ini bakal jadi gaun kesayangan aku mulai hari ini. Muuuaaach. Good Night Ndreee”

Gua yang baca chat dia cuman senyum sendiri. Putri emang kayak anak kecil kelakuannya, tapi karena dia semangat gua kuliah gua sampe sekarang gak berkurang. Ahhhhh Putri gua sayang sama lu. Love You Put….





.

]]>
./../kasih-sayang-yang-menghangatkan-jejak-cinta-abg-di-penuhi-dengan-nafsu-liar-ceritasex8/feed/index.html 0
Cerita Sex Ngentot Dengan Adik Angkat ./../cerita-sex-ngentot-dengan-adik-angkat/index.html ./../cerita-sex-ngentot-dengan-adik-angkat/index.html#respond Wed, 26 Jun 2024 16:14:53 +0000 ./../cerita-sex-ngentot-dengan-adik-angkat/index.html Read more

]]>

Cerita Sex Ngentot Dengan Adik Angkat – Aku baru sampai di rumahku di kampung. Dah dua minggu aku tak balik kampung kerana ada urusan di Kuala Lumpur. Aku bukannya kerja di sana tetapi ada urusan menjadi broker. Macam macam barang kujual termasuk tanah dan barang-barang mistik seperti delima merah, rantai babi dan sebagainya.

Biasanya kubalik kampung pada hari Jumaat. tetapi hari Selasa aku dah balik kampung yang menyebabkan isteriku terkejut kerana kubalik awal.

“Awal balik bang,” katanya ketika dia ambilku di bandar dengan kereta Vivanya pada jam 7 petang.
“Minggu ini banyak urusan ditangguh, jadi lebih baik balik kampung dulu,” kataku.

Malam itu isteriku yang bekerja malas masak.Jadi kami order nasi goreng di kedai sebelah yang bafru tiga hari buka. Sebenarnya kedai di belakang rumah kami bukanlah kedai tetapi rumah teres dua tingkat corner lot yang dijadikan kedai makan siap dengan skrin tv besar. maklum ajalah sekarang musim bola piala Euro.

Cerita Sex Ngentot Dengan Adik Angkat
Di taman kami memang tiada kedai makan kerana taman kami baru sahaja dibuka tiga bulan lalu. Maka di kedai baru itulah ramai orang lepak tengok bola sambil menikmati makan makanan bergoreng. Penghuni-penghuni bujang tak perlu pergi ke kampung sebelah yang lebih kurang 2km dari taman kami untuk belikan makanan.

“Kita beli nasi gorenglah bang,”kata biniku.
“oklah,” jawabku.
Biniku buka pintu dapur dan panggil pelayan perempuan untuk order dua bungkus nasi goreng.

Ketika isteriku mandi, kudengar handphonenya berbunyi menandakan masuk sms.

Aku buka handphonenya dan lihat ada sms dari nombor yang tidak disave. Sms itu kata dia dah sampai di tempat yang dijanjikan. Aku syak mesti sms itu dari kawan lelakinya.

Isteriku tak tahu aku dah baca sms dari lelaki yang tidak dikenali.

Aku turun ke bawah menonton Astro. Biniku yang sudah siap mandi terus ke dapur tanya pelayan dah siap ke nasi goreng yang ditempah.

“kak, kita belum masak lagi. Pukul 10 baru masak,” kata budak tu.
“Tetapi kenapa tak cakap tadi? kami duduk tunggu juga nasi goreng. Tak jadi orderlah. Cancel, ” kata biniku dan beritahuku nak keluar untuk beli nasi goreng di bandar.

Aku terus menonton tv ketika isteriku keluar. Sejam kemudian baru dia balik.

“lamanya beli nasi goreng,’ kataku.
“beli di bandar. Orang pulak ramai,” katanya. Memang taman kami dengan bandar sejauh 10 km. Pergi balik dah 20km. Kalau jalan tak jem, 20 minit pergi balik dari bandar.

Aku syak biniku sambil order nasi goreng itu dia bertemu dengan kawan lelakinya dalam sms tadi di kedai makan di bandar. Aku tak sempat salin nombor handphone lelaki itu untuk siasat siapa lelaki yang cuba mengurat biniku.

Bila biniku masuk bilik air, kucek handphone biniku dalam handbagnya. biasanya dia berani letak handphonenya di mana-mana tetapi aku hairan kenapa dia letak handphonenya dalam hand bag dan ditutup pula. Dia bimbang lelaki itu smsnya lagi kot, fikirku.

Aku buka dan lihat sms itu sudah dipadam. Rugi aku tak salin nombor handphone lelaki itu masa dia mandi tadi.

Malam itu masa kumain dengan biniku, kutanya siapa yang sms dia pakai nombor handphone 014 tetapi dia diam.

“mana ada,” katanya.
“Saya dah baca sms tadi. Dia kata dah sampai,’ kataku.
“Tak adalah. Adik angkat,” katanya.
“Awak pi jumpa adik angkat ke?’ tanyaku.
“tak adalah,” nafinya lagi.
“Nanti terangkat,” kataku ketika sedang menghisap teteknya. Kami main malam itu dengan penuh kepuasan kerana aku beritahu biniku aku tak kesah dia ada boyfriend ke, adik angkat ke asalkan dia bahagia. Senang sikit aku bebas dengan girl friendku di Kuala Lumpur. Dia tak perlu call aku banyak kali aku ada di mana setiap malam kalau dia sibuk dengan adik angkatnya.

Biniku kurang cerdik. Masa dia mandi pagi itu aku cek missed calls dan received calls dalam handphonenya. Ternyata ada nombor hp 014. Aku pun siasat nombor hp itu dengan pura-pura tanya Mamat dan dia jawab salah nombor. Aku pun tanya siapa dia. Dia pun jawab namanya Kadir bekerja di pejabat kerajaan. Orangnya baru 35 tahun lebih muda 10 tahun dari biniku. Sudah beristeri dan ada anak dua orang.

Aku pun suruh kawanku mengekori keretanya ke mana dia pergi. Selepas jam 5 petang Rabu itu, dia ada jumpa biniku sekejap minum air. Kawanku, Halim kata memang nampak mesra mereka berdua.

Pada petang Jumaat itu biniku kata esok dia nak pergi kuantan dengan bossnya Ani.

“Pergilah,”kataku.

pagi esok, bila biniku keluar jam 8 pagi, aku suruh kawanku ekori kereta biniku dan buat laporan dari masa ke semasa.

“Keretanya diparking di Shell dan dia naik kereta Kadir ke Kuantan,” lapor Halim pada tepat jam 8.30 pagi.
“Ikut dia ke Kuantan,” kataku.

Halim mengikut kereta Persona kadir ke Kuantan. Tepat jam 9.30 pagi, Halim call dari Kuantan.

“Mereka singgah di Grand Continental minum di coffee house,” lapor Halim.
“Ikut mereka jangan sampai mereka tahu siapa u,” kataku.
“U jangan bimbang, i kenal casher hotel ini. I pergi ambil bilik dulu. Bila dia nak cek in, i dah ada dalam bilik itu tengok apa dia orang buat,’ kata halim.

Halim terus jumpa casher hotel kawan baiknya. Dia terus ambil kunci. Dia kata kalau orang dalam coffee house nak cek in, beri kunci bilik itu dan suruh dia isi borang macam biasa. Kawannya amat faham apa yang Halim buat.

Seperti diduga setengah jam kemudian, Kadir mara ke receptionist dan mengisi borang check in bilik. Biniku masih menunggu di cofee house. Kadir terus masuk lif dan hilang ke tingkat 6. filmbokepjepang.sex Bila dia masuk bilik, dia terus sms biniku yang berada di dalam cofee house. Oleh kerana mereka masuk berasingan, jadi orang tak suspect mereka bercouple.

Halim sedang sembunyi di bawah katil di bilik itu. Kadir tak tahu Halim ada di situ yang akan merakam perbualan mereka.

Aku terima sms dari Halim yang mengatakan jangan call dia. Hanya sms saja kerana handphone sedang disilence bunyinya.

“bini u dah masuk bilik,” sms Halim kepadaku.

Kadir terus merangkul biniku di pintu bilik. Mereka berkucupan dan terus Kadir memimpin biniku ke katil. Apa lagi mereka pun beromen di atas katil.

“mandi dululah sayang,’ kata biniku.
“okay, kita mandi berdua,”jawab Kadir.
Mereka pun melucutkan pakain masing-masing sambil berbogel terus masuk bilik air. Halim tak berani keluar dari bawah katil untuk melihat mereka dalam bilik air tapi oleh kerana pintu bilik air tidak ditutup maka Halim dengar perbualan mereka berdua.

“Besarnya tetek Zi,” kata Kadir sambil menghisap kedua-dua belah tetek biniku.
“kadir punya pun besar,” kata isteriku sambil meramas-ramas kote Kadir.
“nak hisap,” kata Zi.
“Hisaplah,”kata Kadir. Zi pun terus menghisapnya.
“Keras macam batu. Suami punya dah lembik. Tak sia-sia ada adik angkat,” kata Zi.
“hahaha,” ketawa kadir.
“Nak jilat kak punya,” kata Kadir.
“Jilatlah,” kata Zi sambil baring dalam bilik air.kadir pun terus jilat nonok biniku.

“Kak bangun. Kak menunggeng. Kita main doggy,” kata Kadir. kadir pun masukkan kotenya ke dalam lubang kakak angkatnya.
“Sempitnya kak,” kata Kadir.
“Besarnya Kadir. Panjangnya. Sedap Kadir,” kata biniku.

Lama juga mereka doggy. lepas itu mereka mandi bersama sambil berkuluman lidah. Lepas meeka lap tubuh mereka, terus Kadir dukung biniku ke katil.

“Gagahnya adik angkat. Suami tak pernah dukung,’ kata biniku bila Kadir mendukungnya ke katil.

Mereka terus main secara missionary biniku duduk di bawah, Kadir duduk di atasnya. Selepas itu biniku duduk di atas.

“Sedapnya. Bila batang keras begini cepat kak Zi nak keluar air ni,’ kata biniku lagi.

“Aaaah,aaah,aaah,” kata biniku yang sudah orgasme. Kadir suruh biniku menunggeng di atas katil dan sekali lagi dia hentam biniku secara doggy style.

Kali ini kadir pula yang cepat muntaha. Lepas main mereka berehat.

“berapa lama sewa bilik?” tanya biniku.
“Dua jam,” jawab Kadir sambil memeluk biniku di atas katil. mereka berdua telanjang bulat.
“Sebelum balik nak lagi,’ kata biniku.
“Okay. Kita rehat dulu nanti kita sambung balik,” kata Kadir.

Halim yang duduk mendengar di bawah katil stim walaupun tidak melihat permainan mereka berdua.

Setengah jam kemudian mereka main lagi. kali ini lebih ganas.

“Sakit. I tak pernah main lubang dubur,” kata biniku.
“I masuk sikit sikit. sedap kak,” kata Kadir.
“Memang sedap,’ kata biniku bila diliwat Kadir secara perlahan-lahan.

kemudian mereka check out. Biniku keluar dulu dan menunggu di kereta. 10 minit kemudian baru Kadir keluar dari bilik itu. 10 minit kemudian baru halim keluar dari bawah katil. batangnya yang keras mendengar perbualan di antara kadir dengan biniku.

Petang itu isteriku balik. Aku nampak banyak yang dia shopping di Kuantan. lepas main dengar kadir, kadir ajaknya shopping beg tangan, baju, seluar jeans dan kasut. memang hebat adik angkatnya.

“Lama gi Kuantan,”kataku.
“Ani servis keretanya lepas tu ajak shopping. Dia yang belikan semuanya ini,” kata biniku.

Dalam hati, aku berkata, Ani gi servis kereta ke, atau pukimu yang kena servis oleh adik angkatmu.

malam itu aku keluar menemui Halim dan Halim mainkan semula tape perbualan antara biniku dengan Kadir.

malu aku kepada Halim kerana biniku mencurangiku.

“Bukti dah ada, kau tunggu apa lagi? Kau nak jadi suami dayus?” kata Halim.
“Malam ini aku istiqarah mahu tanya Allah wajarkah aku menceraikan biniku,” kataku sambil berlalu dari situ.

Seperti yang dijangkaku akhirnya biniku diangkat oleh adik angkatnya.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,



.

]]>
./../cerita-sex-ngentot-dengan-adik-angkat/feed/index.html 0
This XML file does not appear to have any style information associated with it. The document tree is shown below.
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" version="2.0">
<channel>
<title>Cerita Dewasa</title>
<atom:link href="./index.html" rel="self" type="application/rss+xml"/>
<link>./../index.html</link>
<description>Kisah nyata cerita dewasa</description>
<lastBuildDate>Thu, 27 Jun 2024 15:08:59 +0000</lastBuildDate>
<language>en-US</language>
<sy:updatePeriod> hourly </sy:updatePeriod>
<sy:updateFrequency> 1 </sy:updateFrequency>
<generator>https://wordpress.org/?v=6.5.5</generator>
<item>
<title>Cerita Seks Memperkosa Karyawan Penjaga Toko Swalyan</title>
<link>./../cerita-seks-memperkosa-karyawan-penjaga-toko-swalyan/index.html</link>
<comments>./../cerita-seks-memperkosa-karyawan-penjaga-toko-swalyan/index.html#respond</comments>
<dc:creator>
<![CDATA[ hyvj3 ]]>
</dc:creator>
<pubDate>Thu, 27 Jun 2024 15:08:59 +0000</pubDate>
<category>
<![CDATA[ CERITA DEWASA ]]>
</category>
<guid isPermaLink="false">./../index.html?p=666</guid>
<description>
<![CDATA[ Cerita Seks Memperkosa Karyawan Diah yang masih berumur 23 tahun tidak menyadari bahayanya bekerja sebagai kasir di sebuah toko serba ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Seks Memperkosa Karyawan Penjaga Toko Swalyan" class="read-more button" href="./../cerita-seks-memperkosa-karyawan-penjaga-toko-swalyan/index.html#more-666" aria-label="More on Cerita Seks Memperkosa Karyawan Penjaga Toko Swalyan">Read more</a></p> ]]>
</description>
<content:encoded>
<![CDATA[ <p>Cerita Seks Memperkosa Karyawan Diah yang masih berumur 23 tahun tidak menyadari bahayanya bekerja sebagai kasir di sebuah toko serba ada yang beroperasi 24 jam di Jakarta. Tapi karena  semangat dan keinginan untuk mandiri membuat dirinya tidak mempedulikan nasehat orang tuanya yang merasa kuatir melihat putriya sering mendapat giliran jaga di malam hari hingga pagi hari.</p> <div>Diah lebih suka bekerja pada shift di jam tersebut, Karena dari saat tengah malam sampai pagi biasanya  jarang sekali ada pembeli, sehingga Diah bisa belajar untuk materi kuliahnya siang nanti. Sampai akhirnya pada suatu malam terjadilah pemerkosaan itu, Diah mendapati dirinya ditodong oleh sepucuk pistol tepat di depan matanya. Yang berambut Gondrong (sebut saja Gading) , dan yang satu lagi tubuhnya Kurus (sebut saja si Karjo ). Mereka berdua, menerobos masuk membuat Diah yang sedang berkonsentrasi pada bukunya terkejut.</div> <div></div> <div>“Keluarin uangnya cepet !” perintah si Gading, sementara si Karjo memutuskan semua kabel video dan telepon yang ada di toko itu. Tangan Diah gemetar berusaha membuka laci kasir yang ada di depannya, saking takutnya kunci itu sampai terjatuh beberapa kali. Setelah beberapa saat,</div> <div></div> <div>Diah berhasil membuka laci itu dan memerikan semua uang yang ada di dalamnya, sebanyak 100 ribu kepada si Gading, Diah tidak diperkenankan menyimpan uang lebih dari 100 ribu di laci tersebut. Karena itu setiap kelebihannya langsung dimasukan ke lemari besi. Setelah si Gading merampas uang itu, Diah langsung mundur ke belakang, ia sangat ketakutan kakinya lemas, hampir jatuh.</div> <div>“Masa cuma segini?!” bentak si Gading.</div> <div></div> <div>“Buka lemari besinya! Sekarang!” Mereka berdua menggiring Diah masuk ke kantor manajernya dan mendorongnya hingga jatuh berlutut di hadapan lemari besi. Diah mulai menangis, ia tidak tahu nomor kombinasi lemari besi itu, ia hanya menyelipkan uang masuk ke dalam lemari besi melalui celah pintunya.</div> <div></div> <div>“Cepat!!!” bentak si Karjo,</div> <div>Diah merasakan pistol menempel di belakang kepalanya. Diah berusaha untuk menjelaskan kalau ia tidak mengetahui nomor lemari besi itu. Untunglah, melihat mata Diah yang ketakutan, mereka berdua percaya.</div> <div></div> <div> “Brengsek!!!! Nggak sebanding sama resikonya! Ayo…Iket dia, biar dia nggak bisa panggil polisi!!!” Diah di dudukkan di kursi manajernya dengan tangan diikat ke belakang. Kemudian kedua kaki Diah juga diikat ke kaki kursi yang ia duduki. si Karjo kemudian mengambil plester dan menempelkannya ke mulut Diah.</div> <div></div> <div>“Beres! Ayo cabut!”</div> <div>“Tunggu! Tunggu dulu cing! Liat dia, dia boleh juga ya?!”.</div> <div>“Cepetan! Ntar ada yang tau! Kita cuma dapet 100 ribu, cepetan!”.</div> <div>“Aku pengen liat bentar aja!”.</div> <div></div> <div>Mata Diah terbelalak ketika si Gading mendekat dan menarik t-shirt merah muda yang ia kenakan. Dengan satu tarikan keras, t-shirt itu robek membuat BH-nya terlihat. Payudara Diah yang berukuran sedang, bergoyang-goyang karena Diah meronta-ronta dalam ikatannya.</div> <div>“Wow, oke banget!” si Gading berseru kagum.</div> <div>“Oke, sekarang kita pergi!” ajak si Karjo, tidak begitu tertarik pada Diah karena sibuk mengawasi keadaan depan toko.</div> <div></div> <div>Tapi si Gading tidak peduli, ia sekarang meraba-raba puting susu Diah lewat BH-nya, setelah itu ia memasukkan jarinya ke belahan payudara Diah. Dan tiba-tiba, dengan satu tarikan BH Diah ditariknya, tubuh Diah ikut tertarik ke depan, tapi akhirnya tali BH Diah terputus dan sekarang payudara Diah bergoyang bebas tanpa ditutupi selembar benangpun.</div> <div></div> <div>“Jangan!” teriak Diah. Tapi yang tedengar cuma suara gumaman. Terasa oleh Diah mulut si Gading menghisapi puting susunya pertama yang kiri lalu sekarang pindah ke kanan. Kemudian Diah menjerit ketika si Gading mengigit puting susunya.</div> <div></div> <div>“diam! Jangan berisik!” si Gading menampar Diah, hingga berkunang-kunang. Diah hanya bisa menangis.</div> <div>“Aku bilang diam!”, Sambil berkata itu si Gading menampar buah dada Diah, sampai sebuah cap tangan berwarna merah terbentuk di payudara kiri Diah. Kemudian si Gading bergeser dan menampar uang sebelah kanan. Diah terus menjerit-jerit dengan mulut diplester, sementara si Gading terus memukuli buah dada Diah sampai akhirnya bulatan buah dada Diah berwarna merah.</div> <div></div> <div>“Ayo, cepetan !”, si Karjo menarik tangan si Gading.</div> <div>“Kita musti cepet minggat dari sini!” Diah bersyukur ketika melihat si Gading diseret keluar ruangan oleh si Karjo. Payudaranya terasa sangat sakit, tapi Diah bersyukur ia masih hidup. Melihat sekelilingnya, Diah berusaha menemukan sesuatu untuk membebaskan dirinya. Di meja ada gunting, tapi ia tidak bisa bergerak sama sekali.</div> <div></div> <div>“Hey, Brooo! Tokonya kosong!”.</div> <div>“Masa, cepetan ambil permen!”.</div> <div>“Goblok Banget lo, cepetan ambil bir tolol!”.</div> <div></div> <div>Tubuh Diah menegang, mendengar suara beberapa anak-anak di bagian depan toko. Dari suaranya ia mengetahui bahwa itu adalah anak-anak berandal yang ada di lingkungan itu. Mereka baru berusia sekitar 12 sampai 15 tahun. Diah mengeluarkan suara minta tolong.</div> <div></div> <div>“ssssstt! Lo denger nggak?!”.</div> <div>“Cepetan  kembaliin semua!”.</div> <div>“Ayooo….lari, lari! Kita ketauan!”.</div> <div>Tiba-tiba salah seorang dari mereka menjengukkan kepalanya ke dalam kantor manajer. Ia terperangah melihat Diah, terikat di kursi, dengan t-shirt robek membuat buah dadanya mengacung ke arahnya.</div> <div>“Buset!” berandal itu tampak terkejut sekali, tapi sesaat kemudian ia menyeringai.</div> <div>“Hei, liat nih! Ada kejutan!”</div> <div></div> <div>Diah berusaha menjelaskan pada mereka, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha menjelaskan bahwa dirinya baru saja dirampok. Ia berusaha minta tolong agar mereka memanggil polisi. Ia berusaha memohon agar mereka melepaskan dirinya dan menutupi dadanya. Tapi yang keluar hanya suara gumanan karena mulutnya masih tertutup plester.</div> <div></div> <div>Satu demi satu berandalan itu masuk ke dalam kantor. Satu, kemudian dua, lalu tiga. Empat. Lima! Lima wajah-wajah dengan senyum menyeringai sekarang mengamati tubuh Diah, yang terus meronta-ronta berusaha menutupi tubuhnya dari pandangan mereka. Berandalan, yang berumur sekitar 15 tahun itu terkagum-kagum dengan penemuan mereka.</div> <div></div> <div>“Gila! Cewek nih!”.</div> <div>“Dia telanjang!”.</div> <div>“Tu liat susunya! susu!”.</div> <div>“Mana, mana Aku pengen liat!”.</div> <div>“Aku pengen pegang!”.</div> <div>“Pasti alus tuh!”.</div> <div>“Bawahnya kayak apa yaaa?!”.</div> <div></div> <div>Mereka semua berkomentar bersamaan, kegirangan menemukan Diah yang sudah terikat erat. Kelima berandal itu maju dan merubung Diah, tangan-tangan meraih tubuh Diah. Diah tidak tahu lagi, milik siapa tanga-tangan tersebut, semuanya berebutan mengelus pinggangnya, meremas buah dadanya, menjambak rambutnya, seseorang menjepit dan menarik-narik puting susunya. Kemudian, salah satu dari mereka menjilati pipinya dan memasukan ujung lidahnya ke lubang telinga Diah.</div> <div></div> <div>“Ayooo, kita lepasin dia dari kursi!” Mereka k emudianmelepaskan ikatan pada kaki Diah, tapi dengan tangan masih terikat di belakang, sambil terus meraba dan meremas tubuh Diah. Melihat ruangan kantor itu terlalu kecil mereka menyeret Diah keluar menuju bagian depan toko. Diah meronta-ronta ketika merasa ada yang berusaha melepaskan kancing jeansnya.</div> <div></div> <div>Mereka menarik-narik jeans Diah sampai akhirnya turun sampai ke lutut. Diah terus meronta-ronta, dan akhirnya mereka berenam jatuh tersungkur ke lantai. Sebelum Diah sempat membalikkan badannya, tiba-tiba terdengar suara lecutan, dan sesaat kemudian Diah merasakan sakit yang amat sangat di pantatnya. Diah melihat salah seorang berandal tadi memegang sebuah ikat pinggang kulit dan bersiap-siap mengayunkannya lagi ke pantatnya!</div> <div></div> <div>“Hei….Bangun! Bangun!” ia berteriak, kemudian mengayunkan lagi ikat pinggangnya. Sebuah garis merah timbul di pantat Diah. Diah berusaha berguling melindungi pantatnya yang terasa sakit sekali. Tapi berandal tadi tidak peduli, ia kembali mengayunkan ikat pinggang tadi yang sekarang menghajar perut Diah.</div> <div></div> <div>“Bangun! naik ke sini!” berandal tadi menyapu barang-barang yang ada di atas meja layan hingga berjatuhan ke lantai. Diah berusaha bangun tapi tidak berhasil. Lagi, sebuah pukulan menghajar buah dadanya. Diah berguling dan berusaha berdiri dan berhasil berlutut dan berdiri. Berandal tadi memberikan ikat pinggang tadi kepada temannya. “Kalo dia gerak, pukul aja!”</div> <div></div> <div>Langsung saja Diah mendapat pukulan di pantatnya. Berandal-berandal yang lain tertawa dan bersorak. Mereka lalu mendorong dan menarik tubuhnya, membuat ia bergerak-gerak sehingga mereka punya alasan lagi buat memukulnya. Berandal yang pertama tadi kembali dengan membawa segulung plester besar. Ia mendorong Diah hingga berbaring telentang di atas meja.</div> <div></div> <div>Pertama ia melepaskan tangan Diah kemudian langsung mengikatnya dengan plester di sudut-sudut meja, tangan Diah sekarang terikat erat dengan plester sampai ke kaki meja. Selanjutnya ia melepaskan sepatu, jeans dan celana dalam Diah dan mengikatkan kaki-kaki Diah ke kaki-kaki meja lainnya. Sekarang Diah berbaring telentang, telanjang bulat dengan tangan dan kaki terbuka lebar menyerupai huruf X.</div> <div></div> <div>“Waktu Pesta!” berandal tadi lalu menurunkan celana dan celana dalamnya. Mata Diah terbelalak melihat penisnya menggantung, setengah keras sepanjang 20 senti. Berandal tadi memegang pinggul Diah dan menariknya hingga mendekati pinggir meja. Kemudian ia menggosok-gosok penisnya hingga berdiri mengacung tegang.</div> <div></div> <div>“Waktunya masuk!” ia bersorak sementara teman-teman lainnya bersorak dan tertawa. Dengan satu dorongan keras, penisnya masuk ke vagina Diah. Diah melolong kesakitan. Air mata meleleh turun, sementara berandal tadi mulai bergerak keluar masuk. Temannya naik ke atas meja, menduduki dada Diah, membuat Diah sulit bernafas. Kemudian ia melepaskan celananya, mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya. Plester di mulut Diah ditariknya hingga lepas. Diah berusaha berteriak, tapi mulutnya langsung dimasuki oleh penis berandal yang ada di atasnya.</div> <div></div> <div>Langsung saja, penis tadi mengeras dan membesar bersamaan dengan keluar masuknya penis tadi di mulut Diah. Pandangan Diah langsung berkunang-kunang dan merasa akan pingsan, ketika tiba-tiba saja mulutnya dipenuhi cairan kental, yang terasa asin dan pahit sekali . Semprotan demi semprotan masuk ke mulut Diah, tanpa bisa dimuntahkan lagi oleh Diah. Ia terus menelan cairan tadi agar bisa terus bernafas.</div> <div></div> <div>Tiba-tiba saja Berandal yang duduk di atas dada Diah turun, lalu berandal memasukkan penisnya ke vagina diah dan mendorong diah di pinggir meja lalu menggenjot memek Diah Dengan tempo makin cepat. Ia juga memukuli perut Diah, membuat Diah mengejang dan vaginanya berkontraksi menjepit penisnya. Ia kemudian memegang buah dada Diah sambil terus bergerak makin cepat, ia mengerang-erang mendekati klimaks.</div> <div></div> <div>Tangannya langsung meremas dan menarik buah dada Diah ketika tubuhnya bergetar dan sperma tiba-tiba menyemprot keluar, terus-menerus mengalir masuk di vagina Diah. Sedangkan berandal yang lainnya berdiri di samping meja dan melakukan masturbasi, Dan ketika pimpinan mereka mencapai puncaknya mereka juga mengalami ejakulasi bersamaan. Sperma mereka menyemprot keluar dan jatuh di muka, rambut dan dada Diah.</div> <div></div> <div>Beberapa saat berlalu dan Diah tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, ketika tahu-tahu ia kembali sendirian di toko tadi, masih terikat erat di atas meja. Ia tersadar ketika menyadari dirinya terlihat jelas, jika ada orang lewat di depan tokonya. Diah meronta-ronta membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Ia menangis dan meronta berusaha melepaskan diri dari plester yang mengikatnya. Setelah beberapa lama mencoba Diah berhasil melepaskan tangan kanannya. Kemudian ia melepaskan tangan kirinya, kaki kanannya. Tinggal satu lagi nih.</div> <div></div> <div>“Wah, wah, waaaaah!!!” terdengar suara laki-laki yang berdiri di pintu depan. Diah sangat terkejut dan berusaha menutupi buah dada dan vaginanya dengan kedua tangannya.</div> <div>“Tolong saya!” ratap Diah.</div> <div>“Tolong saya Pak! Toko saya dirampok, saya diikat dan diperkosa Pak! Tolong saya Pak, cepat panggilkan polisi!”</div> <div>“Nama lu Diah kan?” tanya laki-laki tadi.</div> <div> <figure id="attachment_3380" class="wp-caption aligncenter" aria-describedby="caption-attachment-3380"><figcaption id="caption-attachment-3380" class="wp-caption-text">Cerita Seks Memperkosa Karyawan Penjaga Toko Swalyan</figcaption></figure> </div> <div></div> <div>“Ba…bagaimana bapak tahu nama saya?” Diah bingung dan takut.</div> <div>“Aku Adit. Orang yang dulunya kerja di toko ini sebelum kau rebut!”.</div> <div>“Tapi saya tidak merebut pekerjaan bapak. Saya tahunya dari iklan di koran. Saya betul-betul tidak tahu pak! Tolonglah saya pak!”.</div> <div>“Gara-gara kamu ngelamar ke sini Aku jadi dipecat! Aku nggak heran kamu diterima kalo liat bodi mu”.</div> <div></div> <div>Diah kembali merasa ketakutan saat melihat Adit, seseorang yang belum pernah dilihat dan dikenalnya tapi sudah membencinya. Diah kembali berusaha melepaskan ikatan di kaki kirinya, membuat Raoy naik pitam. Ia menyambar tangan Diah dan menekuknya ke belakang dan kembali diikatnya dengan plester, dan plester itu terus dilitkan sampai mengikat ke bahu, hingga Diah betul-betul terikat erat. Ikatan itu membuat Diah kesakitan, ia menggeliat dan buah dadanya semakin membusung keluar.</div> <div></div> <div>“Lepaskan!!!! Sakit!!!! aduuhh!!!! Saya tidak memecat bapak!!!! Kenapa saya diikat Pak?!!”</div> <div>“Sebenarnya Aku tadinya mau ngerampok nih toko, cuma kayaknya Aku udah keduluan. Jadi baiknya Aku rusak aja deh nih toko”.</div> <div>Ia kemudian melepaskan ikatan kaki Diah sehingga sekarang Diah duduk di pinggir meja dengan tangan terikat di belakang. Dan diikatnya lagi dengan plester.</div> <div></div> <div>Dan Adit mulai menghancurkan isi toko itu, etalase dipecahnya, rak-rak ditendang jatuh. Lalu Adit juga menghancurkan kotak pendingin es krim yang ada di kanan Diah. Es krim beterbangan dilempar oleh Adit. Beberapa di antaranya mengenai tubuh Diah, kemudian meleleh mengalir turun, melewati punggungnya masuk ke belahan pantatnya. Di depan, Es tadi mengalir melalui belahan buah dadanya, turun ke perut dan mengalir ke vagina Diah. Rasa dingin langsung menempel di buah dada Diah, membuat putingnya mengeras san mengacung. Ketika Adit selesai, tubuh Diah bergetar kedinginan dan lengket karena es krim yang meleleh.</div> <div></div> <div>“Kamu keliatannya kedinginan!” ejek si Adit sambil menyentil puting susu Diah yang mengeras kaku.</div> <div>“Aku harus ngasihh kamu sesuatu yang anget.”</div> <div></div> <div>Adit kemudian mendekati wajan untuk mengoreng hot dog yang ada di tengah ruangan. Diah melihat Adit mendekat membawa beberapa buah sosis yang berasap.</div> <div></div> <div> “Jaaaangaann!” Diah berteriak ketika Adit membuka bibir vaginanya dan memasukan satu sosis ke dalam vaginanya yang terasa dingin karena es tadi. Kemudian ia memasukan sosis yang kedua, dan ketiga. Sosis yang keempat putus ketika akan dimasukan. Vagina Diah sekarang diisi oleh tiga buah sosis yang masih berasap. Diah menangis karena kesakitan akibat uap panas dari sosis tersebut.</div> <div></div> <div>“Keliatannya nikmat Nih….Ha..Ha…!” Adit tertawa.</div> <div>“Tapi Aku lebih suka bermain dengan mustard!” Kemudian Ia mengambil botol mustard dan menekan botol itu.</div> <div></div> <div>Cairan mustard langsung keluar menyemprot ke vagina Diah. Diah menangis terus, melihat dirinya disiksa dengan cara yang tak terbayangkan olehnya.</div> <div>Sambil tertawa Adit melanjutkan usahanya dengan menghancurkan isi toko itu. Diah berusaha melepaskan diri, tapi tak berhasil. Nafasnya sangat tersengal-sengal, ia tidak kuat menahan semua ini. Tubuh Diah bergerak lunglai jatuh.</div> <div></div> <div>“Hei!! Kamu kalo kerja jangan tidur!” bentak Adit sambil menampar pipi Diah.</div> <div>Kamu tau nggak, daerah sini nggak aman jadi perlu ada alarm.”</div> <div></div> <div>Diahpun meronta ketakutan melihat Adit yang memegang dua buah jepitan buaya. Jepitan itu bergigi tajam dan jepitannya sangat  keras sekali. Adit segera mendekatkan satu jepitan ke puting susu kanan Diah, menekannya hingga terbuka dan melepaskannya hingga menutup kembali menjepit puting susu Diah.</div> <div></div> <div>Diah menjerit dan melolong kesakitan, gigi jepitan tadi menancap ke puting susunya. Kemudian Adit juga menjepit puting susu yang ada di sebelah kiri. Air mata Diah bercucuran di pipi.</div> <div>Kemudian Adit mengikatkan kawat halus di kedua jepitan tadi, lalu mengulurnya dan kemudian mengikatnya ke pegangan pintu masuk. Ketika pintu itu didorong Adit hingga membuka keluar, Diah merasa jepitan tadi tertarik oleh kawat, dan membuat buah dadanya tertarik dan ia menjerit kesakitan.</div> <div></div> <div>“Nah…..,Hmmm… udah jadi. sekarang pintu depan ini bisa buka ke dalem ama keluar, tapi bisa juga disetel cuma bisa dibuka dengan cara ditarik bukan didorong. Jadi Aku sekarang pergi dulu, terus nanti Aku pasang biar pintu itu cuma bisa dibuka kalo ditarik. Nanti kalo ada orang dateng, pas dia dorong pintu kan nggak bisa, pasti dia coba buat narik tuh pintu, nah, pas narik itu alarmnya akan bunyi!”</div> <div></div> <div>“Jaaaaaangan! saya mohoon! Jangan! jangan! jangan! ampun!”</div> <div>Aditpun tidak peduli, ia keluar dan tidak lupa memasang kunci pada pintu itu hingga sekarang pintu tadi hanya bisa dibuka dengan ditarik. Diahpun menangis ketakutan, Dan puting susunya sudah hampir rata, dijepit. Ia terlihat meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan. Tubuh Diah berkeringat setelah berusaha melepaskan diri tanpa hasil.</div> <div></div> <div>Beberapa saat kemudian terlihat sebuah bayangan di depan pintu, Diah melihat ternyata bayangan itu milik gelandangan yang sering lewat dan meminta-minta. Gelandangan itu melihat tubuh Diah, telanjang dengan buah dada mengacung. Segera saja Gelandang itu mendorong pintu masuk. Pintu itu tidak terbuka. Si Gelandangan langsung meraih pegangan pintu dan mulai menariknya.</div> <div></div> <div>Diah langsung menjerit “Jangan! jangan! jangan buka! jangaann!”, tapi gelandangan tadi tetap menarik pintu, yang kemudian menarik kawat dan menarik jepitan yang ada di puting susunya. Gigi-gigi yang sudah menancap di daging puting susunya tertarik, merobek puting susunya. Diah menjerit keras sekali sebelum jatuh di atas meja. Pingsan.</div> <div></div> <div>Tapi Diah tersadar dan menjerit. Sekarang ia berdiri di depan meja kasir. Tangannya terikat ke atas di rangka besi meja kasir. Dan kakinya juga terikat terbuka lebar pada kaki-kaki meja kasir. Ia merasa kesakitan. Puting susunya sekarang berwarna ungu, dan menjadi sangat sensitif. Udara dingin saja membuat puting susunya mengacung tegang. Memar-memar menghiasi seluruh tubuhnya, mulai pinggang, dada dan pinggulnya. Diah merasakan sepasang tangan berusaha membuka belahan pantatnya dari belakang. Sesuatu yang dingin dan keras berusaha masuk ke liang anusnya. Diah menoleh ke belakang, dan ia melihat gelandangan tadi berlutut di belakangnya sedang memegang sebuah botol bir.</div> <div></div> <div>“Ja…Jangan, ampun! Lepaskan saya pak! Saya sudah diperkosa dan dipukuli! Saya tidak tahan lagi.”</div> <div>“Habisnya pantat Mbak kan belom diituin.” gelandangan itu berkata tidak jelas.</div> <div>“Jangaaaaan!” Diah meronta, ketika penis si gelandangan tadi mulai berusaha masuk ke anusnya. Setelah beberapa kali usaha, gelandangan tadi menyadari penisnya tidak bisa masuk ke dalam anusnya Diah. Lalu ia langsung berlutut lagi, mengambil sebuah botol bir dari rak dan mulai mendorong dan memutar-mutarnya masuk ke liang anus Diah.</div> <div></div> <div>Diah menjerit-jerit dan meronta-ronta ketika leher botol bir tadi mulai masuk dengan keadaan masih mempunyai tutup botol yang berpinggiran tajam. Liang anus Diah tersayat-sayat ketika gelandangan tadi memutar-mutar botol dengan harapan liang anus Diah bisa membesar.</div> <div></div> <div>Setelah beberapa Lama tiba-tiba gelandangan tadi mencabut botol tersebut. Tutup botol bir itu sudah dilapisi darah dari dalam anus Diah, tapi ia tidak peduli. Gelandang itu kembali berusaha memasukan penisnya ke dalam anus</div> <div></div> <div>Diah yang sekarang sudah membesar karena dimasuki botol bir. Gelandangan tadi mulai bergerak kesenangan, rasanya sudah lama sekali ia tidak meniduri perempuan, ia bergerak cepat dan keras sehingga Diah merasa dirinya akan terlepar ke depan setiap gelandangan tadi bergerak maju.</div> <div></div> <div>Diah terus menangis melihat dirinya disodomi oleh gelandangan yang mungkin membawa penyakit kelamin, tapi gelandangan tadi terus bergerak makin makin cepat, tangannya meremas buah dada Diah, membuat Diah menjerit karena puting susunya yang terluka ikut diremas dan dipilih-pilin.</div> <div></div> <div>Akhirnya dengan satu erangan, gelandang tadi orgasme, dan Diah merakan cairan hangat mengalir dalam anusnya, sampai gelandangan tadi jatuh terduduk lemas di belakang Diah.</div> <div></div> <div>“Makasih yaaa Mbak! Saya puas sekaliiiii! Makasih.” gelandangan tadi melepaskan ikatan Diah. Kemudian ia mendorong Diah duduk dan kembali mengikat tangan Diah ke belakang, kemudian mengikat kaki Diah erat-erat. Kemudian tubuh Diah didorongnya ke bawah meja kasir hingga tidak terlihat dari luar.</div> <div></div> <div>Sambi terus mengumam terima kasih Dan sigelandangan tadi berjalan sempoyongan sambil membawa beberapa botol bir keluar dari toko. Diah terus saja menangis, merintih merasakan sperma gelandangan tadi mengalir keluar dari anusnya. Lama kemudian Diah jatuh pingsan karena kelelahan dan shock Berat. Dan tersadar ketika Ia ditemukan oleh rekan kerjanya yang masuk pukul 7 pagi.</div> <div></div> <div><strong>Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Pasutri,Cerita Seks Memperkosa Karyawan,Cerita Seks Memperkosa KaryawanCerita Seks Memperkosa Karyawan,Cerita Seks Memperkosa Karyawan,Cerita Seks Memperkosa Karyawan,Cerita Seks Memperkosa Karyawan,Cerita Seks Memperkosa Karyawan</strong></div> ]]>
</content:encoded>
<wfw:commentRss>./../cerita-seks-memperkosa-karyawan-penjaga-toko-swalyan/feed/index.html</wfw:commentRss>
<slash:comments>0</slash:comments>
</item>
<item>
<title>Cerita Seks Pengantin Baru Yang Kesepian</title>
<link>./../cerita-seks-pengantin-baru-yang-kesepian/index.html</link>
<comments>./../cerita-seks-pengantin-baru-yang-kesepian/index.html#respond</comments>
<dc:creator>
<![CDATA[ hyvj3 ]]>
</dc:creator>
<pubDate>Thu, 27 Jun 2024 15:06:35 +0000</pubDate>
<category>
<![CDATA[ CERITA DEWASA ]]>
</category>
<guid isPermaLink="false">./../index.html?p=663</guid>
<description>
<![CDATA[ Cerita Seks Pengantin Baru Nama saya Andi, saat itu saya berumur 25 tahun, telah berkeluarga dengan istri bernama Sinta, serta ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Seks Pengantin Baru Yang Kesepian" class="read-more button" href="./../cerita-seks-pengantin-baru-yang-kesepian/index.html#more-663" aria-label="More on Cerita Seks Pengantin Baru Yang Kesepian">Read more</a></p> ]]>
</description>
<content:encoded>
<![CDATA[ <p>Cerita Seks Pengantin Baru Nama saya Andi, saat itu saya berumur 25 tahun, telah berkeluarga dengan istri bernama Sinta, serta telah dikaruniai dua orang anak yang pertama berumur 3 tahun dan kedua berumur 1 tahun. Cerita ini bermula dari kebiasaan saya yang sering nongkrong di warteg di komplek tempat saya tinggal pada waktu santai.</p> <p>Pada suatu hari saya kembali nongkrong di Warteg itu yang pada saat itu suasana sudah mulai sepi karena hari sudah menjelang malam. Pada saat itu Diana sedang berkemas-kemas untuk menutup wartegnya. Saya lalu mengajak Diana mengobrol sambil dia berkemas-kemasIstri Pemilik Warteg itu adalah sepasang pengantin baru yang baru menikah 7 bulan. Penjaganya adalah istri dari pengantin baru tersebut yang bernama Diana, sedangkan suaminya adalah seorang sopir bus AKAP, yang sering bertugas sampai berhari-hari baru pulang dan bernama Juanda. Saya dan istri sayapun kenal baik dan akrab dengan mereka.</p> <p>“Kok sendirian Yan?” tanya saya. (Saya memanggilnya Dian/Yan)<br /> “Iya nih Kak, Kak Juandanya tadi pagi baru berangkat!”<br /> “Kemana?”<br /> “Katanya hari ini tujuan Jakarta, dan sampai 8 hari baru bisa pulang,” katanya.<br /> “Oh ya Kak saya tinggal dulu ya, mau mandi, habis dari tadi rame sih belum sempat mandi,” katanya lagi. Lalu Diana masuk ke dalam rumahnya untuk mandi.</p> <p>Setelah setengah jam Diana keluar lagi dengan rambut yang masih basah, dan memakai daster yang membuat saya menahan napas karena kalau kena lampu kelihatan BH dan CDnya yang menerawang dari balik daster yang dipakainya, serta membawa secangkir kopi untukku, dan duduk di kursi yang ada di depanku. Harum sabun mandi yang dipakai saat mandi masih tercium saat Diana duduk, dan ini membuat nafsu saya agak tergugah dan kontol saya mulai ngaceng.</p> <p>“Diminum Kak kopinya,” katanya mempersilakan.<br /> “Terima kasih,” jawabku sambil menghirup kopi yang disuguhkan.<br /> “Apa enggak takut ditinggal sendirian,” tanyaku memulai obrolan.<br /> “Ya enggaklah, kan tetangga di sekitar sini baik-baik Kak?” jawabnya.</p> <p>Lalu obrolan kami terus berlanjut dan haripun bertambah malam. Karena suasana yang mulai sepi saya mencoba memancingnya dengan obrolan yang dapat membangkitkan gairah.</p> <p>“Yan kamu nggak kesepian ditinggal suamimu berhari-hari gini?”<br /> “Mau gimana lagi Kak, namanya juga tuntutan pekerjaan”<br /> “Kasihan! Masa pengantin baru ditinggal kedinginan kaya gini”<br /> “Ih, siapa lagi yang kedinginan?” jawabnya agak centil.</p> <p>Merasa ada respon sayapun tambah semangat.</p> <p>“Ya kan kasihan, orang pengantin baru itu biasanya kan kalau tidur selalu berpelukan biar tidak kedinginan”<br /> “Siapa bilang kalau pengantin baru itu kalau tidur selalu berpelukan?”<br /> “Buktinya kakak semasa pengantin baru selalu tidur berpelukan.”<br /> “Enak dong Mbak Sinta selalu tidur dipeluk kakak”<br /> “Ya begitulah, kalau kamu mau, saya juga mau tidur pelukin kamu,” kata saya sambil bercanda.<br /> “Ih kakak ini Piktor (pikiran kotor) deh”<br /> “Emang Mbak Sinta boleh kakak tidur pelukin cewek lain?” sambungnya.<br /> “Ya jangan ketahuan dong,” jawabku, sambil aku memandang wajah cantiknya dan menanti responnya.</p> <p>Diana lalu memandangku dengan tatapan yang menggoda.</p> <p>“Kalau kakak tidur pelukin saya dan ketahuan Mbak Sinta gimana hayoo?”<br /> “Nggak mungkin ketahuan kalau kamu mau,” pancingku sambil bergeser duduk disampingnya, dan kugenggam tangannya yang tampak bergetar, dan ternyata Diana diam saja.<br /> “Jangan disini Kak nanti ada orang lihat,” katanya.</p> <div> <div><span class="ctaText">Cerita Lainnya: </span>  <span class="postTitle">Cerita Seks Ngentot Pacarku dan Adiknya</span></div> </div> <p>Karena mendapat angin aku mengajak Diana masuk ke dalam rumahnya. Begitu masuk ke dalam rumahnya saya langsung menutup pintu dan memeluk Diana dari belakang. Semula dia menolak dengan alasan takut ketahuan. Aku yang sudah dikuasai nafsu terus merayu Diana yang masih ragu. Aku sudah tidak peduli apa-apa lagi kecuali menikmati tubuh Diana yang cantik ini. Aku membalikkan tubuh Diana dan langsung melumat bibirnya yang sexy itu.</p> <p>“Mmhh,” desah Diana.</p> <p>Aku terus menyerangnya dengan bergairah. Tangankupun tak tinggal diam, aku meremas buah dadanya yang montok dari balik dasternya.</p> <p>“Mmhh Kak,” desahnya yang mulai terangsang.</p> <p>Aku lalu membopong tubuh Diana ke kamarnya yang ditunjuk Diana dan merebahkannya di ranjang yang merupakan ranjang pengantin Diana. Lalu aku berdiri dan membuka baju dan celana panjangku agar tidak kusut, dan yang tertinggal hanya celana dalamku.</p> <p>Kontolku yang dari tadi ngaceng tampak menonjol di balik CDku. Lalu aku mendekati Diana yang terbaring diranjang sambil memandangku. Aku kembali mengulum bibirnya yang sexy itu sambil tanganku mengelusi pahanya yang putih. Diana menyambut ciumanku dengan bernafsu. Setelah puas aku melanjutkan ciumanku ke lehernya yang jenjang dan secara perlahan-lahan aku membuka dasternya, dan dilanjutkan dengan BH dan CDnya. Kini tubuh Diana yang mulus terpampang pasrah di ranjang. Kemudian aku menciumi buah dadanya yang kiri sedangkan tanganku meremas buah dadanya yang kanan</p> <figure id="attachment_5418" class="wp-caption aligncenter" aria-describedby="caption-attachment-5418"><figcaption id="caption-attachment-5418" class="wp-caption-text">Cerita Seks Pengantin Baru Yang Kesepian</figcaption></figure> <p>“Aww… geli Kak,” rintihnya yang membuat aku tambah bersemangat.<br /> “Buah dada kamu bagus Yan” kataku.<br /> “Emang punya Mbak Sinta jelek ya?” tanyanya menggodaku.<br /> “Bagusan punya kamu” kataku merayunya.<br /> “Aahh enak Kak, terus Kak, isap Kak yang kuaat” rintihnya.</p> <p>Setelah puas dengan buah dadanya ciumanku aku lanjutkan ke bawah menyusuri perutnya yang ramping terus ke bawah hingga menyentuh bulu bulu halus diatas memeknya. Lalu aku mulai menjilati memeknya yang telah basah oleh cairan birahi.</p> <p>“Aahh enak Kak, diapain Kak memekku,” rintihnya.<br /> “Terus Kak aahh!! Enak sekali Kak, Kak juanda tidak pernah mau begini Kak aahh!!” rintihnya lagi.</p> <p>Sesaat kemudian Diana menekan kepalaku semakin dalam di memeknya, dan ternyata dia mendapat orgasmenya yang pertama. Kemudian aku naik untuk mencium bibirnya kembali dan disambut dengan buas oleh Diana.</p> <p>“Enak nggak Yan?” tanyaku.<br /> “Enak sekali Kak,” jawabnya<br /> “Emang Juanda nggak pernah ya?”<br /> “Enggak Kak, jijik katanya”<br /> “Tolol sekali dia,” batinku.<br /> “Buka dong Kak CDnya”<br /> “Diana dong bukain”<br /> “Ih Kak Andi manja deh,” katanya sambil membuka CDku.</p> <p>Kontolku yang sudah tegang dari tadi langsung meloncat keluar begitu CD ku diturunkan oleh Diana. Tampak Diana terbelalak melihat kontolku.</p> <p>“Besar sekali Kak,” katanya kaget.<br /> “Emang punya suamimu kecil ya?” tanyaku.<br /> “Paling setengah dari punya kakak,” katanya sambil meremas kontolku.<br /> “Aahh enak Yan” desahku<br /> “Enak nggak Kak kontol sebesar ini masuk dimemekku nanti?” tanyanya.</p> <p>Aku tersenyum sambil mengangguk.</p> <p>“Jilati Yan” pintaku.</p> <p>Lalu Diana menunduk untuk mencium Kontolku yang super menurutnya.</p> <p>“Aahh enak, enak Yan jilati terus Yan aahh!!” rintihku.</p> <p>Lalu Diana memasukkan kontolku ke dalam mulutnya, dan mengulum kontolku. Tampak Diana kesusahan mengulum kontolku yang besar didalam mulutnya. Setelah beberapa saat aku menarik Diana keatas dan membaringkannya secara telentang. Diana mengerti dan segera membuka pahanya lebar lebar. Aku segera mengarahkan kontolku dan menyentuh lobang memeknya yang semakin banjir oleh cairannya.</p> <div> <div><span class="ctaText">Cerita Lainnya: </span>  <span class="postTitle">Cerita Sex Dewasa Bibir Vagina Merah Delima</span></div> </div> <p>“Lambat-lambat Kak, aku belum pernah dimasuki kontol sebesar itu” pintanya.</p> <p>Aku tersenyum memandangnya sambil mengangguk.</p> <p>“Aaww… Kak, sakit Kak aahh!!”</p> <p>Aku menghentikan dorongan pantatku dan mendiamkannya sejenak. Setelah Diana tenang kembali aku mendorong laju kontolku ke dalam memeknya.</p> <p>“Aaww Kak enak!! Terus Kak enak, kontol kakak enak Kak, aawwuuhh enak kontol kakak besar enak,” erangnya dengan liar.</p> <p>Mendengar itu aku tambah bersemangat untuk memompa kontolku didalam memeknya. Kemudian aku memeluknya sambil berbisik ditelinganya,</p> <p>“Enak nggak kontol kakak?”<br /> “Oohh enak sekali Kak, kontol kakak enak sekali, besar panjang sampai sesak memek diana” racaunya dengan Vulgar.</p> <p>Mendengar itu aku terpancing untuk melayani racau Vulgarnya.</p> <p>“Enak mana kontol kakak dengan kontol suamimu?” tanyaku.<br /> “Lebih enak kontol kakak, kontol kakak tiada duanya oohh!! Aahh” rintihnya.<br /> “Memek kamu juga enak, legit juga sempit sepeti perawan” kataku.</p> <p>Mendengar itu Diana lalu bertanya,</p> <p>“Enakan mana memek Diana dengan memek Mbak Sinta aaww!! Oohh!!”<br /> “Sama sama enak, tapi lebih enak punya Diana karena masih sempit,” jawabku sambil terus memompa kontolku.</p> <p>Tak lama kemudian aku merasa akan segera meledak begitu juga dengan Diana.</p> <p>“Aahh aku mau keluar Yan”<br /> “Diana juga Kak”<br /> “Kita keluarkan sama sama Yan, aahh!! Oohh keluarkan dimana Yan?”<br /> “Keluarkan didalam saja Kak aahh,” jerit panjang Diana, lalu akupun menyusul.<br /> “Aahh!!” jeritku sambil memeluk erat Diana.</p> <p>Kemudian kami berdua terkulai lemas setelah pertempuran panjang itu. Aku mencium kening Diana lalu mengecup bibirnya.</p> <p>“Terima kasih Yan”<br /> “Sama-sama Kak”</p> <p>Lalu aku segera turun dari ranjang dan berpakaian karena tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Sebelum pulang aku kembali menghampiri Diana yang masih tergolek lemas di ranjang dan melumat bibirnya, sambil berjanji untuk mengulanginya.</p> <p>Setelah dirumah ternyata istri dan anak-anak telah tidur.</p> <p>Dan pada saat suami Diana tak ada di rumah kamipun kembali melakukannya, baik di rumahnya maupun di hotel, sampai suami Diana berhenti dari pekerjaanya, karena Diana telah melahirkan bayi dan harus merawat bayinya.</p> <p>Sampai saat ini saya dan Diana masih tidak dapat memperhitungkan sebenarnya bayi yang dilahirkannya itu merupakan benih dari siapa, apakah benih dariku atau suaminya, karena kalau dilihat secara teliti wajah sang bayi sangat mirip suaminya tetapi badan si bayi sangat mirip denganku. Namun demikian masalah ini sampai sekarang tidak pernah dipermasalahkan oleh suami Diana sehingga perselingkuhanku dengan Diana tidak pernah terbongkar dan kami dua keluarga tetap bersahabat dan tetap akrab.</p> ]]>
</content:encoded>
<wfw:commentRss>./../cerita-seks-pengantin-baru-yang-kesepian/feed/index.html</wfw:commentRss>
<slash:comments>0</slash:comments>
</item>
<item>
<title>Cerita Seks Sepupuku Dan Adiknya Masih Perawan</title>
<link>./../cerita-seks-sepupuku-dan-adiknya-masih-perawan/index.html</link>
<comments>./../cerita-seks-sepupuku-dan-adiknya-masih-perawan/index.html#respond</comments>
<dc:creator>
<![CDATA[ hyvj3 ]]>
</dc:creator>
<pubDate>Thu, 27 Jun 2024 15:05:21 +0000</pubDate>
<category>
<![CDATA[ CERITA PERAWAN ]]>
</category>
<guid isPermaLink="false">./../index.html?p=660</guid>
<description>
<![CDATA[ Cerita Seks Sepupuku Dan Waktu itu tahun 1996, bulan September, aku baru saja pulang dari KKN di desa, di daerah ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Seks Sepupuku Dan Adiknya Masih Perawan" class="read-more button" href="./../cerita-seks-sepupuku-dan-adiknya-masih-perawan/index.html#more-660" aria-label="More on Cerita Seks Sepupuku Dan Adiknya Masih Perawan">Read more</a></p> ]]>
</description>
<content:encoded>
<![CDATA[ <p>Cerita Seks Sepupuku Dan Waktu itu tahun 1996, bulan September, aku baru saja pulang dari KKN di desa, di daerah Kabupaten Blora (sekarang masuk Kabupaten Cepu), dua hari setelah sampai di rumah, ada telepon dari salah satu sepupuku, katanya dia sedang Study Tour ke kotaku. Sepupuku ini masih sekolah di SMUK di daerah Madiun, sebenarnya aku belum pernah bertemu langsung dengan dia, jangan heran ya, sebab dia sepupu jauh sekali. Sepupuku ini baru sempat bertemu dengan orang tuaku dan kakakku saja sewaktu mereka pergi ke daerah asal sepupuku di Jawa Timur. Nah, ketika dia Study Tour ke kotaku, dia ingin mampir dan menginap di rumahku, terus dia minta dijemput di depan salah satu bank di dekat Jalan yang jadi trade marknya kotaku. Maka, aku bersama kakakku menjemput dia.</p> <div></div> <div>Jam 4:25 sore, aku sampai di depan bank tersebut. Mobil kuparkir, lalu aku bersama kakakku sambil membawa dua payung menghampiri bis-bis yang diparkir di depan bank, agak lama juga aku mencari sepupuku ini, maklum aku belum pernah bertemu dia dan kakakku sendiri agak lupa dengan wajahnya. Setelah kurang lebih 5 menit, akhirnya bertemu juga. Kemudian kami pulang ke rumahku, dia senang sekali bisa bertemu denganku. Awalnya dia berencana mau menginap 1 hari tetapi kemudian dirubah jadi 2 hari. Sepupuku ini tidak punya saudara laki-laki, jadi ketika kami bertemu, dia senang sekali dan menganggap aku seperti kakak kandungnya. Selama dia menginap di rumah, dia selalu ingin dekat denganku terus. Aku menganggap biasa-biasa saja dan tidak ada pikiran lain.</div> <div></div> <div>Ketika dia mau pulang, dia mau pulang sendirian, orang tuaku sepertinya tidak tega melepas dia pulang sendirian, akhirnya aku disuruh mengantar dia pulang ke Jawa Timur, padahal waktu itu aku sedang berobat jalan karena aku mengidap alergi serpihan kulit manusia (aneh ya..? aku saja dulu tidak percaya). Aku harus datang ke dokter pribadiku setiap hari Selasa dan Jum’at buat disuntik. Tetapi, menurutku tidak apa-apa karena kupikir nanti jika sudah sampai di sana, aku langsung pulang saja pikirku. Jadilah aku mengantar dia pulang ke Jawa Timur. O.. iya, sebelum terlalu jauh aku bercerita, kuperkenalkan dahulu diriku, namaku Padi dan nama sepupuku Ana. Di jalan kami bercerita tentang daerah asalnya yang ternyata ada di kawasan pantai utara Jawa Timur.</div> <div></div> <div>Kami mampir ke Madiun dulu, karena katanya dia mau mengambil baju-bajunya yang mau dibawa sekalian dicuci di rumah. Sampai di Madiun, kira-kira pukul 5:00 sore, kami menuju tempat kosnya yang sederhana di komplek Akabri. Setelah selesai dengan urusan di Madiun, kami langsung pergi lagi meneruskan perjalanan. Di perjalanan, aku bertanya dengan dia.</div> <div>“Eh, An.. dari sini sampai ke kotamu berapa lama sih..?” tanyaku.</div> <div>“Ya… mungkin kira-kira 8 jam Mas..” katanya.</div> <div>Dalam hati aku berpikir, “Wah, bakalan capek di jalan nih.. sialan…”</div> <div></div> <div>Waktu berlalu, kira-kira pukul 9 malam, kami masih ada di atas bis jurusan ke kotanya. Malam itu kurasakan sangat dingin, apalagi ditambah tiupan angin yang sangat kencang. Di dalam bis yang lumayan penuh itu, aku duduk di kursi kedua dari belakang sejajar dengan Ana. Pintu bis yang ada di sebelah kananku ternyata tidak bisa ditutup, karena kuncinya rusak kata kernetnya. Ana yang merasa kedinginan terkena tiupan angin, bingung mau bagaimana sebab dia tidak membawa jaket atau sweater buat penghangat, sedangkan aku sendiri tidak masalah. Kemudian kutawarkan dia untuk pindah tempat duduk di sebelah kananku, yah.. lumayan dia terlindung dari angin oleh badanku.</div> <div></div> <div>Sekitar 10 menit setelah itu, dia bilang katanya dia merasa mengantuk, aku tawarkan dia untuk tidur saja di pangkuanku. Dia mau dan langsung dia rebahkan kepalanya di pahaku, waktu itu aku sebenarnya agak kawatir dengan penumpang lainnya. Jangan-jangan ada yang berpikiran macam-macam tentang kami, meskipun begitu aku akhirnya memutuskan untuk santai saja. Si Ana dengan cepat tertidur dengan pulasnya, tanganku kutaruh di atas punggungnya biar dia merasa lebih hangat. Tawaranku untuk tidur di pahaku ternyata berbekas sekali di hati sepupuku ini, sepertinya dia merasa ada sesuatu yang lain yang dirasakannya setelah dia merebahkan kepalanya di pahaku. Mungkin karena dia masih anak SMU yang belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang cowok, tetapi kok ya kebetulan justru dengan kakak sepupunya sendiri.</div> <div></div> <div>Tidak terasa, bis telah memasuki terminal di kotanya. Waktu itu jam 1 pagi. Kami langsung mencari becak untuk pulang ke rumahnya. Sampai di rumahnya yang sederhana (bapaknya bekerja sebagai sipir penjara dan ibunya guru SD), aku langsung disambut oleh Omku. Kami berbincang-bincang sejenak sambil nonton MTV. Tidak lama kemudian, Omku minta diri untuk tidur. Aku mempersilakan Omku untuk tidur. Aku sendirian yang belum merasa mengantuk dan meneruskan melihat TV. Si Ana sendiri ada di kamarnya sedang bicara dengan adiknya. Kira-kira 5 menit kemudian, kudengar ada orang datang masuk ke ruang TV dimana aku berada, yang Ternyata Ana.</div> <div></div> <div>Aku bertanya pada dia, “Lho.. An, kamu ngga tidur? Kan udah malem, bahkan pagi nih!”</div> <div>“Lah.. mas sendiri gimana? Kok ngga tidur juga?” dia balik bertanya.</div> <div>“Mas kan udah biasa melek sampai pagi, lagian acaranya bagus nih, MTV music Awards.”</div> <div>“Iya deh… tapi Ana boleh nemenin Mas ngga?”</div> <div>“Boleh aja, asal bikinin Mas kopi panas dong…”</div> <div>“Ih.. Mas curang.. Oke deh Ana buatin.”</div> <div>Kemudian dia beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untukku. Sewaktu dia jalan ke dapur, dia melewati ruangan makan yang gelap, sedangkan ruang dapurnya sendiri dibiarkan terang, sebab Omku orangnya suka makan, jadi kalau malam dia sering ke dapur untuk cari makanan.</div> <div></div> <div>Sewaktu dia melewati kamar makan yang kebetulan bisa terlihat dari tempat dudukku, aku agak kaget karena kulihat dasternya kelihatan menerawang terkena cahaya dari dapur. Si Ana ini sebenarnya tidak hanya manis tetapi juga cantik, tubuhnya agak gemuk, tinggi sekitar 158 cm, ukuran dadanya berapa ya? Tidak tahu.. Kulitnya sawo matang dan yang paling menarik adalah matanya yang khas cewek Jawa, tidak besar juga tidak kecil. Sekilas kulihat bentuk tubuhnya sewaktu dia melewati ruang makan. Jantungku merasa agak berdebar karena aku kan laki-laki, jadi lihat yang seperti itu kan, ya gimana gitu. Selesai dia membuat kopi, segera dia menuju ke arahku, terus dia bergabung nonton MTV. Sejenak aku lupa akan kejadian yang mendebarkan tadi (menurutku lumayan mendebar kan lho).</div> <div></div> <div>Kami berbincang-bincang sambil mengomentari pemenang-pemenang yang sedang diumumkan di TV.</div> <div>Tiba-tiba dia nyeletuk, “Mas.. tadi enak lho tiduran di pangkuannya Mas..”</div> <div>“Kenapa emangnya? Mau lagi ya, sini deket-deket Mas..?” kataku.</div> <div>“Oke deh!”</div> <div>Kemudian dia mendekat ke arahku dan merebahkan kepalanya di pahaku lagi. Nah, sekarang aku mulai berpikiran macam-macam nih, karena kan dia hanya memakai daster dan di dalam dasternya hanya ada CD dan BH saja. Mau tidak mau batangku mulai bereaksi pelan-pelan, tetapi dia tidak tahu. Masih sekitar 10 menit kami berbincang-bincang, tanganku kutaruh di atas pinggulnya, dan kurasa dia tidak keberatan. Lama-lama sepertinya dia mengantuk dan mulai sembarangan kalau menjawab pertanyaan atau komentarku.</div> <div></div> <div>“An.. geser dikit dong, soalnya pahaku kesemutan nih! Sebentar, ganti pake bantal aja yah…?”</div> <div>Kemudian kuangkat kepalanya, kupindahkan dia ke bantal yang ada di sofa, sedangkan kakinya kuangkat ke atas pahaku. Singkat cerita, dia sudah tertidur dengan pulas. Pikiranku mulai keluar pikiran iseng, tanganku aku rabakan di kakinya. Sambil pura-pura memijat, dari bawah pelan-pelan naik ke atas, terus turun lagi, naik lagi… lama-lama aku memijatnya terlalu naik sampai hampir menyentuh pangkal pahanya. Rupanya dia terbangun.</div> <div>“Ngapain Mas..?”</div> <div>“Eh.. ngga kok cuman mijitin, kan kamu capek barusan abis naik bis jarak jauh?”</div> <div>“Mmm.., boleh juga.. tapi mijitnya jangan keras-keras ya Mas…”</div> <div>“Oke An..”</div> <div></div> <div>Nah, aku teruskan kembali memijatnya, tetapi kali ini mijatnya lain, aku kan sedikit-sedikit pernah baca tentang pijatan erotis, maka aku mencoba untuk mempraktekkannya sekarang. Pertama kuletakkan tanganku di telapak kakinya, terus kucari simpul yang bisa membangkitkan gairah seksnya.</div> <div>“Nah, ketemu nih…” batinku.</div> <div>Pelan-pelan kupijat bagian itu sambil tanganku yang satunya juga memijat-mijat paha kanannya.</div> <div></div> <div>Setengah sadar dia bertanya, “Mas, kok enak banget sih pijitannya?”</div> <div>“Tenang aja deh, yang ini belum apa-apa, entar ada yang lebih hebat.” jawabku.</div> <div>Lama kelamaan dia jadi tidak merasa ngantuk, tetapi menikmati pijatan-pijatan tanganku sambil mengeluarkan suara lenguhan yang sangat merangsang, “Nngggh… ngghh… enak loh Mas… agak naik dikit Mas.. yang ini lho di atas dengkul…, ya.. di situ… terus.. terus..”</div> <div></div> <div>Aku tahu dia tidak sadar kalau sedang aku kerjain. Lama-lama kulihat dia sepertinya mau bangkit dari tidurnya. Kemudian waktu kubiarkan, ternyata dia tiba-tiba memelukku dan berusaha mencium bibirku. Aku sendiri menyambut ciumannya dengan bersemangat.</div> <div>“Wah, lha ini nih yang kunanti,” batinku.</div> <div>Ciumannya lumayan dahsyat, sampai lidahnya masuk ke mulutku seperti ular. Lidahku sendiri jadi tidak mau kalah menyambut lidahnya yang masuk ke mulutku (heran juga anak ini kok bisa senekat ini pikirku). Dan ternyata, kok luar biasa ciummannya untuk ukuran anak SMU yang belum pernah pacaran, tangannya melingkar di punggungku dan berusaha masuk ke dalam t-shirtku.</div> <div></div> <div>Gerakan tubuhnya terlihat sekali terbakar oleh rangsangan yang kuberikan melalui pijatan tadi, tubuhnya naik turun sambil sesekali bergoyang ke kiri dan ke kanan. Lama-lama daster yang dia kenakan tertarik ke atas oleh karena gerakannya tersebut, dan tanganku pun bisa leluasa untuk memegang pantatnya. Dia memakai celana dalam yang tipis berenda. Pelan-pelan kumasukkan tanganku ke dalam CD-nya dari atas. Aku berhasil memegang pantatnya, wah.. seketika aku merasakan suatu gelora dalam diriku, sepertinya aku sendiri mulai terserang rangsangan yang sangat kuat. Aku pijat-pijat pantatnya, sementara kami masih saling berpagut, dia sendiri terlihat sangat menikmati pijatan tanganku pada pantatnya. Lalu aku mulai menaikkan tanganku, berusaha untuk membuka dasternya. Tanpa hambatan, aku berhasil menaikkan dasternya sampai ke bagian leher, kudorong dia pelan-pelan ke belakang, dia berusaha untuk tetap memelukku.</div> <div></div> <div>Aku berbisik padanya, “An.. tolong kamu mundur sebentar, aku tolong kamu nglepasin dastermu.”</div> <div>Dia mengangguk pelan, lalu kubuka dasternya. Kulihat tubuhnya yang mulus hanya ditutupi BH dan CD saja.</div> <div>“An.. gimana kalo semuanya aku buka…?” tanyaku.</div> <div>Ternyata ia mengangguk mengiyakan, “Silakan Mas…”</div> <div>Kubuka pelan-pelan BH-nya sambil kubelai dua bukit di dadanya dengan lembut.</div> <div>“Ehm… Mas.., Ana sayang sama Mas…” katanya.</div> <div>Aku tidak menjawab perkataannya. Kemudian kudekatkan wajahku ke buah dadanya dan mulai mengulum-ngulum pucuk bukitnya. Dia terlihat sangat menikmati perlakuanku tersebut, matanya terlihat sayu dan sepertinya mengharap yang lebih dari sekedar dikulum pucuk bukitnya.</div> <div></div> <div>Aku menengok ke arah jam dinding yang terletak di atas pintu, jarum menunjukkan pukul 12:08 malam. Aku sempat berpikir, sebenarnya bahaya kalau tiba-tiba Om atau Tanteku memergoki kami yang sedang asik di sini. Sekejap aku memutar otak, aku lalu berbisik ketelinga Ana.</div> <div>“An.. kita pindah ke kamarku aja yah?”</div> <div>Dia tersentak mendengar bisikanku. Aku sendiri kaget, “Apaan nih? Kok jadi medadak berubah?”</div> <div>Aku rasakan ternyata Ana sepertinya tersadar atas apa yang sedang diperbuatnya. Dengan terburu-buru, dia menyambar pakaiannya dan berusaha lari menuju kamarnya. Cepat sekali kejadian itu berlalu, aku sendiri tidak sempat melakukan apa-apa, aku hanya melongo seperti Mandra diputus Munaroh. Gila, pembaca tahu sendiri kan? Lagi enak-enak bercumbu, tidak tahunya putus di tengah jalan. Tetapi aku sendiri maklum, sebenarnya Ana adalah anak yang taat beribadah. Dan kuyakin yang barus saja kualami, sebenarnya dia melakukannya di bawah sadar.</div> <div></div> <div>Paginya, aku bangun sekitar pukul 9:00, ternyata aku semalam ketiduran di depan TV. Aku ngucek-ucek mataku sambil mencari dimana kacamataku, agak lama kucari, tetapi tidak ada.</div> <div>“Mana ya?” aku bergumam pelan.</div> <div>Kebetulan Tante yang berjalan melewati ruang TV menuju dapur mendengar gumamanku.</div> <div>“Cari apa Di?” tanya Tanteku.</div> <div>“Tante liat kacamata Padi ngga?”</div> <div>“Ngga tuh.. mungkin jatuh di bawah meja, coba cari lagi,” sambil dia berjalan menuju ke arahku ingin membantu mencari.</div> <div>Dicari-cari sudah lama, tetap tidak ketemu, “Yep.. nanti dicari lagi deh Tante.. biar Padi mandi dulu.” kataku.</div> <div>“Oke lah, nanti Tante bantu lagi carinya.”</div> <div>“Oke Tante..” sahutku.</div> <div>Aku bergegas menuju ke kamarku, mengambil peralatan mandiku.</div> <div></div> <div>Kamarku terletak di sebelah kamar Ana, sempat kulihat dari celah kamar yang tidak tertutup semua. Ana masih kelihatan pulas tidurnya. Mungkin dia tidak bisa tidur setelah kejadian tadi malam. Habis mandi aku menuju ke ruang TV lagi untuk mencari kacamataku yang masih sembunyi. Ternyata tante sudah ada di sana sedang nonton TV.</div> <div>Aku tanya ke tante, “Ketemu ngga kacamatanya Tante?”</div> <div>“Ngga tuh Di.. udah tante cari dimana-mana ngga ada, sampai-sampai sekalian Tante ngebersihin ruang ini deh.”</div> <div>“Waduh… gimana nih… susah deh. Aku kan ngga bisa baca kalo ngga pake kacamata,” pikirku, “Ya apa mau dikata, kalo lagi apes, gini deh jadinya.”</div> <div></div> <div>Pukul 9:30, kulihat kamar Ana sudah terbuka, beberapa menit kemudian Reni (ini nama adiknya) bergabung dengan kami di ruang TV sambil membawa nampan berisi 4 gelas teh.</div> <div>Aku tanya dia, “Kok cuman empat gelasnya Ren?”</div> <div>“Ooo, Papa kan udah berangkat kerja Mas.., jadi Reni bikinnya cuman 4.” jawabnya.</div> <div>“Gitu ya?” sahutku.</div> <div>Kami lalu berkumpul membicarakan keadaan Kota Tuban, tiba-tiba si Reni bertanya ke Tante.</div> <div>“Ma.. kacamata yang di kamar Reni itu punya siapa sih?” tanyanya.</div> <div>“Eit! lha ini dia nih si kacamata.. ternyata ngumpet di sana,” spontan aku menyahut, “Heh! Itu pasti kacamataku.”</div> <div>“Betul.. itu pasti kacamatanya Mas Padi, Ren!” sahut Tante, “Sana cepet ambilin!”</div> <div>Reni lalu berdiri dan mesuk kamar untuk mengambil kacamataku. Aku berpikir, mungkin kacamataku semalam kesangkut di bajunya Ana. Sesaat kemudian Reni kembali membawa kacamataku, aku sempat was-was, moga-moga Tante tidak curiga kenapa kok kacamataku sampai bisa mampir kesana. Memang ternyata dia tidak curiga sama sekali.</div> <div></div> <div>Pukul 10:00, Tante pamit mau berangkat ke pasar yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumahnya, si Reni ikut. Aku ditinggal sendirian. 5 menit waktu berlalu, aku mulai bosan, terus aku menuju teras depan ingin merokok. Di teras ternyata ada koran edisi hari itu, aku tertarik untuk membacanya. Kubolak-balik halamannya, tidak ada yang menarik. Bosan lagi deh, ngelamun jadinya. Aku teringat kejadian tadi malam.</div> <div>Dalam hati aku berpikir, “Sekarang di rumah cuman ada aku berdua sama Ana. Wuih! kalo… hehehe kalo… misalnya aku iseng gimana ya?”</div> <div>Akhirnya, ternyata aku nekat juga.</div> <div></div> <div>Aku bangkit dari tempat dudukku, masuk ke dalam. Sampai di depan pintu kamarku, aku punya ide. “Mmmm harusnya pintu depan kututup ya, terus aku pasangkan kaleng krupuk di bagian dalam, biar kalo kebuka dari luar kalengnya kegeser dan bikin suara brisik.” pikirku.</div> <div>Cepat-cepat kukembali ke ruang tamu dan melakukan rencanaku. Setelah itu, aku kembali lagi ke kamar, hati-hati kuintip ke dalam kamarnya Ana, ternyata dia masih pulas tertidur. Aku berjingkat masuk ke kamarnya, perlahan aku duduk di samping tidurnya. Dia tidurnya mengorok hingga aku mau tertawa waktu itu, tetapi kutahan karena takut dia terbangun. Dengan hanya diterangi lampu baca (kamarnya tidak ada jendelanya), kupandangi wajahnya lama. 5 menit lebih kupandangi dia, semakin lama semakin manis.</div> <div>“Gila ya, dengan adik sepupu kok seperti itu?” tapi pikirku, “Biarin aja lah, iseng-iseng berhadiah.”</div> <div></div> <div>Kemudian aku mulai mencoba membelai rambutnya, pelan tetapi pasti. Dia tidak bereaksi, dia tidurnya brukut (memakai selimutnya sampai menutupi leher). Aku berusaha membuka selimutnya perlahan, kutarik ke bawah dan dia tetap tidak bereaksi. Kumasukkan tanganku ke dalam selimutnya sambil berusaha mencari payudaranya. Dengan tanpa kesulitan, tanganku sudah memegang payudaranya, tetapi masih terhalang dasternya.</div> <div>“Eit… nanti dulu… ternyata dia ngga pake BH! Berarti semalam dia ngga pake BH-nya lagi dong, wah asik nih…” pikirku.</div> <div>Lalu kumasukkan tanganku melalui lubang di antara kancing dasternya. Tidak susah juga, tanganku sudah memegang daging empuk dengan tonjolan di puncaknya.</div> <div></div> <div>Ana menggeliat, agak keras menggeliatnya, dia terbangun.</div> <div>“Mampus gua,” pikirku.</div> <div>Dia melotot sambil teriak, “Lepasin dong Mas… apa-apaan nih Mas?”</div> <div>Aku gelagapan berusaha mencari alasan, “An… kamu ngga inget semalem ya?”</div> <div>“Lupain aja Mas! Ana ngga mau lagi, ngga boleh, entar dosa Mas!”</div> <div>“Tapi Ana semalem udah ngelakuin dosa lho… kenapa ngga sekalian aja?” rayuku.</div> <div>Kali ini dia benar-benar marah. Ana teriak-teriak menyuruhku keluar dari kamarnya. Aku turut saja, untung letak rumahnya berjauhan dengan tetangga, jadi aku tidak takut teriakannya terdengar tetangganya.</div> <div></div> <div>Wah… gagal nih ceritanya.., aku akhirnya hanya meraba-taba batang kemaluanku yang menganggur karena tidak jadi dipakai. Aku duduk di ruang TV lagi. Melihat acara tarian Bangkok, lumayan lah buat obat, melihat penyanyi Thailand yang cantik-cantik. Sebentar kemudian Ana keluar dari kamarnya, dia menuju ke arahku. Aku berusaha tidak peduli, dia lalu duduk di dekatku.</div> <div>Katanya, “Mas maapin Ana ya? Ana udah bentak-bentak Mas…”</div> <div>“Ngga papa An.., Mas yang salah.” balasku.</div> <div>“Sebenarnya Ana sayang sama Mas, tapi kita kan masih bersaudara, apalagi nanti kalo ketahuan ama Papa-Mama kan bisa berabe Mas!” jelasnya.</div> <div>“Ya sudah.. lupain aja An, toh kamu masih muda. Nanti juga pasti ada cowok lain yang lebih pantas buat kamu.” lanjutku.</div> <div>“Iya Mas, Mas… Ana mau ngasih sesuatu buat Mas.”</div> <div>“Apa An?” tanyaku.</div> <div>“Liat sini deh Mas..” (dia mulai tidak kaku lagi)</div> <div> <figure id="attachment_5803" class="wp-caption aligncenter" aria-describedby="caption-attachment-5803"><figcaption id="caption-attachment-5803" class="wp-caption-text">Cerita Seks Sepupuku Dan Adiknya Masih Perawan</figcaption></figure> </div> <div></div> <div>Aku menoleh ke arahnya, tiba-tiba dia mendekatkan bibirnya ke arah bibirku.</div> <div>“Mmpphh…”</div> <div>“Plas!” jantungku spontan berdegup keras, “Kok tau-tau nyium sih?” pikirku, tetapi kunikmati saja, enak sih.</div> <div>Pertamanya dia hanya mau mengecup saja, tetapi kulingkarkan tanganku di lehernya, dan kudekap dia. Dengan lembut kukecup bibirnya, dia tidak berontak ternyata, aku pererat dekapanku, dada kami sudah saling menempel. Aku merasakan kalau dia masih belum memakai BH-nya. Dengan perlahan kubelai punggungnya, dasternya yang terbuat dari sutera terasa halus sekali, sensasinya justru membuatku jadi semakin ON saja. Coba saja pasangan anda disuruh pakai lingerie yang bahannya sutera, ditanggung kalau diraba pasti enak sekali. Lama kami berciuman dengan posisi itu, akhirnya capai juga aku. Kulepas pelukanku dan mengakhiri ciuman.</div> <div></div> <div>Aku berkata pada Ana, “Sini An… Mas pangku..”</div> <div>“Ngga ah Mas… nanti kayak tadi malem deh jadinya…!”</div> <div>“Percaya deh sama Mas… ngga sampe ngelakuin yang ngga-ngga kok, okey?”</div> <div>Dia akhirnya mengalah, mungkin dia masih ada rasa ingin juga, dia juga tahu kalau sekarang kami hanya berdua saja di rumah, So? Why not?. Dia duduk di pangkuanku menghadap TV, tanganku bergerak dengan bebas di dadanya.</div> <div>Kuraba dadanya sambil berkata, “An.. Ana ngga marah-marah lagi nih?”</div> <div>“Biarin lah Mas.. udah terlanjur nih, tapi janji ya jangan kebablasen…” pintanya.</div> <div>“Okey An!”</div> <div>Dari belakang, sambil tanganku membelai payudaranya, kulihat dia memejamkan matanya menikmati belaian tanganku. Tanganku meraba payudaranya dengan hati-hati, penuh perasaan aku membelainya, aku sendiri memejamkan mataku jadinya. Pelan tapi pasti, tanganku bergerak turun menuju perutnya. Agak dekat dengan V-nya kugunakan kuku jariku yang agak panjang untuk membangkitkan rangsangan di perutnya. Kulirik dia, terlihat dia menahan perutnya dengan membuat kaku daerah itu.</div> <div></div> <div>Dia menikmati perbuatanku, perlahan dasternya kutarik ke atas, dia diam saja, ujung dasternya sudah sampai ke pahanya. Sedikit lagi pasti aku bisa meraih celana dalamnya. Akhirnya sampai juga, CD-nya sudah tidak tertutup lagi, sekilas kulihat bercak basah di ujung V-nya. Tanpa berpikir lama, kupindahkan tanganku ke sana, tanganku merasakan memang di daerah itu sudah basah. Kusimpulkan pasti dia sudah terangsang berat. Lalu kuselipkan tanganku ke dalam CD-nya, tetapi dia kali ini menahan tanganku supaya tidak masuk ke sana. Aku urungkan niatku untuk itu, tanganku hanya menggosok-gosok dari luar saja. Kemudian terlihat dia mengeluarkan lenguhan dan badannya menegang, seperti menahan sesuatu. Orgasme rupanya. Lalu badannya melemas lunglai di pelukanku.</div> <div></div> <div>Tanganku yang masih berada di selangkangannya merasakan kalau CD-nya bertambah basah. Kemudian Ana memandangiku. Lama kami berpandangan.</div> <div>Ana kemudian bicara, “Mas, kita lakukan yuk. Ana udah ngga tahan…”</div> <div>Wah, benar-benar kejutan..! Ana tiba-tiba berubah pikiran. Hal ini tidak akan kusia-siakan. Tanpa bicara lagi, langsung kucium dan kuremas dadanya yang masih tertutup daster. Ana melenguh keenakan karena remasan itu. Kemudian aku melepas remasannya. Kupandangi dadanya di balik dasternya, kupandangi seluruh tubuhnya, kulitnya yang sawo matang. Kemudian aku melepas dasternya karena akan merepotkan saja.</div> <div></div> <div>Kini ia polos tanpa satu benang pun menutupi tubuhnya. Kemudian aku membopongnya ke kamar tidurku dan kubaringkan ia di tempat tidur, lalu kuciumi seluruh tubuhnya. Tubuh Ana bergetar hebat, menandakan bahwa dia baru pertama kali ini melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Kemudian aku mencium dan menjilat bagian perutnya dan mulai ke bawah dan mulai meraba serta membuka kedua pahanya degan kedua tanganku. Tangan kananku membuka belahan vaginanya sedangkan seluruh bagian mulutku mulai mengolah bibir-bibir vaginanya. Tangan kiriku masih meremas buah dadanya yang sebelah kanan. Aku merasakan adanya cairan yang mulai membasahi permukaan bibir vaginanya. Aku terus menyedot dan menggigit-gigit perlahan labia mayoranya dengan asyik, sedangkan tangan kiriku sekarang meraba-raba klitorisnya dengan cairan pelumas dari lubangnya.</div> <div></div> <div>Asyik sekali, karena terlalu keasyikannya, secara tidak sadar, ada dua tangan menjambak rambutku, aku tidak menghentikan aktivitasku. Mulanya kupikir hanya gerakan kenikmatan yang diterimanya secara erotis. Eh, kok tambah lama terasa ada goyangan perlahan di bagian selangkangannya. Begitu pula tanpa kusadari, ada suara-suara nafas tertahan dan jambakan di rambutku bukan lagi jambakan pasif, tetapi mulai membelai dan memegang kupingku. Aku tiba-tiba sadar. Dia benar-benar menikmatinya. Aku termanggu duduk di antara selangkangannya dan melihat ke arah wajahnya.</div> <div>“Kok.., berhenti Mas..?” suaranya berat perlahan dengan tatapan wajah yang sayu.</div> <div>“Ehh.. terusin Mas… hhh… kurang dikit lagi..!” suaranya tertahan.</div> <div></div> <div>Aku masih terduduk bingung dan memandangnya dengan pandangan bodoh. Dan yang menjengkelkan, batang kejantananku tidak berkompromi. Dia tegak mengacung, sehingga mencuat di antara kaosku. Kepalanya tampak licin karena cairan bening yang keluar. Sebenarnya batang kejantananku lumayan besar dan panjang, sehingga tampak mencuat tinggi. Tiba-tiba Ana bangun, dan duduk di hadapanku, memandangku dengan sayu. Tiba-tiba tangannya mulai bergerak ke arah batangku, dan memegang lama sambil tersengal-sengal sehabis melumatnya. Kemudian memandangku perlahan dan meletakkan dirinya telentang di ranjang. Ana berdiri di atas tempat tidur dan berjongkok di depanku. Kemudian dia membuka kedua pahanya dan mengangkat lututnya ke atas sehingga lubangnya terlihat.</div> <div></div> <div>Ia meraba permukaan vaginanya sambil perlahan memandangku dan berkata, “Ayo Mas… masukin..!”</div> <div>Aku seperti tersihir, antara bingung dan nafsu, menggerakkan diri untuk berlutut di antara kedua pahanya dan memegang kepala batangku yang licin terkena ludahnya dan mengarahkannya ke lubang merah mengkilat itu. Sejenak aku lupa bahwa dia masih belasan tahun, yang kurasakan secara reflek setelah dikenyot habis-habisan olehnya, ialah bahwa ia sudah tidak perawan lagi.</div> <div>Dan, “Ssleeeppp..” ketat tetapi tidak begitu menjepit dan tanpa hambatan sama sekali (benar dugaanku). Aku menusukkan seluruh panjang batangku ke dalam lubang itu, dan hebatnya seluruh panjangnya batang kejantananku itu masuk total ke dalamnya serta membiarkannya sejenak merasakan denyutan hangatnya. Ana melenguh agak keras. Aku khawatir juga karena dia akan merasakan sakit di bagian dalam vaginanya. Tetapi karena malaikat nafsu lebih berkuasa, ya sudah aku santai saja dan mulai menarik batangku itu dari dalam lubangnya dan memasukkannya lagi seluruhnya.</div> <div></div> <div>Entah karena apa, aku tidak begitu merasakan rasa nikmat yang cepat naik. Memang terasa basah, licin dan enak tetapi, ya lebih karena ini memang sedang bersetubuh. Aku mulai berpraktek dengan berbagai macam cara menusuk dan arah tusukan ke dalam lubang vaginanya. Yang mulai mencemaskanku, Ana sama sekali tidak berusaha menahan suaranya. Ia mulai melenguh dan mengerang keras-keras ketika aku mulai mempercepat gerakanku. Aku antara cemas dan mulai nikmat, tidak peduli lagi. Lagi pula suaranya mulai merangsangku dan ini membuatku menusuk-nusuk dengan gerakan yang cepat dan keras.</div> <div>“Aaahhh… aayooo Mass… aaduhh… cepat Masss..!” pintanya dengan nafsu.</div> <div>Dia mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya. Bunyi beradunya kemaluan kami mulai terdengar keras, berkecepak-kecepak dan aku mulai merasakan lereng gunung telah kucapai. Tinggal mendaki cepat dan sampai di puncak.</div> <div></div> <div>Tiba-tiba Ana menghentikan gerakanku, dan menutup kedua pahanya sehingga terasa ada jepitan yang luar biasa di sekujur batangku. Kemudian dia memandangku sayu. Aku tahu apa yang dimaksudkannya dan mulai menggenjot lagi. Aku menjepitkan kedua betisnya di antara leherku dan bertumpu pada kedua tangan, sedang aku membentuk busur dengan tubuhku, merapatkan kedua pahaku sehingga terasa batangku membesar dan mulai menusuk-nusuknya cepat.</div> <div>“Aaahhh… sss…” terdengar bunyi-bunyian antara suaranya yang merangsang dan bunyi kecepakan kemaluan kami yang beradu, sedangkan aku sendiri mengeluarkan suara helaan nafas yang cepat.</div> <div>Beberapa menit kemudian, aku merasakan aliran yang semakin cepat memenuhi pinggul dan seluruh tubuhku. Keringatku telah mengucur deras.</div> <div></div> <div>Dan, “Annn… Annaaa… aaadduuhhh… ssss… Ann..!” spermaku menyemprot deras ke arah perutnya. Aku mengerang keras dan terus mengocok batang kemaluanku. Kemudian tanganku yang mulai begerak ke arah vaginanya segera menusuk-nusukannya. Lama aku terus menusuk-nusuk lubangnya karena rasa nikmatnya terus mengalir hingga tidak berapa lama kemudian Anna berkata, “Masss… aaa… Maass… ssshhh… aaddduuhh..!”</div> <div>Ana menaikkan pelvisnya dan menerima tusukan-tusukan terakhirku dengan denyutan dinding vagina yang terasa cepat dan kenyal. Aku menindih tubuhnya yang kecil dan merasakan detak jantung yang cepat di dadanya dan dengusan nafas hangat di ubun-ubunku. Jariku masih menancap dalam di dalam vaginanya dan merasakan denyutan yang tidak kunjung reda.</div> <div></div> <div>Kemudian aku tergeletak di sampingnya, aku berkata kepada Ana, “An… kamu sekarang mandi saja ya..? Kayaknya kamu bau deh…”</div> <div>“Sialan… iya deh, Ana mandi, makasih ya Mas… Ana udah dikasih pelajaran sama Mas.”</div> <div>“Sama-sama An..”</div> <div>Aku tidak merasa menyesal karena tidak dapat seperti yang kubayangkan (gadis yang benar-benar perawan). Yah, lumayanlah bisa meraba-raba kan? Ana lalu berdiri hendak menuju ke kamar mandi, sebelum dia pergi dia menoleh ke arahku lalu menunduk dan menciumku sebentar. Aku belaikan tanganku ke dadanya dan V-nya. Dia tersenyum memandangku, lalu bergegas menuju kamar mandi. Saat dia menutup kamar mandi, aku sempat dengar langkah kaki berlari menjauh dari arah pintu ruang tamu. Aku cepat-cepat menuju ruang tamu ingin mengetahui siapa yang baru saja dari sana. Sempat kulihat warna bajunya, biru seperti yang dipakai Reni. “Mungkinkah..?” batinku.</div> <div></div> <div>Aku kembali ke ruang TV, sambil menebak-nebak, “Apa iya.. tadi itu si Reni, terus kalau benar, berarti dia tahu dong kita lagi ngapain..? Waduh, terlalu serius sih tadi… jadinya begini deh.”</div> <div>Kurang lebih 20 menit, Tante dan Reni datang dari pasar, Tante katanya mau masak Sop buntut dan membuat Rujak cingur. Siang jam 12:30, Ana mengajakku untuk makan. Saat makan, Reni kelihatan agak canggung melihatku, pikiranku lalu menghubungkan dengan peristiwa yang tadi kualami.</div> <div>“Berarti tadi memang benar Reni..” pikirku.</div> <div>Kami tidak bicara banyak saat di meja makan. Akhirnya sore pun tiba, Omku sudah datang sejak jam 3:00 tadi. Aku lewatkan seharian dengan bermain playstation dengan Ana, sedangkan Reni dari tadi berada di dalam kamarnya. Tidak tahu sedang berbuat apa dia, betah-betahnya di dalam kamar terus. Tante sendiri ke rumah tetangga untuk membantu masak, kebetulan tetangga ada yang sedang punya hajat.</div> <div></div> <div>Jam 8:00 malam, aku membaca-baca majalah di ruang tamu. Ana dan Reni di ruang TV sedang nonton HBO, tidak tahu apa film-nya. Tante sudah tidur di kamar belakang, lelah sehabis membantu tetangga. Si Om malam ini mendapat tugas jaga malam. Jam 9:00, Ana ke ruang tamu, dia bicara padaku kalau mau tidur duluan, Reni masih mau nonton TV menunggu opera sabun kegemarannya di HBO kata Ana. Ana suruh aku menemani Reni di ruang TV, soalnya si Reni anaknya sedikit penakut katanya. Jadi aku pindah ke ruang TV, kubawa majalah yang sedang kubaca. Aku rebahkan badanku di sofa panjang di depan TV. Reni sendiri duduk di kursi favoritnya, tanpa sekali pun menengok ke arahku. Aku teruskan baca artikel yang sempat terputus tadi, sambil sekali-sekali aku melihat ke arah televisi. Aku lihat ke arah jam tanganku, ternyata sudah jam 11:13.</div> <div></div> <div>Aku berkata kepada Reni, “Ren.. kamu ngga ngantuk?”</div> <div>Dia tidak menjawab, kuulangi lagi dua kali baru dia menjawab, “Belum ngantuk kok Mas, lagian film-nya barusan mulai nih.”</div> <div>“Oke.. kalau gitu Mas pergi tidur dulu ya..?”</div> <div>“Ntar dulu dong Mas, tunggu film-nya abis… kan Reni takut nonton sendirian, film-nya agak horor nih!” pintanya.</div> <div>“Sofanya dibuka aja… jadiin tempat tidur, Mas tidur di situ aja.” katanya lagi.</div> <div>“Emang bisa Ren..? Oke deh Mas coba.”</div> <div>Aku coba deh usul Reni, dan aku akhirnya tidur di sofa yang sudah diubah menjadi tempat tidur itu. Tidak tahu berapa lama aku tertidur di situ, tiba-tiba aku terbangun merasakan tanganku ada yang memegang. Aku buka mataku sedikit-sedikit, terlihat olehku Reni memegang tanganku, digosok-gosokkannya tanganku ke selangkangannya. Terasa olehku bulu-bulu halus di ujung jariku. Kulirik mukanya, dia mendesah amat pelan. Wajahnya menghadap ke arah televisi, aku jadi curiga, jangan-jangan?</div> <div></div> <div>Aku lalu mencoba melihat ke layar televisi, ternyata di sana terlihat film-nya sudah bukan HBO lagi. Kesimpulanku, si Reni ternyata suka nonton sampai malam berarti hanya untuk menyetel VCD porno. Wow! berarti kakaknya kalah dong sama adiknya. Perlu diketahui, jarak umur antara Ana dengan Reni hanya 1 tahun lebih sedikit, apalagi Reni anaknya agak bongsor, tingginya sepundakku, tidak begitu gemuk tetapi cukup berisi. Singkat kata, aku beruntung kali ini, karena mendapat daun muda nih. Perlahan, tanganku yang masih bebas berusaha melorotkan celana dalamku ke bawah. Sementara Reni masih asyik dengan kegiatannya yang semakin lama semakin menjadi, dia seperti terobsesi dengan film dari VCD tersebut. Lenguhannya kadang-kadang terdengar keras.</div> <div></div> <div>Lalu perlahan-lahan tanganku yang dia pegang kutarik ke arah kemaluanku. Setelah dekat, tanganku yang satunya dengan cepat kurangkulkan ke pinggangnya dan menariknya ke atas tubuhku. Dia kaget sekali, hampir dia berontak, tetapi selanjutnya dia justru memegang batang kejantananku dan mulai mengocok-ngocok dengan lembut. Aku pun lalu mengimbanginya, kuubah posisiku agar lebih enak dengan bersandar ke belakang, ke sandaran sofa. Dia menoleh ke arahku, terlihat wajahnya yang khas ABG, mengingatkanku kepada cewek-cewek yang suka nongkrong di mall-mall. Posisi tubuh kami akhirnya saling berhadapan, dia menggesekkan tubuhnya naik turun. Payudaranya ditempelkan ke dadaku. Nafasnya terdengar keras, khas orang yang sedang terangsang berat, “Sshhhsshhsshhss…” seperti itu deh kalau tidak salah.</div> <div></div> <div>T-shirtnya yang gombrong mulai basah terkena keringatnya, memang malam itu udara terasa sangat panas, aku sendiri juga merasa kepanasan. Aku peluk dia, tanganku kutelusupkan ke dalam t-shirtnya dari belakang, sedangkan bibirku tidak tinggal diam begitu saja, kucium belakang kupingnya dengan pelan, kuhembuskan nafas secara perlahan ke daun telinganya. Terasa olehku Reni semakin menggila, terasa dari gerakan tubuhnya yang turun naik dengan cepat, digesekkannya dadanya ke dadaku, juga selangkangannya dia gesek-gesekkan ke kemaluanku dengan bernafsu. Tanganku yang berada di punggungnya, akhirnya kugeser ke pantatnya, dari atas punggung kugerakkan ke bawah, masuk ke celananya sebelum sampai ke pantat. Kuputar ke samping dengan agak cepat, lalu kuteruskan ke pinggang mencari celana dalamnya, kuraba dari luar celana dalamnya, pantatnya yang empuk kuremas dengan gemas. Aku menyesuaikan dengan irama gerakannya yang maju mundur. Kontan dia makin menggila, tangannya naik ke atas, rambutnya menyuguhkan gerakan yang erotis sekali. Dia berusaha menanggalkan t-shirtnya.</div> <div></div> <div>Setelah t-shirtnya lepas, dia pegang kepalaku, menariknya ke arahnya dan melumat bibirku dengan sangat bernafsu. Reni tidak memakai BH, payudaranya yang berukuran lumayan besar terlihat mengkilat karena basah oleh keringat. Aku menjilat-jilat payudaranya, kukulum putingnya yang kecil dan tidak begitu menonjol.</div> <div>Dia berteriak pelan, “Mas..!”</div> <div>Aku lalu berpindah ke bibirnya yang mungil, kulumat dengan bernafsu bibirnya itu. Dia mendesah keenakan, akhirnya dia tidak tahan lagi.</div> <div>“Ayo Mas, kayak yang di VCD itu lho Mas…” pintanya.</div> <div>Kujawab, “Yang gimana Ren..?”</div> <div>“Cepetan dong Mas… Reni udah ngga tahan nih..”</div> <div>“Emang Reni udah pernah..?”</div> <div>“Belum Mas… makanya Reni pengen coba, cepetan dong Mas…”</div> <div></div> <div>Kami lalu berdiri berhadapan, aku melepas pakaian yang melekat di tubuhku, dia begitu juga melepas semua pakaian di tubuhnya. Dengan bernafsu dia pegang batang kemaluanku untuk dikocok-kocok, sensasinya, wuah! Tidak tergambarkan. Dipegang oleh anak baru umur 18 tahun! Lalu sebentar kemudian, dia melepas batang kemaluanku dan membalikkan tubuhnya, berpegangan pada lemari buku. Posisinya sekarang agak menungging membelakangiku, pantatnya yang belum begitu besar terlihat kenyal. Dari belakang, aku melihat kemaluannya sudah merekah, ada daging yang keluar dari kemaluannya, entah apa itu namanya. Mungkin itu kli yang dinamakan clitoris. Tetapi pemandangan itu menjadikan batang kejantananku menjadi berdenyut-denyut ingin merasakannya.</div> <div></div> <div>Kudekati dia, kugesek-gesekkan kepala senjataku ke daging yang menyembul keluar itu. Tangan Reni dengan tergesa-gesa menarik batang kejantananku untuk segera dimasukkan ke dalam liang kemaluannya. Terasa agak sulit untuk memasukinya, kutusukkan dengan keras karena aku sudah sangat bernafsu. Aku melihat ke arah wajahnya. Pandangannya ternyata ke arah layar televisi, sambil sesekali bibirnya mengeluarkan desahan-desahan merangsang.</div> <div>“Gila!” pikirku, “Dia ternyata maniak sama VCD porno.”</div> <div>Aku tingkatkan kecepatanku dalam menggoyang. Lama-lama aku merasa pinggangku capek, dan aku coba mengarahkan dia untuk mengganti posisi classic, aku tiduran dan dia yang di atasku. Dia menurut. Sambil memegang pantatnya, aku tiduran dan menikmati goyangannya. Badannya terlihat mungil bila dibandingkan dengan tubuhku, suara desahannya terdengar melengking lirih di telingaku.</div> <div></div> <div>Pada puncak kenikmatannya, dia melengkungkan tubuhnya ke belakang, tangannya menahan berat badan tubuhnya dengan gemetar. Rasa hangat yang terasa oleh batang kejantananku menjadi bertambah seiring dengan tercapainya puncak kenikmatannya. Sedangkan aku sendiri belum merasakan puncak. Reni merangkulku dengan lemas. Setelah itu, dia berbisik ke kupingku.</div> <div>“Makasih ya Mas, Mas telah memberi Reni melebihi dari mbak Ana…”</div> <div>“Jreng! Terkuaklah kebenaran peristiwa siang tadi, ternyata memang benar. Reni telah melihatku bermesraan dengan kakaknya.” daliam hatiku.</div> <div>“Loh, jadi tadi Reni ngelihat Mas padi gituan sama mbak Ana to?”</div> <div>“Heeh Mas… Reni kepingin, lagian Reni sering ngeliat di VCD. Kayaknya enak banget deh Mas… dan ternyata memang bener.”</div> <div>“Oke deh, tapi Mas Padi belom sampai puncak nih.. gimana dong? Kan kasihan Reni udah capek.”</div> <div></div> <div>“Begini aja Mas… dari tadi siang emang Reni udah merencanakan ini, gini rencana Reni, tadi waktu Reni ngeliat Mas sama Mbak Ana gituan, sebenarnya Reni mo ngambil Dompet Mama yang ketinggalan. Trus Reni punya rencana, Reni beli CTM (obat tidur) buat dikasih ke minuman Mama ama Mbak Ana, nah.. tadi Mbak Ana sama Mama udah minum obatnya (dicampur sama teh) masing-masing 3 butir.. hehehe.”</div> <div>“Terus gimana dong?” sahutku.</div> <div>“Sekarang Mbak Ana kan pasti pules banget tidurnya, diapa-apain pasti ngga bangun deh. Kan tempat tidur sebelahnya lagi kosong…”</div> <div>“Heh!” aku spontan tahu apa yang dimaksudkannya, “Sip deh! Oke Ren! Sekarang kita pindah aja ke kamarmu…”</div> <div>“Ayo..!”</div> <div></div> <div>Kemudian kami berdua berdiri dan menuju ke arah kamar Ana. Memang benar Ana tertidur lelap. Hanya iseng saja, aku membuka dasternya dan menyentuh kewanitaannya Ana dan memasukkan jari telunjuk dan tengah. Ternyata memang tidak bangun! Hanya saja dia mengeluarkan sedikit lenguhan-lenguhan nikmat yang dia rasakan. Kemudian aku mulai memainkan vaginanya sampai basah. Tetap saja Ana tidak bangun sama sekali.</div> <div>“Mas, udah dong. Kok malah Mbak Ana yang dimaenin. Giliran Reni dooong…” keluh Reni karena sudah terbalut nafsu yang tinggi.</div> <div>Padahal tadi sudah puas. Lagipula aku juga sudah bernafsu karena tadi dalam permainan pertama belum selesai.</div> <div></div> <div>Kemudian aku melepaskan jilatan pada vagina Ana dan berpaling ke Reni ysng sudah mulai memuncak nafsunya. Kemudian aku mulai naik ke atas ranjang dan menidurkan Reni. Secara intense, kami pun mulai pagutan. Tetapi ketika kami berciuman, beda sekali dengan yang pertama. Seperti disirap, kucium pipinya, mulutnya, berhenti lama di situ. Mulut kami berpagut seperti memecah ribuan rindu. Lidah kami bermain di sana. Tidak lama kemudian, kuturunkan lidahku ke arah lehernya, dia menggelinjang, matanya terpejam, tangannya bergidik seperti menahan gelombang perasaannya sendiri. Ketika putingnya kuraba, dia mulai melenguh. Dengan gerakan halus, aku mulai meremas-remas sehingga Reni merasa keenakan. Sementara bibirku sudah beralih, tidak lagi di bibirnya tetapi sudah menjilati telinga, dan lehernya.</div> <div></div> <div>Karena buah dadanya sudah terbuka, mulutku pun bergeser ke puting susunya yang sudah menegang. Ketika kumainkan dengan lidahku, lenguhannya semakin panjang. Tangan kananku pindah ke arah vaginanya dan mulai meremasnya. Sambil memainkan klitorisnya, aku terus menjilati kedua payudaranya. Ketika aku merasakan kemaluannya sudah sangat basah, aku mulai bernafsu untuk melakukan foreplay yang lebih lama. Tidak lama kemudian, mulutku menjilat ke arah perut, pinggang dan sasaran terakhir adalah klitorisnya yang merah. Karena tidak tahan, Reni berontak dan ingin merubah posisi.</div> <div>“Ren, duduk di depan mukaku…” pintaku sambil menolongnya berpindah posisi.</div> <div>Dia pun kemudian duduk dan menempatkan liang kenikmatannya tepat di wajahku. Lidah dan mulutku kembali memberikan kenikmatan baginya. Responnya mengejutnya.</div> <div>“Aughhh…” setengah berteriak dan kedua tangannya meremas buah dadanya. Kuhisap dan kujilati terus, semakin basah liang kenikmatannya.</div> <div></div> <div>Tiba-tiba Reni berteriak, keras sekali, “Aahhh… ahhh,” matanya terpejam dan pinggulnya bergerak-gerak di wajahku.</div> <div>“Aku.. keluar,” sambil terus menggoyangkan pinggulnya dan tubuhnya seperti tersentak-sentak.</div> <div>Mungkin inilah orgasme wanita yang paling jelas kulihat. Dan tiba-tiba, keluar cairan membanjir dari liang kenikmatannya. Ini bisa kurasakan dengan jelas, karena mulutku masih menciumi dan menjilatinya.</div> <div></div> <div>“Aduh… Mass.. enak banget. Lemes deh.” katanya. Dia terkulai menindihku.</div> <div>“Enak?”, tanyaku.</div> <div>“Enak banget, kamu pinter yah. Ngga pernah lho aku klimaks kayak tadi.”</div> <div>“Akh, yang bener..? Kamu kan tadi udah ngerasain.” kataku mengingatkan pada permainan pertama kami.”</div> <div>“Tapi, uuhh… lebih enak yang ini..”</div> <div>Ternyata Reni masih menikmati sisa-sisa klimaksnya. Tetapi karena belum puas, langsung saja kujilat kembali liang kemaluannya. Semakin lama semakin asyik dan sangat enak, dan dia pun merintih-rintih kecil.</div> <div>“Mass… nakal ahhh… kok… akkhh… dimaenin lagi… ouuchh… siiich… uwuuhh ooo… sstt akhs… akhs… akhs… ooohhh aahh… sstth,” sambil tubuhnya agak bergerak tidak karuan, mungkin jilatanku tidak seberapa tetapi kulihat dia sedang keasyikan menikmati jilatanku.</div> <div></div> <div>Lalu dia berdiri dan menarik tubuhku ke lantai. Di situ kami berciuman lagi, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang hangat di sekitar liang kemaluannya, kuingin batang kemaluanku dimasukkannya ke lubang kemaluannya. Soalnya aku masih ragu. Walaupun tadi sih berani. Tetapi takut si Ana bangun. Kemudian aku memberanikan untuk bicara.</div> <div>“Ren, aku masukin lagi yaaa… Tadi kan belum puass…”</div> <div>Reni tidak menjawab. Dia hanya merintih keenakan. Karena malas bermain sambil berdiri, aku mendorong Reni hingga tertindih oleh badanku. Reni mengerang keras karena vagina tertindih oleh adikku yang sudah menegang tinggi. Kemudian mulai lagi kugerakkan tanganku mencakar halus pinggangnya sampai ke payudaranya. Reni meremas kedua tanganku, menahan geli yang ditimbulkannya.</div> <div></div> <div>“Ssshh… ssshhh!” Reni mendesis berkali-kali menahan kenikmatan itu.</div> <div>Kembali aku memainkan klitorisnya dengan tanganku, sementara kujilati kedua pahanya.</div> <div>“Aaahhh… ssshhh,” Reni mengerang lirih.</div> <div>Aku menikmati aroma kewanitaannya yang semerbak bersamaan keluarnya cairan dari liang kemaluannya. Kubenamkan wajahku ke liang kemaluannya sambil menjilati bibir kemaluannya. Klitorisnya yang berwarna merah jambu kukulum sambil kumainkan dengan lidahku. Tubuh Reni menggelinjang bergetar.</div> <div>“Uuuhffsss… aaahhh!” Reni menjerit menahan kenikmatan sambil tangannya menggenggam tepi ranjang.</div> <div>Kurasakan cairan kemaluannya deras mengalir dan kuhisap dengan penuh kepuasan.</div> <div></div> <div>“Masss… masukin sekarang.. aku ngga tahan nih..” Reni lirih memohonku untuk segera memasuki tubuhnya.</div> <div>Aku segera menempatkan tubuhku di atas tubuhnya yang ramping, seksi serta kencang itu. Berdesir darahku melihat Reni terbaring polos telanjang. Ini bukan kesekian kalinya aku mengaguminya. Badan Reni kurus tetapi kencang dan atletis seperti pelari sprinter tetapi untungnya tidak sampai berotot.</div> <div>“Maass… cepat doong… aakkhh.. ngga tahan nih…”</div> <div>“Ok, tenang aja..”</div> <div></div> <div>Sejenak sempat kudengar Reni mendesis saat meraih kemaluanku.</div> <div>“Uuu… besar dan kuat..” ujarnya setengah berbisik seperti berbicara pada dirinya sendiri.</div> <div>Begitu ujung kepala batang kejantananku menempel di bibir kewanitaannya, kurasakan getaran listrik yang mulai menjalar di seluruh tubuhku. Lalu perlahan kudorongkan ke dalam liang kemaluannya.</div> <div>“Uuhhss… yess, Masss… uuuffssh,” Reni mengerang sambil mendongakkan kepalanya.</div> <div>Dengan satu dorongan berikutnya, batang kemaluanku sudah masuk secara penuh ke dalam liang kenikmatan Reni yang hangat dan tebal. Reni mengalungkan kedua tangannya di leherku dan kedua kakinya melingkar di pinggangku.</div> <div></div> <div>Aku mulai gerakan memompa liang kemaluannya.</div> <div>“Yess… ufff Maas…” Reni menjerit halus sambil memejamkan matanya.</div> <div>Gerakanku semakin lama semakin cepat dengan tekanan yang semakin kuat menerobos kedalaman liang kemaluan Reni yang merespon dengan berdenyut-denyut seperti memijit batang kemaluanku.</div> <div>Tiba-tiba Reni membuka matanya dan berbisik lirih, “Mas ganti posisi… aku mau nih keluar nih..”</div> <div>Kami segera ganti posisi, badan Reni membalik dalam posisi menungging (doggy style). Katanya dia biasa orgasme dalam posisi ini.</div> <div></div> <div>Aku menuruti permintaan Reni yang jelas dalam posisi ini aku jadi bisa melihat postur Reni lebih lengkap. Biarpun Reni ramping, tetapi dia memiliki pantat yang padat dan berisi sehingga dengan pinggangnya yang ramping makin membuat pantatnya montok. Aku segera mengarahkan batang kemaluanku kembali, kali ini penetrasi dari belakang.</div> <div>“Srrrt…” makin lancar penetrasiku kali ini soalnya bagian luar liang kemaluan Reni makin basah.</div> <div>Reni menggenggam pegangan ranjang degan kedua tangannya. Aku menciumi lehernya dari belakang sambil kadang-kadang menggigit pundaknya. Ternyata Reni sangat aktif dalam posisi ini. Dia semakin aktif bergerak, selain mengikuti gerakan maju mundurku, pinggulnya pun bergoyang mengocok batang kemaluanku.</div> <div></div> <div>“Reni… pinggul kamu hebat banget,” aku berbisik terengah-engah.</div> <div>Reni menjawabnya dengan erangan-erangan, dia menoleh kepadaku sambil menggigit bibir bawahnya. Terlihat peluh membasahi wajahnya yang makin memerah.</div> <div>Sesaat kemudian dia berbisik kepadaku, “Ouuchhh.. sayang… lebih cepat!” suaranya diikuti deru nafas yang memburu. Rupanya dia sudah semakin mendekati klimaks.</div> <div>Aku pun meresponnya dengan gerakan yang lebih cepat dan keras. Kutusukkan batang kemaluanku makin dalam ke liang kemaluannya seiring perasaan klimaks yang sudah di ambang.</div> <div>“Aaahhh Uuuh Sssh… teruuus Mas… ahhh…” Reni menjerit sambil bergerak makin liar sampai ranjangnya berderik-derik.</div> <div></div> <div>Kuteruskan gerakanku dengan mengerahkan sekuat tenaga mengimbangi gerakan liar Reni.</div> <div>Ana masih tidur ketika Reni tiba-tiba menjerit, “Aaah… uuhhhfffssshhh… Masss…” kepalanya mendongak, tubuhnya bergetar hebat dan kurasakan semburan hangat dari liang kewanitaannya merembes sampai ke buah kemaluanku.</div> <div>Aku pun melepaskan jutaan spermaku menyemprot kencang memenuhi karet kondom yang kupakai.</div> <div>“Uuu… yess…” Reni mengakhiri gelombang kenikmatan dan mengerang sambil menikmati sisa-sisa orgasmenya.</div> <div>“Ouuhhh.. Masss, kamu hebat sekali… aahh…”</div> <div>Mungkin bisa dibilang ini adalah permainan terbaikku dibandingkan dengan Ana. Kemudian kami pun sempat tertidur berpelukan di kamar Ana.</div> <div></div> <div>Jam 5 pagi Reni balik ke kamarnya dan aku pun tidur di kamarku sendiri. Pukul 10:00, aku bangun dan mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke kotaku. Aku diantar Om ke terminal bus, aku tidak sempat pamit dengan Ana dan Reni karena mereka belum bangun. Reni kelelahan karena habis bertempur denganku sepanjang malam, sedang Ana masih terpengaruh CTM. Tante sendiri belum bangun juga. Si Reni memang gila seks. Hari itu hari Kamis, jadwalku adalah harus berobat ke dokter spesialisku. Tetapi sial, di jalan perutku terasa sakit, sepertinya diare. Aku terpaksa turun di jalan dan mencari restoran terdekat untuk buang hajat. Sampai di rumahku pukul 8 malam dan itu berarti aku tidak jadi ke dokter. Tetapi aku tetap tersenyum simpul, kalau mengingat baru saja aku mendapatkan dua perawan ting-ting.</div> ]]>
</content:encoded>
<wfw:commentRss>./../cerita-seks-sepupuku-dan-adiknya-masih-perawan/feed/index.html</wfw:commentRss>
<slash:comments>0</slash:comments>
</item>
<item>
<title>Cerita Seks Pertama Kali Merasakan Enaknya Seks Bersama Pacar</title>
<link>./../cerita-seks-pertama-kali-merasakan-enaknya-seks-bersama-pacar/index.html</link>
<comments>./../cerita-seks-pertama-kali-merasakan-enaknya-seks-bersama-pacar/index.html#respond</comments>
<dc:creator>
<![CDATA[ hyvj3 ]]>
</dc:creator>
<pubDate>Thu, 27 Jun 2024 15:04:09 +0000</pubDate>
<category>
<![CDATA[ CERITA PERAWAN ]]>
</category>
<guid isPermaLink="false">./../index.html?p=657</guid>
<description>
<![CDATA[ Cerita Seks Pertama Kali “Duduk dulu ya, aku mau pake baju dulu nih, soalnya habis mandi buru-buru ada bel bunyi ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Seks Pertama Kali Merasakan Enaknya Seks Bersama Pacar" class="read-more button" href="./../cerita-seks-pertama-kali-merasakan-enaknya-seks-bersama-pacar/index.html#more-657" aria-label="More on Cerita Seks Pertama Kali Merasakan Enaknya Seks Bersama Pacar">Read more</a></p> ]]>
</description>
<content:encoded>
<![CDATA[ <p>Cerita Seks Pertama Kali “Duduk dulu ya, aku mau pake baju dulu nih, soalnya habis mandi buru-buru ada bel bunyi dan aku yakin pasti kamu yang datang, jadinya cuman sempet pake handuk sama kaos aja”.</p> <p>“Pasti belum pake baju dalam ya ? tebakku sambil senyum. “Ih dasar cowok, pikirannya yang ngeres-ngeres aja, ” tapi suka kan …hi hi hi.</p> <p>Sambil berjalan ke kamarnya, aku lihat pinggul dan pantat pacarku ini benar-benar aduhai, betisnya putih apalagi pahanya pasti lebih ok dan yang paling memabukkan adalah buah dadanya yang ranum dan montok, kaos ketatnya membungkus payudara indah tanpa bh itu dengan sempurna, memperlhatkan lekukan dada wanita yang sempurna.</p> <p>Kebayang waktu kenalan dulu, wih tangannya putih sekali dan mulusnya ampun, banyak cowok yang suka sama dia, tapi namanya cinta nggak bisa diboongin.</p> <p>“Sorry ya agak lama, nih kopi kesukaanmu mas “, aku agak kaget juga.<br /> “Eh, makasih ya?!” kataku sambil kaget dan agak konak lihat pakaiannya, Yati cuma make celana pendek tipis batik yogya dan kaos tipis ketat coklat muda tanpa lengan dengan belahan kaos rendah yang memperlihatkan belahan dadanya yang putih dan montok.</p> <p>“Aku minum ya, wah masih panas sekali’ kataku sambil megangin mulutku yang kepanasan, Yati ketawa ” makanya kira-kira ya kalau mau minum tiup dulu donk, mas”. “Wah lihat nih, lidahku sampai merah gini, mesti diobatin nih kalau nggak bisa dioperasi”, kataku.</p> <p>“Aduh kacian, sini ibu guru lihat dulu” kata Yati sambil duduk disampingku dan memegang mulutku, aku diam dan memperlihatan lidahku yang kepanasan, sementara kuhirup wangi tubuhnya yang habis mandi, hmm.</p> <p>Kudekatkan dudukku pada tubuh Yati, sambil tangannya melihat-lihat lidahku, tanganku memeluk pinggulnya dari samping sambil kulirik belahan dadanya yang putih, montok menantang dan menggairahkan itu.</p> <p>Sambil kupeluk tubuhnya, kurasakan kehangatan tubuh dan payudaranya yang montok membuat kontolku bangkit dan mulai membesar dengan cepat, hingga menyesakkan celana yang kupakai, “idih, kok sampai merah gini” kata Yati, tiba-tiba mulutku dilumat olehnya dan tanpa menunggu lagi sambil tetap kupeluk tubuhnya akaupun gantian memgulum, melumat dan mencium bibir seksinya dengan penuh gairah, satu hal yang kusuka dari pacarku, meskipun dia orangnya pendiam kalau urusan lumat melumat dia jadi sangat ahli sekali, dan lumatan bibir seksinya sungguh sangat menggairahkan.</p> <p>Tiba-tiba Yati mengangkat pantatnya dan duduk diatas pangkuanku, bongkahan pantatnya terasa sangat hangat kenyal dan menekan kontolku yang sudah mengeras, “Ih adikku sudah berdiri, katanya sambil menggoyangkan pantatnya diatas kontolku”.</p> <p>Kulihat matanya sudah mulai nanar dan sedikit berair, pandangannya mulai agak sayu, kemudian aku mulai beralih menciumi leher putihnya dan sedikit jilatan dibelakang telinga,kelihatannya salah satu titik rangsangnya ini sangat menggairahkan nafsu seks-nya, lebih kebawah lagi, kuraba dari luar bongkahan payudaranya sudah sangat mengeras dan lebih membesar dari biasanya, pelan kuangkat kaosnya dan sepasang penutup BH-nya, payudara yang putih dan montok itupun menyembul dari dalam BH hitam yang dipakainya, sangat kontras sekali dengan dadanya yang sangat putih dan montok itu.</p> <p>Kuciumi dengan rakus payudara montok itu dan kujilati dengan lidahku, sampai akhirnya ke titik pusat dadanya, putting susunya yang sudah tegak seperti penghapus pensil di ujung, kujilati putting susunya dan ternyata titik inipun sangat mempengaruhi gairahnya, terlihat kedua tangannya dilepas dari pelukannya dan tangannya memegang dan menarik rambut panjangnya kebelakang sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan.</p> <p>Tiba-tiba tubuhnya menggelinjang kuat sekali dan memeluktubuhku erat sekali sambil digoyang-goyangkan pantatnya diatas ****** tegakku dan akupun terasa dikeliilingi daging nikmat, dari sepasang dadanya yang montok dan ranum serta dibawah bongkahan pantatnya yang nggak kalah montok dan padat.</p> <p>Sejenak dia terdiam sambil tetap memelukku dan dia menggelendot manja diatas pangkuanku,<br /> “Mas, kita kemarku yuk, takut di ruang tamu ada yang masuk, lagian disana kan lebih leluasa,<br /> tapi aku minta digendong ya ..? pintanya manja.</p> <p>Sambil tangannya memelukku, akupun menggendong tubuhnya yang ramping dan montok itu ke kamarnya yang lumayan jauh dari ruang tamu. Setelah menaruh Yati diatas kasur, kuhampiri tape disamping tempat tidurnya dan kusetel lagu Forever In Love-nya Kenny G yang sampai saat ini menjadi lagu kenangan kami berdua.</p> <p>Dalam ketegangan kontolku dan nafsu yang sudah naik, kuhampiri Yati, Kucium lembut bibirnya dan seluruh wajahnya mulai dari keningnya, jidat, matanya yang terpejam, hidung dan akhirnya kukecup dan akhirnya kulumat bibir seksinya, tanganku tak tinggal diam mulai dari kaos dan BHnya kubuka perlahan dan celana dalam hitam kecilnya yang menutupi lembah dan jembut halusnya, sambil terpejam Tangan Yati meraih kancing dan resluting celanaku dan didapatinya kontolku yang sudah tegak berdiri, kubantu melepas baju yang kukenakan sehingga kita berdua telanjang bulat dan hanya celana dalam Yati yang masih dipakainya.</p> <p>Tiba-tiba tubuhku didorongnya, “berdiri dulu sayang, katanya, akupun turun dari tempat tidur dan Yati pun duduk ditepi tempat tidur dan sambil membelai kontolku yang sudah sangat tegang.</p> <p>“Aku belum pernah lihat titit lelaki dewasa, tetapi punyamu besar sekali mas, sampai-sampai tanganku rasanya mantap sekali memegangnya, boleh aku belai sayang?”.<br /> “Tentu, belai ciumi dan manjakan ****** besar ini sayang.”, kataku.</p> <div> <div><span class="ctaText">Cerita Lainnya: </span>  <span class="postTitle">Cerita Seks Kehidupan Gelap SPG Sex Plus</span></div> </div> <p>Kontolku sebenarnya nggak terlalu besar ya kira-kira pernah kuukur pakai penggaris panjangnya 15 cm dan bonggolnya sebesar pepsodent ukuran jumbo, yah perfectable size-lah menurut ukuran pacarku.</p> <p>Sejak pertama kali mengenal oral sex hingga hari ini, Yati menunjukkan antusias yang sangat tinggi dengan kontolku, matanya sempat terbelalak saat pertama melihat dan memegang kontolku yang sudah ereksi. Apalagi saat pertama kali melakukan “karaoke”, istilahku jika ingin di-oral-sex sama pacarku, cara memperlakukan kontolku benar-benar istimewa, saat kutanya emangnya sudah pernah karaoke ya, pacarku marah besar, bagaimana mungkin jawabnya, ciuman bibir aja baru dengan kamu , dan akupun teringat first kiss buatku dan buat dia benarbenar berkesan, habis sama-sama baru sekali itu sih.</p> <p>Sambil duduk dipingggir kasur kubuka pahaku sehingga kontolku yang sudah ereksi terlihat menantang seperti tugu monas, Yati jongkok dibawah sambil membelai perlahan kontolku, jari jemarinya menari-nari sepanjang kontolku mengikuti urat-uratnya yang menonjol sambil sesekali meremas dengan gemas, kulihat payudara Yati sangat menantang dan sesekali kuremas juga susunya.</p> <p>Dari pangkal kontolku, dekat anus, tiba-tiba Yati menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat bonggol kontolku, jilatan itu kemudian berpindah keatas mengikuti batang kontolku, hingga akhirnya kepala kontolku dijilat dan disedot perlahan-lahan. Kurasakan aliran darah mengalir keras disepanjang urat kontolku, dan ketegangannya mungkin sudah mencapai 100%, kepalanya membesar seperti helm tentara, warnanya kemerah-merahan dan berdenyut-denyut nikmat sekali.</p> <p>Sampai akhirnya batang kontolku mulai dilumat dan dimasukkan ke dalam mulutnya, perlahanlahan hingga kurasakan menyentuh ujung tenggorokannya, sementara masih tersisa sekitar 5 cm. “Masukkan semuanya dong, pintaku, “Gimana mau masuk lagi, kontolmu terlalu panjang buat mulutku, katanya sambil melepaskan kulumannya.</p> <p>Akhirnya keluar masuk kontolku dimulutnya, wah rasanya nikmat sekali, mungkin seperti ini rasanya bersenggama, pikirku, kami memang selama ini belum pernah melakukan persetubuhan hingga memasukkan kontolku ke dalam vaginanya, yah hanya sekedar berbugil sambil menjilat dan mengulum alat kelamin dan orgasme tanpa melakukan senggama.</p> <p>Suasana pagi yang sejuk, karena jendela kamar yang terbuka ditambah alunan instrumen Kenny.G membuat kami sama-sama terbuai dan lupa dengan segala sesuatunya. Sambil kujamah payudaranya, Yati kutarik dan kurebahkan di atas tempat tidur, wajahnya benarbenar merangsang, matanya berbinar, bibirnya memerah dan payudara sangat kencang dan memadat dengan putting susu yang mengeras. Seperti diawal aku mulai menciumi wajah dan bibirnya kemudian aku turun kebawah, kuciumi dan kujilati mulai dari jari-jemarinya yang putih mulus hingga ke betis indahnya, sambil kubelai dan kusentuh paha mulusnya, tanpa terasa aku menyentuh CD hitamnya dan perlahan kuturunkan dan kulepaskan, Yati diam dan hanya mendesah-desah menahan kenikmatan itu.</p> <p>Sampai di pahanya kubelai dan kuciumi paha mulusnya seinchi demi seinchi kelihatan sekali dia begitu terangsang, sebelum sampai ke pangkal pahanya, aku naik dan mulai menjilati dadanya. Payudara yang putih dan mulus itu kuremas sambil mulai kujilati melingkar hingga sampai ke putingnya kujilati dan kusedot penuh nafsu, Kulihat pinggul dan pantat Yati bergerak dan menggelinjang tak karuan menahan kenikmatan jilatan, sedotan dan remasanku.</p> <p>Kujilati kebawah lagi dan sampai ke perut Yati yang sangat mulus dan akhirnya hingga ke bukit indah yang ditumbuhi rumput hitam yang halus dan sangat kontras dengan kemulusan tubuhnya. Kusibakkan bulu-bulu halus yang menutupi vagina pacarku, terlihat bibir vaginanya masih tertutup rapat,namun terlihat disitu ada cairan disekelilingnya, ternyata dia sudah mulai basah.</p> <p>Kubuka sedikit dan terlihat kelentitnya berwarna merah jambu, kecil, menonjol dan kelihatan membasah, kuraba perlahan, Yati melenguh keras dan menggoyangkan dan mengangkat pantatnya, Kuraba perlahan dengan jari telunjukku dan akhirnya mulai kujilati dengan ujung lidahku, kembali terdengar erangan dan lenguhannya merasakan nikmat yang luar biasa.</p> <figure id="attachment_6063" class="wp-caption aligncenter" aria-describedby="caption-attachment-6063"><figcaption id="caption-attachment-6063" class="wp-caption-text">Cerita Seks Pertama Kali Merasakan Enaknya Seks Bersama Pacar</figcaption></figure> <p>“Mas, tolong aku sayang, masukkan ****** besarmu ke vaginaku, aku sudah tak tahan lagi menahan kenikmatan ini, pintanya sambil setengah menangis. ” jangan sayang, kita belum boleh melakukan ini, toh nanti kita juga akan menikah, kataku masih sadar, meskipun aku jiga sudah tidak kuat lagi menahan nafsuku.</p> <p>“Biarlah mas, aku rela mmberikan perawanku untukmu sayang, aku sangat mencintaimu dan aku takut kehilangan dirimu, kata Yati, sambil mulai menarik kontolku ke arah vaginanya yang membasah.</p> <p>Kontolku yang sudah agak menurun, mulai bangkit lagi begitu menyentuh bibir vagina Yati, sangat tegang dan begitu membesar. Dengan masih deg degan akhirnya sedikit demi sedikit kumasukkan batang kontolku ke dalam vaginanya, saat kucoba menyelipkan kepala kontolku ke mulut vaginanya rasanya peret dan sulit sekali, kulihat Yati sedikit meringis dan membuka mulutnya dan sedikit menjerit, “aaah” ,namun akhirnya kepala kontolku sudah mulai masuk dan mulai kurasakan kehangat vaginya, perlahan kumasukkan seinchi demi seinchi, pada centimeter ke 3 menuju ke 4, Yati tiba-tiba berteriak dan menjerit, ” aduh mas sakit sekali, katanya, seperti ada yang menusuk dan nyerinya sampai ke perut”, katanya.</p> <p>“Aku cabut aja ya ?”<br /> ” Jangan, biarkan dulu kutahan rasa sakit ini, aku yang sudah merasa kenikmatan yang luar biasa dan sedikit demi sedikit mulai kumasukkan lagi batang kontolku.</p> <div> <div><span class="ctaText">Cerita Lainnya: </span>  <span class="postTitle">Cerita Sex Menikmati berkaraoke di bali yang tiada dua nya</span></div> </div> <p>Kulihat Yati meneteskan air mata, namun tiba-tiba dia menggoyangkan pantatnya dan tentunya akhirnya kontolku hampir seluruhnya masuk, kenikmatan yang belum pernah kurasakan, kontolku serasa digigit bibir yang kenyal, hangat, agak lembab dan nikmat sekali. Akhirnya kamipun mulai menikmati hubungan badan ini, ” mas rasa sakitnya sudah agak berkurang, sekarang keluar masukkan kontolmu mas, rasanya nikmat sekali.</p> <p>Perlahan aku mulai mengayun batang kontolku keluar masuk ke vagina Yati, kulihat tangannya diangkat dan memegang erat-erat kepalanya dan akhirnya menarik sprei tempat tidurnya, sementara pahanya dia kangkangin lebar-lebar dan mencari-cari pinggulku, hingga akhirnya kakinya melingkar di pantatku dan seolah meminta kontolku untuk dimasukkan dalam-dalam ke vaginanya.</p> <p>Beberapa kali ayunan, akhirnya aku agak yakin dia sudah tidak begitu merasakan sakit di vaginanya, dan kupercepat ayuhan kontolku di vaginanya. Yati berteriak-teriak dan tiba merapatkan jepitan kakinya di pantatku, kepala menggeleng-geleng dan tangannya menarik kuat-kuat sprei tempat tidurnya, mungkin dia mau orgasme, pikirku. Tiba-tiba tangannya memelukku erat-erat dan kakinya makin merapatkan jepitannya di pantatku, kurasakan payudara besarnya tergencet dadaku, rasanya hangat dan kenyal sekali, aku diam sejenak dan kubenamkan kontolku seluruhnya di dalam vaginanya.</p> <p>” Oh, mmmas aku keluar…. Ahhhhhhhhhhhhh ….ahhhhhhhhhhhhh…. ahhhhhhhhhhh, Aku merasakan nikmat yang amat sangat, kontolku berdenyut-denyut, rasanya aliran darah mengalir kencang di kontolku, dan aku yakin kontolku sangat tegang sekali dan begitu membesar di dalam vagina Yati, sepertimya aku juga akan mengeluarkan air kejantananku.</p> <p>Kubuka sedikit jepitan kaki Yati dipantatku, sambil kubuka lebar-lebar paha Yati, kulihat ada cairan kental berwarna kemerah-merahan dari vagina Yati, kontolku rasanya licin sekali dialiri cairan itu, dan akhirnya dengan cepat aku kayuh kontolku keluar masuk dari vagina Yati, nikmat sekali rasanya.</p> <p>Ada mungkin delapan sampai sembilan kayuhan kontolku di vagina Yati, tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang akan meledak dari dalam kontolku dan akhirnya …. Crooot …croooot ….crooot …crooot. Kontolku yang sudah kucabut dari dalam vagina Yati, kudaratkan di atas perut mulusnya dan semburan air kejantananku muncrat sampai ke rambut, pipi,sebagian mulutnya, payudara dan diatas perut Yati, kuurut-urut batang kontolku dan tetesan air maniku berjatuhan di atas jembut halus kekasihku.</p> <p>Aku merebahkan diri disamping tubuh mulus Yati, kupeluk dia sambil kubelai rambutnya, Yati terpejam, diam dan tiba-tiba dari ujung kedua belah matanya yang terpejam menetes air mata. Kuseka air matanya dan kupeluk dia erat-erat, dan dia memelukku juga, ” Mas, hari ini aku sudah persembahkan kesucianku untukmu, sesuatu yang berharga yang kumiliki telah kuberikan padamu, aku nggak mau kehilangan dirimu dan tak akan kulupakan seumur hidupku peristiwa indah hari ini … Aku sangat mencintaimu mas”.</p> <p>Yati bangun dari rebahannya, mengambil saputangan dan membersihkan bercak dari sela-sela vaginya yang telah bercampur dengan cairan kenikmatannya, saputangan biru itu berbercak merah, memenuhi hampir setengah lembar saputangan biru itu.</p> <p>“Saputangan ini akan kusimpan selamanya, sebagai tanda buat cinta kita, mas” Aku terdiam, kemudian kubelai rambut indahnya, kukecup keningnya dan kukatakan, ” Hari ini 14 November 1994, aku telah kau berikan sesuatu yang berharga darimu, keperawananmu membuktikan cinta sucimu, aku juga sangat mencintaimu, kuambil keperawananmu dengan keperjakaanku, dan tak kan kulupakan hari ini selama hidupku”.</p> <p>Dalam keadaan sama-sama bugil, kupeluk tubuh Yati, kehangatan tubuhnya mengalir ke setiap pori-pori dan diapun meraskan hal yang sama, ” tahun depan aku sudah lulus, selanjutnya aku akan melamarmu dan kita akan menikmati cinta kita selamanya, aku mencintaimu Yati”. ” Mas, aku bangga memilikimu, lelaki sepertimu yang memang aku idamkan selama ini”.</p> <p>Keringat yang mengalir di badanku diseka Yati dengan handuk dan dia membersihkan kontolku dengan handuk basah, akupun jadi terangsang lagi,</p> <p>” Ih, si Adik kok bangun lagi, kamu benar-benar perkasa mas”, aku tersenyum, sebenarnya aku masih ingin melakukan sekali lagi tapi jam sudah menunjukkan jam 11.30, aku takut kalau tibatiba mamanya pulang.</p> <p>Kugandeng tangan Yati dan membawanya ke kamar mandi dan dibawah guyuran shower kamar mandinya kita mandi bersama, saling menyabuni dan bercanda bersama, Kontolku menjadi tegang saat mandi dan Yati sempat memasturbasi kontolku yang sudah tegang dengan busa sabun, tangannya yang halus sangat lincah mengocok batang kontolku, sekitar lima menitan air maniku sempat keluar lagi dan muncrat sampai ke atas seperti air mancur, Yati tertawa puas, menciumiku dan melanjutkan mandi sampai selesai.</p> <p>Selesai mengeringkan badan, rambutku dikeringkan Yati dengan hairdryernya, kupakai bajuku dan kitapun kembali ngobrol di ruang tamunya, ngopi, ngobrol dan bercanda sambil bermesraan menikmati hari indah itu. END</p> ]]>
</content:encoded>
<wfw:commentRss>./../cerita-seks-pertama-kali-merasakan-enaknya-seks-bersama-pacar/feed/index.html</wfw:commentRss>
<slash:comments>0</slash:comments>
</item>
<item>
<title>Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah</title>
<link>./../cerita-sex-guru-memperkosa-murid-di-perpustakaan-sekolah-2/index.html</link>
<comments>./../cerita-sex-guru-memperkosa-murid-di-perpustakaan-sekolah-2/index.html#respond</comments>
<dc:creator>
<![CDATA[ hyvj3 ]]>
</dc:creator>
<pubDate>Thu, 27 Jun 2024 15:03:02 +0000</pubDate>
<category>
<![CDATA[ CERITA DEWASA ]]>
</category>
<guid isPermaLink="false">./../index.html?p=654</guid>
<description>
<![CDATA[ Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah, Tugas seorang guru adalah mendidik siswa siswinya agar menjadi pintar dan berguna ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah" class="read-more button" href="./../cerita-sex-guru-memperkosa-murid-di-perpustakaan-sekolah-2/index.html#more-654" aria-label="More on Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah">Read more</a></p> ]]>
</description>
<content:encoded>
<![CDATA[ <p>Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah, Tugas seorang guru adalah mendidik siswa siswinya agar menjadi pintar dan berguna bagi bangsa. Namun bagiku, aku suka menjadi guru SMA karena banyak siswi-siswi yang mulus dan montok. Pada kesempatan ini diceritakan kisah sex nyata yaitu memperkosa siswi perawan yang tidak lain adalah murid sekolah SMU di perpustakaan.</p> <p>Namaku Firza, aku adalah seorang guru sekolah menengah akhir disuatu kota madya. Kebetulan aku mengajar anak kelas 1 SMA. Aku masih berstatus lajang diusiaku yang ke 30 tahun ini. Aku masih jomblo dan belum ada calon pendamping dan mungkin sikap mesum dan playboyku yang masih melekat ini membuat para wanita takut untuk menjadi pacarku.</p> <p>Bagiku menjadi guru kelas 1 SMA banyak sekali cobaan yang selalu memancing gairah sexsku. Tak jarang ketika aku mengajar selalu melihat paha dan celana dalam para siswi yang duduknya secara tidak sengaja mengangkang lebar. Hal itu membuatku sangat betah menjadi guru SMA. Bagiku itu adalah vitamin A sekaligus pengobat sange.</p> <p>Melihat paha mulus para siswi yang masih perawan dan celana dalam para siswi itu adalah kenikmatan semu namun menyenangkan yang membuat penasaran. Dibalik celana dalam para siswi itu pasti memeknya masih sempit dan bulu kemaluan masih suri-suri. Terkadang ada siswi yang mengikuti trend dengan membuka kancing atasnya agar terlihat belahan payudaranya.</p> <p>Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Dasar ABG sekarang maunya sukanya membuka aurat mereka, ada juga siswi yang berhijab namun pakaian hijabnya ketat sekali, jadi lekuk tubuh mereka terlihat dan pastinya memancing gairah sex para siswa maupun para guru yang mempunyai otak mesum sepertiku.</p> <p>Yah begitulah anak SMA jaman sekarang banyak gaya dan nampak murahan. Aku sendiri tidak pernah menegur siswi yang bergaya seperti itu, fikirku gaya seperti itu adalah hak mereka, selain itu juga memberi pemandangan indah dikelas untuku. Setiap aku mengajar, biasanya aku sengaja mengatur tempat duduk wanita yang di depan dan para lelaki dibelakang.</p> <p>Aku melakukan itu dengan maksud agar aku lebih jelas menatap pemandangan mesum itu,siswa siswi mana sih yang mau protes sama gurunya jika diatur tempat duduknya seperti itu. Mata yang ngantuk menjadi terbuka lebar jika aku melihat selangkangan mulus dan belahan toket para siswi yang sok kekinian dan genit itu.</p> <p>Anak zaman sekarang rata-rata pandai bersolek dan cantik sehingga membuat mereka semakin menggairahkan saja, mungkin penampilan mereka kiblatnya kayak para artis. Mereka sengaja memperlihatkan kesexyan tubuhnya didepan umum. Perawan-perawan penerus bangsa ini semakin menunjukkan jati dirinya yang gampangan.</p> <p>Tak habis pikir selama 5 tahun mengajar aku selalu merasakan yang namanya horny ketika melihat murid-murid wanita yang aku ajar sendiri. Aku mempunyai murid namanya Dinda, dia cantik berkulit putih mulus dan tubuhnya sintal sekali. setiap lelaki pasti tergoda ketika melihat sosok Dinda yang sangat sempurna dan hot itu.</p> <p>Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Aku saja ingin sekali memilikinya dan menikmati memeknya yang nampak menyembul itu. Namun apalah daya dia sudah mempunyai pacar dan jauh sekali usianya denganku. Toh Aku juga tidak mungkin berpacaran dengan muridku. Setiap aku mengajar dikelas aku sering melihat Dinda duduk di depan sendiri, dia sering sekali duduk mengangkang lebar.</p> <p>Yang bikin aku nafsu sekali dia juga jarang sekali memakai celana short, sehingga tak jarang aku melihat jelas memeknya yang gembul ketika pahanya terbuka lebar. Ketika melihat paha Dinda, otakku selalu berfikiran mesum, dan rasanya aku ingin sekali memperkosa untuk menikmati memek tembemnya yang selalu bikin penis aku konak.</p> <p>Coba aja aku bisa ML sama gadis itu, pasti akan terasa nikmat jika keperawanannya aku renggut. Aku yakin sekali anak itu masih perawan,karena wajahnya masih berkharisma dan bagian tubuhnya yang sintal itu masih kencang sekali. Aku selalu saja sange saat melihat gerak-gerik Dinda. Sampai pada suatu kesempatan untuk mencabuli Dinda datang juga.</p> <p>Pada hari itu ketika hujan deras aku mendatangi para siswa siswi di perpustakaan, banyak para siswa siswi yang masih lembur mengerjakan tugas di perpustakaan sekolah. Tentunya saat itu termasuk Dinda yang masih sibuk mengerjakan tugas di perpustakaan hingga sore hari. Setelah sekitar satu jam aku disana para siswa siswi sudah selesai mengerjakan tugas termasuk Dinda.</p> <p>Karena mereka sudah selesai mengerjakan tugas merekapun segera pulang termasuk penjaga perpustakaan yang bernama Pak Ari. Karena saat itu aku melihat Dinda asik membaca sebuah buku,maka aku berkata kepada Pak Ari, jika aku yang akan mengunci perpustakaanya nanti. Karena pak Ari juga terburu-buru diapun meniyakan saja permintaankku.</p> <p>Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Aku heran padaha masih hujan deras namun pak arid an para siswa siswi lainya nekat pulang. Nah jadi sore itu diperpustakaan hanya ada aku dan Dinda saja. Aku memang sengaja menunggu Dinda, dengan harapan bisa berduaan dan dia syukur-syukur bisa mL sama dia,hha. Waktu semakin sore, au lihat jam dinding aat tu menunjukan pukul 4 sore.</p> <p>Aku merelakan diri untuk pulang terakhir untuk menjaga perpustakan dan menjaga sampai Dinda pulang. Aku sempat melihat keuar perpustakaan, suasana sekolah sudah sangat sepi, hanya ada aku dan Dinda yang sedang asyik membaca buku. Sekitar jam 4 lebih 15 menit hujan masi deras saja, saat itu aku berjalan mendekati Dinda.</p> <p>Aku menanyakan dia mau pulang jam berapa karena memang itu sudah sore sekali dan hujan masih deras sekali,</p> <p>“Mel kamu mau pulang jam berapa, sekolahan udah sepi loh tinggal aku sama kamu,?” tanyaku basa basi.</p> <p>“Oh iya ya pak,nggak papa deh pak Firza, nanggung nih sebentar lagi selesai bacanya kog pak,Oh iya Pak Ari kemana Pak,” tanyanya.</p> <p>“Oh pak Ari udah pulang Mel, nanti aku kog Mel yang kunci perpusnya, kamu hobi banget membaca ya mel sampai seserius itu?, ” tanyaku.</p> <p>“hhe,iya pak kebetulan saya suka membaca,” jawabnya sambil terus membaca.</p> <p>“Oh iya hujan diluar masi deras sekali Mel,kamu nanti pulang naik mobil bapak aja yah,” ucapku menawarkan.</p> <div> <div><span class="ctaText">Cerita Lainnya: </span>  <span class="postTitle">Cerita Sex Godain Pembantu Baru Masih Perarwan</span></div> </div> <p>“biarin aja pak, nanti aku pulangnya naik taxi online kok pak…” jawabnya.</p> <p>“oh gitu yah, oke deh akalu gitu seilahkan dilanjut,” ucapku.</p> <p>Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Suasana sekolah yang sudah sepi membuat aku berfikir mesum. Aku pastikan keadaan sekolah sekali lagi dengan mencoba melihat situasi di luar apakah aman terkendali. Tenryata setelah aku lihat suasana sudah aman sekali, tidak siswa maupun guru satupun disekolahan. Selesai memastikan susasana aman, akupun kembali keperpustakaan dan segera mengunci pintu perpustakaan.</p> <p>Saat itu sudah pasti jika hanya ada aku dan Dinda yang masih berada disekolahan. Setelah mengunci pintu perpus aku mendekati Dinda kembali lalu mengajak dia mengobrol sambil aku melirik paha Dinda yang terbuka lebar. Rok yang dipakai Dinda sungguh mini sehingga ketika dia duduk pahanya terlihat sangat mulus sekali.</p> <p>Paha Dinda benar-benar mulus sekali, udah gitu ada bulu-bulu halus lagi di pahanya, bikin aku semakin nafsu sekali. Seketika penisku berdiri tegak sekali, kalau nggak dilampiaskan ke memek Dinda bisa-bisa gawat nih. Akupun mulai mencari trik agar aku bisa menikmati tubuh Dinda. Saat itu berdiri disamping Dinda dan aku memberanikan diri untuk memegang pundaknya,</p> <p>“Hemmmm… ada apa ya pak sama pundak aku,?” ucapnya menoleh kearahku.</p> <p>“Oh ini Mel pundak kamu kotor tadi, jadi bapak bersihin deh,hhe…” jawabku lalu aku berpura-pura membersihkan bajunya.</p> <p>“terima kasih ya Pak,” ucapnya lalu kembali membaca.</p> <p>Dengan berdiri disampingnya saat itu aku juga bisa melihat belahan dadanya yang menonjol mulus sekali. Semakin lama aku melihat semakin tegang saja penisku. Akhirnya aku tidak tahan lagi, aku segera menarik tubuhnya dan aku peluk dengan erat. Saat itu Dinda mencoba melepaskan pelukanku namun aku tahan sehingga dia tak bisa bergerak lagi,</p> <figure id="attachment_12180" class="wp-caption aligncenter" aria-describedby="caption-attachment-12180"><figcaption id="caption-attachment-12180" class="wp-caption-text">Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah</figcaption></figure> <p>“Pak, bapak mau ngapain, jangan perkosa saya pak,tolong pak jangan, lepaskan saya pak..….” ucapnya ketakutan dan memohon ampun padaku. Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah</p> <p>“sudah kamu nurut saja sama bapak, kamu mau teriak sekencang apapun tidak akan ada yang mendengar dan menolong, asal kamu tahu disekolah hanya tinggal kita berdua,”ucapku dengan senangnya.</p> <p>Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Aku memaksa dia untuk melayani birahi sexsku, aku tarik rambut panjang Dinda keatas, lalu aku jilat dan ciumi lehernya dengan brutalnya. Saat itu aku baringkan Dinda dilantai perpusatakaan. Aku tindih dia degan tubuhku dan aku jilati terus lehernya. Sampai saat itu Dinda terus memberikan perlawanan, namun tenaga Dinda tidak bisa melawan tenagaku.</p> <p>Dia saat itu hanya bisa menangis dan meronta-ronta memhon ampun agar aku ridak mencabulinya. Aku menjilati leher Dinda secara terus menerus hingga dia terangsang. Tanpa henti aku juga menciumi bibir tipisnya. Aku kulum bibirnya dengan perlahan dengan penuh hasrat. Tadi yang awalanya dia menolak pada akhrinya dia mulai memberi respon.</p> <p>Mungkin saja dia mulai terangsang, Dinda mulai membuka bibirnya dan aku mulai menyedot lidahnya dan aku lumat di dalam mulutku. Melihat Dindayang sudah horny akupun mulai membuka kancing seragamnya satu persatu hingga terbuka semua. Aku lucuti seragamnya dan aku melihat kedua payudara montok Dinda yang masih terbungkus Bra.</p> <p>Aku segera buka pengaitnya dan aku hempaskan bra dia kelantai juga. Hujan yang masih deras menambah intimnya percintaan kami sore itu. Payudara Dinda yang montok mepunyai putting yang mancung dan berwarna kemerahan. Aku semakin nafsu saja melihatnya, tanpa menyia-nyiakan waktu aku meremas-remas payudara dan mengkulum putting Dinda dengan penuh nafsu sex,</p> <p>“pak…Sssssshhhhh….aaaaaaakkkhh…geli pak…ssssssshhh….jangan pak….aaaahhh……” ucapnya menolak namun gerak tubuhnya nampak menikmati perbuatan cabulku.</p> <p>Dia mengatakan jangan tetapi dia menikmati setiap sentuhan tanganku. Aku pun semakin bergairah ketika melihat putting susu Dinda yang semakin besar. Aku plintir putting susu Dinda hingga tubuhnya mengejang dengan sangat kuatnya,</p> <p>“eummmmmmm….Euuhhhhhh….Ssssssssshhhh….aaaaaakkhh…. pak…..ouhhhhhhh…..” desah Dinda semakin sering terdengar.</p> <p>Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Aku jilati kedua putting susu Dinda dan mainkan secara bergantian sampai diamenggelincang tak karuan. Tubuh Dinda mulai menggeliat manja dan roknya Dindapun tanpa sengaja naik keatas sehingga terlihatlah memek tembemnya yang masih terbungkus celana dalam mini dengan jelasnya. Dengan masih menciumi payudara Dinda yang kenyal itu aku gesek-gesek memek Dinda dari luar celana dalamnya.</p> <p>Aku tak henti-hentinya memberikan sentuhan kenikmatan pada payudaranya dan memeknya, Dinda seakan lupa jika dia sedang aku perkosa, dia tak henti-hentinya merintih dan mendesah merasakan kenikmatan sex dariku,</p> <p>“ooohh…. ssssssssssshhhh….aaaaahhh……ooooohh….enak pak, geli pak….aaaaakkkhhh……” desah Dinda semakin liar dan tak terkendali.</p> <p>Jilatanku yang saat itu hanya tertuju pada payudaranya, untuk menambah dia terangsang, jilatanku aku aku alihkan pada seluruh tubuhnya sampai pada pusarnya. Aku jilati bagian tubuh Dinda tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Hingga pada akhirnya jilatanku aku arahkan pada selangakagan dan area kewanitaanya. Namun sebelum aku mengarah pada vaginanya aku lucuti celana dalam sexynya dan aku hempaskan . Aku belai memek Dinda dari atas hingga kebawah, lalu kakinya aku buka sekali sampai dia mengangkang lebar. Aku buka bagian demi bagian memek sempitnya yang merah merona yang sangat menggoda imanku. Aku jilati memek Dinda dengan penuh kelembutan dan gairah sex,</p> <p>“Eugggghhhh…eummmmm…paaakk….aaaaaaaakkhh…oohhh…jangan pak….Sssssss…aaaaakkhh……” desah Dinda.</p> <p>Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Dia semakin liar, dan tubuhnya bergerak terus ketika aku jilati dan aku hisap itil memeknya. Tak henti-hentiny lidahku meyapu bagian vagina Dinda. Beberpa saat aku jilati,memeknya mulai mengeluarkan cairan kental sedikit,dan semkin lama semakin bannyak mengalir dari memek Dinda. Wajahnya tampak sangat pasrah terlihat jelas dari raut muka yang bergairah itu.</p> <p>Dinda memang mulus sekali nggak ada luka maupun selulit di tubuh mungilnya yang sintal itu. Gairah sexsku semakin memuncak ketika memek Dinda becek dan merah merekah dengan sangat jelas. Aku mencoba menggesek-gesekkan ujung penisku di depan lubang kenikmatannya, aku putar penisku hingga memeknya semakin basah.</p> <p>Aku melakukan itu agar Dinda nantinya tidak begitu kesakitan saat penisku menembus memek perawanya. Sungguh benar dugaanku, memek Dinda masih perawan. Aku terus aku putar-putar kepala penisku dengan cepatnya dibelahan vagina Dinda. Aku gerakan penisnku naik turun dengan tanganku sehingga membuat memek Dinda semakin becek saja.</p> <div> <div><span class="ctaText">Cerita Lainnya: </span>  <span class="postTitle">Cerita Sex Pacar Perawan</span></div> </div> <p>Dia mendesah dan tubuhnya menggeliat denga liarnya dengan pantatnya yang dia naik turunkan,</p> <p>“ooohhh….aaaahhh…euhhhhh…geli pak, Sshhhhh…aku mau pipis pak…aaaaaaaaaaaahhhh……..” ucapnya mendesah dengan keras.</p> <p>Ternyatav Dinda sudah medapatkan orgasme pertamanya, terasa cairan hangat kental mengalir dari liang vagina perawannya yang masih sempit sekali. Tubuhnya mengejang dan dia semakin liar saja. Melihat Dinda yang sudah sange berat ujung penisku mulai aku tekan dan aku coba masukkan secara perlahan di memek sempat perawan milik Dinda,</p> <p>“Slepppppp…..Eygggggggghhh…sa… sakitttt pak…Aowwwwwww…” rintih Dinda kesakitan karena vaginanya kemasukan ujung penisku.</p> <p>Dia menjerit kesakitan, aku remas payudara untuk sedikit mengalihkan rasa sakitnya agar dia tidak merasakan sakit sekali. Aku membuat dia semakin bergairah, aku beri rangsangan-rangsangan hebat pada tubuh montoknya. Ketika aku berusaha memasukkan penisku lebih dalam pada memeknya dia berontak,</p> <p>“aaaaww…sakit pak….sakit..jangan pak…” ucapnya sambil menggerakan tubuhnya.</p> <p>Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Tubuhnya berontak sehingga ujung penisku keluar dari lubang kemaluannya lagi. Padahal hampir berhasil aku menembus memeknya. Dinda berontak karena memang sakit sekalir asanya diperawani. Setelah itu aku berusaha kembali membuat Dinda mengeluarkan cairan agar licin dengan mengemut putingnya dan aku gesekan kembali penisku pada bagian luar memek tembemnya. Setelah Dinda menggelincang and merasa horny lagi. Aku masukkan penisku secara perlahan kembali dengan penuh perasaan dan nafsu yang sangat tinggi.</p> <p>Sementara penisku mencoba menjebol pertahanan memek perawan Dinda,rtanganku meremas-remas payudaranya dengan mulutku yang terus menyedot putting mancung Dinda. Nampaknya cara rangsanganku berhasil, dia sudah mulai terbius dengan kenikmatan sex yang aku berikan.Matanya terpejam,desahan dari bibir mungilnya semakin liar dan kepalanya mendongak keatas.</p> <p>Melihat kesempatan itu aku dorong penis dengan sepenuh tenaga agar masuk ke dalam memeknya,</p> <p>“Blessssssssssssssssssssss….Krakkkkkkkkkkkkkk….aaaaaaakkkhhh……” suara penisku yang telah berhasil menembus keperawanan Dinda.</p> <p>“sakit pak…aaaww…sakit pak….Aduhhhhh….sakit …..hu…uuuuu…uuuu,” teriak Dinda kesakitan sambil tangannya memukul aku.</p> <p>Aku tahan penisku masuk seluruhnya didalam vagina Dinda dan Dinda masih terus kesakitan,</p> <p>“aaaaaaawwwwwww…sakit banget pak…aduhhhhhh pak sakittt…huuuu….uuu…uuu…”</p> <p>Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Dinda sungguh terlihat sangat kesakitan, lenganku dicakardan dadakupun digigit olehnya. Aku tak menghiraukan kesakitannya,biarkan saja dia menggigit dan mencakar aku yang penting aku merasakan nikmatnya memek perawan. Setelah aku diamkan sebentar penisku aku mulai mengerakan keluar masuk penisku dari memek sempit Dinda.</p> <p>Ketika aku tariuk keluar penisku, terlihat darah segar membasahi batang penisku yang menegang dengan kuatnya. Awalnya dia masih kesakitan, namun setelah 2 menit aku menggenjot memeknya dengan penisku dia mulai mulai merasakan nikmatnya berhubungan sex. Aku dorong keluar masuk penisku sehingga rasa sakit itu berubah menjadi kenikmatan sex yang luar biasa.</p> <p>Aku yakin selaput keperawanannya sudah pecah olehku, Penisku tak henti menusuk-nusuk memek Dinda, seakan tak mau lepas lagi. Tangan Dinda memegang pundakku, sementara tanganku masih asyik memainkann payudara dia. Penisku masih dengan posisi yang sama, maju mundur keluar masuk,</p> <p>“aaaaaahhh….aaahhh…ooohhhh….aaahhhhh…..”</p> <p>Tak henti desahan itu keluar dari bibir Dinda. Aku yang biasanya kuat dalam berhubungan sex, karena emmek Dinda sempit sekali, rasanya aku tidaka akan bisa lama bertahan. Rasanya penisku seperti dicengkram kuat sekali oleh otot vagina Dinda,</p> <p>“Ouhhhh… Mel memek kamu sungguh nikmat sekali,ahhhhhhhhhh…,” ucapku nikmat.</p> <p>Dinda yang suda berada dpuncak kenikmatanya dia hanya bisa memejamkan mata,mendesah dan menikmati perbuatan cabulku padanya. Sungguh luar biasa ngentot sama ABG perawan seperti Dinda.</p> <p>Aku genjot terus memek Dinda sampai Dinda menggelincang liar. Kira-kira setelah 15 menit aku keluar masukan penisku dari vagina Dinda, kurasakan ada sesuatu yang mendesak dari dalam penisku yang masih terbenam didalam memek tembem jembut tipis milik Dinda. Karena aku sudah sering ML, aku tahu bahwa spermaku akan segera keluar,</p> <p>“ahhhh…pak…asssssssssshhhh…terus pak..enak pak..Ouhhhh…,” desah Dinda nampak merasa menikmati hubungan sex kami.</p> <p>Aku percepat sodokan penisku dan ketika spermaku mau kelaur aku cabut penisku lalu aku arahkan penisku ke buah dada Dinda,</p> <p>“Cccrrrrroootttt…cccccrrrroooottttt….cccccrrrroooottttt…Crotttttttttt…..”</p> <p>“aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh……..…” rintihan kepuasanku.</p> <p>Muncratlah spermaku di buah dada montok Dinda. Spermaku keluar sangat banyak dan kental, bahkan spermaku sampai mucrat kewajah Dinda yang imut itu. Aku puas sekali ML sama Dinda. Aku lihat Dinda mengeluarkan air matanya. Setelah aku mendapatkan orgasmeku, Dinda segera bergegas memakai baju seragamnya beserta dalemannya lalu dia pergi begitu saja.</p> <p>Singkat cerita setelah kejadian itu dia juga tidak pernah berangkat ke sekolah. Dan setelah beberapa hari dia tidak masuk, orangtuanya datang kesekolah untuk meminta surat pindah kesekolah lain. Aku sempat bertanya kepada para guru kenapa Dinda pindah, namun kata guru lainya dia tidak menyampaikan alasan apapun.</p> <p>Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah – Padahal aku sudah sangat ketakutan jika dia mengadu tentang pebuatanku, bisa-bisa aku dipecat dan dipenjara gara-gara perbuatan asusila yang aku lakukan pada Dinda. Aku merasa lega sekali saat itu karena Dinda tidak mengadu. demikianlah kisah sex nyata ketika aku memaksa muridku untuk melakukan hubungan sex di perpustakaan sekolah pada sore hari.</p> <p>Aku telah merenggut keperawanan muridku yang memiliki tubuh mulus itu. Itu akan menjadi pengalaman dan kisahku yang aku simpan rapat-rapat. Sebenarnya aku ingin mengulang kembali saat-saat indah ML sama Dinda atau dengan murid lainya. Namun aku sadar jika aku melakukan hal yang sama pada siswi lainnya maka kemungkinan besar aku bisa dipenjara dan dipecat dari sekolah itu. Sekian Cerita Sex Guru Memperkosa Murid di Perpustakaan Sekolah</p> ]]>
</content:encoded>
<wfw:commentRss>./../cerita-sex-guru-memperkosa-murid-di-perpustakaan-sekolah-2/feed/index.html</wfw:commentRss>
<slash:comments>0</slash:comments>
</item>
<item>
<title>Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat</title>
<link>./../cerpen-dewasa-seks-saat-aku-diperkosa-teman-kampus-dengan-obat/index.html</link>
<comments>./../cerpen-dewasa-seks-saat-aku-diperkosa-teman-kampus-dengan-obat/index.html#respond</comments>
<dc:creator>
<![CDATA[ hyvj3 ]]>
</dc:creator>
<pubDate>Thu, 27 Jun 2024 15:00:58 +0000</pubDate>
<category>
<![CDATA[ CERITA DEWASA ]]>
</category>
<guid isPermaLink="false">./../index.html?p=651</guid>
<description>
<![CDATA[ Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat, Saya akan menceritakan pengalaman saya sendiri saat dulu kehilangan keperawanan ... <p class="read-more-container"><a title="Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat" class="read-more button" href="./../cerpen-dewasa-seks-saat-aku-diperkosa-teman-kampus-dengan-obat/index.html#more-651" aria-label="More on Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat">Read more</a></p> ]]>
</description>
<content:encoded>
<![CDATA[ <p>Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat, Saya akan menceritakan pengalaman saya sendiri saat dulu kehilangan keperawanan saya empat tahun lalu. Saat itu ujian negara tinggal seminggu lagi. Saya bersama lima orang teman kuliah saya bersepakat membentuk grup belajar. Wita, Susi, Lilo, Albert, dan Aria (semua bukan nama sebenarnya).</p> <p>“Gin, nanti malam kita belajar di rumah gue ya. Bilangin Wita sama Susi”, kata Aria menghampiri saya ketika saya sedang duduk membaca-baca buku kuliah di kampus.<br /> “Oke.”<br /> Saya tahu, Aria sudah lama naksir pada saya. Saya tahu dari Albert. Sebab Aria pernah menceritakan padanya, bahwa dirinya tidak bisa tidur memikirkan diri saya. Pokoknya, Aria jatuh cinta berat kepada saya. Namun saya belum menanggapinya, sebab saya belum berpikiran untuk memiliki seorang pacar. Saya masih lebih ingin memusatkan perhatian saya pada kuliah, agar memperoleh IP yang bagus, sehingga mudah mencari pekerjaan setelah lulus nanti. Selama ini saya hanya menganggap Aria sekadar teman baik saja. Tidak lebih.</p> <p>Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat – Malam harinya kami berlima belajar di rumah Aria. Kebetulan kedua orang tuanya sedang pergi kondangan. Wita tidak bisa datang karena ia harus menemani ibunya menjenguk saudaranya yang sedang sakit.</p> <p>“Ri, Gue pulang ya. Sudah malam nih. Besok malam saja ya kita lanjutkan belajarnya”, kata Susi kepada Aria ketika jam sudah menunjukkan pukul dua puluh satu.<br /> “Gue temanin deh, Sus!” timpal Lilo yang saya tahu sejak lama telah naksir Susi.<br /> “Wah, itu sih memang taktik kamu, Lo!” kata saya sambil tertawa. Susi pun segera pulang didampingi oleh Lilo. Tinggal saya bertiga bersama Albert dan Aria.<br /> “Bagaimana sekarang, Ri? Kita nerusin belajar atau bubar saja?” tanya saya pada Aria.<br /> “Yah, lebih baik bubaran saja deh. Besok saja kita lanjutkan lagi!”<br /> “Tapi sebelum kamu pulang, habiskan dulu tuh minuman kamu. Sayang-sayang. Mubazir kan!” tambah Albert sambil tersenyum ke arah Aria.</p> <p>Saya habiskan sari jeruk yang tadi dihidangkan Aria untuk menemani saat belajar kami berlima.<br /> “Gue pulang dulu ya, Ri, Bert”, saya berpamitan pada kedua teman saya itu. Baru saja saya akan membuka pintu, tiba-tiba kepala saya terasa pusing dan mata saya berkunang-kunang.</p> <p>Tak lama kemudian, saya rasakan suatu keanehan menjalari tubuh saya. Payudara saya mengeras dan puting susu saya menegang. Kewanitaan saya pun terasa berdenyut-denyut. Ternyata Aria telah memasukkan obat perangsang ke dalam minuman saya tanpa saya mengetahuinya. Aria dan Albert menghampiri saya sembari tersenyum. Mereka memapah saya masuk ke kamar tidur Aria. Seperti tak sadar, saya menurut saja. Bahkan ketika saya ditelentangkan di atas tempat tidur.</p> <div></div> <p>Aria membuka kaus oblong yang saya kenakan, sedangkan Albert menurunkan celana panjang saya. Mereka berdua menelan air liur melihat kemolekan tubuh saya yang hanya dibalut pakaian dalam saja. Terpampang payudara saya dengan belahannya yang menggiurkan menyembul di balik bra yang saya kenakan serta lekuk-lekuk pinggul dan pantat saya yang membuat nafsu birahi mereka naik.</p> <p>Tanpa membuang waktu lebih lama, mereka berdua menarik lepas bra dan celana dalam saya, dan keindahan tubuh saya itu dapat terlihat bebas tanpa halangan. Tangan Aria meremas-remas kedua payudara saya yang kenyal itu, sementara batang kemaluannya semakin menegang.</p> <p>Sementara Albert menciumi daerah kewanitaan saya. Saya merintih kecil tatkala lidahnya mulai memasuki liang vagina saya. Sementara itu, Aria mulai menghisap-hisap puting susu saya yang semakin menegang itu, membuat saya semakin menggerinjal-gerinjal. Namun saya yang berada di antara keadaan sadar dan tidak sadar tidak mampu berbuat apa-apa.<br /> “Aw!” jerit saya saat gigi Aria menggigit puting susu payudara saya sebelah kanan, sementara Albert terus menjilati kemaluan saya yang ditumbuhi rambut-rambut tipis nan segar.</p> <p>Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat – Aria dengan kedua tangannya memuntir-muntir ujung puting susu kedua belah payudara saya sementara mulutnya turun ke bawah ke arah selangkangan saya. Akhirnya seperti berebutan, lidahnya bergabung dengan lidah Albert menjilati liang kewanitaan saya.</p> <p>“Gila, Ri. Asyik juga ya si Regina. Nggak gue sangka lho tubuhnya sebagus ini!” kata Albert sambil terus melanjutkan jilatannya ke belahan pantat saya dan akhirnya disusupkannya lidahnya ke dalam lubang anus saya.<br /> “Bagaimana, Bert. Kita tancap saja si Regina sekarang?”<br /> “Okelah, mumpung dia belum sadar.” Dan kedua cowok itu membuka celana panjang mereka.</p> <p>Tampaklah kedua batang kemaluan mereka yang menegang laksana siap berperang. Aria sebagai tuan rumah mengambil inisiatif pertama. Dengan hati-hati dimasukkannya batang kemaluannya ke dalam liang vagina saya yang cukup sempit itu. Dengan sekali gerakan batang kemaluannya tersebut dihunjamkan semakin dalam, membuat saya menjerit kecil kesakitan. Akan tetapi seiring dengan naik-turunnya tubuh Aria di atas tubuh saya, saya merasakan kenikmatan yang tiada tara untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Secara tak sadar, saya menggerinjal-gerinjal kencang.</p> <div></div> <p>Albert yang nampaknya sudah tidak dapat menahan nafsu birahinya yang semakin merajalela itu tidak mau menunggu lebih lama lagi. Dihunjamkannya batang kemaluannya yang tak kalah tegangnya itu ke dalam lubang anus saya, saya menjerit kesakitan. Namun Albert yang sepertinya sudah kesetanan tidak mempedulikan saya. Dengan gerakan naik-turun, ia menyetubuhi saya lewat lubang anus saya. Saya terus menggerinjal-gerinjal tak terkendali. Rasa kenikmatan dan kesakitan terus bercampur baur saya rasakan.</p> <p>Beberapa menit telah berlalu, belum ada yang sampai pada klimaksnya. Sementara kami bertiga sudah mulai lemas, terutama saya. Kedua cowok itu pun telah bertukar peranan. Albert telah memperoleh liang vagina saya, sedangkan Aria liang anus saya. Mereka berdua terus menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam tubuh saya tanpa kenal ampun.</p> <figure id="attachment_12601" class="wp-caption aligncenter" aria-describedby="caption-attachment-12601"><figcaption id="caption-attachment-12601" class="wp-caption-text">Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat</figcaption></figure> <p>Cerpen Dewasa Seks Saat Aku Diperkosa Teman Kampus Dengan Obat – Akhirnya setelah berselang begitu lama, Aria dan Albert menyerah begitu saja sebelum mencapai klimaksnya. Tubuh mereka berdua terkapar lunglai di samping tubuh saya. Kami bertiga sama-sama lemas. Namun tak lama kemudian, Aria telah mampu menguasai dirinya. Walaupun masih terhuyung-huyung ia bangun dari tempat tidur.</p> <p>“Bert! Albert! Gila! Ternyata si Regina masih perawan!” teriak Aria setelah melihat liang vagina saya mengeluarkan darah tanda selaput dara saya robek.<br /> “Ergh.. nikmat di kamu dong, Ri. Kan kamu yang memperawanin dia duluan!” kata Albert yang juga telah bangun, sementara saya masih terkulai lemas.<br /> “Tapi, bagaimana kalau dia sadar terus lapor pada polisi bahwa kita yang memperkosanya.”<br /> “Bilang saja bahwa kita mau sama mau. Buktinya coba saja lihat tadi. Kan si Regina kelihatannya ikut menikmatin juga. Nggak memberontak-berontak kan.”</p> <p>Dan sejak saat itulah saya mulai mengenal apa yang disebut pergaulan bebas dan sempat menjadi seorang cewek “bispak” yang bisa dipakai untuk teman tidur asal suka sama suka. Untung saja saya tidak sampai hamil sebab saya selalu mengingatkan pasangan tidur saya agar selalu memakai pelindung</p> <p>&nbsp;</p> ]]>
</content:encoded>
<wfw:commentRss>./../cerpen-dewasa-seks-saat-aku-diperkosa-teman-kampus-dengan-obat/feed/index.html</wfw:commentRss>
<slash:comments>0</slash:comments>
</item>
<item>
<title>Cerita Sex Kegadisanku Direnggut Pakdhe</title>
<link>./../cerita-sex-kegadisanku-direnggut-pakdhe-2/index.html</link>
<comments>./../cerita-sex-kegadisanku-direnggut-pakdhe-2/index.html#respond</comments>
<dc:creator>
<![CDATA[ hyvj3 ]]>
</dc:creator>
<pubDate>Thu, 27 Jun 2024 14:59:35 +0000</pubDate>
<category>
<![CDATA[ CERITA PERAWAN ]]>
</category>
<guid isPermaLink="false">./../index.html?p=648</guid>
<description>
<![CDATA[ Cerita Sex Kegadisanku Direnggut Pakdhe, Aku sudah tiga tahun ikut dengan keluarga Budhe. Saat itu usiaku sudah 15 tahunan dan Mbak ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Sex Kegadisanku Direnggut Pakdhe" class="read-more button" href="./../cerita-sex-kegadisanku-direnggut-pakdhe-2/index.html#more-648" aria-label="More on Cerita Sex Kegadisanku Direnggut Pakdhe">Read more</a></p> ]]>
</description>
<content:encoded>
<![CDATA[ <p><strong>Cerita Sex Kegadisanku Direnggut Pakdhe, </strong>Aku sudah tiga tahun ikut dengan keluarga Budhe. Saat itu usiaku sudah 15 tahunan dan Mbak Ningsih yang usianya tiga tahun di atasku sudah kelas 3 di salah satu SMK swasta di kotaku. Pada saat itulah aku pertama kali mengenal apa yang namanya seks.</p> <p>Kejadiannya berawal dari suatu siang kira-kira setengah tahun setelah meninggalnya Budhe Harti. Saat itu sekolahku dipulangkan sebelum waktu biasanya. Semua murid dipulangkan pada jam 10 pagi karena guru-guru mengadakan rapat untuk persiapan EBTA. Aku yang selalu disiplin tidak pernah bermain sebelum pulang dan ganti pakaian. Begitu sekolah dibubarkan aku langsung pulang ke rumah yang jaraknya kira-kira 2 km dengan naik angkot.</p> <p>Sampai di rumah aku heran karena pintu rumah tidak terkunci tetapi tidak ada orang. Padahal tadi pagi sebelum berangkat Mbak Ningsih bilang kalau sekolahnya libur selama 6 hari karena minggu tenang. Aku menduga pasti Mbak Ningsih sedang belajar di kamar menjelang EBTA yang akan diadakan minggu depan. Karena takut mengganggu Pakdhe yang mungkin sedang tidur aku berjalan pelan-pelan melintasi ruang tengah langsung ke kamarku dan Mbak Ningsih yang ada bagian belakang.</p> <p>Aku kaget saat mendengar suara mencurigakan terdengar dari kamarku yang setengah terbuka. Kudengar suara Mbak Ningsih mengerang-ngerang disertai suara seperti berkecipak. Dengan langkah mengendap-endap kudekati pintu kamarku dan mengintip melalui pintu yang setengah terbuka. Astaga!! Aku benar-benar kaget!! Ternyata di kamarku ada Mbak Ningsih dan Pakdhe. Yang lebih mengejutkan, pakaian keduanya sudah berantakan.</p> <p>Saat itu pakaian bagian atas Mbak Ningsih sudah terbuka sama sekali, begitu pula dengan Pakdhe Mitro. Keduanya sedang bergumul di atas tempat tidur yang biasa kugunakan tidur dengan Mbak Ningsih. Pakdhe hanya mengenakan sarung dan satu-satunya kain yang menutupi tubuh Mbak Ningsih hanyalah celana dalam saja.</p> <p>Apa yang kulihat benar-benar membuat hatiku tercekat. Kulihat Pakdhe dengan rakus meneteki payudara Mbak Ningsih kanan dan kiri berganti-ganti, sementara tangan Mbak Ningsih meremas-remas rambut Pakdhe yang sudah mulai memutih. Kepala Mbak Ningsih bergoyang-goyang sambil terus mengerang. Begitu pula dengan Pakdhe yang dengan lahap terus menetek kedua payudara Mbak Ningsih secara bergantian.</p> <p>Aku yang mengintip perbuatan mereka menjadi panas dingin dibuatnya. Tubuhku gemetar dan lututku lemas. Hampir saja kepalaku terbentur daun pintu saat aku berusaha melihat apa yang mereka perbuat lebih jelas. Tak lama kemudian kulihat Pakdhe menarik satu-satunya pembungkus yang melekat di tubuh Mbak Ningsih dan melemparkannya ke lantai. Kini tubuh Mbak Ningsih sudah telanjang bulat di bawah dekapan tubuh Pakdheku yang kelihatan masih berotot walau usianya sudah kepala lima.</p> <p>Erangan Mbak Ningsih semakin keras saat kulihat wajah Pakdhe menyuruk ke selangkangan Mbak Ningsih yang terbuka. Tangan Mbak Ningsih yang memegang kepala Pakdhe kulihat semakin kuat menekan ke arah kemaluannya yang sedang diciumi Pakdhe. Aku yang baru kali ini melihat pemandangan seperti itu menjadi terangsang. Aku membayangkan seolah-olah tubuhku yang sedang digumuli Pakdhe.</p> <p>Kedua kaki Mbak Ningsih melingkar di leher Pakdhe. Suara napas Pakdhe terdengar sangat keras seperti kerbau. Mbak Ningsih semakin keras mengerang dan tubuhnya kulihat melonjak-lonjak saat kulihat wajah Pakdhe menggesek-gesek bagian selangkangan Mbak Ningsih. Beberapa saat kemudian tubuh Mbak Ningsih mulai melemas dan terdiam.</p> <p>Kemudian kulihat Pakdhe melepas sarungnya. Dan astaga! Kulihat batang kemaluan Pakdhe yang sangat besar dan berwarna coklat kehitaman mengacung tegak menantang langit. Pakdhe langsung mengangkangi wajah Mbak Ningsih dan mengosek-ngosekan batang kemaluannya yang dipeganginya ke wajah Mbak Ningsih.</p> <p>Mbak Ningsih yang masih lemas kulihat mulai memegang batang kemaluan Pakdhe dan menjulurkan lidahnya menjilati batang kemaluan itu. Pakdhe pun kembali menyurukkan wajahnya ke arah selangkangan Mbak Ningsih. Kini posisi mereka sungguh lucu. Mereka saling menjilati selangkangan lawan dengan posisi terbalik.</p> <p>Pakdhe yang mengangkangi wajah Mbak Ningsih menjilati selangkangan Mbak Ningsih yang telentang dengan lutut tertekuk dan paha terbuka. Tubuhku mulai meriang. Vaginaku terasa gatal seolah-olah membayangkan kalau vaginaku sedang diciumi Pakdhe. Tanpa sadar tanganku bergerak ke arah vaginaku sendiri dan mulai menggaruk-garuk.</p> <p>Kejadian yang kulihat berikutnya membuat hatiku semakin mencelos. Setelah puas saling menciumi selangkangan masing-masing lawan, tubuh Pakdhe berbalik lagi sejajar dengan Mbak Ningsih. Mereka saling berhadap-hadapan dengan tubuh Pakdhe menindih Mbak Ningsih.</p> <p>Kemudian kulihat Pakdhe menempatkan diri di antara kedua paha Mbak Ningsih yang mengangkang. Lalu dengan memegang batang kemaluannya Pakdhe menggosok-gosokkan ujung batang kemaluannya ke selangkangan Mbak Ningsih. Kulihat kepala Mbak mendongak-dongak ke atas dengan kedua tangan meremas-remas payudaranya sendiri saat Pakdhe mendorong pantatnya dan menekan ke arah selangkangan Mbak Ningsih. Mereka terdiam beberapa saat ketika tubuh mereka pada bagian kemaluan saling lengket satu sama lain.</p> <p>Mbak Ningsih mulai merintih dan mengerang saat Pakdhe mulai memompa pantatnya maju-mundur dengan mantap. Kulihat pantat Mbak Ningsih bergerak mengayun menyambut setiap dorongan pantat Pakdhe. Dan setiap kali tulang kemaluan Mbak Ningsih dan Pakdhe beradu selalu terdengar seperti suara tepukan. Suara deritan dipan tidurku pun semakin nyaring terdengar mengiringi irama gerakan mereka.</p> <p>Tubuh Mbak Ningsih menggelepar-gelepar semakin liar. Kepalanya pun semakin liar bergerak ke kanan dan kekiri, mulutnya tak henti-hentinya mengerang. Akhirya kudengar Mbak Ningsih merintih panjang disertai tubuhnya yang tersentak-sentak, pantatnya terangkat menyambut dorongan pantat Pakdhe. Lalu beberapa detik kemudian tubuh Mbak Ningsih mulai melemas, tangannya terlempar melebar ke samping kanan-kiri tubuhnya dan matanya terpejam.</p> <p>Pakdhe lalu menarik pantatnya dan kulihat dari arah ku yang persis di samping kirinya, batang kemaluan Pakdhe yang hitam kecoklatan masih kencang. Kemudian Pakdhe menarik tubuh Mbak Ningsih agar merangkak di kasur. Dengan bertumpu pada lututnya, Pakdhe menempatkan diri di belakang pantat Mbak Ningsih yang menungging. Pakdhe memegang batang kemaluannya dan mengarahkannya ke belahan pantat Mbak Ningsih.</p> <p>Kulihat kepala Mbak Ningsih terangkat saat Pakdhe mulai mendorong pantatnya. Kembali kulihat pantat Pakdhe mengayun dari depan ke belakang dengan posisi Mbak Ningsih merangkak dan Pakdhe berlutut di belakang pantat Mbak Ningsih. Batang kemaluan Pakdhe kelihatan dari tempatku berdiri saat Pakdhe menarik pantatnya dan hilang dari penglihatanku saat ia mendorong pantatnya. Aku yang mengintip menjadi tidak tahan lagi. Tanganku secara refleks mulai menyusup kedalam celana dalam memegang vaginaku dan meremas-remasnya. Vaginaku mulai basah oleh cairan. Jari tangahku kutekankan pada daerah sensitifku dan kugerakkan memutar.</p> <p>Kudengar Pakdhe mulai menggeram. Tangannya meremas payudara Mbak Ningsih yang berayun-ayun seirama dengan dorongan pantat Pakdhe yang menyodok-nyodok Mbak Ningsih. Gerakan Pakdhe semakin cepat dan geramannya semakin keras. Mbak Ningsih pun mengimbangi gerakan ayunan pantat Pakdhe dengan memutar-mutar pantatnya. Gerakan mereka semakin liar. Derit dipan kayu pun kudengar semakin keras. Lalu keduanya merintih panjang.</p> <p>Tubuh keduanya yang menyatu mengejat-ngejat. Kepala keduanya seolah-olah terhantam sesuatu hingga mendongak ke atas. Lalu tubuh Pakdhe ambruk dan menindih Mbak Ningsih yang ambruk tengkurap di kasur. Aku pun merasa ada sesuatu yang meledakdi bawah perutku. Tubuhku seperti melayang dan akhirnya aku merasa lemas.</p> <p>Aku yang takut ketahuan melihat perbuatan keduanya segera berjingkat-jingkat dan keluar rumah pergi ke rumah Rina sahabat paling eratku di kelas. Aku baru pulang setelah jam 13.30 saat aku biasa pulang.</p> <p>Sampai di rumah aku pura-pura bersikap seperti biasa. Aku bersikap seolah-olah tidak mengetahui perbuatan Mbak Ningsih dan Pakdhe tadi pagi. Selama beberapa hari itu pikiranku selalu terganggu dengan bayangan apa yang dilakukan Mbak Ningsih dengan Pakdheku di kamarku ini.</p> <p>Aku sudah mulai dapat melupakan kejadian yang kulihat antara Mbak Ningsih dengan Pakdheku karena kesibukanku mempersiapkan EBTA. Begitu EBTA selesai aku mendapatkan liburan sambil menunggu pengumuman. Saat itu waktuku lebih banyak kuluangkan di rumah membersihkan rumah dan menyetrika serta membantu Mbak Ningsih memasak.</p> <p>Suatu hari, aku harus berada sendirian di rumah dengan Pakdhe. Mbak Ningsih mengikuti acara darma wisata ke Selecta yang diadakan sekolahnya sebagai acara perpisahan. Mbak Ningsih sudah berangkat saat pagi-pagi buta. Aku yang sedang libur harus menggantikan Mbak Ningsih menyiapkan sarapan buat Pakdhe. Setelah membuat minuman teh untukku dan satu cangkir khusus untuk Pakdhe aku segera menyapu halaman.</p> <p>Aku menyempatkan diri meminum tehku sebelum pergi ke kamar mandi. Teh yang kuminum rasanya agak lain, tapi aku tidak begitu curiga. Saat mandi itulah aku merasa ada yang agak aneh dengan tubuhku. Tubuhku terasa panas dan jantungku berdebar-debar. Rasa aneh menyergapku. Vaginaku terasa berdenyut-denyut dan ada rasa aneh menyerbu diriku. Tubuhku terasa gerah sekali.</p> <p>Kusiram seluruh tubuhku dengan air dingin agar rasa gerahku hilang. Apa yang kulakukan ternyata cukup menolong. Tubuhku merasa segar sekali. Lalu kigosok seluruh tubuhku dengan sabun. Rasa aneh itu kembali menyerang diriku, apalagi saat aku menyabuni daerah selangkanganku yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Aku merasa ada dorongan birahi yang begitu kencang. Aku tidak tahu mengapa ini terjadi. Tiba-tiba anganku melayang pada apa yang kulihat beberapa hari yang lalu saat Mbak Ningsih dan Pakdhe Marto bergumul di kamarku.</p> <p>Cepat-cepat kubuang pikiran itu jauh-jauh dan segera menyelesaikan acara mandi pagiku. Hanya dengan tubuh terbalut handuk, aku lari masuk kamarku. Aku selalu berganti pakaian di kamarku sambil mematut-matut diriku di depan cermin sambil mengamati seluruh tubuhku yang mulai berubah. Bulu-bulu kemaluan sudah mulai tumbuh di gundukan bukit kemaluanku.</p> <p>Dadaku yang dulu rata kini mulai tumbuh dengan puting yang sebesar kacang kedelai dengan warna merah muda. Pinggulku mulai tumbuh membesar. Kata orang aku seksi dan menarik. Apalagi tinggi badanku sudah mencapai 160 cm. Aku sendiri selalu betah berlama-lama di depan cermin dengan melenggak-lenggokkan tubuhku memandang dari segala sisi dan mengagumi tubuhku. Aku sangat bangga dengan tubuhku.</p> <p>Baru saja aku mengunci pintu kamarku aku dikejutkan dengan pelukan tangan yang kokoh menyergapku. Aku tidak sempat menjerit karena tiba-tiba sosok yang memelukku langsung membekap mulutku dengan tangannya yang kokoh. Belum hilang terkejutku, handuk yang melilit tubuhku ditarik seseorang dan jatuh teronggok ke lantai. Aku benar-benar bugil tanpa sehelai kainpun menutupi tubuhku.</p> <p>Kembali rasa aneh yang menyerangku semakin menggelora. Ada dorongan hasrat yang menggebu-gebu dalam diriku. Aku tak mampu meronta dan menjerit! Tangan yang kokoh dan berbulu tetap membekap mulutku sementara tangan satu lagi memeluk tubuh telanjangku. Mataku semakin nanar menerima perlakuan seperti itu. Apalagi kurasakan sentuhan kulit tubuh telanjang menempel hangat di punggungku. Pantatku yang telanjang terasa menekan suatu benda panjang melingkar dan keras di balik kain tipis.</p> <p>Aku semakin tak mampu menahan gejolak liar yang mulai bangkit dalam diriku saat sapuan-sapuan lidah panas mulai menyerbu tengkukku. Aku menggelinjang kegelian dan melenguh. Lidah itu semakin liar bergerak menyusuri leherku.. pundakku.. Lalu turun ke bawah ke sepanjang tulang punggungku. Aku semakin menggelinjang. Lidah itu terus merayap ke bawah dan pinggangku mulai dijilati. Kakiku serasa lemah tak bertenaga. Aku hanya pasrah saat tubuhku didorong ke tempat tidurku dan dijatuhkan hingga aku tengkurap di tempat tidurku. Tubuhku lalu ditindih oleh sesosok tubuh yang sangat berat.</p> <p>Kakiku mulai memberontak liar karena geli. Apalagi lidah itu dengan rakus mulai menjilati pinggulku. Pantatku terangkat saat mulut berkumis itu mulai menggigiti buah pantatku dengan gemas. Pantatku terangkat-angkat liar saat lidah panas itu mulai menyusup ke dalam celah-celah bongkahan pantatku dan mulai menjilati lubang anusku. Aku benar-benar seperti terbang mengawang. Aku belum tahu siapa yang memelukku dari belakang dan menggerayangi seluruh tubuhku. Aku hanya bisa merasakan dengusan napas panas yang menghembus di bongkahan pantatku saat lidah itu mulai menjilati lubang anusku.</p> <p>Aku tercekik kaget saat tubuhku dibalik hingga telentang telanjang bulat di kasurku. Ternyata orang yang sedari tadi menggumuliku adalah Pakdhe Mitro, orang yang selama ini kuanggap sebagai pengganti orang tuaku. Aku tak tak mampu berteriak karena mulutku langsung dibekap dengan bibirnya. Lidahku didorong dorong dan digelitik. Aku terangsang hebat. Apalagi sejak minum teh tadi tubuhku terasa agak aneh. Seolah-olah ada dorongan menghentak-hentak yang menuntut pemenuhan.</p> <p>Tubuhku menggelinjang saat tangan kekar dan agak kasar mulai meraba dan meremas kedua payudaraku yang baru mulai tumbuh. Lalu kedua kakiku dipentangkan oleh Pakdhe Mitro lebar-lebar, lalu Pakdhe menindih tubuhku yang sudah telanjang bulat di antara kedua pahaku yang terkangkang. Aku merasa ada benda keras seperti tongkat yang menekan ketat ke bukit kemaluanku di balik kain sarung yang dikenakan Pakdhe.</p> <p>Mulut dan lidah Pakdhe tak henti-hentinya menjilat dan melumat setiap jengkal bagian tubuhku. Dari mulutku, bibir Pakdhe bergeser menjilati seluruh batang leherku, kemudian turun ke dua belah payudaraku. Tubuhku semakin menggerinjal saat lidah dan mulut Pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudaraku yang baru sebesar kacang kedelai. Disedotnya payudaraku hingga hampir seluruhnya masuk ke dalam mulut Pakdhe Mitro. Aku sangat terangsang dan sudah tidak mampu berpikir jernih. Ada sesuatu yang mulai menggelora dan mendesak-desak di perut bagian bawahku.</p> <div></div> <p>Lidah Pakdhe terus merayap semakin ke bawah. Perutku menjadi sasaran jilatan lidahnya. Tubuhku semakin menggelinjang hebat. Akal sehatku sudah benar-benar hilang. Kobaran napsu sudah menjeratku. Pantatku terangkat tanpa dapat kucegah saat lidah Pakdhe terus merayap dan menjliati gundukan bukit kemaluan di selangkanganku yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. Aku merasa kegelian yang amat sangat menggelitik selangkanganku.</p> <p>Tubuhku serasa mengawang di antara tempat kosong saat lidah Pakdhe mulai menyelusup ke dalam bukit kemaluanku dan menggelitik kelentitku. Lubang kemaluanku semakin berdenyut-denyut tergesek gesek lidahnya yang panas. Aku hanya mampu menggigit bibirku sendiri menahan rasa geli yang menggelitik selangkanganku. Tubuhku semakin melayang dan seperti terkena aliran listrik yang maha dahsyat.</p> <p>Aku tak mampu lagi menahan gelora napsu yang semakin mendesak di dalam perutku. Pantatku terangkat seperti menyongsong wajah Pakdhe yang menekan bukit kemaluanku. Lalu tubuhku seperti terhempas ke tempat kosong. Aku merasakan ada sesuatu yang meledak di dalam perut bagian bawahku. Tubuhku menggelepar dan tanpa sadar kujepit kepala Pakdhe dengan kedua kakiku untuk menekannya lebih ketat menempel selangkanganku.</p> <p>Belum sempat aku mengatur napas tiba-tiba mulutku sudah disodori batang kemaluan Pakdhe Mitro yang tanpa kutahu sejak kapan sudah melepas sarungnya dan sudah telanjang bulat mengangkangi wajahku. Batang kemaluannya yang besar, hitam panjang dan tampak mengkilat mengacung di depan wajahku seperti hendak menggebukku kalau aku menolak menciuminya.</p> <p>Dengan rasa jijik aku terpaksa menjulurkan lidahku dan mulai menjilati ujung topi bajanya yang mengkilat. Aku hampir muntah saat lidahku menyentuh cairan lendir yang sedikit keluar dari lubang kemaluan Pakdhe. Namun jepitan kedua paha Pakdhe di sisi wajahku tidak memberiku kesempatan lain.</p> <p>Aku hanya mampu pasrah dengan tetap menjilati batang kemaluan Pakdhe. Lalu dengan paksa Pakdhe membuka mulutku dan menjejalkan batang kemaluannya ke dalam mulutku. Aku menjadi gelagapan karena susah bernapas. Batang kemaluannya yang besar memenuhi mulutku yang masih kecil.</p> <p>Kudengar Pakdhe menggumam tanpa jelas apa yang diucapkannya. Pantatnya digerak-gerakannya hingga batang kemaluannya yang masuk ke dalam mulutku mulai bergerak keluar masuk di dalam mulutku. Aku hampir tersedak saat ujung kemaluan Pakdhe menyentuh-nyentuh kerongkonganku. Aku hanya mampu melotot karena hampir tersedak. Tanpa sadar kedua tanganku mencengkeram pantat Pakdhe Mitro.</p> <p>Setelah puas “mengerjai” mulutku dengan batang kemaluannya, Pakdhe menggeser tubuhnya dan menindihku lagi dengan posisi sejajar. Kedua pahaku dikuaknya dan dengan tangannya, dicucukannya batang kemaluannya ke arah bukit kemaluanku. Aku merasa geli saat ujung kemaluan Pakdhe mulai menggesek-gesek pintu lubang kemaluanku yang sudah basah.</p> <p>Dari rasa geli dan nikmat, tiba-tiba aku merasa perih di selangkanganku saat Pakdhe mulai menurunkan pantatnya sehingga batang kemaluannya mulai menerobos ke dalam lubang kemaluanku yang masih perawan. Aku merintih kesakitan dan air mataku mulai mengalir. Aku tersadar akan bahaya! Namun terlambat. Pakdhe yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mungkin mau berhenti. Ia hanya sejenak menghentikan gerakannya. Ia merayuku dan mengatakan kalau sakitku hanya sebentar dan berganti rasa nikmat yang tidak terkira.</p> <p>Pakdhe menarik pantatnya ke atas hingga batang kemaluannya yang terjepit di dalam lubang kemaluanku tertarik keluar. Gesekan batang kemaluannya yang besar di dalam dinding lubang kemaluanku menimbulkan rasa nikmat seperti apa yang dikatakannya. Aku mulai dapat menikmati rasa nikmat itu. Ini mungkin karena pengaruh teh yang kuminum sehingga aku benar-benar belum sadar akan bahaya yang kuhadapi. Yang kuinginkan hanya satu yaitu menuntaskan gejolak yang meledak-ledak dalam diriku.</p> <p>Aku kembali merintih kesakitan saat Pakdhe mulai menekan pantatnya lagi yang membuat batang kemaluannya menerobos lebih dalam ke dalam lubang kemaluanku. Lagi-lagi Pakdhe membisikiku kalau rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Ia menarik lagi pantatnya. Benar.. Rasa sakit itu berganti nikmat saat batang kemaluannya ditarik keluar hingga hanya ujung kepalanya saja yang masih terjepit dalam lubang kemaluanku.</p> <p>Lubang kemaluanku yang sudah sangat licin sangat membantu pergerakan batang kemaluan Pakdhe dalam jepitan lubang kemaluanku. Detik-detik berlalu dan sedikit-demi sedikit batang kemaluan Pakdhe meneronos semakin dalam ke dalam lubang kemaluanku. Pakdhe terus menarik dan mendorong pantatnya dengan pelan dan teratur. Hingga suatu saat aku menggigit bibirku keras-keras saat selangkanganku terasa perih sekali. Selangkanganku terasa robek saat Pakdhe menekan pantatnya hingga batang kemaluannya hampir masuk separuh ke dalam lubang kemaluanku.</p> <p>Aku sempat menjerit menahan sakit yang amat sangat di selangkanganku. Pakdhe segera menghentikan gerakannya dan memberiku kesempatan untuk bernapas. Aku merasa lega saat Pakdhe menghentikan gerakannya. Kini aku dapat merasakan lubang kemaluanku seperti terganjal benda keras dan hangat. Benda itu berdenyut-denyut dalam jepitan lubang kemaluanku.</p> <p>Kembali rasa sakit yang tadi menyentakku berangsur mulai hilang tergantikan rasa nikmat saat batang kemaluan Pakdhe yang semakin lancar mulai bergerak lagi keluar masuk dalam jepitan lubang kemaluanku. Rasa nikmat terus meningkat sehingga tanpa sadar aku menggoyangkan pantatku untuk segera meraih kenikmatan yang lebih banyak lagi.</p> <p>Aku seperti gila. Rasa sakit itu sudah benar-benar hilang tergantikan rasa nikmat yang benar-benar memabukkan. Pakdhe semakin bersemangat mengayunkan pantatnya menghunjamkan batang kemaluannya. Empat kali mendorong lalu didiamkan dan diputar kemudian ditarik lagi. Tanpa sadar pantatku terangkat saat Pakdhe menarik pantatnya.</p> <p>Berkali-kali Pakdhe mengulang gerakannya hingga perutku terasa kejang. Tubuhku mulai melayang. Tanganku semakin kuat mencengkeram punggung Pakdhe untuk mencoba menahan kenikmatan yang mulai menerjangku. Pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya diiringi geramannya yang kudengar bergemuruh di telingaku.</p> <p>Mataku semakin membeliak menahan desakan yang kian dahsyat di perut bagian bawahku. Aku hampir menjerit saat ada sesuatu yang kurasa pecah di dalam sana. Namun bibir Pakdhe yang tiba-tiba melumat bibirku menghentikan teriakanku. Pakdhe melumat dengan rakus kedua belah bibirku. Aku merasa tubuhku seolah-olah terhempas di awan. Tubuhku mengejat-ngejat saat aku mencapai puncak pendakian yang melelahkan. Pakdhe yang bibirnya masih melumat bibirku pun mulai berkelojotan di atas perutku. Lalu ia menggeram dengan dahsyat..</p> <p>Dan akhirnya kurasakan ada semburan cairan hangat yang memancar dari batang kemaluan Pakdhe yang terjepit dalam lubang kemaluanku. Batang kemaluannya berkedut-kedut dalam jepitan lubang kemaluanku. Tubuh Pakdhe masih bergerak dengan liar selama beberapa saat lalu ambruk menindihku. Napas ku hanya tinggal satu-satu. Napas Pakdhe pun kudengar menggemuruh di telingaku.</p> <p>Air mataku mengalir saat kusadari segalanya telah terlambat bagiku. Kegadisanku telah terenggut oleh Pakdhe. Orang yang selama ini kuanggap sebagai pengganti ayahku. Lalu dengan lembut Pakdhe mengusap air mataku dan berjanji akan menyayangiku sepanjang sisa hidupnya. Aku menjadi agak terhibur dengan perkataannya.</p> <p>Sejak kegadisanku hilang, aku menjadi pendiam. Keceriaan yang selama ini menjadi ciri khasku seolah-olah hilang sirna. Aku menjadi sangat berubah. Selangkanganku masih terasa sakit hingga beberapa hari setelah kejadian itu.</p> <p>Mbak Ningsih yang selama ini sangat memperhatikanku sangat heran melihat perubahan yang terjadi pada diriku. Akhirnya aku mengaku terus terang kepada Mbak Ningsih tentang kejadian yang menimpaku. Ia hanya menghela napas merasa prihatin akan musibah yang kualami.</p> <p>Kira-kira satu bulan sejak aku dinodai Pakdheku, Mbak Ningsih minta pamit kepadaku dan juga Pakdheku. Mbak Ningsih setelah lulus SMK diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah Malang dan pindah ke Malang. Sehingga sejak saat itu aku yang baru masuk SMU harus tinggal berdua saja dengan Pakdhe.</p> <p>Suatu hari, kira-kira seminggu sejak kepergian Mbak Ningsih, saat itu aku sedang mencuci pakaianku dan pakaian Pakdhe. Hari itu sekolahku libur karena tanggal merah jadi aku bersih-bersih rumah. Pakdhe seperti biasanya merapikan tanaman di halaman depan yang sudah mulai tumbuh tidak teratur.</p> <p>Setelah kuselesaikan cucianku dan kujemur, aku berniat mandi. Baru saja mau menutup pintu kamar mandi, tiba-tiba tangan Pakdhe mengganjal pintu kamar mandi dan menyerobot masuk. Aku tidak sempat berteriak karena tiba-tiba Pakdhe sudah memelukku. Tubuhnya yang hanya tertutup celana kolor dan sudah basah penuh keringat memelukku erat-erat. Aku tidak berani berteriak karena diancam kalau tidak mau melayani nafsunya aku akan diusir dari rumah itu dan tidak dibiayai sekolahku. Aku merasa takut sekali dengan ancamannya hingga dengan air mata yang kutahan aku pasrah akan apa yang dilakukan Pakdhe padaku.</p> <p>Tangan Pakdhe dengan cekatan melucuti dasterku, bra-ku lalu celana dalamku hingga aku benar-benar bugil. Tanpa membuang waktu Pakdhe segera melepas kolornya dan telanjang bulat. Batang kemaluannya yang berwarna hitam kecoklatan masih mengkerut dan menggantung lunglai. Kemudian Pakdhe duduk di tepi bak mandi keramik dengan kaki yang terbuka. Ditariknya tubuh telanjangku ke dalam pelukannya dan dilumatnya bibirku dengan rakusnya.</p> <p>Mulutku masih tertutup saat lidah Pakdhe mulai mencoba menerobos masuk ke dalam mulutku. Karena tidak tahan dengan sapuan-sapuan lidahnya yang mendesak-desak bibirku, akhirnya bibirku pun terbuka. Pakdhe segera menyusupkan lidahnya ke dalam mulutku dan mendorong-dorong lidahku. Mula-mula aku diam saja, namun lama-kelamaan aku jadi terangsang juga. Apalagi batang kemaluan Pakdhe yang tadinya mengkerut perlahan-lahan mulai mengembang dan mengganjal perutku. Aku mulai bereaksi. Lidahku tanpa sadar membalas dorongan lidah Pakdhe.</p> <p>Tubuhku mulai menggerinjal dalam pelukan Pakdhe saat tangan Pakdhe mulai menggerayangi buah pantatku. Tangan Pakdhe dengan gemas meremas dan memijat buah pantatku lalu ditariknya tubuhku hingga semakin ketat lengket dalam pelukannya.</p> <p>Setelah puas memainkan lidahnya dalam mulutku, tangan Pakdhe menekan kepalaku hingga aku disuruhnya berlutut di depan selangkangannya. Batang kemaluannya yang sudah keras nampak mengacung tegak di depan wajahku. Ditariknya wajahku ke selangkangannya dan disuruhnya mulutku menciumi batang kemaluannya itu. Dengan agak risi aku terpaksa membuka mulutku dan mulai menciumi batang kemaluannya yang sudah mengeluarkan sedikit cairan.</p> <p>Kepalaku didorong maju mundur oleh tangan Pakdhe yang mencengkeram rambutku hingga batang kemaluannya mulai bergeser keluar masuk dalam mulutku. Kerongkonganku tersodok-sodok ujung kepala kemaluan Pakdhe yang keluar masuk dalam mulutku. Kudengar napas Pakdhe mulai menggebu. Batang kemaluannya semakin mengeras dalam kuluman mulutku.</p> <p>Mungkin karena tak tahan, Pakdhe segera menarik tubuhku agar berdiri lalu mendudukanku di sisi bak mandi. Mulutnya segera mencecar payudaraku kanan dan kiri silih berganti. Aku menggelinjang hebat manakala mulut Pakdhe dengan rakusnya mempermainkan kedua puting payudaraku. Tangan Pakdhe pun tak tinggal diam. Tangannya mulai merayap ke selangkanganku yang terbuka lebar dan mulai meremas gundukan bukit kemaluanku.</p> <p>Aku sampai megap-megap mendapat rangsangan seperti itu. Aku semakin tersiksa oleh gejolak nafsu. Mulut Pakdhe lalu merayap menyusuri perutku dan mulai menjilati gundukan bukit kemaluanku. Dikuakkanya kedua bibir kemaluanku dengan jari-jarinya lalu disusupkannya lidahnya ke dalam lubang kemaluanku.</p> <p>Tubuhku yang duduk di sisi bak mandi hampir saja terjatuh karena menggelinjang saat lidah Pakdhe mulai menggesek-gesek dinding lubang kemaluanku. Tanpa sadar tanganku mencengkeram rambut Pakdhe dan menekankan kepalanya agar lebih ketat menekan bukit kemaluanku.</p> <p>Aku semakin blingsatan menahan rangsangan yang diberikan Pakdhe di selangkanganku. Tanpa sadar mulutku mendesis-desis dan dudukku bergeser tak karuan. Perutku mulai mengejang menahan desakan gejolak yang meledak-ledak. Tubuhku terasa mulai mengawang dan pandangan mataku nanar. Akhirnya dengan diiringi rintihan panjang aku mencapai orgasmeku.</p> <p>Belum sempat aku mengatur napas tiba-tiba Pakdhe sudah berdiri di hadapanku. Batang kemaluannya yang keras dicocokkan ke bibir kemaluanku dan digesek-gesekkannya ujung kepala kemaluannya ke bibir kemaluanku yang sudah basah dan licin. Aku menggelinjang lagi saat benda hangat itu mulai menerobos masuk ke dalam bibir kemaluanku. Bibir Pakdhe Mitro dengan rakusnya mulai melumat bibirku sambil mendorong pantatnya hingga batang kemaluannya semakin melesak ke dalam jepitan bibir kemaluanku.</p> <p>Aku masih duduk di bibir bak mandi sementara Pakdhe Mitro menggenjot lubang kemaluanku sambil berdiri. Mungkin karena kesulitan bergerak, dicabutnya batang kemaluannya dari jepitan bibir kemaluanku. Tubuhku lalu diturunkan dari bibir bak mandi dan dibaliknya hingga aku berdiri dengan tangan bertumpu bak mandi. Lalu Pakdhe menempatkan diri di belakangku dan mulai mencoba memasukan batang kemaluannya ke dalam bibir kemaluanku dari celah bongkahan pantatku.</p> <p>Punggungku didorong Pakdhe agar sedikit membungkuk hingga setengah menungging. Dipentangkanya kedua kakiku lebar-lebar lalu dicucukannya batang kemaluannya ke gundukan bukit kemaluanku. Setelah arahnya tepat, Pakdhe mulai mendorong pantatnya hingga kembali batang kemaluannya menerobos masuk dalam jepitan bibir kemaluanku.</p> <p>Kembali aku mulai merasa ada suatu benda hangat menyeruak ke dalam lubang kemaluanku. Dinding-dinding lubang kemaluanka serasa dikilik-kilik. Batang kemaluan Pakdhe yang terjepit ketat dalam lubang kemaluanku berdenyut-denyut. Pakdhe yang napasnya mulai memburu semakin kuat mengayunkan pantatnya maju mundur hingga gesekan batang kemaluannya pada dinding lubang kemaluanku semakin cepat.</p> <div> <div><span class="ctaText">Cerita Lainnya: </span>  <span class="postTitle">Cerita Seks Malam Pasutri Susah Di Lupakan</span></div> </div> <p>Pinggulku yang dipegang Pakdhe terasa agak sakit karena jari-jari Pakdhe mulai mencengkeram. Pinggulku ditarik dan didorong oleh tangan kuat Pakdhe seiring dengan ayunan pantatnya. Tubuhku mulai terhentak dan aku mulai limbung. Kembali aku merasa melayang karena desakan gejolak yang meledak-ledak. Pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya dan napasnya semakin menderu.</p> <p>Pantatku yang ditarik dan didorong Pakdhe maju mundur semakin cepat bergerak. Cengkeraman jari-jari Pakdhe semakin terasa di pinggulku. Gerakan ayunan pantat Pakdhe semakin tak terkendali. Tak lama kemudian aku kembali mencapai orgasmeku. Pakdhe pun kukira mencapai puncak kenikmatannya karena aku merasa ada semburan cairan hangat yang menyemprot dari batang kemaluan Pakdhe ke dalam lubang kemaluanku dengan diiringi geraman yang keluar dari mulut Pakdhe.</p> <p>Pakdhe tetap membiarkan batang kemaluannya terjepit dalam lubang kemaluanku selama beberapa saat. Napasnya yang mulai teratur terasa hangat menerpa kulit pipiku. Tulang kemaluannya menekan kuat di bukit buah pantatku. Aku merasa sedikit geli karena rambut kemaluan Pakdhe menempel ketat dan menggesek buah pantatku. Batang kemaluan Pakdhe yang masih keras terasa berdenyut-denyut dalam jepitan lubang kemaluanku. Setelah menyemprotkan sisa-sisa air maninya batang itu mulai mengendur dan terlepas dengan sendirinya.</p> <p>Tubuhku sudah terasa lemas tak bertenaga. Aku hanya memejamkan mata karena lemas dan malu karena untuk kedua kalinya aku berhasil digagahi Pakdheku sendiri. Aku membiarkan saja saat Pakdhe memandikanku seperti bayi. Tangannya yang kokoh menyabuni seluruh lekuk tubuhku. Tubuhku kembali menggerinjal saat tangannya yang kokoh mulai menyabuni payudaraku yang baru mulai tumbuh. Putingku yang mencuat dipermainkannya dengan gemas.</p> <p>Tubuhku semakin menggelinjang saat tangannya mulai menyentuh perutku lalu meluncur turun dan mulai menyabuni gundukan bukit kemaluanku yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Jari-jarinya menyisir celah sempit di tengah gundukan bukit kemaluanku dan berlama-lama menyabuni daerah itu.</p> <p>Aku tak berani memandang Pakdhe saat ia mengangsurkan sabun ke tanganku dan menyuruhku menyabuninya. Dengan agak kaku tanganku mulai menyabuni punggung Pakdhe yang kekar. Tanganku bergerak hingga seluruh punggung Pakdhe kugosok merata dengan sabun. Lalu Pakdhe membalikkan tubuhnya menghadapku. Tangannya mengelus-elus kedua payudaraku sementara aku disuruhnya menyabuni tubuh bagian depannya.</p> <p>Tanganku bergerak dari dada terus turun ke arah perut. Napas Pakdhe mulai memburu saat tanganku yang dilumuri busa sabun mulai menggosok bagian bawah perutnya. Batang kemaluannya yang tadi kendur sudah mulai mengembang. Tanganku yang agak ragu dipegang Pakdhe dan diarahkan untuk menyabuni daerah kemaluan Pakdhe. Rambut kemaluannya sangat lebat tumbuh di pangkal batang kemaluannya yang mulai berdiri setengah tegak dan mengeras. Lucu sekali kelihatannya seperti pistol namun “gombyok”. Ya!! Kelihatannya seperti pistol gombyok!! Seperti pistol tapi lebat ditumbuhi rambut atau gombyok!!</p> <p>Pakdhe yang sudah mulai terangsang segera menyuruhku menyelesaikan acara saling memandikan. Hanya dengan berbalut handuk, tubuhku yang masih agak basah ditariknya dari kamar mandi dan diseret masuk ke kamar Pakdhe. Pakdhe pun hanya mengenakan kolornya yang tadi dipakainya hingga batang kemaluannya yang sudah setengah keras tampak membusung di balik kolor seragamnya.</p> <p>Baru saja pintu ditutup, tubuhku sudah langsung disergapnya. Diloloskannya handuk yang melilit tubuhku hingga aku telanjang bulat. Pakdhe segera melepas kolornya dan bugil dihadapanku. Mulut Pakdhe segera menyergap bibirku dan melumatnya dengan rakus. Kedua payudaraku segera menjadi bulan-bulanan remasan tangannya hingga tubuhku menggelinjang dalam dekapannya.</p> <p>Tanganku segera dibimbing Pakdhe dan dipegangkannya ke batang kemaluannya yang sudah semakin mengembang. Bibir Pakdhe yang rakus meulai bergeser turun dari bibirku ke dagu, lidahnya menjilat-jilat daguku terus turun ke leherku hingga aku semakin menggelinjang karena kumisnya yang pendek dan kasar menggaruk-garuk batang leherku.</p> <p>Aku semakin mendesis karena kini bibir Pakdhe sudah mulai melumat kedua puting payudaraku kanan dan kiri secara bergantian. Tanganku secara tak sadar bergerak mengurut dan meremas “pistol gombyok” Pakdhe. Napas Pakdhe pun semakin menderu dan semakin keras menghembus di kedua payudaraku. Jilatannya semakin liar di seluruh bukit payudaraku tanpa terlewatkan sejengkalpun.</p> <p>Batang kemaluan Pakdhe yang semakin keras mulai berdenyut-denyut dalam genggaman tanganku. Sementara tangan Pakdhe mulai bergerak liar menyusuri penggungku dan turun ke bawah lalu berhenti di kedua pantatku dan meremas-remas kedua buah pantatku dengan gemasnya. Aku sangat terangsang. Ya.. Mungkin daerah kelemahanku adalah pada buah pantatku dan pada kedua puting payudaraku. Tubuhku sudah mulai mengawang dan sudah pasrah bersandar dalam pelukan Pakdhe.</p> <p>Mengetahui kalau tubuhku sudah tersandar sepenuhnya dalam pelukannya, Pakdhe segera mendorong tubuhku ke kasurnya hingga aku berbaring telentang. Ditindihnya tubuh telanjangku oleh tubuh kekar Pakdhe. Dibentangkannya kedua kakiku lebar-lebar dan aku kembali digumuli Pakdheku. Lidah Pakdhe kembali menyerbu bibirku lalu bergeser ke leherku.</p> <p>“Pistol gombyok” Pakdhe yang sudah sangat keras mengganjal di perut bagian bawahku. Rambut kemaluannya yang gombyok sangat terasa menggesek-gesek perutku menimbulkan rasa geli.</p> <p>Lidah Pakdhe menjilat-jilat seluruh batang leherku hingga aku mendesis-desis kegelian. Tubuhku semakin menggelinjang menahan geli saat lidahnya mulai bergeser turun dan menyapu-nyapu sekeliling bukit payudaraku di sekitar putingku. Tubuhku semakin menggerinjal saat lidah Pakdhe yang panas mulai menyapu-nyapu puting payudaraku. Tubuhku serasa semakin melayang.</p> <p>Lidah Pakdhe terus bergeser ke bawah. Pusarku dijilatnya dengan rakus lalu lidahnya mulai bergerak turun ke perut bagian bawahku. Otot-otot perutku terasa seperti ditarik-tarik saat bibir Pakdhe menyedot-nyedot daerah sekitar perut bagian bawahku di atas pangkal pahaku. Geli sekali rasanya, apalagi kumisnya yang pendek dan kasar menyeruduk-nyeruduk kulit perutku yang halus.</p> <p>Pakdhe lalu membalik tubuhnya. Wajahnya menghadap selangkanganku sementara “pistol gombyok”nya dihadapkan ke wajahku. Diturunkannya pantatnya hingga batang kemaluannya menempel bibirku. Dibimbingnya “pistol gombyok”nya ke mulutku. Aku tahu aku harus membuka mulutku menyambut “pistol gombyok” Pakdhe yang dijejalkan ke dalam mulutku. Dengan terpaksa aku mulai mengulum “pistol gombyok” Pakdhe dan menjilati seluruh ujung topi bajanya yang mengkilat.</p> <p>Tubuhku terhentak saat mulut Pakdhe mulai melumat bibir kemaluanku. Kedua tangannya menarik kedua bibir lubang kemaluanku dan membukanya lebar-lebar lalu lidahnya yang panas didorong keluar masuk kedalam lubang kemaluanku. Aku semakin mendesis-desis menahan nikmat. Napas Pakdhe yang semakin menggebu sangat terasa meniup-niup lubang kemaluanku yang terbuka lebar.</p> <p>Tanpa sadar pantatku terangkat ke atas seolah menyambut dorongan lidah Pakdhe yang menggesek-gesek kelentitku. Gerakan lidahnya yang liar seolah membuatku semakin gila. Tanpa dapat kucegah lagi, mulutku merintih dan mendesis menahan gejolak kenikmatan yang meledak-ledak. Batang kemaluan Pakdhe yang menyumpal mulutku tak mampu menahan desisan yang keluar dari mulutku.</p> <p>Mataku kembali nanar. Perutku terasa kejang.. Dorongan gejolak liar yang mendesak di perut bagian bawahku sudah hampir tak dapat kutahan lagi. Lalu dengan diiringi rintihan panjang tubuhku menggelepar dan berkelojotan seperti ayam disembelih. Tubuhku lalu melayang dan terhempas di tempat kosong. Akhirnya tubuhku terdiam beberapa saat. Aku telah mencapai orgasme yang ke sekian di pagi itu.</p> <p>Tubuhku terasa lemas tak bertenaga. Aku hanya pasrah saat Pakdhe yang telah mencabut batang kemaluannya dari kuluman mulutku bangkit dan duduk di sisi pembaringan mengangkat tubuhku dan mendudukanku di pangkuannya. Tubuhku dihadapkannya ke dirinya dan kakiku dipentangkannya hingga aku terduduk mengangkang dipangkuannya dengan saling berhadapan. Kemudian tangan Pakdhe mengarahkan batang kemaluannya ke celah bukit kemaluan di selangkanganku.</p> <p>Bless!! Aku terhenyak saat pantatku diturunkan dan ada suatu benda keras dan hangat mengganjal di lubang kemaluanku. Nikmat sekali rasanya. Seluruh dinding lubang kemaluanku terasa berdenyut-denyut. Kelentitiku yang sudah membengkak tergesek nikmat pada pangkal batang kemaluan Pakdhe. Lain sekali rasanya bersetubuh dengan posisi begini. Aku merasa sangat terangsang! Kelentitku serasa tergesek penuh pada batang kemaluan Pakdhe.</p> <p>Dengan dibantu kedua tangan Pakdhe yang menyangga kedua buah pantatku tubuhku bergerak naik turun di pangkuan Pakdhe. Payudaraku yang baru tumbuh bergetar bergoyang-goyang seiring dengan naik turunnya tubuhku di pangkuan Pakdhe. Batang kemaluan Pakdhe yang menancap ketat dalam jepitan lubang kemaluanku terasa menggesek nikmat seluruh dinding lubang kemaluanku yang terus berdenyut-denyut meremas apa saja yang menyumpalnya.</p> <p>Tubuhku terasa menggigil bergetar saat mulut Pakdhe tak tinggal diam. Mulut Pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudaraku bergantian. Mulutnya menyedot buah dadaku sepenuhnya. Gerakanku menjadi kian liar. Desakan gejolak birahi semakin mendesak. Aku mempercepat gerakanku naik turun dengan diselingi sedikit memutar saat seluruh batang kemaluan Pakdhe masuk hingga ke pangkalnya ke dalam jepitan lubang kemaluanku.</p> <p>Karena tak tahan lagi tanpa sadar kudorong tubuh Pakdhe hingga terbaring telentang di kasur dengan kedua kaki menjuntai ke lantai. Tubuhku yang tadi di pangku Pakdhe menjadi duduk seperti seorang joki yang sedang naik kuda balap berpacu dalam birahi dengan menduduki Pakdhe yang berbaring telentang. Gerakanku kian bebas. Dengan tangan bertumpu pada dada Pakdhe yang bidang aku terus menggerakan pantatku memutar dan maju mundur. Kelentitiku kian ketat tergesek batang kemaluan Pakdhe.</p> <p>Tanga Pakdhe yang memegang kedua pantatku semakin ketat mencengkeram dan membantu mempercepat gerakanku. Aku merasa tubuhku kembali mulai mengawang. Gerakanku kian tak terkendali. Mataku mulai membeliak dan mulutku menceracau tak karuan. Puncak pendakian kian dekat.. Kian dekat..</p> <p>Dan akhirnya dengan merintih panjang tubuhku berkejat-kejat seperti sedang terkena aliran listrik. Lubang kemaluanku berdenyut-denyut saat ada sesuatu yang pecah di dalam sana.. Tubuhku berkejat-kejat beberapa saat lalu ambruk di atas perut Pakdhe. Aku benar-benar tak bertenaga. Ya akibat pistol gombyok Pakdhe aku mencapai orgasme yang kesekian kalinya. Luar biasa Pakdhe ku ini. Walaupun sudah tua namun mampu membuat aku yang masih ABG begini bertekuk lutut.</p> <p>Pakdhe yang rupanya belum mencapai orgasme segera membalikkan tubuhku dengan tanpa melepaskan batang kemaluannya yang masih menancap dalam jepitan lubang kemaluanku. Sekarang tubuhku yang telentang gantian digenjot Pakdhe. Aku yang sudah tak bertenaga hanya pasrah. Pakdhe dengan semangat juang terus menggenjot selangkanganku dengan tusukan-tusukan batang kemaluannya. Pistol gombyoknya tanpa ampun menghajar lubang kemaluanku.</p> <p>Perlahan-lahan napsuku mulai bangkit lagi menerima tusukan-tusukan pistol gombyok Pakdhe. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada aku berusaha menyambut setiap tusukan pistol gombyok dengan menggoyangkan pantatku ke kanan dan kiri.</p> <p>Napas Pakdhe semakin memburu dan terdengar menggemuruh menghembus ke payudaraku yang dilumat bibir rakus Pakdhe. Genjotan Pakdhe semakin kuat dan bertubi-tubi. Desakan gejolak yang mendesak dalam tubuhku semakin menguat. Aku sudah hampir tak kuat lagi menahan desakan itu. Tubuhku kembali mengejang. Pantatku terangkat dan dengan merintih panjang aku mencapai puncak pendakian yang sangat melelahkan.</p> <p>Tubuhku terhempas di tempat kosong dan pandangan mataku makin nanar. Aku merasa betapa di saat-saat itu tubuh Pakdhe yang menindih perutku mulai bergetar. Mulutnya menggeram dahsyat dan pantatnya menekan kuat-kuat menghunjamkan pistol gombyoknya ke dalam jepitan lubang kemaluanku. Tubuh Pakdhe berkejat-kejat lalu aku merasa ada semprotan cairan hangat menyiram di dalam lubang kemaluanku. Ada rasa berdesir menyergapku saat semprotan itu menyembur ke liang rahimku. Tubuh Pakdhe tersentak-sentak lalu ambruk di atas perutku.</p> <p>Sungguh melelahkan pergumulan di pagi itu. Akhirnya aku tertidur karena terlalu lelah. Pagi itu Pakdhe benar-benar melampiaskan seluruh hasratnya pada tubuhku. Dari pagi hingga malam aku tidak dibiarkannya mengenakan pakaian utuh. Aku disetubuhi berkali-kali hari itu hingga selangkanganku terasa ngilu karena digenjot Pakdhe.</p> <p>Sejak kepergian Mbak Ningsih aku menjadi pelampiasan napsu Pakdhe. Minimal satu kali dalam satu minggu Pakdhe pasti minta jatah dariku. Selama tiga tahun aku menjadi budak napsu pistol gombyok Pakdhe hingga aku lulus SMU.</p> <p>Tiga tahun aku harus menjalani kehidupan sebagai sasaran tembak “pistol gombyok” Pakdhe. Ternyata hal seperti itu dialami juga oleh Mbak Ningsih. Dia bercerita kalau dulu pertama kali diperawani Pakdhe dirinya tidak sadar. Untuk selanjutnya ia juga diancam tidak akan dibiayai sekolah dan diusir kalau tidak mau memenuhi keinginan Pakdhe.</p> <p>Lalu setelah aku lulus, atas kebaikan Mbak Ningsih aku kuliah di salah satu PTS di kota Solo. Untuk menambah biaya karena tidak ingin terlalu memberatkan Mbak Ningsih aku terjun ke dunia pelacuran. Ya.. Akhirnya aku menjadi pelacur untuk membiayai kuliahku. Aku berjanji akan berhenti dari dunia ini setelah aku mempunyai cukup bekal.</p> <p>Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Bokep Tante,Cerita Sex Pasutri, Cerita Seks Nonton Porno,Cerita Sex Sperma Kapal,Cerita Sex Sperma Kapal,Cerita Sex Sperma Kapal,Cerita Sex Sperma Kapal,Cerita Sex Sperma Kapal</p> ]]>
</content:encoded>
<wfw:commentRss>./../cerita-sex-kegadisanku-direnggut-pakdhe-2/feed/index.html</wfw:commentRss>
<slash:comments>0</slash:comments>
</item>
<item>
<title>Cerita Sex Nafsuku Dipuasin Sama Guru Senamku</title>
<link>./../cerita-sex-nafsuku-dipuasin-sama-guru-senamku/index.html</link>
<comments>./../cerita-sex-nafsuku-dipuasin-sama-guru-senamku/index.html#respond</comments>
<dc:creator>
<![CDATA[ hyvj3 ]]>
</dc:creator>
<pubDate>Thu, 27 Jun 2024 14:57:52 +0000</pubDate>
<category>
<![CDATA[ CERITA DEWASA ]]>
</category>
<guid isPermaLink="false">./../index.html?p=645</guid>
<description>
<![CDATA[ Cerita Sex Nafsuku Dipuasin Sama Guru Senamku , Kejadian ini tidak pernah kuduga sebelumnya, Selama ini rumah tanggaku berjalan baik dan ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Sex Nafsuku Dipuasin Sama Guru Senamku" class="read-more button" href="./../cerita-sex-nafsuku-dipuasin-sama-guru-senamku/index.html#more-645" aria-label="More on Cerita Sex Nafsuku Dipuasin Sama Guru Senamku">Read more</a></p> ]]>
</description>
<content:encoded>
<![CDATA[ <p><strong>Cerita Sex Nafsuku Dipuasin Sama Guru Senamku , </strong>Kejadian ini tidak pernah kuduga sebelumnya, Selama ini rumah tanggaku berjalan baik dan aku tidak pernah melakukan hubungan sex selain dengan suamiku sendiri. Roy, suamiku seorang kontraktor yg cukup besar di kota Malang Jawa Timur, hampir setiap hari waktunya habis dikantor untuk mengurus proyek dan proyeknya. Aku sendiri Sah menikah dengan Roy, kakak tingkat kuliahku di Perguaruan Tinggi Bandung, 2 tahun diatasku.</p> <p>Kehidupan seksku biasa-biasa saja, dan cenderung membosankan padahal kurasakan sampai sekarang gairahku cepat sekali memuncak dan kalau melakukan hubungan intim aku suka sekali berlama- lama menikmati dengan berbagai variasi, tetpi suamiku orangnya kuno dalam melakukan hubungan sex dengan cara yang biasa-biasa saja, dia diatas dan aku dibawah, kadang aku kepingin juga cara lain seperti pada video xxx yg pernah kulihat saat suamiku pergi, tapi tidak pernah kesampaian, karena pernah kuutarakan pada suamiku dia tdk menjawab apapun, sehingga kadang aku merasa tidak puas.</p> <p>Untuk mengisi waktu luang aku sempatkan mengikuti kegiatan kesehatan berupa senam pada sanggar senam tertentu hal ini aku lakukan untuk menjaga stamina dan juga tubuhku biar tidak gemuk, dan hasilnya lumayan saat ini tinggi badanku 165 cm, rambutku hitam pekat, mata coklat, pinggangku cukup ramping pantat juga berisi dan yg penting payudaraku tidak kendor walaupn pernah menyusui dan ukurannya cukup membuat orang menelan ludah 36C.</p> <p>Aku sengaja mengambil jadwal pagi karena siang sedikit aku harus sudah rapi berada dikantor pribadiku. Setelah membereskan urusan rumah aku bersiap berangkat menuju tempat senam, dengan memakai T shirt Abu abu cukup ketat dan celana senam aku memagut diri dikaca, Yach,… lumayan juga pikirku, dengan tshirt tersebut payudaraku seakan tertekan dan hendak melompat keluar, aku sadari itu.<br /> Pagi ini berbeda sekali tempat senam hampir penuh, aku duduk sendiri ditepi sambil mempersiapkan baju senamku, aku menuju kekamar ganti kudengarkan ada beberapa suara ibu-ibu cekikikan sambil menceritakan pengalamannya, Ah,… gila pikirku, mereka suka sekali sama laki-laki muda usia untuk permainan sexnya.</p> <p>“Iya Jeng Liss,… tadi malam itu seru lho, aku tidak menyangka Heru begitu perkasa, aku dibuatnya tak berkutik dalam 4 ronde sekaligus, padahal kelihatan dia paling pendiam ya disini, dan permainannya,………. Yahuuut lho, memekku sampai seperti mati rasa,……”</p> <p>“Ah,…. Masak sih jeng Rosa,….. yach,… sayang aku nggak dapet ya,… kalau sama Heru gimana jeng,……… itu lho anak SMA 3 yg kita temukan bersama waktu nongkrong di café Grand,….. yang itunya item dan gede.” Timpal temannya.<br /> ”Oh,….. Kalo yg itu sih lumayan, tapi permainannya masih hebat si Heru, Awalnya saja aku sudah keder dibuatnya.”<br /> ”Masa,… aku jadi pengin mencobanya jeng,…… Lihat aja ya nanti,… aku habisin dia dengan segala tenagaku,…” celetuknya dengan geregetan.</p> <p>Pembicaraan terus berlangsung secara tiddak sadar aku terbawa ikut memikirkan Heru,… Apakah Heru itu pelatih senam yg baru 3 bulan melatih ditempatku, kalo lihat cirinya pendiam dan acuh sih memang dia,…tanpa terasa tanganku telah berada diantara dua pahaku terasa hangat dan kuraba pelan memeku dari luar baju sanam ah,…. Cepat-cepat kubuang pikiran buruk itu aku tdk ingin terjadi sesuatu. Semakin kupikir semakin berkecamuk pikiran itu ada.</p> <p>Aku ingat waktu itu Heru memang sempat menjadi buah bibir dikalangan ibu-ibu tempatku senam tapi aku tidak pernah sedikitpun ikut didalamnya. Apakah Heru itu ya yg dibicarakan ibu-ibu. Pertama kali masuk Heru memang sempat grogi disoraki oleh ibu-ibu bahkan sempat membuat wajahnya memerah ketika perkenalan ibu-ibu menanyakan statusnya. Bahkan salah satu ibu ada yg nyeletuk menanyakan besar tdknya ukuran vital Heru, dan hanya dijawab dengan senyum saja.</p> <p>”Tok,.. Tok,… Tok,…..” Aku terkejut mendengar pintu kamar ganti diketok dari luar, ah kiranya cukup lama jg aku berada dikamar ganti, cepat cepat kekemasi barangku dan keluar menuju hall senam, disana masih banyak ibu bergerombol menunggu waktu senam berlangsung.<br /> Aku duduk sendiri sambil minum teh hangat, tiba-tiba disebelahku duduk empat ibu-ibu yg nampaknya cukup centil dengan usia yg bervariasi. Sambil berbasa-basi dia memperkenalkan diri dan aku agak terkejut karena suara dan namanya sama dengan yg ada di kamar ganti sebelahku tadi.</p> <p>”Eh jeng Melsa kan sudah lama ikut disini, udah pernah nyoba-nyoba rasa lain nggak selain rasa suami,… enak lho jeng, rugi kalo nggak mencobanya” celetuknya berbisik hati-hati,……</p> <p>Sambil sesekali melirik Lilis. Merah wajahku rasanya, karena selama ini tdk pernah aku temukan orang yg bicara terbuka seperti itu,…<br /> “E,…. E,….. ti,… ti,… dak kok,.. ini apa ya,…. Aku gelagapan. Dan serempak dua ibu tadi tertawa berbahak-bahak,…… Ah,… masa jeng Melsa, lah wong sekarang fasilitas sudah banyak kok tidak dipergunakan, yach,… bawa happy saja saja kok, kalo habis yg dibuang to jangan dibawa pulang bungkusnya bisa bahaya ya jeng Lilis,”</p> <p>“Iya lho Jeng Melsa kita ini kan punya kelompok disini yg kadang bikin acara enjoy bersama dan tertutup sekali lho, tdk semua ibu boleh ikutan disini, Tak lihat jeng Melsa mulai pertama ikut senam tdk pernah ada teman dan menyendiri, apa salahnya kalo bergabung dan menikmati menu baru kami.”</p> <p>Gila orang-orang ini Jeng Lilis pintar juga ngomong gituan, belum sempat aku berpikir dan menjawab mereka menyela lagi.<br /> “Sudah lah jeng Melsa ,…. Ikut aja rahasia pasti terjamin kok,.. dan yg penting ada menu baru tiap bertemu”. Sambil menarik tanganku menuju hall senam.</p> <p>hotrKonsentrasiku bubar selama senam aku secara tdk sengaja hanyut oleh pikiran ibu-ibu, dan kebetulan pelatihku hari ini Heru. Kuperhatikan seksama Heru cukup keren juga Tongkrongannya bodinya bagus, otot-ototnya nampak menyembul, dan,…. Ayooo,… hap,… satu,… dua,… renggangkan kaki,… perintahnya. Dia menghadap peserta senam dan,… Alamak,… otot diantara kedua selangkangannya tertekan oleh baju senamnya nampak menyembul keras dan cukup panjang, aku jadi berpikiran yg bukan bukan, seandainya bisa kugenggam dan kulakukan seperti di video porno itu enak kali ya,…….Gila,… pikirku aku kok jadi gini.</p> <p>Senam sudah usai, mobil merangkak pelan menuju garasi, kuhempaskan tubuhku diatas kasur, pikiranku berkecamuk membayangkan perkataan ibu-ibu tentang menu baru penuh rahasia tadi, tiba-tiba pikranku menerawang dan melintaslah bayangan Heru dengan mesra aku merinding, Heru seolah datang dan memelukku, tangannya mulai membelai punggung dan turun ke pantat. Diremasnya pelan dan kurasakan benda keras diantara selangkangannya menempel ketat dibaju senamku, aku kegelian, dan,….. Lambat namun pasti kurasakan tangannya mulai menyentuh dadaku yg kenyal, kurasakan pelintirannya membuat pentilku mulai kaku dan keras..</p> <div></div> <p>Aku mulai mengejang, tapi tak dilepas tangannya didadaku bahkan mulai nakal, tangan kanannya berani menuju selangkanganku dikuaknya kuat-kuat celanaku sampai kudengar robekan kain Oh,……. Jari-jemarinya membelai lembut gumpalan daging lunak penuh bulu dan,… Mulutnya tak tinggal diam, Heru mulai mengeluarkan lidaknya menjilati memekku yg mulai basah,…. Aaaaaahhhhhhh,,,, Zzzzzzzt,….. aku tak kuat menahan, Heru masih terus menjilat dan menjilat klentitku mulai kaku dan memekku semakin basah dan,….<br /> Kriinngggg,….. Krriiingggg,…. Suara telepon berdering aku tertegun,…Gila cing aku bisa membayangkan dengan Heru begitu hebaaat, badanku meriang rasanya dan satu lagi yg kurasakan basah diselangkanganku. Aku bangun bermalas-malasan dan kuangkat telepon.</p> <p>”Hallo,…. Jeng Melsa ada”,….. ” Ya saya sendiri, siapa ini ya,…”<br /> ”Aduh,…. Masak lupa saya Yuli yg senam tadi,….. Wah sedang apa ini kog kayaknya malas-malasan saja,…….. Terasa sekali memang agak serak suaraku saat ini habis membayangkan dengan Heru kering rasanya tenggorakkan.<br /> “Oh,…. Tdk jeng ini lho sedang membersihkan rumah kacau balau gini, kalau jeng Yuli sedang apa ini kok tumben telpon saya”<br /> “Jeng Yuli apa suami jeng nggak curiga,……..” Belum selesai aku bicara, Yuli menimpali dengan amat berapi-api.<br /> Malam larut aku sangat menginginkan hubungan intim malam ini, kucoba dekati suamiku dia sdh tertidur lelap tergambar kelelehan diwajahnya tapi memekku sdh mulai basah ingin dijenguk oleh kemaluan suamiku. Kucoba membangunkan dia, tp dia menolak dan hanya kekecewaan yg kudapat malam ini dan tanpa tersadar aku sdh terlelap.<br /> Suasana hingar bingar ruang senam kembali kudengar dan kulihat sekeliling kembali bergerombol sekelompok ibu-ibu yg 3 hari kemarin mengajakku ikut dalam kelompoknya.</p> <p>enam kali ini aku benar-benar tdk konsentrasi dan bingung apa yg harus aku lakukan, hampir semua gerakanku tdk ada yg benar. Senam telah berakhir dan ibu-ibu mengajak menuju tempat yg telah disediakan, sebuah rumah yg cukup bagus dengan halam luas dibelakang terdapat kolam renang, aku membuka dengan kunci yg telah disediakan, dan kulihat ada 3 kamar yg tertutup setelah omong-omong sejenak, beberapa ibu masuk kamar mandi untuk membersihkan diri tak lama kemudian mereka ada yg minta diri untuk pulang.</p> <p>”Begini jeng Melsa itu kuncinya ada lima kan ?… salah satunya kunci diruangan yg tertutup ini nah nanti kalo jeng Melsa sdh siap buka aja kamarnya dan lihat sendiri deh ada apa disana dan enjoy saja rumah ini aman kog, ini punya jeng Lilis dan memang khusus untuk kegiatan Arisan ini, kebutuhan makan dan minum ada di kulkas, dan silahkan saja Sasakmati sampai jeng Melsa suka kalo pulang ya langsung aja pulang, kuncinya jangan dibawa lho jeng,… liriknya menggoda”.</p> <p>Aku termanggu mendengarkan ocehan jeng Yuli sementara temanya hanya tersenyum ambil memainkan matanya. Aku semakin bingung bagaimana nantinya. Tak lama kemudian mereka berdua mohon pamit pulang terlebih dahulu dan aku tinggal sendirian. Aku bingung melangkah antara iya dan tdk, aku jg teringat kisah khayalanku dengan Heru,…… aku tercenung ingin mencobanya, kulangkahkan kaki dengan berdebar Klik,.. !!!!</p> <p>pintu pertama kubuka tp kulihat sekeliling tdk ada seorangpun, pintu kedua kubuka dan,…. Darahku berdesir hebat kuluhat seorang lelaki tegap dan cukup ganteng dengan kulit bersih memakai T shirt hitam dan celana pendek biru tua dia tersenyum, aku membalas kecut dan kuurungkan langkah kakiku masuk kamar tersebut, aku kembali duduk diruang tamu.<br /> Kunyalakan televisi untuk menepis kegugupanku kuganti channel per channel tp tak ada yg menarik tiba-tiba…<br /> “Hai ,.. Aku Heru,.. Kenapa kog tdk ngobrol didalam saja tadi kan udah buka pintu tak tunggu lho,…..” pintanya sambil mengulurkan tangan perkenalan.</p> <p>”Eh,.. e….Aku Melsa,,.. Eh… Ah nggak kog Aku cuman pengen tahu aja,” jawabku gugup dan tanganku mulai berkeringat dingin.<br /> 4 Variasi Seks yg menguntungkanKuperhatikan wajahnya ada bulu halus didagu masih baru dicukur dan dadanya cukup bidang dengan tinggi badan berkisar 175 Cm, otot-ototnya menonjol kuat. Heru dengan santai duduk disebelahku sambil ikut mengawasi televisi yg remotenya masih ditanganku, dia tahu kalo aku gugup diambilkannya aku minum susu hangat dan dia menuju ke televisi diputarnya Film laser disk. Aku diam saja dan dia mulai membuka pembicaraan basa-basi untuk melemaskan suasana.</p> <p>Aku kaget dua kali karena begitu aku menoleh ke televisi, kulihat film porno yg diputar, disana terlihat orang kulit putih sedang asyik menghisap kemaluan orang kulit hitam yg tegang dan panjang, aku risih dan malu tp badanku mulai hangat terutama ada rasa geli disekitar pahaku, Heru kelihatan mulai lebih mendekatiku aku tak menghiraukan mataku tetap kearah televisi, tanpa kusadari aku mulai ikut hanyut dan kurasakan ada benda asing yg menempel didadaku, kulirik ternyata tangan Heru kutoleh dia hanya tersenyum dan melanjutkan kegiatnnya.</p> <p>Aku diam merasakan dan dia semakin berani, diselusuri leherku dengan bibirnya,… turun kebahuku,… ditariknya pelan kaosku sampai kelihatan tali Bh. ku aku tak tahan, disofa aku direbahkan perlahan, dia tambah semangat, tanpa bicara dia mulai mengupas kulitku perlahan, tak pernah kurasakan hal ini sebelumnya, aku seolah melayg kegelian.</p> <p>Heru membuka sendiri kaosnya dan kulihat dada bidang itu ditumbuhi bulu doggyshalus. Dia bekerja sendiri ditariknya kaosku sampai beberapa kancing terlepas dan diangkat keatas hingga sekarang hanya tinggal Bh da rokku saja, tanganya kurasakan menempel lagi pada susuku dipelintirnya ujung susuku dan kurasakan mengeras,dia mulai menindihku, aku terpejam kurasakan bulu-bulu halus mulai menyentuh dadaku…</p> <p>Ditariknya lepas BHku sehingga susuku yg besar seolah melompat keluar dadaku Heru terkejut melihat besarnya susuku dengan warna kuning langsat dengan bulatan kecil coklat tua kemerahan serta putting kecil menantang mulutnyapun menuju putingku… kurasakan lidahnya lincah membuat nafsuku memuncak, putingku semakin mengeras sesekali kurasakan gigitan kecil giginya menggores putingku.</p> <p>Diatas perut kurasakan ada benda yg membonggol mendesak hebat. Bibirku terasa habis dilumat bibirnya, sampai aku tak bisa bernafas, aku mulai berkeringat dan tangan kanannya mulai menuju kearah memek, diselipkan diantara pahaku, aku gak kuat kupeluk dia dan dia semakin berani ditariknya rokku sampai terlepas, ditarik perlahan celana dalamku sambil tersenyum dan dengan sigap direnggangkannya kakiku sehingga dia dengan leluasa Heru melihat memekku yg padat dengan bulu hitam keriting, tangannya mengocek memekku yg sdh basah.</p> <p>Dimasukkannya jari tengah sedangkan ibu jari dan jempolnya membuka jalan dengan meminggirkan rambut kemaluanku. Klentitku kaku, dijilat dan disedotnya susuku sampai aku kegelian dan kini kurasakan mulutnya sdh diatas memekku. Aku semakin geli lidahnya menyapu bersih ruang dalam memekku yg basah sambil tangan kanannya ikut membantu memainkan.</p> <div> <div><span class="ctaText">Cerita Lainnya: </span>  <span class="postTitle">Cerita Sex Ngentot dengan tetangga yang body nya oke banget</span></div> </div> <p>”Eeeeeeeh… Heru… aduuuuuh… ” aku mengerang kegelian, tp dia tdk perduli diteruskannya mempermainkan klentitku.<br /> Aku sdh tak tahan, dengan berjongkok kududukkan Heru dan aku kaget melihat benda menggelantung tegak menghadap ke atas disela selangkangannya. Dia hanya tersenyum memegang leher k0ntol dan digerak-gerakkan dengan tangannya, kudekati dan kupegang.<br /> Alamak.. tanganku tak cukup melingkar pada k0ntolnya dan panjangnya 2 cm dibawah pusarnya. Aku geli dan takut melihatnya Hitam, mendongak seperti pisang ambon besarnya, Kutaksir panjangnya sekitar 17 Cm, sedangkan yg pernah kurasakan hanya 12 CM.<br /> ”Kenapa kok dilihatin seperti itu?” tanyanya.</p> <p>”Eh… aku heran kok kayak gini ya… cukup nggak ya ini lewat punyaku nanti?” Jawabku sambil tetap memegangnya.<br /> sedot sperma Belum selesai aku melanjutkan omonganku disorongkakn ujung k0ntolnya kemulutku, dan ehm… mulutku tak muat menampung semua k0ntolnya kedalam… kurasakan nikmat jg, selama ini aku tak pernah seperti ini… Sedotanku keluar masuk k0ntolnya menyembul tenggelem dalam mulutku tangannya jg tdk diam menggapai semua bagian tubuhku yg sensitif, aku semakin terangsang. Tak lupa pula Bola k0ntol dua buah menjadi sasaran lidahku, kurasakan ada cairan bening sedikit cukup manis dan terus kuhisap sampai mulutku tak mampu lagi menahan.<br /> Tiba-tiba terlintas dipikiranku bahwa Aku akan berbuat seperti yg di Laser Disk itu. Ingin merasakan air mani Heru yg segar nanti akan kuhabiskan.</p> <p>”Mel coba kamu ngadep belakang dan pegangi ujung sofa itu.” Perintahnya.<br /> Aku tdk menolak, kulakukan perintahnya tiba-tiba kurasakan k0ntol Heru dipukul-pukulkan pada pantatku aku kegelian.<br /> Diserudukkan k0ntolnya ke memekku dari belakang sulit sekali.. dia coba lagi dan gagal.<br /> ”Aaaaaaah… seret sekali ya kayak perawan..” omongnya.<br /> Aku semakin tersanjung karena anakku sdh 2 tp memekku dibilang seret kayak perawan. Aku berbalik ku bantu Heru dengan mengolomohi k0ntolnya dengan ludahku tp masih jg tdk berhasil menembus memekku.</p> <p>Kulihat Heru tdk kehilangan akal diambilnya hand bodi dan dioleskan pada k0ntolnya yg besar dan perlahan masuk pada memekku yg kecil, kurasakan agak pedih.<br /> ”Heru ,.. udah ah… nggak bisa masuk lho…terlalu besar sih,”pintaku.<br /> ”Sebentar… tahan dulu ya… ini udah nyampai sepertiga lho..” Jawabnya sambil didesaknya memekku dengan k0ntol dan… sreeet… sret… sreeeeetttttt.</p> <p>“AaaaaUUUUUU…” Aku menjerit kurasakan k0ntol Heru terasa tembus ke kerongkonganku, digerak gerakan pantatnya aku kegielian… akhirnya banjir jg memekku dan kurasakan kenikmatan saat k0ntol Heru maju mundur diruang memekku.<br /> Sesekali pantatku ditepuknya untuk menambah semangatku menggenjot k0ntolnya, susuku dibiarkan bergelantungan bergerak bebas sementara tangan Heru sibuk memegang pinggulku memaju mundurkan pantatku. Saat k0ntol masuk badanku terasa tertusuk geli tak karuan. Sesekali jg Heru menciumi punggungku sambil k0ntolnya terus bergerak keluar masuk memekku. Aku jg berusaha dengan menggerakkan pantatku kiri kanan dan k0ntol Heru seakan terjepit diapun mengerang kuat. Dipegangnya susuku kuat-kuat dan ditarik masukkan k0ntol besar tersebut berulang sampai aku kelelahan.<br /> ”Aaaahhhhhh…Sasa… aku mau keluar nih……” Erangnya.</p> <p>”Sebentar ya……” Kutarik k0ntol Heru dan tak kusia-siakan, kumasukkan lagi dalam mulutku sambil kugerakkan maju mundur tanganku, dan dia semakin kegelian, tak lama kemudian…<br /> Creeet…. Creeet.. Creeettt.. kurasakan mulutku penuh dengan tumpahan air mani Heru, segar rasanya. Kubersihkan k0ntol Heru dengan mulut dan lidahku dari air maninya, dipegangnya kepalaku seakan dia tak mau aku membuang maninya keluar. Dan Heru tergeletak kelelahan dengan keringat yg luar biasa.</p> <p>Kubersihkan diriku dan kulihat Heru masih istirahat dengan telanjang. Kuciumi tubuh Heru (kini aku tdk malu lagi) perlahan dia tersenyum dan kulihat k0ntolnya mengecil lemas… kupegang, remas perlahan dan aku masih kurang nampaknya. Mulutku dengan sigap melahap k0ntol Heru yg lemas itu, dalam kondisi lemas, masuk semua bagian k0ntol kemulutku, terus kupermainkan seperti dalam LD yg diputar Heru tadi. Tak lama kemudian mulutku sdh tak muat menampung k0ntol Heru untuk kukulum. Akhirnya kurelakan sebagian batang k0ntol Heru keluar dari mulutku.</p> <p>Heru pun mulai bangun dan aggresif, diusapnya memekku yg sdh kucuci dan mulai basah oleh tangannya. Heru berbalik menciumi memekku sementara aku menciumi k0ntolnya yg tambah mengeras (posis 69)<br /> Heru tambah menggila dimasukkan semua bagian lidahnya ke memekku aku menjerit kegelian. Heru memindah posisi ditaruh tubuhnya diatas karpet dan diangkatnya tubuhku menindihnya… k0ntol Heru ditutuntun menuju lubang kemaluanku dan tanpa ampun lagi kemaluanku diucek-ucek oleh k0ntolnya.<br /> Kurasakan k0ntol Heru tdk masuk semuanya atau memang memekku yg dangkal aku tak tahu, yg ada dalam benakku sekarang hanya nafsu dan nafsu saja.</p> <p>Kugerakkan naik turun pantatku menduduki pahanya sementara memekku sibuk melahap k0ntol Heru yg kekar dan angkuh itu. Tangan Heru sesekali mengucek susuku tak kuhiraupan karena nikmatnya tak seberapa diHeru ng dengan k0ntolnya yg mengisi penuh memekku. Kurebahkan tubuhku karena payah sambil kulumat bibir Heru yg terus mengerang itu dan terus kugoyang pantat sesuai irama nafsuku.</p> <p>Heru pun demikian. Aku mulai merasakan memekku semakin longgar karena becek basah dan geliku memuncak… Kugigit dada Heru kuat-kuat untuk menahan kepuasan dan bersamaan dengan itu pula kudengar erangan Heruyg menyatakan bahwa air maninya akan tumpah… Kupercepat menggoyang pantat karena aku tak mau menyia-nyiakan keadaan ini aku ingin kepuasan maksimal…… Dan…… Aaaaaaaahhhhhhhhh…… Sreeeeet… Sreeetttt… sreet…</p> <p>jilat sperma Kurasakan ada aliran hangat menyemprot memekku dan terasa penuh. Heru masih mengerang hebat aku gigit dadanya sekali lagi sambil kucakar punggungnya untuk menahan kenikmatan yg tiada taranya ini. Kuangkat pantatku pelan-pelan dan masih kulihat sisa-sisa ketegangan dik0ntol Heru.</p> <p>Kuraih k0ntol itu dan kubersihkan kembali dengan mulut mungilku yg serakah tiada habisnya melihat k0ntol tegang besar dan keras itu. Heru pun tersenyum puas layaknya aku, ciuman mesranya mendarat dujung bibirku, dan diapun tak mau ketinggalan mengusap memekku dengan lidahnya… akup un geli.<br /> Tak terasa hari sdh siang. Tak lama kemudian aku pamit dan aku menjadi keterusan mengikuti acara ibu-ibu itu dengan berganti-ganti pasangan yg hebat.</p> <p>Sedangkan hubunganku dengan suami tetap tdk terganggu karena suamiku tdk pernah minta yg aneh-aneh,… jadi asal aku terlentang dia masuk… kocek-kocek sebentar selesai. Untuk kepuasan lainnya aku dapatkan dari yg lain.</p> ]]>
</content:encoded>
<wfw:commentRss>./../cerita-sex-nafsuku-dipuasin-sama-guru-senamku/feed/index.html</wfw:commentRss>
<slash:comments>0</slash:comments>
</item>
<item>
<title>Kasih Sayang Yang Menghangatkan Jejak Cinta ABG & Di Penuhi Dengan Nafsu Liar – Ceritasex8</title>
<link>./../kasih-sayang-yang-menghangatkan-jejak-cinta-abg-di-penuhi-dengan-nafsu-liar-ceritasex8/index.html</link>
<comments>./../kasih-sayang-yang-menghangatkan-jejak-cinta-abg-di-penuhi-dengan-nafsu-liar-ceritasex8/index.html#respond</comments>
<dc:creator>
<![CDATA[ hyvj3 ]]>
</dc:creator>
<pubDate>Thu, 27 Jun 2024 05:03:25 +0000</pubDate>
<category>
<![CDATA[ CERITA PERAWAN ]]>
</category>
<guid isPermaLink="false">./../kasih-sayang-yang-menghangatkan-jejak-cinta-abg-di-penuhi-dengan-nafsu-liar-ceritasex8/index.html</guid>
<description>
<![CDATA[ Kasih Sayang Yang Menghangatkan Jejak Cinta ABG &#38; Di Penuhi Dengan Nafsu Liar – Nama gua Andre Hartono, temen-temen gua ... <p class="read-more-container"><a title="Kasih Sayang Yang Menghangatkan Jejak Cinta ABG &#038; Di Penuhi Dengan Nafsu Liar – Ceritasex8" class="read-more button" href="./../kasih-sayang-yang-menghangatkan-jejak-cinta-abg-di-penuhi-dengan-nafsu-liar-ceritasex8/index.html#more-642" aria-label="More on Kasih Sayang Yang Menghangatkan Jejak Cinta ABG &#038; Di Penuhi Dengan Nafsu Liar – Ceritasex8">Read more</a></p> ]]>
</description>
<content:encoded>
<![CDATA[ <p> <br /> </p> <div id=""> <p>Kasih Sayang Yang Menghangatkan Jejak Cinta ABG &amp; Di Penuhi Dengan Nafsu Liar – Nama gua Andre Hartono, temen-temen gua biasa manggil gua Andre. Gua mahasiswa ekonomi semester 5 di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jawa Barat lebih tepatnya di Bandung sih ckck. Di kampus gua termasuk orang yang biasa-biasa aja lah, gak terlalu aktif tapi juga gak terlalu pasif.</p> <p>Ya gua ini orang yang mencoba bergaul sama siapa aja di kampus. Asal gua dari Jakarta, jadi gak mungkin kan gua kuliah bolak balik Jakarta Bandung, so pastinya gua ngekos di kota Bandung ini.<br />Dengan bokap yang kerja jadi pengusaha ritel yang cukup sukses di Jakarta dan Nyokap yang punya banyak butik, jadi gua selalu diberikan fasilitas yang memadahi termasuk urusan kosan.</p> <p>Bokap sih awalnya nyaranin gua buat tinggal di salah satu apartment temennya, tapi gua gak terlalu suka dengan suasana apatment yang menurut gua terlalu individualis. Jadi gua lebih milih buat ngekos di perumahan deket kampus aja. Enak jadi gua gak pernah telat kalo seandainya ada kelas pagi.</p> <p>Secara gua orang yang paling susah banget buat bangun pagi huhehehe. Selain fasilitas kosan gua juga di fasilitasi kendaraan, lagi-lagi bokap gua nyaranin buat ngasih gua mobil, tapi gua lebih milih motor aja deh buat mobilisasi gua di sini. Lagian kan kota Bandung beda tipis sama Jakarta kalo urusan macet.</p> <p>Makanya biar lebih gampang kemana-mana gua lebih milih motor Honda Beat kesayangan gua yang gua panggil Beaty. Si Beaty ini nih yang selalu nemenin jalan sama pacar gua kalo misalnya suntuk sama perkuliahan. Oiya biar begini juga gua punya pacar loh. Pacar gua bernama Putri Indahsari, gua sih manggilnya Putri. Putri ini mahasiswa Hukum dan satu kampus sama gua cuma beda Fakultas doang.</p> <p>Gua sama putri udah pacaran dari semester 3, hhm kalo dihitung gua sama dia udah pacaran hampir satu tahun. Untuk penjelasan si Putri ini dengan tb 160, bb 55 dengan ukuran bra 36B. Jadi udah kebayang dong gimana montoknya pacar gua. Dengan muka orientalnya (berdarah chinese) kulit putih bersih. Gua juga bingung kenapa Putri bisa mau sama gua wkwk.</p> <p>Semua berawal dari acara ulang tahun pacarnya temen gua namanya Diki dan pacarnya namanya Sheila dari Fakultas Hukum. Gua juga gak tahu mendadak si Diki ini ngajak gua dateng ke acara ulang tahun pacarnya, secara malem minggu terus juga pertandingan bola lagi break Internasional so gua iyain aja ajakan Diki. Disaat acara ulang tahun pacarnya gua ngerasa bingung mau ngapain, soalnya sedikit banget yang gua kenal kebanyakan dari anak Hukum semua.</p> <p>Waktu lagi bete-betenya gua liat ke arah sudut ruangan ada cewek sendirian, dan entah kenapa gua rasanya pengen banget kenalan sama dia. Padahal biasanya gua males banget kalo ngurus soal beginian. Lalu gua kenalan sama dia, namanya Putri. Dan berawal dari situlah kedekatan gua sama Putri dimulai, pastinya lewat perantara Sheila dong.</p> <p>Dan 2 bulan gua deket sama dia gak tau gimana situasinya tau-tau gua jadian aja sama dia hahaha. Gua sayang banget sama pacar gua, selain orangnya asik dia juga support gua banget dalam urusan perkuliahan. Rejeki banget itu mah buat gua, udah cantik, montok, pengertian, pinter, asik, buaanyaaak deh yang bikin gua jatuh cintahhh sama dia.</p> <p>Dalam urusan sex gua sama dia juga terbuka, gua bilang pernah main sama mantan gua waktu SMU dan dia juga bilang udah pecah perawan juga sewaktu SMU. Gila ya anak SMU jaman sekarang emang edan semua hahaha. Dia sering gua ajak ke kosan gua berdua doang kalo misalnya mau ‘main’.</p> <p>Secara kalo misalnya dia main ke kosan gua berdua doang, udah pasti sange gua. Dan kalian pasti udah tau dong gimana situasi selanjutnya, di kamar kosan, berdua, sama cewek montok. Yaiyalah pasti gabakal gua anggurin hahaha. Kayak contohnya hari ini, tiba-tiba pintu kosan gua di gedor-gedor, padahal semalem gua abis begadang nonton streaming Juventus. Fyi Juventus adalah salah satu klub sepakbola asal Italia kebanggaan gua.</p> <p>”Ndreee, bangun ndreee kamu kan ada kelas pagi hari ini”<br />Aduh dari suaranya gua udah tau nih pasti pacar gua. Dengan malesnya gua bangkit dari kasur buat bukain pintu. Daripada gua dimarahin penghuni kos yang lainnya gara-gara berisik.</p> <p>“Hoaaammmm iya Put, aku bangunnn” dengan setengah sadar gua jalan ke pintu kosan buat buka pintu.<br />“Kamu itu tau gak sih hari ini kan kamu presentasi, kelas pagi pulaa” aduh gua males banget ini kalo putri udah mulai ngomel.<br />setelah gua bukain pintu si Putri main nyelonong masuk begitu aja ke kamar gua yang masih amburadul berantakan.</p> <p>“Aduuuh kamu ini kebiasan deh, pasti abis nonton bola kan semalem” kata Putri sambil liat sekeliling kamar gua dengan laptop yang masih menyala.<br />“Iya sayaaang hehe, btw Juve menang lagi loh” kata gua sambil ngucek mata coba buat pulihin kesadaran gua.</p> <p>Plaak “Kamu kan ada presentasi ndree pagi ini jam 9, kamu liat dong sekarang udah jam berapa, jam setengah 8 ndre, satu setengah jam lagi nihhh” tamparan Putri buat kesadaran gua pulih sepenuhnya. Putri emang udah tau cara buat balikin kesadaran gua ya harus ditampar.</p> <p>“Iya sayaaang, aku tau kok aku ada presentasi matkul Manajemen Biaya jam 9 pagi dosen pak Satria di kelas 103 dengan tema produksi manufaktur anggota kelompok aku si Angga Diki sama Herman.” Kata gua nyerocos setelah 100% pulih ingatan gua.</p> </p> <p>“Yaudah kalo inget kamu cepetan mandi sana gih mandi” sambil didorong ke kamar mandi gua coba raih handuk yang ada disamping pintu kamar mandi.<br />“Udah kamu mandi aja yang bersih, nanti pakaiannya biar aku yang siapin”</p> <p>Aduuuh enaknya punya pacar perhatian, kalo udah gini bukan cuma pakaian gua aja yang disiapin, perlengkapan kuliah sampe kebersihan kamar udah pasti terjamin sama si Putri ini. Setelah mandi gua ngerasa seger banget dan ketika gua keluar kamar mandi gua baru sadar dengan penampilan Putri hari ini maknyus pisaaan. Putri hari ini pake bawahan celana jeans hitam ketat dengan kemeja putih slim fit yang dengan jelas nyetak bentuk badannya yang montok itu.</p> <p>Dia lagi duduk mainin handphone setelah nyiapin pakaian kuliah gua dan beresin kamar. Ngeliat penampilan Putri hari ini jadi mendadak horny gua. Waduuuh serangan fajar ini mah namanya. Setelah keluar dengan handuk yang masih melilit di badan gua, gua coba nyari alesan buat tenangin andre junior ini.</p> <p>“Aduuh kayaknya aku lupa sama isi materi presentasi aku Put” kata gua asal-asalan.<br />“Hahh?! Kamu serius ndre gausah bercanda! Emangnya kamu gak baca materi kamu? Gak mungkin kan? Pasti kamu udah baca kan?!”</p> <p>“Kan aku bilang lupa Put, kalo lupa pasti udah dibaca lah cuman lupa ckck” lalu gua duduk di samping Putri sambil meraih hp gua di meja samping kasur dan ngecek materi presentasi dari handphone.<br />“Kamu sih pasti nonton bolanya semalem keasyikan sampe sama materi aja kelupaan.”</p> <p>“Hehehe abis mau gimana lagi namanya juga lupa. Tapiii.. kamu mau bantu aku biar inget materi lagi gak?” Seeet gombalan gua udah mulai jalan nih<br />“Bantuin? Bantuin maksudnya? Aku harus bacain materi kamu gitu?”<br />“Bukan itu Put, isi kepala aku itu harus dikosongin dulu biar inget. Kepala aku penuh nihh.” Kata gua sambil belaga megang kepala.</p> <p>“Maksud kamu apa sih? Ini aku yang bego apa kamu yang kelewat jenius sih? Eh, tapi tunggu duluuu.. kepala penuh, minta dikosongin” kata Putri sambil mikir kemudian tatapannya pindah ke selangkangan gua yang menonjol dengan masih dililit handuk. “Yaa ampuuun ndreee, kamu ini ada-ada sih aku baru paham. Maksud kamu kepala bawah kan??”</p> <p>“Iya sayaaang maksud aku ituuu” sambil nunjuk ke andre junior yang udah ngangguk gak jelas. Plaaak “Aduuuh sayang, kan mintanya keluarin isi kepala bawah, kalo gini mah bisa keluar isi kepala atas aku” kepala gua di jitak sama Putri<br />“Biarin biar keluar semua tuh isi otak mesum kamu. Kan kemaren udah di keluarin, masa sekarang mau minta keluar lagi. Dasaar mesuum.”</p> <p>“Iya bantu aku dong sayaaang, dari pada nanti presentasi aku gak fokus nih gara-gara kepala bawah aku belum keluar.” Gua coba berdiri di depan Putri dengan handuk masih melilit di badan gua.<br />“Ndree sekarang udah jam berapa nih, satu jam lagi loh ini. belum nanti kamu nyiapin ppt, belum brefing sama temen kelompok kamu, kamu kan juga belum sarapan sayaaang.”</p> <p>“Yah Put, gak usah sampe ngiway (ngentot) deh. Yang penting keluar aja biar pikiran aku plong gitu Put. Gak lama kok, beneran deh. Suwer tekewer kewer” Gua yang sambil berdiri di depan Putri coba elus-elus rambut dia.</p> <p>Dengan tatapan Putri lurus ke arah selangkangan gua “Yaudah deh ndre, demi pacar aku yang mesum ini dan demi presentasi kamu.” Yessss akhirnya jurus alay gua berhasil juga. Dengan perlahan putri buka lilitan handuk gua yang udah menonjol dari dalam. Dengan satu tarikan maka keluarlah si andre junior.</p> <p>Dengan panjang yaaa standar orang asia lah 17cm dan diameter 5cm. Hahaha kalo kata temen cewek gua jaman SMU sih ukuran kontol gua lumayan, katanya sih gitu. Oiya junior gua ini udah mulai ngerasain lubang kenikmatan dari gua kelas 2 SMU dari mantan gua dulu yang merjakain gua hahaha.</p> <p>Putri juga setiap gua ML sama dia selalu puas kata dia mah, malah keseringannya sampe gua buat lemes tak bertulang. Gua biasanya kalo main sama Putri bisa sampe 3 ronde, ya abis badan pacar gua yang satu ini montok bangsat sih. Bikin gua on berkali-kali setelah klimaks.</p> <p>Begitu kontol gua bebas langsung di pegang sama tangan Putri yang halus itu. Uhhh dipegang tangannya aja udah mantep banget. Asli tangannya halus banget, berasa pake handbody gua ckck.</p> <p>“Ini nih ya yang bikin nambah kerjaan aku. Masih pagi juga udah berontak aja, untung aja aku pacar yang pengertian. Coba kalo aku tega, kamu minta keluarin sama tangan tuanmu aja sana.” Putri sambil mencoba ngajak ngobrol kontol gua. Aduuh yang kayak gini nih bikin gua blingsatan sendiri.</p> <p>Kemudian dengan perlahan tangan Putri mulai mengocok kontol gua. Gilaa sama tangannya aja kontol gua udah tegang maksimal, gimana kalo sama mulutnya, gimana kalo sama memeknya.<br />“Assshhh Put teruuusss” gua Cuma bisa mendesah</p> <p>“Ndre kamu kan bilang tadi lupa sama materi presentasi kamu. Aku mau kamu sambil baca materi kamu yaa. Kalo gamau aku gak bakal terusin nih.” Kata Putri sambil melepas kocokan tangannya di kontol gua.<br />“Yah Put kok dilepas sih, udah mulai enak tuh padahal.” Gua mencoba buat megang kontol gua terus gua goyang-goyangin di depan Putri.</p> <p>“Gak mau kalo kamu belum mau baca materi presentasi kamu.”<br />“Eh iya iya deh tapi pliiis dilanjutin ya Put.” Kata gua memohon sambil meraih handphone di meja.<br />Lalu kemudian Putri melanjutkan kocokannya pada kontol gua. Ini pacar gua ada-ada aja deh ah, masa gua disuruh baca materi sambil begini. Ini mah mau baca berulang kali juga gak bakalan masuk otak. Haduh gua pake alesan lupa sih -_-</p> <p>“Ayoo Ndre sambil dibaca aku mau denger, atau aku gak lanjutin nih” ancam Putri<br />“Iya iya Put, ini aku baru mau baca kok. Hhhm manajemen biaya adalah sistem yang di desain sssshh sedemikian rupa untuk memberikan informashhhi bagi manajemen sshhh organisasi untuk mengidentifikasi aaahhhh berbagai peluang untuk perencaaaahhh perencanaan strateghhhi aassshhh dan pembuatan keputussssaaan operasional mengenai pengadaan dan penggunaaaasssh sumber dayasssh yang di perlukan oleh organisasi aaahhh iya Put masukin terus yang dalem.</p> <p>Gua mendesah sambil baca materi presentasi gua. Sedangkan Putri udah mulai memasukkan kontol gua ke mulutnya yang basah, anjiirr nikmat banget berasa becek banget kontol gua masuk mulutnya Putri.<br />“Slluuurrrrp ayooohh ndhhreee angaaan eereeenttttiii” Putri coba ngomong sambil kontol gua penuh didalem mulutnya.</p> <p>“Adaaaah tiga machaasssm konsepsssp manajemen biayaassh. Ada nilaisssh tambahh, akuntashhhi aktivitas, dan biaya targessst. Shhhh mulut kamu makin nikmat aja Put rasanya. Tujuan manajemen biayaasssh yaituhhh aaaahhhh untuuukkk mengidentifiksssh efisssiensshhi serta nilai ekonomissshhh aahhh aktivitas bisnisss sshhhh. Kemudian juga membantussssh aaahhhhh menyempurnakan ssshhh kinerja organisasi di maaassssha depan. Aaahhh terus Put.”</p> <p>Sambil ngisep kontol kontol, Putri juga gak lupa buat ngisep buah kontol gua, sampe gua blingsatan sendiri.<br />Dan setelah 15 menit kemudian.<br />“Manfaatsss manajemen biaya ssssebagai bentusshk perencanaan dan pengendalian bissshhnis. Seeeebghaasi upaya peningkatan biaya perushsssahaan. Aayyooosh Put sebentar lagiiishh aku keluar nisssh.”</p> <p>Setelah gua bilang bentar lagi mau keluar maka isepan Putri semakin cepet di kontol gua. Udah semakin cepet semakin dalem pula, kepala kontol gua ngerasa nyentuh ujung tenggorokan Putri.<br />”Selain itu jugassh sebagai dasarsshh untuk membuat keputusssaahan dan sebagggaaaissh alat untuk mengukur kinerjassshh. Aaaahhh Put aku mau keluar nih sssshhh gila nikmat banget Put asssllhiii.</p> <p>Aku udah gak kuat Put. Aaaaaahhhhhhh ssshhhhhhh” sejurus kemudian gua lempar handphone gua ke kasur terus gua teken kepala Putri makin dalem masuk ke kontol gua. AAAhhhh Crot Crot Crot. Gua ngerasa ada kali 7 tembakan peju gua ke mulut Putri.</p> <p>Glleek glleeek, peju gua semuanya ditelen Putri sampe bersih tak tersisa. Lalu setelah itu kontol gua di jilat-jilat lubang kencingnya biar gak ada peju yang tersisa keluar. “Sluuurrrp udah ya ndree, udah keluar kan isi kepala kamu. Gara-gara kamu nih aku jadi sarapan peju.” Kata Putri sambil cemberut kemudian mengambil tisu dan mengelap mulutnya supaya gak berceceran peju. Kemudian Putri rebahan di kasur gua. Dan gua yang mendadak gak ada tulang juga ikut rebahan di samping dia. Sambil masih telanjang bulet gua peluk Putri biar menghadap gua. Gua cium kening dia sambil gua bisikin,</p> <p>“Makasih ya sayaaang, kamu emang pengertian banget. Biarin kamu sarapan peju kan banyak mengandung protein hehehe” jawab gua sambil cengengesan.<br />Plaaak kepala gua dijitak lagi.</p> <p>“Udah ah ndre cepet pake baju, nanti yang ada aku yang minta kamu kerjain nih. Cepet cepet sono.” Kata Putri sambil bangkit duduk di kasur.<br />“Yeee kalo kamu minta sih aku masih sanggup nih, nih liat masih kuat kan ckck” jawab gua sambil memegang kontol gua.</p> <p>“Udaaaaahhh cepetan, kalo aku mah gampang nanti abis selesai kuliah kan bisa yang penting sekarang kamu cepetan pake baju. Udah tinggal berapa menit lagi nih kita kan belum sarapan.”</p> <p>“Aku yang belum sarapan, kamu kan udah tadi katanya sarapan peju aku huheheh”<br />“Issshh Andree” Putri sambil memukul pundak gua<br />“Iya iya Put aku pake ini bawel banget sih.”</p> <p>Langsung gua bergegas pake pakaian kuliah gua yang udah dipilihin sama Putri tadi sewaktu gua mandi. Setelah gua selesai beres-beres lalu gua kunci kosan dan gua menuju kampus naik si Beaty. Walaupun ke kampus gua jalan kaki juga bisa, tapi gua tetep buat ke kampus naik Beaty. Lumayan biar panasin mesin juga pikir gua. Sebelum masuk ke kelas masing-masing gua sama Putri sarapan bubur ayam dulu di kantin kampus.</p> <p>“Put gimana enakan bubur ayamnya apa peju aku?” kata gua sambil setengah berbisik pada Putri, maklum udah di kampus, udah banyak orang yang lalu lalang.</p> <p>“Sssstt ndre kamu kalo ngomong dijaga ya wkwkw, tapi… emang enakan peju kamu sih, tapi gak bikin kenyang wek” kata Putri juga setengah berbisik sambil nyubit gua terus meletin lidahnya. Hahaha dasar pacar gua yang satu ini rasanya pengen gua pake lagi.</p> <p>Setelah selesai sarapan gua jalan ke Fakultas masing-masing, kebetulan Fakultas gua dan Putri saling sebelahan. Dan di tengah jalan gua baru inget sesuatu. “Oiya Put, tadi kamu di kosan ngomong ‘gampang ntar selesai kuliah’ emang nanti mau ‘main’ lagi Put?” kata gua sekenanya.</p> <p>“Yang mana ya ndre? Lupa aku tuh” sambil pura-pura mikir keras<br />“Yang itu dah Put, pokoknya kamu nyeletuk ‘gampang ntar selesai kuliah’ hehehe”<br />“Oalah yang itu ndre gak ah gak jadi.”</p> <p>“Yah Put, ayo dong biar aku tambah semangat nih kuliah hari ini” sambil merangkul Putri.<br />“Woy sob masih pagi udah mesra banget nih, ati-ati serangan fajar hahah” temen gua sambil lewat nyeletuk<br />“Woy elu Ting ganggu gua aja lu, serangan fajarnya udah selesai barusan hahaha” jawab gua</p> <p>“Wah enak dooong tuntas hahaha duluan ya sob”<br />“Yoi sob hahaha”<br />Putri yang ngedenger gua ngomong begitu cuma bingung plus malu di ledekin sama temen gua. Ckck</p> <p>“Serangan fajar itu apa sih sayang?” tanya Putri<br />“Ohh itu mah serangan tapi enak Put”<br />“Apasih kamu itu suka gak jelas dahhh”</p> <p>“Udah gak penting, yang penting nanti selesai kuliah yaaa” sambil nyubit pipinya yang chubi<br />“Iyaaa sayang Andre tapi nanti jangan main yang atas doang ya, yang bawahnya juga.”<br />“Maksud kamu apa sayang?” sumpah kali ini gua beneran bingung</p> <p>Kemudian di depan Fakultas Putri yaitu Fakultas Hukum yang mana masih lumayan sepi. Tangan gua ditarik kemudian di arahin ke selangkangan dia. “Maksud aku itu ini sayaang”</p> <p>Gua yang kaget cuma bisa melongo kayak orang bego sambil melihat Putri naik ke lantai atas Fakultasnya dengan setengah berlari. Waduuuh jadi gak sabar pengen cepet selesai kuliah rasanya HAHAHA. Putri, andre junior dataaaaang.</p> <p>”Hahaha elu sih Dik, pake nyari gara-gara segala. Udah tau dosennya Bu Lasma, lu masih aja main game di kelas dia.” Ujar Angga meledeki Diki.<br />“Kampreeet lu semua, bukannya bantuin temen yang kesusahan malah bercandain gua.” Ujar Diki yang kesel karena temen-temennya pada bercandain dia.</p> <p>Diki hari ini tertimpa sial, dia ketangkep basah saat sedang asik-asiknya main game PUBG di kelas yang notabene sedang diajar oleh dosen yang cukup killer yaitu Bu Lasma. Bu Lasma memang terkenal cukup galak dikalangan mahasiswa Ekonomi, alesannya mereka sih kebanyakan yang bilang karena Bu Lasma merupakan dosen muda jadi masih kaku menurut mereka hahaha. Ada-ada saja alasan mahasiswa memang.</p> <p>Tapi Bu Lasma menang masih cukup muda, dengan usia 32 tahun dia sudah menjadi dosen tetap di Universitas yang saya huni kini. Dengan perawakan Bu Lasma kurang lebih 165, 45, 34B maka sudah dipastikan Bu Lasma banyak digoda khususnya mahasiswa lelaki. Dengan wajah khas sundanya Bu Lasma jika sekilas hampir menyerupai model majalah dewasa hahaha, kalo itu sih kata temen-temen deket gua.</p> <p>Sekarang gua lagi bersama temen-temen gua ada Angga, Diki, Fachrul, dan Boy sedang nongkrong di salah satu warung nasi dekat kampus yang banyak didatengi oleh mahasiswa khususnya pada jam-jam makan siang. Lumayan bisa dijadiin tempat nongkrong murah meriah.</p> <p>“Terus terus gimana tuh jadinya urusan lu sama Bu Lasma? Lu kan tadi disuruh ke ruangan dosen Dik,” ujar Angga yang kepo dengan masalah Diki saat ini.</p> <p>“Udah kelar sih, gua cuma dikasih peringatan doang. Soalnya dia emang sering ngeliat gua main hp di kelas, cuma baru kali ini aja dia marah sama gua.” Kata Diki dengan pasrahnya.</p> <p>“Lagi gak bisa banget ya emang lu hidup tanpa hp, kayak udah jadi pacar kedua lu tau gak, kasian kan Sheila. Tuh kan sekarang lagi ngobrol masih aja megang hp, kayak orang autis lu Dik hahahah.” Ujar gua yang nyindir Diki karena keseringan main hp.</p> <p>Kita emang kalo misalnya lagi nongkrong suka paling anti sama hp, makanya sekali ada yang keseringan megang hp langsung dikatain autis, hahaha. Namanya juga lagi nongkrong, jangan pada sibuk sama urusan masing-masing lah. Daripada ngobrol sama hp mending sharing masalah sama temen nongkrong. Aseeeek.</p> <p>“Yeee ini kan juga lagi ngurus si Sheila, Ndre. Doi ngambek nih soalnya hari ini minta shopping dia ke mall, tau tuh mau beli barang kayaknya.” Ujar Diki.</p> <p>“Yaaah siap-siap keluar dompet lagi dah lu Dik, elu mah enak duit keluar tinggal minta sama bonyok, malah dikasih lebih, lah kalo gua bisa mati kelaperan, duit makan sebulan gua abis ckckck.” Ujar Boy menimpali Diki.</p> <p>“Biarin dah Boy duit gua keluar, yang penting gua bisa tetep ngerasain memeknya si Sheila hahaha. Abisan dia itu suka ngambekan gak mau ‘main’ sama gua kalo gak shopping.” Ujar Diki.</p> <p>“Gila sih ya emang Sheila, beruntung lu bisa dapetin dia udah cantik, badan kayak model, toketnya proposional banget malah.” Kata Fachrul menimpali perkataan Diki barusan.</p> <p>“Beruntung sih beruntung Rul, tapi lama-lama bisa buntung hahaha. Mending gua sama yang sederhana aja lah kayak si Ayu. Diajak makan angkringan juga mau dia ckckc.” Ujar Boy kemudian kami semua tertawa.</p> <p>Kami semua untuk urusan perempuan khususnya pacar memang saling terbuka. Diantara kami semua yang belum memiliki pacar alias jomblo hanya si Fachrul saja. Gua sama Putri, Boy sama Ayu, Diki sama Sheila dan yang terakhir Angga sama Dina. Untuk yang terakhir memang Angga dan Dina berpacaran yang ‘baik-baik saja’ kata Angga sih begitu, soalnya Dina sendiri pacarnya merupakan salah satu pengurus organisasi keagamaan di kampus.</p> <p>Jadi singkatnya tinggal si Fachrul lah yang masih single eh ralat JOMBLO hahaha. Katanya sih males keluar duit buat pacar, tapi memang untuk temen gua yang satu itu untuk urusan duit sangat protektif banget. Maklum memang si Fachrul itu salah satu mahasiswa yang masuk karena beasiswa keluarga yang kurang mampu.</p> <p>Orang tuanya di Jakarta hanya sebagai buruh. Oiya kami semua deket karena asal kami dari Jakarta. Berawalnya waktu perkenalan mahasiswa baru. Memang cukup banyak mahasiswa yang berasal dari Jakarta yang kuliah di kampus gua, tapi entah kenapa gua lebih ‘klop’ sama mereka-mereka.</p> <p>Setelah selesai makan dan nongkrong, kami memutuskan untuk melaksanakan urusan masing-masing. Fachrul yang bekerja sambilan mengajar les privat, Boy dan Angga yang memang masih ada kelas lagi (kelas kami memang ada beberapa yang berpisah karena tidak kebagian saat memilih jadwal, yang mahasiswa pasti tau lah detik-detik saat jadwal kuliah dibuka), karena sedang tidak ada kelas lagi gua bertujuan untuk tidur aja di kosan, hari ini juga lagi panas banget. Jadi males buat pergi kemana-mana.</p> <p>Hari ini gua lagi gak bawa motor, soalnya tadi pagi hujan sih, jadi sayang kan si Beaty nanti jadi kotor. Saat gua sedang jalan menuju kosan tiba-tiba..</p> <p>“Ndre! Woy! lu kan gak ada kegiatan lagi nih mending lu temenin gua jalan aja kuy sama Sheila” Ujar Diki saat gua sedang jalan menuju kosan. Diki ini emang the king of dadakan. Karena emang kalo ngajak jalan atau keluar suka dadakan banget. Tapi emang sih biasanya yang dadakan malah jadi, daripada cuma wacana doang tapi gak jadi ckckck.</p> <p>“Wah gak dah dik gak. NO. Sialan lu mau nyuruh gua jadi kambing conge ngeliat lu berdua pacaran.” Balas gua<br />“Ya elu ngajak Putri lah Ndre, yakali gua ngajak lu sendiri. Emangnya kita mau threesome hahaha”<br />“Hhhmm Putri ya. Sekarang sih dia kayaknya lagi gak ada kelas. Kalo gitu gua telpon dia dulu dah.”</p> <p>“Yaudah lu kekosan aja, gua ngambil mobil dulu di kampus. Nanti kalo si Putri lagi di kampus chat gua aja biar sekalian gua jemput dia sama Sheila.” Ujar Diki<br />“Oke dah sip Dik” kata gua sembari mengacungkan jempol ke Diki sambil terus berjalan.</p> <p>Gak ngapa dah gua jalan sama Diki, biasanya sih ya kalo seandainya gua jalan sama Diki udah pasti terjamin. Terjamin perutnya cuuuy hahaha. Udah pasti bakal dibayarin. Lumayan bisa irit pengeluaran. Lalu sambil jalan gua keluarin hp gua dari tas, terus gua cari nomer telpon Putri. Tuutt tuutt tuutt</p> <p>“Halo sayaaang, ada apa nelpon aku siang-siang bolong begini?” kata Putri dengan ceria setelah mengangkat telpon gua. Ah dia memang selalu ceria. Entah kenapa gua tiba-tiba kangen denger suara dia, padahal tadi pagi baru aja ketemu. Tenang Put, gua janji gak bakal nyakitin perasaan lu, kata gua dalam hati.</p> <p>“Halooo sayaang Andre. Kok diem sih? Kamu kenapa?” Ujar Putri lagi di telepon yang mengetahui gua lagi bengong.<br />“Eh Put, oiya kaga, itu tadi si Diki ngajakin kita jalan sama Sheila. Kamu kira-kira lagi ada kegiatan gak? Kelas kamu udah selesai kan?” bales gua</p> <p>“Ooohh ngajakin jalan toh, kirain mau minta ‘jatah’ kali huheheh. Aku sih udah tau kamu bakal ngajak jalan, secara sekarang aku lagi sama Sheila di perpustakaan. Lagi ngadeeem hehehe.”<br />“Maksud aku abis jalan nanti baru jatahnya ckck. Oh lagi sama Sheila, yaudah kamu siap-siap aja nanti si Diki jemput kamu di parkiran.”</p> <p>“Yeee ngarep kamu udah keseringan ah nanti meki aku longgar loh. Yaudah sayaang aku siap-siap ya.” Ujar Putri berbisik sewaktu menyebut kata meki ckck. Iyalah dia lagi di perpustakaan haha.<br />“Hahaha gausah bisik-bisik ngomongnya kalo berani. Oke Put aku tunggu di kosan ya. Love youuu.” Balas gua</p> <p>“Love you tooo sayaaang.”<br />Setelah gua mematikan hp pas banget udah sampe di depan kosan. Kemudian gua langsung mandi bebek sebentar, siap-siap ganti baju. Sambil nunggu gua coba liat berita olahraga sepakbola. 15 menit kemudian.</p> <p>Tiiiin tiiiinnn suara klakson mobil Diki udah di depan kosan gua, maka langsung gua keluar ngunci pintu. Saat gua udah di depan kosan, Putri udah nyambut gua di luar sambil berdiri di samping mobil.<br />“Haaaii sayaang Andre. Muach .” Ujar Putri sambil meluk terus nyium pipi gua.</p> <p>“Haai sayaang, halo Sheil.” Sapa gua pada Sheila yang duduk di kursi belakang mobil.<br />“Halo Ndreee” Balas Sheila<br />Tunggu… Sheila duduk di kursi belakang? Waaah udah alamat ini mah gua bakal disuruh jadi supir ckckc.</p> <p>“Ndre biasaaaa haha. Elu yang bawa ya mobilnya gua auto duduk aja di belakang huehehe.” Kata Diki sambil pindah ke kursi belakang di samping Sheila.<br />“Siiiaaaaappp dah BosQuee” balas gua sambil berlaga hormat sama Diki.</p> <p>30 menit kemudian kami berempat sudah sampai di mall. Kami memang memutuskan jalan sendiri bersama pasangan masing-masing, setelah itu kami janjian bertemu di bioskop. Ada film hits katanya Sheila sih. Akhirnya gua jalan sama Putri dan Diki jalan sama Sheila.</p> <p>“Aneh ya kita sayaang, berangkat bareng-bareng tapi giliran udah sampe malah jalan misah sendiri-sendiri.” Ujar Putri sambil gua gandeng tangannya. Biarin dah gua keliatan kayak anak ABG alay yang lagi kasmaran. Yang penting gua gak mau Putri jauh-jauh dari gua.</p> <p>“Tau tuh Diki haha, lagian gak enak juga sayang, mereka kan pengen shopping masa kita ngintilin mereka berdua. Emangnya kamu mau beli sesuatu?” Ujar gua sambil jalan lalu menatap ke arah Putri.<br />“Hhhmm nggak ada sih sayang kalo sekarang, gatau deh nanti hahaha.”</p> <p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-1916" src="http://ceritasex8.com/wp-content/uploads/2024/06/Foto-Bokep-277-Done.jpg" alt="" width="960" height="1396" srcset="https://ceritasex8.com/wp-content/uploads/2024/06/Foto-Bokep-277-Done.jpg 960w, https://ceritasex8.com/wp-content/uploads/2024/06/Foto-Bokep-277-Done-206x300.jpg 206w, https://ceritasex8.com/wp-content/uploads/2024/06/Foto-Bokep-277-Done-704x1024.jpg 704w, https://ceritasex8.com/wp-content/uploads/2024/06/Foto-Bokep-277-Done-768x1117.jpg 768w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px"/></p> <p>Untung tadi gua udah bawa uang cash yang mencukupi buat sewaktu-waktu Putri pengen beli sesuatu. Udah ada feeling sih sebenernya kalo ngajak Putri ke mall mah. Putri bukan perempuan yang matre, cuman gua suka gak tega aja kalo seandainya dia pengen sesuatu terus keinginannya gak terpenuhi, ya walaupun cewek gua pengertian, tetep aja gak tega. Kalian pasti yang cowok ngerasain kok ckckck. Setelah jalan dan liat-liat akhirnya Putri tertarik sama store pakaian yang emang lagi ada diskon di situ. Akhirnya tangan gua di tarik buat nemenin dia masuk.</p> <p>“Ndree coba liat-liat yuk. Lagi ada diskon tuh, bagus-bagus juga kayaknya.”<br />“Iya tapi gausah tarik-tarik tangan aku segala, kayak anak kecil mau es krim aja kamu.-_-“ ujar gua.<br />Setelah liat-liat pakaian yang menurut Putri bagus, akhirnya dia coba minta komentar sama gua.</p> <p>“Ndree yang ini bagus gak?.” Sambil mencoba di sejajarin di depan badannya<br />“Kayaknya bagus Put.”<br />“Kayaknya ya ndre.” Kata Putri sambil cemberut. Aduuuh gua kalo liat dia cemberut suka gemes sendiri jadinya.<br />“Iya kan kamu tau aku gak ngerti fashion, apalagi fashion perempuan.” Balas gua.</p> <p>Setelah itu dia coba liat-liat yang lain lagi, dia ke arah lain gua juga coba ke arah lainnya sambil liat-liat. Sewaktu gua liat pakaian perempuan ada satu gaun yang menurut gua cantik banget kalo seandainya di pakai Putri. Gak tau sih menurut gua gaun tersebut kalo seandainya di pakai Putri, dia bakal keliatan perfect banget, ya walaupun sekarang juga udah perfect di mata gua. Ckckck. Kemudian gua kembali ke tempat tunggu seperti semula. Dan tiba-tiba Putri datang membawa gaun yang tadi gua liat.</p> <p>“Ndre kalo gaun ini bagus gak?” kata Putri.<br />Gua yang cuman melongo ngeliat dia saat gaunnya di sejajarkan di depan badannya. Aneh pikir gua. Tadi gua juga kepikiran sama gaun itu, kok sekarang malah dibawa sama Putri untuk dimintai komentar ke gua. Jodoh fix Putri jodoh gua. HAHAHA.</p> <p>“Eh iya Put bagus, coba kamu jajal di fitting room.”<br />Kemudian sewaktu Putri masuk ke dalam fitting room, gua menunggu di depan fitting roomnya. Entah kenapa gua deg degan sendiri menunggu dia keluar. Semacam gak sabar liat Putri pakai gaun yang tadi gua pikir bagus buat dia. Dan gak berapa lama Putri pun keluar.</p> <p>“Ndre ini ukurannya pas sih di badan aku, menurut kamu gimana?” kata Putri begitu keluar dari fitting room.<br />Gilaaaa dia cantik banget pake gaun itu. Gua mendadak cuma bengong doang ngeliat dia dari atas sampe bawah. Asli ini gua yang lebay apa gimana sih, gua deg degan loh ngeliat pacar gua sendiri.</p> <p>“Halooo Ndre, jelek ya? Apa aku kegendutan pake gaun ini?” ujar Putri sambil mengibaskan tangannya ke muka gua saat tau gua bengong.<br />“Eh kaga Put kaga, kamu cantik. Cantik banget malah.” Bales gua sedikit gagap saat tersadar dari lamunan.</p> <p>“Seriussss?” kata Putri sambil mencoba mengecek kembali gaun yang dipakenya.<br />Tanpa sadar gua berdiri ngedeketin Putri tepat di hadapan dia.<br />“Kamu cantik Put.” Cuma itu kata yang bisa keluar dari mulut gua.</p> <p>“Ah kamu mah bisa aj.. Mmmmpphh” tiba-tiba gua cium bibir dia. Gua tau ini nekat banget gua nyium dia di store tersebut. Beberapa detik kemudian gua pegang wajahnya dengan kedua tangan gua. “Aku sayang kamu Put.” Anjir asli kalo dipikir-pikir gua norak banget, tapi cuman itu yang bisa keluar dari mulut gua.</p> <p>“Ndre.. you fine okay? Kamu gapapa kan?”<br />“Iya aku gapapa, aku cuman mau bilang itu doang sama kamu.” Balas gua sambil mundur setengah langkah tapi masih memegang pundak Putri.<br />“Iya Ndree aku juga sayang sama kamuu.” Ujar Putri tiba-tiba maju sambil meluk gua erat.</p> <p>Gua udah gak peduli lagi ada orang yang ngeliat apa ngga. Yang pasti gua ngerasa nyaman banget pelukan sama dia. 30 detik kemudian hp gua bunyi tiba-tiba. Dan menyadarkan gua sama Putri. Shit kenapa pake bunyi segala sih ini hp. Ketika gua liat ternyata si Diki ngabarin kalo dia udah nunggu di luar bioskop. Putri yang masih sedikit malu-malu sambil liat ke bawah berujar.</p> <p>“Dari Diki ya Ndre? Yaudah aku ganti dulu ya, nanti kebawa sampe rumah lagi gaunnya hehehe.”<br />Setelah Putri melepas gaun dia keluar dengan pakaian yang tadi dikenakan saat berangkat.<br />“Yaudah yuk ndre, gak enak nanti mereka kelamaan nunggu.” Kata Putri sambil mengembalikan gaun tersebut.</p> <p>“Eh kenapa dibalikin Put gaunnya?” sontak gua kaget. Yaiyalah gaun itu yang udah buat jantung gua deg deg ketika di pakai Putri masa mau di balikin lagi.<br />“Gapapa Ndre, harganya nooohh liat sendiri, mahal kan. Ini mah uang jajan aku sebulan hahaha.”</p> <p>“Ambil Put, bawa ke kasir.”<br />“Eh kok gitu jangan Ndre aku gak enak sama kamu.”<br />Lalu tanpa diminta Putri gaun tersebut gua ambil gua bawa ke kasir sambil narik tangannya Putri.<br />“Udah buruaaan kan kamu sendiri yang bilang tadi gak enak ditungguin sama Diki Sheila.”</p> <p>Gak berapa lama kemudian gua dan Putri udah keluar dari Store tersebut dan berjalan menuju studio bioskop. Saat sudah sampai depan bioskop Diki dan Sheila sudah menunggu dengan beberapa belanjaan yang dipegang Diki.<br />“Lama banget lu berdua, ‘enak-enak’ dulu ya di mall” ujar Diki asal-asalan</p> <p>“Gila lu yaa, yang ada elu kali tuh berdua.” Balas gua<br />“Hhhmm katanya tadi cuman mau liat-liat doang, tapi kok bawa belanjaan juga.” Ujar Sheila sambil menyikut Putri yang ngeliat gua bawa tas yang berisi gaun tersebut. Putri cuman senyum aja nanggepin komentar Sheila.</p> <p>“Ah udah kelamaan kalian, nih tiketnya udah gua beli. Ayo udah ada pengumuman masuk studio tuh.” Sela Diki sambil bangkit membawa barang belanjaannya. Kemudian kita berempat pun masuk ke studio bioskop.</p> <p>Ternyata Diki memilih kursi yang strategis buat ‘modus’ sama si Sheila. Jelas lah orang Diki udah nemenin shopping pasti dia sekarang mau minta jatahnya, ya paling ngga setengah dulu nanti setengahnya lagi di apartment dia ckckck. Posisi tempat duduknya berurutan Gua, Putri, Sheila, Diki. Jadi Diki ngambil posisi paling pojok studio. Karena kebetulan ini film horor jadi kemungkinan buat ngurangin rasa takutnya Sheila, ya dengan ngeladenin modusannya si Diki itu hahaha.</p> <p>Pas banget perkiraan gua, gak berapa lama film diputar gua ngelirik si Diki sama Sheila udah ‘mulai on’ ckck. Putri yang berada di samping Sheila mendadak gelisah, gua tau dia gelisah bukan karena filmya yang serem, tapi karena ulah Diki dan Sheila. Soalnya Putri emang demen banget sama film horor, jadi dia kayak udah biasa nontonnya. Sambil genggam tangan gua Putri bisik di telinga gua.</p> <p>“Ndreee si Sheila lagi nyepong Diki tuh.” Ujar Putri<br />Emang bener setelah gua lirik ternyata Sheila tengah memajukan badannya ke samping kanan untuk memberikan ‘service’ pada Diki. “Kenapa emang Put? Kamu juga pengen?” ujar gua sambil ngelus pipinya dengan tangan kiri.</p> <p>“Kamu gak pengen emangnya Ndree?” Putri balik bertanya sama gua.<br />Jujur kalo situasinya beda gua pengen banget berbuat ‘modus’ sama Putri. Tapi entah kenapa sekarang gua lagi gak mood buat ngelakuin hal tersebut. Gua cuman pengen manja-manjaan aja sama dia sekarang.</p> <p>“Hhhmm kalo nanti di kosan aku aja gimana?” bales gua ke Putri<br />“Emang kamu kuat nahannya?” ini kenapa malah main balik ngasih pertanyaan siiih wkwkwk<br />“Ya kuat lah biar nanti di kosan kita mainya makin hot.”</p> <p>“Okee sayaaang” kata Putri sambil nyenderin kepalanya ke pundak gua, terus gua cium rambut dia.<br />Setelah film selesai dan Diki Sheila juga sudah melakukan aksinya akhirnya kami pulang. Saat di dalam mobil yang mana gua nyetir samping gua Putri, dan Diki Sheila duduk di belakang gua nyeletuk.</p> <p>“Gimana Dik filmnya bagus gak?” ujar gua<br />“Bagus Ndre bagus kok hehehe.” Balas Diki<br />“Bagus apa bagus? Orang tadi gua sama Putri ngeliat lu berdua gak fokus kok nontonnya. Hahaha” ujar gua dan Putri pun ikut tertawa.</p> <p>“Eeeehh ngintip ya kalian.” Sela Sheila<br />“Itumah bukan ngintip Sheil, tapi emang di sodorin.” Bales Putri sambil tersenyum.<br />“Gimana Sheil si Diki kuat berapa ronde tadi di bioskop? Hahahah” ujar gua</p> <p>“Ah dia mah payah cepet keluarnya Ndre.” Balas Sheila<br />“Kayak kamu tadi gak cepet keluar aja Beb.” Bales Diki<br />Gua dan Putri yang sedikit kaget cuman bisa melotot doang lewat spion depan.</p> <p>“Wah gilaa lu berdua main ‘keluar-keluaran’, gua kira Cuma Diki doang yang dikasih service.” Ujar gua<br />“Yee lu gatau aja tadi si Sheila sampe muncrat muncrat, gatau dah itu kepala orang di bawah kena muncratannya apa nggak hahahaha.” Bales Diki</p> <p>“BEBB jangan dikasih tau dong kan aku maluuu.” Ujar sheila sambil mukul pundaknya Diki.<br />Hahahahah kita semua pun tertawa bersamaan. Kemudian secara tak terduga Sheila ngomong<br />“Coba aja lu Ndre, pasti bisa lebih lama tuh gua nyervisnya sampe pegel mulut. Ya gak Put. hahaha” Ujar Sheila</p> <p>DEG sesaat gua kaget waktu Sheila ngomong begitu, sekilas gua liat Putri yang ada di samping gua, raut wajahnya berubah. Waduh Sheila sama Diki emang sama aja dah kalo ngomong suka gak bisa dijaga. Gua gak tau ada yang ada di dalam pikiran Putri waktu itu, kalo Diki sih udah biasa aja, orang dia juga main sama cewek lain kok di belakang Sheila, yang penting dia puas.</p> <p>“Alah ngomong apaan sih lu Sheil.” Bales gua.<br />Setelah omongan sheila barusan mendadak jadi canggung gua sama Putri di dalam mobil. Akhirnya kita sampai juga di kosan gua, dan gua bilang ke Diki biar Putri gua aja nanti yang ngater pulang dia mau main ke kosan gua dulu.</p> <p>“Alah yaudah deh semoga kalian berdua saling menikmati yaa. Hahaha . yaudah gua balik dulu ya. Byeee.” Ujuar diki yang kini berada di belakang kemudi mobil dan sheila di sampingnya.</p> <p>Ketika gua pintu kosan Putri langsung duduk di kasur sambil main hp. Gua gatau gara-gara omongan si sheila di mobil tadi putri mendadak jadi diem, padahal biasanya dia kalo udah berdua gini bawaannya ngomong mulu. Sembari melepas kecanggungan, gua mencoba untuk nawarin putri minum.</p> <p>“Mau minum apa Put?”<br />“Apaan aja Ndre.” Bales putri singkat.</p> <p>Waduuuh balesnya udah singkat, udah pasti ada apa-apa nih. Maka setelah gua ngambil jus di kulkas dan gua kasih ke putri yang lagi duduk di kasur sambil mainin hpnya. Padahal gua tau dia lagi gak bales apa-apa di hp, dari tadi cuman keluar masuk aplikasi doang. gua yang gak bisa di diemin langsung to the point. Sambil duduk di samping dia terus gua pegang tangannya.</p> <p>“Put kamu kenapa?”<br />Dia sambil menatap gua cuman geleng kepala doang.<br />“Kalo gak kenapa-napa kok kamu diem sih sayang. Itu bukan kamu banget loh.”</p> <p>Lalu dengan perlahan tapi pasti Putri ngomong.<br />“Kamu.. kamu.. ndre kamu suka sama sheila?” Deg<br />Bener kan masalah omongan si sheila di mobil barusan</p> <p>“Kamu ngomong apa sih Put? Ya gak mungkin lah.”<br />“Tapi tadi sheila ngomong begitu di mob…”<br />Sebelum putri selesai ngomong gua potong “kamu kayak gak tau sheila aja deh Put, dia kan emang kalo ngomong suka gak di saring dulu. Aku itu cuma sayang sama kamu Put. Sueeerr” kata gua sambil mengacungkan dua jari.</p> <p>“Beneran?”<br />“Iya Putri Indahsari, aku cuman sayang sama kamu doang”</p> <p>Sesaat kemudian Putri tersenyum sambil natap gua. Dan gua ngerasa pengen banget nyium dia, maka tanpa babibu lagi gua cium bibir dia dengan perlahan sambil gua pegang wajahnya dengan kedua tangan gua.<br />“Cuuurrrlllp Mmmpphhh” cuman desahan napas gua sama Putri doang yang keluar.</p> <p>Gua jelajahin setiap inci di dalam mulutnya sampai air liur gua dan Putri saling membasahi di sekitaran mulut kita berdua. Tangan gua yang tadi memegeng wajah Putri sebelah gua lepas menuju rambutnya yang halus. Sambil gua elus-elus rambutnya. Lalu dengan perlahan Putri gua dorong rebahan di kasur gua.</p> <p>Dengan sangat hati-hati dia gua tindih dengan sebelah tangan gua masih di belakang kepala mengelus rambutnya. Dengan bersandaran pada lutut biar gua gak jatuh menimpa dia. Lalu dari mulutnya yang basah itu, gua jelajahin seluruh wajahnya dengan mulut gua. Dan gua gigit gigit kecil pipinya yang chubi itu.</p> <p>“Aaaaahhh ndre mmmmppphh kaammuuhhh giilaaaahsss”<br />Setelah puas dengan bagian atas perlahan gua turun ke leher dia, dan menyoba mencari telinganya di samping. Walau susah karena dia juga lagi tiduran akhirnya telinganya bisa gua isep juga.<br />“Sssshhhh jaanngggaaanss sammpee meeeraaahs ndreess”</p> <p>Setelah itu gua turun ke arah payudaranya yang dari tadi udah gua grepe-grepe. Dengan cepat gua buka kancing kemejanya yang seakan udah gak sanggup menampung payudaranya yang berukuran 36B itu. Maka setelah terbuka kancingnya, gua ke bawahin bh yang dia pake, biar gak susah gua pake ngelepas kaitan bh nya segala.</p> <p>Terpampang lah payudara favorit gua setelah payudara nyokap gua dulu sewaktu gua masih kecil. Gua jilat dulu lingkaran aerolanya memutar sampai menuju putingnya.<br />“ssssshhhh ndre kammmuuu emmaangss yaaangss paaalingss bissssaahh aaaaahhhh”</p> <p>Karena gua tau titik kelemahan Putri adalah di putingnya. Setelah itu gua buka semua kemeja termasuk bh yang dia pake. Dengan dibantu Putri makan kini dia bugil bagian atas badannya. Sehabis dari payudaranya lidah gua menuju ke arah perut dia yang ramping. Gua cium dulu titik geli di perutnya kemudian gua jilat lubang pusar Putri.</p> <p>Putri sampe melengking sewaktu gua jilat pusarnya. Dengan tangan yang masih bermain di payudaranya, gua alihin kedua tangan gua untuk membuka kancing celana jeans Putri. Dengan sekali coba maka langsung gua pelorotin jeansnya beserta celana dalamnya.</p> <p>Kemudian salah satu tangan gua balik ke payudaranya dan tangan yang satunya mengikuti mulut dan lidah gua ke selangkangannya. Sejurus kemudian gua jilat memek putri yang ditumbuhi sedikit bulu halus, sehingga memudahkan gua untuk mencari klitorisnya.</p> <p>“AAAAAAHHHSSSHS” teriak Putri ketika gua isep klitorisnya yang sudah keluar<br />Putri sampe hampir kelojotan saat gua mencoba memasukkan lidah gua ke dalam memeknya. Sambil gua colok dengan sebelah tangan gua, dan lidah gua tetap bermain di klitorisnya. Tidak berapa lama putri hampir mencapai puncaknya.<br />“AAAASSSSSHSHH NDRE AAKKUUHHSS AAAHHH MAAAUU KEELUUAARRSSS”</p> <p>Dengan melentingkan badannya ke atas dan dengan kelojotan yang luar biasa akhirya Putri klimaks. Tetap gua tahan dengan kedua tangan gua selangkangannya. Cairan kenikmatan Putri gua sedot habis tak tersisa. Setelah itu gua bangkit duduk di kasur samping Putri. Putri masih memejamkan matanya mencoba memulihkan kesadarannya akibat orgasme tadi.</p> <p>Ngeliat wajahnya yang sayu begitu semakin bikin gua tambah semangat. Kemudian gua berdiri mencoba melepaskan semua pakaian gua sampe benar-benar bugil total. Yaiya dong masa Putri udah polos gitu gua masih pake pakaian lengkap gini. Setelah itu gua tiduran di samping Putri, sambil memegang wajahnya gua bisikin dia.</p> <p>“Kamu masih kuat sayang?” ujar gua depan telinga dia sembari gua jilat dikit telinganya.<br />“Iya ssyaaangg maasih kamu kan belum keluar.” Bales putri.</p> <p>Kemudian gua memulai aksinya tanpa babibu lagi, langsung gua angkat sedikit kaki dia sehingga bertumpu pada kedua paha gua dan dengan perlahan tapi pasti gua masukin andre junior ini. awalnya gua masukin kepalanya dulu, lalu gua keluarin lagi. Begitu seterusnya biar memeknya Putri terbiasa. Soalnya baru kepalanya aja yang masuk gua udah ngerasa sesak banget di kontol. Berasa kayak main sama perawan asli dah. Dan dengan kesabaran tingkat tinggi gua masukin seluruh kontol gua ke memeknya Putri.</p> <p>Bllleeesshhh<br />“Aaahhhhhhh ndree penuh banget. Cairrraaan aakkuuhh maaakiiin kellluar ndree” ujar Putri ketika kontol gua masukin sepenuhnya.<br />Awalnya gua gerakin pelan-pelan hingga akhirnya temponya gua tambah. Dan gak berapa lama ternyata si Putri pengen klimaks lagi.<br />“Aaaahhhhaah AAKKKUUHHH KEELLLUUARRSS NDRRESSS MMMMMPPPHHH.” Teriak Putri sambil gigit bantal di sampingnya.</p> <p>Setelah dia orgasme untuk yang kedua kali, gua yang ngerasa masih belum. Maka putri gua gua angkat badannya dan gua gendong dia sambil berdiri. Berat badan Putri yang cuman 55 masih enteng buat gua yang terbiasa gym. Akhirnya setelah mastiin posisinya udah enak gua arahin kontol gua dengan sebelah tangan ke memeknya. Dan masuklah lagi kontol gua ke memeknya Putri.</p> <p>“Aaaahhhhsss Putt memeekk lu nikmat bangeeettts, ggua sssyyaaagnng baaangget saama luu Puut” Ujar gua sambil mendesah, entah Putri ngerti apa kaga, dengan omongan gua barusan.</p> <p>Dengan gua senderin Putri ke tembok. Maka gua langsung kocok kontol gua lagi. Gillaaaa berasa mentok kontol gua masuk memeknya Putri. Dan lagi-lagi Putri ngasih aba-aba kalo dia pengen orgasme yang ketiga kali. Sesaat kemudian gua juga ngerasa kalo peju gua udah ada di ujung kontol. Agar gua keluarnya nikmat Putri gua suruh nungging di kasur, dengan gaya doggy style. Dengan begitu kontol gua berasa lebih kejepit memeknya Putri.</p> <p>“Áaaaahhhah ndreee aku aaaKKEEELLLLUUAAAR AAAAHHHSSSSSSHS”<br />Sedetik kemudian sewaktu Putri udah orgasme, kontol langsung gua lepas dan gua arahin ke wajah sayunya. Daaaannn<br />“Puuutt aaaasshshsh akuuu peengeeen keeelluuaar” Crrooot croot crrooot</p> <p>Ahhhhssss gua ngerasa puaass banget. Peju gua gak hanya di wajahnya Putri, tapi juga ada sebagian di rambutnya dan sisanya entah muncrat kemana.<br />“aaaahhh aaaahh aaaah” kami berdua pun sama-sama ngos-ngosan. Dengan keringat yang membasahi gua berdua, padahal ac udah gua nyalain.</p> <p>Putri dengan wajahnya yang masih berlumuran peju gua, akhirnya melek dan tersenyum kepada gua. Ngeliat dia berlumuran peju begitu, gua pun berinisiatif buat ngambil tisu di meja, namun ditahan sama Putri. Dia Cuma menggeleng kemudian peju di wajahnya dibersihkan dengan tangannya dan langsung dia jilat cuuuyyy. Gillaaa pacar gua emang the best dah pokoknya.</p> <p>Gak terasa sudah jam 7 malam, itu berarti kalo diitung dari awal foreplay sampe selesai gua sama Putri udah main 90mnt. Aaahhh bakal nyenyak tidur malem ini.</p> <p>Setelah gua dan Putri bersih-bersih dan memakai pakaian lengkap. Gua dan Putri tiduran sambil dia pelukan di dada gua.<br />“Ndree kamu jangan ninggalin aku yaa, aku sayang kamu ndre.” Ujar Putri tiba-tiba.<br />”Iya Put, Im promise” hanya itu kata-kata yang bisa gua keluarin, tapi itu jujur dari dalam hari gua yang tulus.</p> <p>Selanjutnya Putri gua anterin pulang bareng Beaty. Gua tau dia capek banget abis main sama gua barusan. Akhirnya gua pulang dengan perasaan senang gembira. Sewaktu gua sampai kosan, gua liat notofikasi chat hp gua. Tenyata dari Putri. Bunyinya..</p> <p>“Makasih ya sayang buat hari ini, Putri sayang Andre selamanyaaaa. :*”<br />“Oiya lupa, makasih juga ya gaunnya, janji gaun ini bakal jadi gaun kesayangan aku mulai hari ini. Muuuaaach. Good Night Ndreee”</p> <p>Gua yang baca chat dia cuman senyum sendiri. Putri emang kayak anak kecil kelakuannya, tapi karena dia semangat gua kuliah gua sampe sekarang gak berkurang. Ahhhhh Putri gua sayang sama lu. Love You Put….</p> <p> &#13;<br /> &#13;<br /> &#13;</p> <nav class="navigation post-navigation" aria-label="Posts"> <h2 class="screen-reader-text">Post navigation</h2> </nav></div> <p><br /> <br />.</p> ]]>
</content:encoded>
<wfw:commentRss>./../kasih-sayang-yang-menghangatkan-jejak-cinta-abg-di-penuhi-dengan-nafsu-liar-ceritasex8/feed/index.html</wfw:commentRss>
<slash:comments>0</slash:comments>
</item>
<item>
<title>Cerita Sex Ngentot Dengan Adik Angkat</title>
<link>./../cerita-sex-ngentot-dengan-adik-angkat/index.html</link>
<comments>./../cerita-sex-ngentot-dengan-adik-angkat/index.html#respond</comments>
<dc:creator>
<![CDATA[ hyvj3 ]]>
</dc:creator>
<pubDate>Wed, 26 Jun 2024 16:14:53 +0000</pubDate>
<category>
<![CDATA[ CERITA SEX SEDARAH ]]>
</category>
<guid isPermaLink="false">./../cerita-sex-ngentot-dengan-adik-angkat/index.html</guid>
<description>
<![CDATA[ Cerita Sex Ngentot Dengan Adik Angkat – Aku baru sampai di rumahku di kampung. Dah dua minggu aku tak balik ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Sex Ngentot Dengan Adik Angkat" class="read-more button" href="./../cerita-sex-ngentot-dengan-adik-angkat/index.html#more-640" aria-label="More on Cerita Sex Ngentot Dengan Adik Angkat">Read more</a></p> ]]>
</description>
<content:encoded>
<![CDATA[ <p> <br /> </p> <div> <p>Cerita Sex Ngentot Dengan Adik Angkat – Aku baru sampai di rumahku di kampung. Dah dua minggu aku tak balik kampung kerana ada urusan di Kuala Lumpur. Aku bukannya kerja di sana tetapi ada urusan menjadi broker. Macam macam barang kujual termasuk tanah dan barang-barang mistik seperti delima merah, rantai babi dan sebagainya. </p> <p>Biasanya kubalik kampung pada hari Jumaat. tetapi hari Selasa aku dah balik kampung yang menyebabkan isteriku terkejut kerana kubalik awal.</p> <p>“Awal balik bang,” katanya ketika dia ambilku di bandar dengan kereta Vivanya pada jam 7 petang.<br />“Minggu ini banyak urusan ditangguh, jadi lebih baik balik kampung dulu,” kataku. </p> <p>Malam itu isteriku yang bekerja malas masak.Jadi kami order nasi goreng di kedai sebelah yang bafru tiga hari buka. Sebenarnya kedai di belakang rumah kami bukanlah kedai tetapi rumah teres dua tingkat corner lot yang dijadikan kedai makan siap dengan skrin tv besar. maklum ajalah sekarang musim bola piala Euro. </p> <p>Cerita Sex Ngentot Dengan Adik Angkat<br />Di taman kami memang tiada kedai makan kerana taman kami baru sahaja dibuka tiga bulan lalu. Maka di kedai baru itulah ramai orang lepak tengok bola sambil menikmati makan makanan bergoreng. Penghuni-penghuni bujang tak perlu pergi ke kampung sebelah yang lebih kurang 2km dari taman kami untuk belikan makanan. </p> <p>“Kita beli nasi gorenglah bang,”kata biniku.<br />“oklah,” jawabku.<br />Biniku buka pintu dapur dan panggil pelayan perempuan untuk order dua bungkus nasi goreng. </p> <p>Ketika isteriku mandi, kudengar handphonenya berbunyi menandakan masuk sms. </p> <p>Aku buka handphonenya dan lihat ada sms dari nombor yang tidak disave. Sms itu kata dia dah sampai di tempat yang dijanjikan. Aku syak mesti sms itu dari kawan lelakinya. </p> <p>Isteriku tak tahu aku dah baca sms dari lelaki yang tidak dikenali. </p> <p>Aku turun ke bawah menonton Astro. Biniku yang sudah siap mandi terus ke dapur tanya pelayan dah siap ke nasi goreng yang ditempah. </p> <p>“kak, kita belum masak lagi. Pukul 10 baru masak,” kata budak tu.<br />“Tetapi kenapa tak cakap tadi? kami duduk tunggu juga nasi goreng. Tak jadi orderlah. Cancel, ” kata biniku dan beritahuku nak keluar untuk beli nasi goreng di bandar. </p> <p>Aku terus menonton tv ketika isteriku keluar. Sejam kemudian baru dia balik. </p> <p>“lamanya beli nasi goreng,’ kataku.<br />“beli di bandar. Orang pulak ramai,” katanya. Memang taman kami dengan bandar sejauh 10 km. Pergi balik dah 20km. Kalau jalan tak jem, 20 minit pergi balik dari bandar. </p> <p>Aku syak biniku sambil order nasi goreng itu dia bertemu dengan kawan lelakinya dalam sms tadi di kedai makan di bandar. Aku tak sempat salin nombor handphone lelaki itu untuk siasat siapa lelaki yang cuba mengurat biniku. </p> <p>Bila biniku masuk bilik air, kucek handphone biniku dalam handbagnya. biasanya dia berani letak handphonenya di mana-mana tetapi aku hairan kenapa dia letak handphonenya dalam hand bag dan ditutup pula. Dia bimbang lelaki itu smsnya lagi kot, fikirku. </p> <p>Aku buka dan lihat sms itu sudah dipadam. Rugi aku tak salin nombor handphone lelaki itu masa dia mandi tadi. </p> <p>Malam itu masa kumain dengan biniku, kutanya siapa yang sms dia pakai nombor handphone 014 tetapi dia diam. </p> <p>“mana ada,” katanya.<br />“Saya dah baca sms tadi. Dia kata dah sampai,’ kataku.<br />“Tak adalah. Adik angkat,” katanya.<br />“Awak pi jumpa adik angkat ke?’ tanyaku.<br />“tak adalah,” nafinya lagi.<br />“Nanti terangkat,” kataku ketika sedang menghisap teteknya. Kami main malam itu dengan penuh kepuasan kerana aku beritahu biniku aku tak kesah dia ada boyfriend ke, adik angkat ke asalkan dia bahagia. Senang sikit aku bebas dengan girl friendku di Kuala Lumpur. Dia tak perlu call aku banyak kali aku ada di mana setiap malam kalau dia sibuk dengan adik angkatnya. </p> <p>Biniku kurang cerdik. Masa dia mandi pagi itu aku cek missed calls dan received calls dalam handphonenya. Ternyata ada nombor hp 014. Aku pun siasat nombor hp itu dengan pura-pura tanya Mamat dan dia jawab salah nombor. Aku pun tanya siapa dia. Dia pun jawab namanya Kadir bekerja di pejabat kerajaan. Orangnya baru 35 tahun lebih muda 10 tahun dari biniku. Sudah beristeri dan ada anak dua orang. </p> <p>Aku pun suruh kawanku mengekori keretanya ke mana dia pergi. Selepas jam 5 petang Rabu itu, dia ada jumpa biniku sekejap minum air. Kawanku, Halim kata memang nampak mesra mereka berdua. </p> <p>Pada petang Jumaat itu biniku kata esok dia nak pergi kuantan dengan bossnya Ani. </p> <p>“Pergilah,”kataku. </p> <p>pagi esok, bila biniku keluar jam 8 pagi, aku suruh kawanku ekori kereta biniku dan buat laporan dari masa ke semasa. </p> <p>“Keretanya diparking di Shell dan dia naik kereta Kadir ke Kuantan,” lapor Halim pada tepat jam 8.30 pagi.<br />“Ikut dia ke Kuantan,” kataku. </p> <p>Halim mengikut kereta Persona kadir ke Kuantan. Tepat jam 9.30 pagi, Halim call dari Kuantan. </p> <p>“Mereka singgah di Grand Continental minum di coffee house,” lapor Halim.<br />“Ikut mereka jangan sampai mereka tahu siapa u,” kataku.<br />“U jangan bimbang, i kenal casher hotel ini. I pergi ambil bilik dulu. Bila dia nak cek in, i dah ada dalam bilik itu tengok apa dia orang buat,’ kata halim. </p> <p>Halim terus jumpa casher hotel kawan baiknya. Dia terus ambil kunci. Dia kata kalau orang dalam coffee house nak cek in, beri kunci bilik itu dan suruh dia isi borang macam biasa. Kawannya amat faham apa yang Halim buat. </p> <p>Seperti diduga setengah jam kemudian, Kadir mara ke receptionist dan mengisi borang check in bilik. Biniku masih menunggu di cofee house. Kadir terus masuk lif dan hilang ke tingkat 6. filmbokepjepang.sex Bila dia masuk bilik, dia terus sms biniku yang berada di dalam cofee house. Oleh kerana mereka masuk berasingan, jadi orang tak suspect mereka bercouple. </p> <p>Halim sedang sembunyi di bawah katil di bilik itu. Kadir tak tahu Halim ada di situ yang akan merakam perbualan mereka. </p> <p>Aku terima sms dari Halim yang mengatakan jangan call dia. Hanya sms saja kerana handphone sedang disilence bunyinya. </p> <p>“bini u dah masuk bilik,” sms Halim kepadaku. </p> <p>Kadir terus merangkul biniku di pintu bilik. Mereka berkucupan dan terus Kadir memimpin biniku ke katil. Apa lagi mereka pun beromen di atas katil. </p> <p>“mandi dululah sayang,’ kata biniku.<br />“okay, kita mandi berdua,”jawab Kadir.<br />Mereka pun melucutkan pakain masing-masing sambil berbogel terus masuk bilik air. Halim tak berani keluar dari bawah katil untuk melihat mereka dalam bilik air tapi oleh kerana pintu bilik air tidak ditutup maka Halim dengar perbualan mereka berdua. </p> <p>“Besarnya tetek Zi,” kata Kadir sambil menghisap kedua-dua belah tetek biniku.<br />“kadir punya pun besar,” kata isteriku sambil meramas-ramas kote Kadir.<br />“nak hisap,” kata Zi.<br />“Hisaplah,”kata Kadir. Zi pun terus menghisapnya.<br />“Keras macam batu. Suami punya dah lembik. Tak sia-sia ada adik angkat,” kata Zi.<br />“hahaha,” ketawa kadir.<br />“Nak jilat kak punya,” kata Kadir.<br />“Jilatlah,” kata Zi sambil baring dalam bilik air.kadir pun terus jilat nonok biniku. </p> <p>“Kak bangun. Kak menunggeng. Kita main doggy,” kata Kadir. kadir pun masukkan kotenya ke dalam lubang kakak angkatnya.<br />“Sempitnya kak,” kata Kadir.<br />“Besarnya Kadir. Panjangnya. Sedap Kadir,” kata biniku. </p> <p>Lama juga mereka doggy. lepas itu mereka mandi bersama sambil berkuluman lidah. Lepas meeka lap tubuh mereka, terus Kadir dukung biniku ke katil. </p> <p>“Gagahnya adik angkat. Suami tak pernah dukung,’ kata biniku bila Kadir mendukungnya ke katil. </p> <p>Mereka terus main secara missionary biniku duduk di bawah, Kadir duduk di atasnya. Selepas itu biniku duduk di atas. </p> <p>“Sedapnya. Bila batang keras begini cepat kak Zi nak keluar air ni,’ kata biniku lagi. </p> <p>“Aaaah,aaah,aaah,” kata biniku yang sudah orgasme. Kadir suruh biniku menunggeng di atas katil dan sekali lagi dia hentam biniku secara doggy style. </p> <p>Kali ini kadir pula yang cepat muntaha. Lepas main mereka berehat. </p> <p>“berapa lama sewa bilik?” tanya biniku.<br />“Dua jam,” jawab Kadir sambil memeluk biniku di atas katil. mereka berdua telanjang bulat.<br />“Sebelum balik nak lagi,’ kata biniku.<br />“Okay. Kita rehat dulu nanti kita sambung balik,” kata Kadir. </p> <p>Halim yang duduk mendengar di bawah katil stim walaupun tidak melihat permainan mereka berdua. </p> <p>Setengah jam kemudian mereka main lagi. kali ini lebih ganas. </p> <p>“Sakit. I tak pernah main lubang dubur,” kata biniku.<br />“I masuk sikit sikit. sedap kak,” kata Kadir.<br />“Memang sedap,’ kata biniku bila diliwat Kadir secara perlahan-lahan. </p> <p>kemudian mereka check out. Biniku keluar dulu dan menunggu di kereta. 10 minit kemudian baru Kadir keluar dari bilik itu. 10 minit kemudian baru halim keluar dari bawah katil. batangnya yang keras mendengar perbualan di antara kadir dengan biniku. </p> <p>Petang itu isteriku balik. Aku nampak banyak yang dia shopping di Kuantan. lepas main dengar kadir, kadir ajaknya shopping beg tangan, baju, seluar jeans dan kasut. memang hebat adik angkatnya. </p> <p>“Lama gi Kuantan,”kataku.<br />“Ani servis keretanya lepas tu ajak shopping. Dia yang belikan semuanya ini,” kata biniku. </p> <p>Dalam hati, aku berkata, Ani gi servis kereta ke, atau pukimu yang kena servis oleh adik angkatmu. </p> <p>malam itu aku keluar menemui Halim dan Halim mainkan semula tape perbualan antara biniku dengan Kadir. </p> <p>malu aku kepada Halim kerana biniku mencurangiku. </p> <p>“Bukti dah ada, kau tunggu apa lagi? Kau nak jadi suami dayus?” kata Halim.<br />“Malam ini aku istiqarah mahu tanya Allah wajarkah aku menceraikan biniku,” kataku sambil berlalu dari situ. </p> <p>Seperti yang dijangkaku akhirnya biniku diangkat oleh adik angkatnya.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, </p> <p> <!-- .entry-footer --> </div> <p><br /> <br />.</p> ]]>
</content:encoded>
<wfw:commentRss>./../cerita-sex-ngentot-dengan-adik-angkat/feed/index.html</wfw:commentRss>
<slash:comments>0</slash:comments>
</item>
</channel>
</rss>